Rabu, 12 Januari 2022

YATIM PIATU

 


Oleh : Ledwina Eti

 

Di desa Kata’bi  adalah sebuah Panti Asuhan. Anak-anaknya manis-manis. Mereka taat beribadah dan rajin bekerja.  Untuk mencukupkan hidup, mereka  berkebun berternak.  Tak pernah ada rasa lelah di raut  wajahnya. Ambu kudu salah satu  penghuni  di Panti terkesan pendiam.  Didikan Panti asuhan, dalam kamus  hidupnya, hanya ada kata  untuk ‘kebaikan’.  Segala  sesuatu yang  bertentangan  dengan imannya dianggap salah. Cara  berbicaranya datar, santun dan penuh kebenaran.  Ia tidak suka berbohong apalagi menyangkal iman.

Dengan tabiat yang sangat bagus ini akhirnya dia selalu  diminta menjadi pemimpin bagi sahabat-sahabatnya. Dia selalu jadi panutan. Dia  menjadi teladan  bagi seuruh anggota panti asuhan. Kedewasaaan berpikir, kematangan imannya  membuat orang  terkagum-kagum padanya.  Kudu  seolah  menjadi orang tua bagi mereka  penghuni panti.  Dia selalu menasehati dengan keteduhan hati.

Saat korona melanda gadis manis itu terpapar.  Karena ia mempunyai  riwayat sakit asma dan Tuberculosis iapun tak tertolong akibat terserang ganasnya corona.  Kematian memanggilnya. Betapa  panti asuhan merasakan duka yang sangat mendalam.  Mereka bersedih.  Panti terasa  tak ada kehidupan lagi. Pandemi mewabah memang sangat  luar bisa.  80 %  penghuni panti terpapar. Selang seminggu  Rambu  Kahi  teman dekat  Kudu pun tak bisa terselamatkan. Kahi menyusulnya meninggalkan dunia nyata.Semasa  hidup Kahi orangnya rajin bekerja, pendiam tak neko-neko. Dia rajin berdoa dan berpuasa. Dia tinggal di Panti karena sebatang kara,   dia salah satu korban kecelakaan tungggal yang menimpa seluruh keluarganya dan hanya dia yang selamat. Orang tua dan adiknya  meninggal dalam kecelakaan itu.  Kini  Kahi menyusul dengan cara yang berbeda. Sampai di Sorga dia bertanya kepada Sang penjaga Sorga. “Dimana  kudu berada? “, tanyanya.  Kahi menanyakan keberadaan kudu sahabat karibnya saat di panti. ‘Berbincang-bincang lama dengan Malaikat penjaga Sorga, katanya  dia ada di neraka.  Ah!! Betapa kagetnya dia. Yang benar saja!! Rambu Kudu mengerutkan dahi  tak percaya.

 

 

Waingapu, 26 November 2021

 

 

 

 

PERAMPOK

Oleh : Ledwina Eti

 

 

Umbu Maramba adalah salah satu orang terkaya di kota Kambatamapambuhang. Kini dia  sudah berusia 92 tahun. Ketiga anaknya   sudah mapan.  Semua anaknya  sudah berhasil dan tajir mlintir. Sebagai orang kampung  di Sumba mereka punya ratusan hewan, sapi, kerbau dan kuda. Padang Sabana nan luas yang menjadi saksi mata. Umbu mendidik anak dengan sangat baik.  Iman mereka kuat, keluarga mereka  disegani, selalu dipuji dan dihormati.  Begitu terlihat  ideal keluarga mereka dimata para tetangga dan kerabatnya. Seolah mereka  hidup  dalam ‘sorganya’ dunia.  Walau  keluarga kaya mereka tak pernah  alpa berdoa dan bersedekah  untuk orang yang miskin papa.

Tetapi, kenyataannya orang baik tidak selamanya disenangi semua orang. Ada saja orang yang  iri, dengki, sirik dan berpikiran jahat.  Pada suatu malam  perampok datang  kerumah Umbu Maramba.  Mereka merampok serta menghabiskan semua harta benda yang ada dalam rumah panggung mereka. Bukan hanya itu, dengan sadisnya  mereka memenggal kepala  penghuni rumah.   Umbu Maramba dan istri  serta Ndeha sang sopir   tak tertolong, mereka  menghembuskan nafas terakhirnya. Tiga orang  lainnya luka sangat  parah.

Saat kejadian satu orang dalam rumah  yang selamat  tak kuasa melarikan diri. Dia menjadi  saksi mata bagaimana “Sorga” miliknya  dihancurkan.  Rumah dibuat porak poranda oleh penjahat. Suasana begitu menyayat hati dan ngeri!. Dengan kesedihan yang mendalam Don yang luka, tak tega menyaksikan  tuannya bersimbah darah dan tak bernyawa. Dia meradang!. Dia penuh murka!! Dia mengamuk sejadi jadinya. Bagai orang kesurupan ia melampiaskan emosinya.  Dikebasnya  semua perampok  dengan parang yang ia bawa. Semua  perampok dibuatnya tak berdaya melawan dia. Satu persatu perampok mati. ......tiba-tiba!!  buk!!  Dia terjatuh karena terkena balasan tendangan sang perampok.  Karena  terasa sakit  dia sadar, dia terjatuh di bawah tempat tidurnya.. Ehh... ternyata  mimpi.  “sialan!!”.

Waingapu, 26 November 2021

 

 

 

 

 

 

HIDUP UNTUK TUHAN

Oleh : Ledwina Eti

 

 

Di Kota Salura  adalah kota kecil paling ujung pulau Sumba. Disitulah tempat pembantaian orang  yang dirasa  tak sepaham dengan  penguasa saat itu.  Ada 4 orang  perempuan penghuni penjara.  Rambu Hunggu  bersama tiga temannya.  Empat remaja ini  diperlakukan dengan sangat baik.  Kamar penjara mereka terpisah  dari para  tahanan lain.  Mereka  dipaksa melayani napsu bejat dari para penjaga mereka.

Mereka berjanji akan menjamin keamanan,  fasilitas dan  makan minumnya jika dia mau melayani dan menjaga kerahasiaan.  “Asalkan  mau tidur bersamanya,  akan selalu dilindungi” , Janji sang Sipir penjara dan kru. Tapi  Rambu Hunggu selalu menolak ajakan itu. Dalam tahanan  Rambu tak pernah lepas  mendaraskan doa.  Dia selalu memberikan nasehat-nasehat iman untuk ketiga temannya.  Sampai suatu saat  keempat  gadis cantik itu  serentak  menyatakan siap mempertahan kesuciannya walau nyawa taruhannya.  Mereka sepakat  tak memikirkan lagi masa depannya.  Mereka berprinsip jika  mati itulah saatnya bertemu dengan Tuhan.  Bila sorga dunia  sudah hancur, mereka akan merasakan surga yang abadi.

Seiring berjalannya waktu keempat gadis itu kemudian dikirim ke Nggongi.  Dalam hati ada rasa senang sebab bila nanti dibunuh mereka sudah dekat dengan kampung halamannya.  Tawaran  hidup mewah, keamanan terjamin, menjadi istri pejabat tak mereka gubris. “Kami telah menikah dengan Tuhan”, kata  mereka.  Karena merasa tak dihargai niat baiknya oleh keempat gadis itu akhirnya mereka ditampar, dipukuli, disiksa hingga babak belur.  Dia bersikeukeh  untuk mempertahankan kesuciannya. Hari-hari hanya diisi dengan derita, ketakutan dan tangisan. Hanya doa selalu dipanjatkan. Tuhan pasti akan memberikan yang ‘terbaik’. Ternyata berkat keikhlasan dan kesabaran doanya membuahkan hasil. Kepala lapas lama pensiun, digantilah oleh kepala yang baru yang baik hati, adil dan bijaksana. Akhirnya keempatnya dikeluarkan dari penjara. Kini mereka dibebaskan. Mereka melanjutkan misinya untuk hidup membiara.

 

Waingapu, 26 November 2021

                                                                                                                

 

SANG MEMPELAI WANITA

Oleh : Ledwina Eti

 

Pak Doni akhir-akhir ini  terlihat cerita. Kulihat dia senyum-senyum dan begitu bahagia. Ada yang mencurigakan saat kulihat. “Jangan-jangan dia lagi jatuh cinta? “, batinku. Sebagai teman dekat  aku biasa kerjasama saat buat perangkat pembelajaran atau saat mengisi PPK Online, Kami biasa curhat ngobrol sana-sini. Sampailah  pembicaraan yang membuatku penasaran. Ternyata benar dia lagi terkena panah asmara. Terjangkit sakit Malarindu tropikangen, Pantas saja.

Siapakah  nona  yang beruntung itu? Aslinya  dari kota Kebumen, mereka  berkenalan lewat FB sejak setahun yang lalu. Dari  situ benih-benih cinta  mulai tumbuh. Rasa merindu semakin menggebu. Ternyata antara NTT – Jawa bukan kendala menjalin cinta antara dua anak manusia. Pak Doni sudah kepala 4, sudah tak muda lagi. Dia sudah layak dan sepantasnya punya penamping. Nona yang mengaku namanya Sarah usianya 34 tahun. Cocoklah. Mengingat  usinya sudah sangat matang dan seiman dan hati sudah menyatu akhirnya mereka sepakat menikah.

Pak Doni seorang PNS, golongan III/d  sudah punya rumah pula. Nona Sarah adalah guru SD baru-baru lulus P3K. Untuk persiapan nikah sudah kelar. Hari ‘H’ sudah ditentukan. Segala sesuatunya untuk menyambut hari bahagia sudah beres. Surat cuti sudah dilayangkan. Semua berjalan tanpa kendala. Alhamdullilah!! Bunyi  musik lantunan syahdupun berkumandang saat akan dipertemukan antara mempelai pria dan mempelai wanita. Suasana bahagia, tegang, nervous campur jadi satu. Mereka masing-masing didampingi oleh keluarganya. Seolah tak percaya yang dilihat oleh pak Doni. Sang mempelai wanita terus tunduk. Mereka saling membuang sirih, yang artinya ‘kesusu pingin weruh ( ingin segera bertemu). Setelah itu oleh sang perias mengarahkan  mempelai  pria menginjak telur dan kakinya dibasuh dan dilap oleh mempelai wanita. Betapa kagetnya pak Doni ketika melihat bahwa sang istri bukannya Nona Sarah yang dipacari selama ini.  Dia adalah Sarti  adiknya Sarah. Pantas kok gemuk banget, batin pak Doni. Mau bagaimana lagi. Seluruh tamu sudah menjadi  saksi pernikahan mereka. Ya… mau tak mau harus mau. Selamat menempuh hidup baru Pak Doni dan Ibu. Semoga rukun dan bahagia selalu.

                                                                                               Waingapu, 2 Desember 2021

                                                                                                                

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...