Wis suwe
aku ngrantau nang provinsi liyo
Wis telung
puluh loro tahun suwene
Boso Jowo sampun kesupen sedoyo
Menopo mslih
ingkang boso kromo.
Kangen…. kepingin
nguri-uri nang ati
Aku pancen wong
cilik ora koyo rojo
Biso mangan biso ngombe wae aku wis trimo,
Rasah melu ngupakara wong liyo
Ra ono guno,
iku urusane de’e dewe
Nanging asline ati
iki ana roso
Jroning batin saktenane
pingin kondo
Pingin donga
boso jowo ben ati lego
Ben ora ngudoroso ngoyoworo
Kanjeng Romo
ingkang wonten Suwargo
Asmo dalem
kaluhurno
Kraton dalem mugi-mugi
rawuha ing ati kula
Raosipun wonten donya kados ing suwargo
Paringono Kawula kecekapan rejeki
Sakatahipun kalepatan nyuwun pangapunten
Mugi-mugi
kawula saget maringi pangapunten dateng
sesami
Kaluwarno saking panggoda, tinebihno saking piawon
Supados kawula
saget minggah suwargo
Dados setunggal
Gusti ingkang murbeng dumadi.
Matur nuwun.
Jadi ingat
waktu masih kecil saya dipangku bapak (
Sudayat Hadi Pranoto, alm), diajari
nembang pangkur. Kebetulan saat itu bapak ketua paguyuban kerawitan di rumah. Namanya Eko Budoyo. Paguyuban itu bergerak dibidang kesenian asli jawa, yaitu ketoprak dan sanggar tarian jawa. Saya ingat guru tari kami 3, pak Kayat, pak Darman dan Mbak Budi. Dan di
rumah saat itu punya seperangkat gamelan,
kerawitan (Musik jawa tengah: Red). Dari kecil kami sudah dikenalkan dengan
musik itu. Bahkan saya menguasai
banyak tarian Jawa. Antara lain, Tari Bondan,
Seto kumitir, Gambir Anom, Menak Jinggo Dayun, Klono Tupeng, Gambyong, Sri Rejeki, dll.
Saat
itu kami sering diundang menari saat ada acara pernikahan, syukuran, peresmian gedung, atau yang
lain. Jika saya menari bapak yang tukang
kendang. Ada juga banyak
teman saya yang penari saat itu. adik saya, Dik Rita. kalau tak salah ingat ada Bu Lin, Mardani, Wenti, Mbak Sur, Mbak Titik yang lain sudah lupa. Ada teman dekat saya
nama Suryani sudah meninggal. Saat itu adalah saat yang paling berkesan. Kami masih kecil kadang dapat uang karena menari. Betapa bahagianya saat itu. Kami menari hingga remaja, saat ada festival
di kampus saya juga sering ikut. Pernah
juga saat pelatihan di Jogya (sudah jadi guru di Timor Timur) saya sempat menari tari ‘Sri Rejeki’ di P3K
Matematika Jogyakarta.
Saat itu belum
ada medsos. Fotopun masih langka. Ada juga foto-foto sebenarnya, tapi sudah tak
bisa di selamatkan. Rumah saya di Muntilan, saat gunung merapi ngambeg pasti
kita kena dampaknya. Hujan lebat, abu, dingin menyusup dan lembab. Dengan begitu
foto-foto kenangan basah, becek
dan gambar rusak tak tahan lama.
Sekarang ini
saya tinggal di Sumba Timur. Kota Waingapu tepatnya. Suami putra daerah pula.
Asli Sumba Timur, kelahiran dusun Lamerib, Desa Meurumba. Sebagai istri setia wajib ikut suami dimanapun
berada. Hilanglah logat jawa, hilang
semua ketrampilan yang kupunya. Bahkan
saya juga punya ijasah rias pengantin jawa, ibu juga seorang perias pengantin jawa. Semua
ditinggalkan demi berjuang untuk pengabdian guru PNS
dan cinta. Sebagai Warga yang baik harus rela bertempat di pelosok
Nusantara.
Semuanya tinggal kemangan. Dokumenpun tak bisa untuk membuktikan. Hanya
ingatan yang masih jernih dalam pikiran. Masih sedikit juga tembang pangkur yang kuingat liriknya.
Mingkar-mingkuring
ukoro
Akarono
karenaning margi siwi
Sinawung
resmining kidung
Sinuba
sinukarto
Kang tumprabing
tanah jowo
Agomo ageming
ati
Wis lali kabeh!
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 27
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Jumat,3Juni2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar