Rabu, 12 Januari 2022

PENGABDIAN GURU

 


Oleh : Ledwina Eti

 

Orang hebat bisa melahirkan beberapa karya bermutu, tapi guru yang bermutu dapat melahirkan ribun orang-orang hebat.  (juproni.com)

 

              Jika cerita tentang guru tak pernah ada habisnya. Selalu menarik dan selalau seru. Yang jelas  guru masa lalu berbeda  dengan guru kini. Guru sekarang  biasa kita sebut guru di zaman now atau guru milenial. Setiap guru pasti punya tantangan  tersendiri dalam mengajar.  Tentunya untuk guru  jaman sekarang , setiap guru  wajib hukumnya,  bisa menaklukkan teknologi terbaru.

 

Guru tidak cukup hanya cakap dalam materi. Guru harus memiliki  tips dalam mengajar. Bagaimana guru bisa  menciptakan pembelajaran agar menyenangkan? Bagaimana guru bisa  membahagiakan siswa dalam mengajar? Atau bagaimana siswa bisa ketagihan  belajar  untuk materi yang diajarkan oleh seorang guru? Bagaimana  cara guru menyampaikan  pembelajaran  supaya anak tidak bosan?

Masalah-masalah diatas tentunya  harus kira realisasikan. Sebagai guru yang baik kita  punya tanggung jawab kepada peserta didik kita. Ah!  Ternyata banyak  juga ya  tugas guru. Inilah tantangan bagi kita sebagai ‘seorang guru”. Sosok Guru sudah   ditamankan  dalam setiap  insan. Guru: digugu dan di tiru. Guru adalah teladan. 

Bapak saya adalah seorang guru. Beliau adalah sosok yang selalau  saya kagumi. Setiap  hari  pergi mengajar.  Dengan  motor tuanya L2S yang selalu menemani. Dia paling setia untuk tugas-tugas pengabdiannya. Saat itu untuk mencukupkan  kehidupan keluarga, bapak harus mengajar di beberapa tempat. Setiap pagi harus bawa bekal makan karena bapak pulang sore hari setiap hari.

Saat itu “sang Guru” masih sering dilihat dengan sebelah mata. Jaman Umar bakri. Guru tua, naik sepeda ontel, hidup sangat sederhana karena gaji yang diterima tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Itulah guru saat itu. Tapi jasa guru tak  diragukan. Jasanya terlalu besar karena gurulah yang bisa mengantarkan anak-anak untuk meraih cita-citanya. Maka saat itu guru  dijuluki ‘pahlawan tanpa tanda jasa’.

Saya masih ingat lagu guru yang selalu didengungkan diradio-radio dan di TV saat itu , bunyinya sebagai berikut:

Kita jadi pandai karena pak guru.

Kita jadi pintar karena bu guru,  

Gurulah pelita, penerang dalam gulita

Jasamu tiada tara.

Hingga kini saya sudah jadi guru 30 tahun lebih masih ingat lagu itu.  Bapakku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Kebetulan bapak sendiri yang mau sekolah waktu itu.  Kakaknya tidak mau sekolah. Mereka  suka dirumah saja membantu orang tua di sawah. Kakek dan nenekku adalah petani dan kerja sawah.  Berkat  kerja keras dan tekun belajar maka bapak hingga lulus kuliah, dan akhirnya jadi guru.

 

Dengan sifat yang bapak miliki: dewasa dan suka mengalah,  Kakek dan nenek saya bapak   lebih disayang dari pada kakak-kakaknya. Setelah kakek saya meninggal warisan tanah seharusnya dibagi 3, karena  ketiga anak kakek adalah laki-laki. Tapi kenyataannya tidak begitu. Bapak menerima  seberapa saja yang diberikan kakek.

 

Hal itulah yang membuat saya selalu mengagumi Bapak. Saya adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Banyak nasehat-nasehat yang selalu kami dengan dari bapak yang seorang ‘guru’.  Indah dan menyejukkan. Bapak selalu mengalah dalam segala hal.  Dengan begitu akhirnya saya begitu tertarik  menjadi guru.

 

 Hanya saya saja yang jadi guru. Adik-adik saya semua  Sarjana teknik.  Saya ingin jadi guru karena  guru pasti  akan selalu dibutuhkan. Mudah cari kerja dan pasti laku di sekolah untuk mengajar.  Guru akan dihormati dan bisa melatih, mendidik, mengajar  pada peserta didik. Seolah ada kebanggaan tersendiri di sanubari, di hati yang tak bisa diungkapkan. Mudah dirasakan tapi susah dikatakan. Begitulah. Bangga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk ikut mencerdaskan anak bangsa.

 

Benar saja, setelah lulus kuliah saya langsung bisa mendapatkan SK CPNS dan ditempatkan di daerah konflik Timor-Timur.  Saat itu, tahun 1990 Tim tim masih ‘agak’ genting. Tapi namanya abdi negara, harus rela ditempatkan dimana saja, di seluruh pelosok Nusantara. SK pertama kami mengajar di SMA Negeri Maliana Bobonaro . Sebuah kota kecil di Tim Tim. Saat itu baru satu-satunya SMA di kabupaten itu. Hampir semua adalah guru pendatang dari seluruh  Indonesia.  Ada yang dari batak, sulawesi, kalimantan, Jawa dan lain-lain. Yang  jelas seru deh saat itu  bisa berteman dan akrap dengan mereka.  Serasa senasib sepenanggungan.

 

Guru di Tim-tim  saat itu masih langka. Tahun 1990  SPG ( Sekolah Pendidikan Guru) setara SLTA ditutup.  SPG diganti menjadi SMU. Jika di SPG  dulu pelajarannya adalah khusus pendidikan SD (Sekolah Dasar). Kini tidak ada lagi kurikulum itu. Semua diganti dengan pelajaran umum. Pemerintah mengharapkan semua guru adalah ‘sarjana’ bukan hanya lulusan SLTA.

 

Nah, bapak adalah guru SPG. Saat itu teman kuliah bapak adalah pejabat di Dinas pendidikan dan kebudayaan RI. Bapak Drs, Margono, M.Si namanya.  Maka bapak diberikan SK Kepala sekolah di SMA Negeri Maliana juga.  Jadi di SMA yang  sama bapak dan anak jadi satu tempat mengabdi.  Dengan begitu kami bisa terus mengabdi untuk negara dan untuk bapak sendiri. Ini bukan kebetulan, tapi faktanya memang begitu.

 

Seiring berjalannya waktu bapaku ( HR, Sudayat) dimutasikan di kota propinsi menjadi kepala sekolah di SMA Negeri 1 Dili Timur-Timur. Suamiku juga  adalah  seorang guru. Dia orang NTT, karena belum juga lulus PNS di tempat kelahirannya, akhirnya  ikut serta bergabung dengan kami di Tim Tim.  Sekali tes  CPNS langsung Lulus.  Dia ditempatkan di SMKK Negeri 1 Dili Timor Timur.

 

Kami bertiga punya profesi guru. Saat itu sebelum PNS suami saya masih di Maliana, setelah suami PNS  saya minta mutasi di Dili.  Benar, akhirnya saya dimutasikam di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur. Sebagai guru bersyukur saya diberi kesempatan untuk mengajar PGSD  menjadi Tutor.  Selain itu saya juga di diminta untuk  menatar di BPG ( balai Penataran Guru ) bahkan di beri kesempata untuk mengikuti pelatihan Widya iswara di P4TK Yogayakarta 2 kali.

 

Sebuah kebanggaan bagi saya, karena tidak semua guru mendapatkan kesempatan itu. Itu berkat, menjadi fasilitator di BPG,  nota bene punya tambahan penghasilan. Puji Tuhan. Dengan begitu saya bisa membangun rumah untuk tinggal. Hari demi hari kita lalui dengan penuh syukur, sebagai keluarga baru kami menikmati seluruh anugerah yang sudah Tuhan berikan padaku. Kabahagiaan tidaklah muncul  dari harta yang melimpah, tapi muncul dari kebiasaan  hidup yang wajar dan normal.

 

Kami dikaruniai 2 anak putra, keduanya lahir di Tim tim. Walaupun sederhana sudah punya rumah. Dari hasil tabungan yang ada kami sudah bisa membeli taksi untuk tambahan kraena kebetulan ada anak keluarga yang ‘numpang’ dan hidup bersama kami supaya tidak menganggur. Bapak saya sebagai kepala sekolah juga sudah beli rumah  dan kami bisa bangun kos-kosan 12 kamar. Syukur dan puji Tuhan tak pernah lalai kupanjatkan.

 

Takdir menetukan lain. Suasana Tim Tim semakin mencekam. Pemberontakan terjadi dimana-mana. Saat itu anak saya sudahs saya titipkan di Jawa bersama Eyangnya.  Suasana Timor Timur  bukannya semakin membaik tapi  akhirnya……Tim Tim merdeka!  Kami Warga Indonesia harus ‘dipulangkan. Korban berjatuhan. Suasana panik. Saya pun harus meninggalkan Tim Tim dengan segera. Banyak rumah teman-teman terjual dengan harga super murah. Ada yang 3 juta, lima juta, 15 juta. Pokoknya yang peting jadi uang untuk bekal pulang ke Indonesia. Nah, rumah saya ada yang tawar 18 juta, Uang yang cukup besar itu. Tapi ternyata belum sempat dibayar semua bank sudah tutup. Pembakaran terjadi dimana-mana.

 

Saya terpaksa  ngungsi duluan bersama Pasukan perang ‘nunut’ di mobil tentara. Suami masih belum mau mengungsi, membyangkan uang itu. Siapa tahu ‘sang Dewi’ membalikkan fakta dan mau membayarnya. Sedih.  Sampai di Atambua suami belum juga kelihatan. Ribuan pengungsi tumpah ruah di atambua. Bagaimana saya bisa cari suami yang hilang entah dimana? 2 Hari dalam pergumulan, akhirnya kami pun bertemu, dia datang bersama tetangga rumah dan mobil tentara,  anaknya pak Korwas. Dik Hendrik namanya. Dia ini  istrinya adalah orang Tim Tim asli. Harta benda semua kita tinggal karena kita lari tunggang langgang cari selamat. Biarlah, itu tinggal cerita.

 

Jadilah kami seorang pengungsi resmi. Seminggu di atambua kita lanjut perjalanan di kota Kupang. Nah disitu kami ditampung di rumah rusak, dibelakang Kantor dinas PK sekarang. Jl. Suharto no 57. Yang lain di lapangan Polda, yang lainnya lagi tak tahu dimana. Disitulah kami menentukan nasib untuk mutasi di tanah tumpah darah Indonesia. Semua temanku orang jawa semua pindah ke Jawa, kecuali aku. Suami adalah orang Sumba Timur, sebagai istriyang setia  aku harus mengikuti suami dimana saja dia berad. Heeh…..Sampai pak Kakanwil heran, kenapa saya  mau tinggal di NTT?  Itu guru, prinsipnya rela mengabdi untuk anak negeri. Berbakti demi generasi.

 

Tahun 2000 SK pun turun di SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur. Kami merangkak  dari ‘nol’. Prihatin. Saya belum berani membawa anak saya  ke NTT, biarkan  Eyangnya  di Jawa yang urus. Kami  masih hidup sengsara, menderita lahir batin. Harta benda yang kita punya sudah tertinggal semuanya. Kini  di tempat baru rumahpun  masih ‘numpang’ di kakaknya suami. Bersyukur kami punya SK PNS.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

#Pembelajaran

Kalau mau menangkap ayam

Jangan dikejar nanti kita akan lelah

Dan ayampum akan lari

 

Berikanlah ia beras  dan makanan

 nanti akan dengan mudah ia datang dengan rela

 

Begitulah jadi guru ,  melangkahlah dengan baik

Jangan terlalu kencang

Mengejar,  ngotot,  memburu

Nanti akan lelah  tanpa hasil

 

Rela  terus belajar mengeluarkan tenaga, pikiran, mengeluarkan anggaran untuk membeli fasilitas/sarana yang diperlukan. Misal Komputer, HP, Printer, data yang memadai.

 

 

#Pembelajaran

Kalau mau menangkap ayam

Jangan dikejar nanti kita akan lelah

Dan ayampum akan lari

 

Berikanlah ia beras  dan makanan

 nanti akan dengan mudah ia datang dengan rela

 

Begitulsh rejeki,  melangkahlah dengan baik

Jangan terlalu kencang

Mengejar,  ngotot,  memburu

Nanti akan lelah  tanpa hasil

 

Keluarkan sedekah

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...