Waktu itu saya begitu terkagum-kagum dengan nama orang yang tertulis di berbagai media. Pasti orang hebat. Terkesan intelek. Saya berpikir pasti saya bangga kalau suatu saat namaku bisa terpampang di buku, di koran atau di majalah hehe…. Ah!! mimpi. Tapi mimpi itu bisa diukir, dirajut dengan fokus.
Tanpa
Sepengetahuan siapapun saya iseng mencoba
untuk menulis. Tak satupun kuberitahu, sekalipun suami.
Supaya jika tulisan tidak dimuat tidak malu/kecewa. Tulisan pertama saat
ada lomba olimpiade sains SMA tingkat kabupaten tahun 2009. Saat itu
terjadi ketidakpuasan tentang kejuaraan. Nah saat itu saya buat opini dengan judul “Siapapun bisa dari
juara”. Naskah saya ketik rapi, 600 karakter, saya kirim ke koran Media rakyat saat itu. Koran lokal
kabupaten. Eh!! Ternyata langsung terbit tanpa edit. Bahagia
luar biasa,
bangga campur aduk. Senang sekali
pokoknya, nama dan foto saya
terpampang jelas di koran itu. Saya
kirim lagi di Sumba Pos, terbit lagi. Di Sumba Pembaharuan muncul juga. Di Cakrawala
NTT, majalah provinsi juga dimuat. Saya jadi kenal baik
dengan pimpinan redaksinya, sebuah
kebanggan bagi saya.
Dari
situ akhirnya saya sedikit dikenal, peserta didik yang suka baca, teman-teman
luar sekolah dan ada beberapa orang yang
saya tidak kenal, mereka jadi kenal saya. Ketemu di toko orang tegur saya, Ibu Eti ya!,
katanya. Haa…katanya kenal saya, karena melihat
fotoku di koran. Kepala sekolah saya
waktu itu, Bapak Drs Yeheskiel Rebo (alm) sering memuji saya dan sering
dijadikan contoh supaya teman-teman
meniru saya untuk rajin menulis. Antara bangga dan GR sedikit
dalam hati. Ahh!
tak penting yang terpenting saya sudah bisa membuktikan bahwa ternyata
menulis itu tidak sesulit yang saya
bayangkan dulu. Walau modal nekat ternyata dihargai. “Menulis adalah sebuah
keberanian yang tidak dimiliki semua orang.” ( Pramoedya Ananta Toer). Jadi
saya pribadi merasa bangga karena saya adalah ‘salah satu’ yang ‘berani’
menulis.
Akhirnya
saya berpikir, ternyata menulis itu
mudah. Pak Cah bilang malah menulis semudah bernafas.
Benarkah? Itu relatif menurut saya. Tulisanku yang masih pemula
dan masih receh saja dihargai. Diakui dan diterbitkan. Saat itu saya rajin kirim naskah, tapi karena beban tugas mengajar dan adanya tugas tambahan semakin banyak dan padat akhirnya fakum juga. Saat itu saya
belum ikut komunitas menulis seperti sekarang. Masih mandiri dan tak ada motivator seperti Ibu
Kanjeng, Ibu Lilis, Pak Sahat, Bu Mey dan masih bayak teman menulis yang lain.
Bulan
Maret 2020 corona datang. Sekolah tutup.
Pembelajaran BDR (Belajar dari Rumah). Pembelajaran dari jarak jauh ( PJJ).
Saat itu guru ada waktu lebih banyak karena di
rumah saja. Saya jadi rajin buka HP, selain ber-WA juga
main FB. Dulu saya sebelum PJJ
jarang main hp, tidak aktif juga di
medsos, nama Fb punya tapi tidak aktif. IG
juga ada tapi tidak pernah buka.
Saat
buka face book ada tawaran pelatihan KMO
( Kelas Menulis OnLine) saya ikut. Ada
tawaran masuk grup menulis bunda Lilis,
Menulis Buku Inspirasi ( MBI) saya ikut. Ayo dipinang, mari bergabung membuat buku ber-ISBN
pasti terbit dari Ibu Kanjeng, ikut juga. Asyik!. Termotivasi karena selain
dapat sertifikat juga dapat pengalaman baru. Banyak teman pula, para penulis
hebat seluruh Indonesia. Para anggota grup begitu baik. Begitu familiar, bahkan
serasa bagai mendapatkan saudara. Walau belum pernah lihat sosoknya sama
sekali, tapi seperti sudah kenal lebih dari 10 tahun. Nah, dari situ akhirnya
bisa tambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga..
Akhirnya
cinta lama bersemi kembali. Yang dulu menulis sudah terkubur dalam kini jadi tumbuh lagi. Walau sudah tidak muda
lagi, akhirnya saya berfikir ‘menulis’ untuk kenangan anak cucu kelak jika
saya sudah tiada. Jika suatu saat mereka
baca buku saya, Oh!!, ternyata oma
itu dulu penulis! Hehe.....Biar Jasat terkubur tetapi tulisan bisa selalu
dikenang disepanjang masa.
Hal yang paling diingat dari materi ibu kanjeng saat ikut pelatihan online. Pernyataan Ibu kanjeng: Kalau mau
jadi penulis itu sering-seringlah berteman dengan penulis. Menulislah setiap
hari agar segala kemalasan dan kemandegan dalam menulis akan hilang. Jika kita banyak menulis membuat tulisan kita
lebih berkualitas. Menulis itu bagaikan merancang atau mendisain baju. Setiap
penulis itu memiliki warna tulisan yang berbeda. Tentunya harus
rajin berlatih agar memilki warna
tulisan sendiri. Aku dengar. Aku melihat. Aku ingat. Aku melakukan. Aku Pasti Bisa!.
Dengan menulis akhirnya
aku buat ruang baca tulis sederhana di
sudut rumah. Kupajang buku-bukuku.
Suasana ruangan jadi adhome banget. Kalau sudah duduk di situ jadi krasan dan terasa
nyaman sambil menyalurkan hobi menulis. Ternyata menulis itu hobi yang dibayar.
Terbukti saat jadi kurator aku dapat bonus, selain uang juga dapat buku gratis. Lumayan. Saat
aku jadi editor bukunya teman-teman dari
MBI ( Menulis Buku Inspirasi) buku soloku dibeli peserta. Saat menulis endors para penulis, saya juga dapat hadiah buku. Dari
situ membuat hati bergairah untuk menulis.
Sebenarnya dengan tulus menulis adalah hobi. Jika ternyata ada bonusnya wow! itu sungguh membahagiakan hati. Siapa yang
tak suka hadiah, bonus atau uang. Dengan
begitu akhirnya kita seolah dapat
tantangan untuk tetap rajin menulis supaya tulisannya lebih berbobot. “ala bisa
karena biasa’. Pekerjaan apapun kalau ditekuni pasti akan membawa hasil lebih
baik. Dengan berproses tak akan mengkhianati
hasil.
Nah sekarang ini saya memberanikan ikut challenge
menulis selama 70 hari. Antara jadi/tidak saya ragu. Tanpa ada ikatan dan tantangan biasa rasa malas menyelimuti diri.
Akhirnya saya ikut. Pasti bisa! Dengan
begitu saya pasti akan lebih rajin menulis di tengah kesibukan sebagai guru,
tugas tambahan, ibu rumah tangga dan urusan sosial yang lain. Kini sudah
hari ke-26. Kamis , 1 Juni 2022 pas Hari Lahir Pancasila. Bertepatan Pak
Presiden Jokowi mau datang ke Sumba Timur.
Dengan menyalurkan hobi menulis akhirnya merasa bahwa
‘waktu’ itu terasa berharga sekali.
Bahkan kadang merasa waktu yang
diberikan Tuhan selama 24 itu tidak cukup
untuk memenuhkan semua tugas dan
kerja saya. Prinsipnya dalam hidup harus
pinter-pinter membagi waktu. Jangan lupa tetap tidur yang cukup dan ada juga sisakan
waktu jeda untuk istirahat. Kasihan badan ini
jika tak diberi waktu untuk
istirahat. Istirahat dan tidur itu penting.
Saat saya menulis ini tiba-tiba ada chatt yang masuk sudah 2 hari yang lalu belum sempat saya baca. Isinya bunda Lilis meminta saya untuk
membuatkan ‘endors’ buku solonya pak Yanto guru bahasa Inggris SMP di Atambua.
Ini adalah kali ke-4 untuk mengendors buku teman-teman. Saya sungguh berterima kasih kepada teman yang
sudah memberikan kepercayaan pada saya
penulis pemula. Awalnya ragu juga tapi sekarang anggap saja sudah bisa
karena biasa.
Ini Endornya yang paling
terakhir untuk pak Yanuarius Wadana, S.Pd.
Buku “ KUMPULAN
PUISI“ seorang guru bahasa Inggris di
Belu adalah sebagai bentuk suara ‘curahan rasa’ yang diabadikan lewat indahnya kata-kata. Berisi untaian kata mengandung hikmah dan pesan bermakna.
Kumpulan puisi
ini hasil karya terbaik yaitu karya
seni kreatif dari Bapak Yanuarius Wadan, S.Pd Seorang
guru hebat, guru kreatif dan inovatif sekaligus guru pegiat literasi yang concern
kegiatan menulis. Beliau
berpuisi tentang penyemangat
dalam kehidupan. Tentang pesona
desa, impian, keluarga, kota kelahiran dan masih banyak yang lain. Hal ini
tentunya memesonakan hati bagi pembaca. Dalam
setiap puisi disertai foto-foto
cantik menggugah rasa ingin terus membaca
di lembaran berikutnya.
Keindahan
itu bukan hanya karena pakaian yang dikenakan. Keindahan berkarya itu adalah karena ilmu yang
dituangkan dan kebajikan yang dilakukan.
Kenyataannya tidak semua orang
bisa melakukannya. Berbangga dan
bersyukur bagi kita yang bisa melakukan
dan membuktikan karya nyata kita.
Proficiat buat buku solonya pak Yanuarius, Pak guru motivator! teruslah menulis dan menginspirasi. Buku puisi ini layak
untuk dimiliki sebagai buku referensi pribadi maupun sekolah atau
lembaga ipendidikan. Puisinya semua indah
mempesona. Setiap puisinya penuh makna.
Buku kumpulan puisi ini istimewa dan
punya daya tarik tersendiri bagi para pembacanya termasuk saya.
Semoga buku ini
menjadi penyemangat para guru
Atambua Kabupaten Belu pada
khususnya dan Seluruh guru nusantara
pada umumnya untuk berliterasi.
Guru Mulia karena Karya. Salam literasi
maju terus literasi Indonesia.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge-26
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEtiWuryani
#Rabu,1Mei2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar