Oleh : Ledwina Eti
Di
desa Kata’bi adalah sebuah Panti Asuhan.
Anak-anaknya manis-manis. Mereka taat beribadah dan rajin bekerja. Untuk mencukupkan hidup, mereka berkebun berternak. Tak pernah ada rasa lelah di raut wajahnya. Ambu kudu salah satu penghuni di Panti terkesan pendiam. Didikan Panti asuhan, dalam kamus hidupnya, hanya ada kata untuk ‘kebaikan’. Segala
sesuatu yang bertentangan dengan imannya dianggap salah. Cara berbicaranya datar, santun dan penuh
kebenaran. Ia tidak suka berbohong apalagi
menyangkal iman.
Dengan
tabiat yang sangat bagus ini akhirnya dia selalu diminta menjadi pemimpin bagi
sahabat-sahabatnya. Dia selalu jadi panutan. Dia menjadi teladan bagi seuruh anggota panti asuhan. Kedewasaaan
berpikir, kematangan imannya membuat
orang terkagum-kagum padanya. Kudu
seolah menjadi orang tua bagi
mereka penghuni panti. Dia selalu menasehati dengan keteduhan hati.
Saat
korona melanda gadis manis itu terpapar.
Karena ia mempunyai riwayat sakit
asma dan Tuberculosis iapun tak tertolong akibat terserang ganasnya corona. Kematian memanggilnya. Betapa panti asuhan merasakan duka yang sangat
mendalam. Mereka bersedih. Panti terasa
tak ada kehidupan lagi. Pandemi mewabah memang sangat luar bisa.
80 % penghuni panti terpapar.
Selang seminggu Rambu Kahi teman dekat
Kudu pun tak bisa terselamatkan. Kahi menyusulnya meninggalkan dunia
nyata.Semasa hidup Kahi orangnya rajin
bekerja, pendiam tak neko-neko. Dia rajin berdoa dan berpuasa. Dia tinggal di
Panti karena sebatang kara, dia salah
satu korban kecelakaan tungggal yang menimpa seluruh keluarganya dan hanya dia
yang selamat. Orang tua dan adiknya meninggal
dalam kecelakaan itu. Kini Kahi menyusul dengan cara yang berbeda. Sampai
di Sorga dia bertanya kepada Sang penjaga Sorga. “Dimana kudu berada? “, tanyanya. Kahi menanyakan keberadaan kudu sahabat
karibnya saat di panti. ‘Berbincang-bincang lama dengan Malaikat penjaga Sorga,
katanya dia ada di neraka. Ah!! Betapa kagetnya dia. Yang benar saja!!
Rambu Kudu mengerutkan dahi tak percaya.
Waingapu,
26 November 2021
PERAMPOK
Oleh : Ledwina Eti
Umbu
Maramba adalah salah satu orang terkaya di kota Kambatamapambuhang. Kini
dia sudah berusia 92 tahun. Ketiga anaknya
sudah
mapan. Semua anaknya sudah berhasil dan tajir mlintir. Sebagai
orang kampung di Sumba mereka punya
ratusan hewan, sapi, kerbau dan kuda. Padang Sabana nan luas yang menjadi saksi
mata. Umbu mendidik anak dengan sangat baik.
Iman mereka kuat, keluarga mereka
disegani, selalu dipuji dan dihormati.
Begitu terlihat ideal keluarga
mereka dimata para tetangga dan kerabatnya. Seolah mereka hidup
dalam ‘sorganya’ dunia.
Walau keluarga kaya mereka tak
pernah alpa berdoa dan bersedekah untuk orang yang miskin papa.
Tetapi,
kenyataannya orang baik tidak selamanya disenangi semua orang. Ada saja orang
yang iri, dengki, sirik dan berpikiran
jahat. Pada suatu malam perampok datang kerumah Umbu Maramba. Mereka merampok serta menghabiskan semua
harta benda yang ada dalam rumah panggung mereka. Bukan hanya itu, dengan
sadisnya mereka memenggal kepala penghuni rumah. Umbu Maramba dan istri serta Ndeha sang sopir tak tertolong, mereka menghembuskan nafas terakhirnya. Tiga orang lainnya luka sangat parah.
Saat
kejadian satu orang dalam rumah yang
selamat tak kuasa melarikan diri. Dia menjadi saksi mata bagaimana “Sorga” miliknya dihancurkan.
Rumah dibuat porak poranda oleh penjahat. Suasana begitu menyayat hati
dan ngeri!. Dengan kesedihan yang mendalam Don yang luka, tak tega menyaksikan tuannya bersimbah darah dan tak bernyawa. Dia
meradang!. Dia penuh murka!! Dia mengamuk sejadi jadinya. Bagai orang kesurupan
ia melampiaskan emosinya. Dikebasnya semua perampok dengan parang yang ia bawa. Semua perampok dibuatnya tak berdaya melawan dia.
Satu persatu perampok mati. ......tiba-tiba!!
buk!! Dia terjatuh karena terkena
balasan tendangan sang perampok.
Karena terasa sakit dia sadar, dia terjatuh di bawah tempat
tidurnya.. Ehh... ternyata mimpi. “sialan!!”.
Waingapu,
26 November 2021
HIDUP
UNTUK TUHAN
Oleh : Ledwina Eti
Di
Kota Salura adalah kota kecil paling
ujung pulau Sumba. Disitulah tempat pembantaian orang yang dirasa tak sepaham dengan penguasa saat itu. Ada 4 orang
perempuan penghuni penjara. Rambu
Hunggu bersama tiga temannya. Empat remaja ini diperlakukan dengan sangat baik. Kamar penjara mereka terpisah dari para
tahanan lain. Mereka dipaksa melayani napsu bejat dari para
penjaga mereka.
Mereka
berjanji akan menjamin keamanan,
fasilitas dan makan minumnya jika
dia mau melayani dan menjaga kerahasiaan.
“Asalkan mau tidur
bersamanya, akan selalu dilindungi” ,
Janji sang Sipir penjara dan
kru. Tapi Rambu
Hunggu selalu menolak ajakan itu. Dalam tahanan
Rambu tak pernah lepas mendaraskan
doa. Dia selalu memberikan
nasehat-nasehat iman untuk ketiga temannya.
Sampai suatu saat keempat gadis cantik itu serentak
menyatakan siap mempertahan kesuciannya walau nyawa taruhannya. Mereka sepakat tak memikirkan lagi masa depannya. Mereka berprinsip jika mati itulah saatnya bertemu dengan Tuhan. Bila sorga dunia sudah hancur, mereka akan merasakan surga
yang abadi.
Seiring
berjalannya waktu keempat gadis itu kemudian dikirim ke Nggongi. Dalam hati ada rasa senang sebab bila nanti dibunuh mereka sudah
dekat dengan kampung halamannya.
Tawaran hidup mewah, keamanan
terjamin, menjadi istri pejabat tak mereka gubris. “Kami telah menikah
dengan Tuhan”, kata mereka. Karena merasa tak dihargai niat baiknya oleh
keempat gadis itu
akhirnya mereka ditampar,
dipukuli, disiksa hingga babak belur.
Dia bersikeukeh untuk
mempertahankan kesuciannya. Hari-hari hanya diisi dengan derita, ketakutan dan
tangisan. Hanya doa selalu dipanjatkan. Tuhan pasti akan memberikan yang
‘terbaik’. Ternyata berkat keikhlasan dan kesabaran doanya membuahkan hasil.
Kepala lapas lama pensiun, digantilah oleh kepala yang baru yang baik hati, adil
dan bijaksana. Akhirnya keempatnya dikeluarkan dari penjara.
Kini
mereka dibebaskan. Mereka
melanjutkan misinya untuk hidup membiara.
Waingapu,
26 November 2021
SANG MEMPELAI
WANITA
Oleh : Ledwina Eti
Pak Doni
akhir-akhir ini terlihat cerita. Kulihat
dia senyum-senyum dan begitu bahagia. Ada yang mencurigakan saat kulihat.
“Jangan-jangan dia lagi jatuh cinta? “, batinku. Sebagai teman dekat aku biasa kerjasama saat buat perangkat
pembelajaran atau saat mengisi PPK Online, Kami biasa curhat ngobrol sana-sini.
Sampailah pembicaraan yang membuatku
penasaran. Ternyata benar dia lagi terkena panah asmara. Terjangkit sakit
Malarindu tropikangen, Pantas saja.
Siapakah nona
yang beruntung itu? Aslinya dari
kota Kebumen, mereka berkenalan lewat FB
sejak setahun yang lalu. Dari situ
benih-benih cinta mulai tumbuh. Rasa
merindu semakin menggebu. Ternyata antara NTT – Jawa bukan kendala menjalin
cinta antara dua anak manusia. Pak Doni sudah kepala 4, sudah tak muda lagi.
Dia sudah layak dan sepantasnya punya penamping. Nona yang mengaku namanya
Sarah usianya 34 tahun. Cocoklah. Mengingat
usinya sudah sangat matang dan seiman dan hati sudah menyatu akhirnya
mereka sepakat menikah.
Pak Doni
seorang PNS, golongan III/d sudah punya
rumah pula. Nona Sarah adalah guru SD baru-baru lulus P3K. Untuk persiapan
nikah sudah kelar. Hari ‘H’ sudah ditentukan. Segala sesuatunya untuk menyambut
hari bahagia sudah beres. Surat cuti sudah dilayangkan. Semua berjalan tanpa
kendala. Alhamdullilah!! Bunyi musik
lantunan syahdupun berkumandang saat akan dipertemukan antara mempelai pria dan
mempelai wanita. Suasana bahagia, tegang, nervous campur jadi satu. Mereka
masing-masing didampingi oleh keluarganya. Seolah tak percaya yang dilihat oleh
pak Doni. Sang mempelai wanita terus tunduk. Mereka saling membuang sirih, yang
artinya ‘kesusu pingin weruh ( ingin segera bertemu). Setelah itu oleh sang
perias mengarahkan mempelai pria menginjak telur dan kakinya dibasuh dan
dilap oleh mempelai wanita. Betapa kagetnya pak Doni ketika melihat bahwa sang
istri bukannya Nona Sarah yang dipacari selama ini. Dia adalah Sarti adiknya Sarah. Pantas kok gemuk banget, batin
pak Doni. Mau bagaimana lagi. Seluruh tamu sudah menjadi saksi pernikahan mereka. Ya… mau tak mau
harus mau. Selamat menempuh hidup baru Pak Doni dan Ibu. Semoga rukun dan
bahagia selalu.
Waingapu,
2 Desember 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar