Selasa, 31 Mei 2022

A26. AWAL MENULIS Day 26

 

Waktu itu saya begitu terkagum-kagum dengan nama orang yang tertulis di berbagai media. Pasti orang hebat. Terkesan intelek. Saya berpikir pasti saya  bangga kalau  suatu saat namaku  bisa terpampang di buku, di koran  atau di majalah hehe…. Ah!! mimpi.  Tapi  mimpi itu bisa diukir, dirajut dengan fokus.


Tanpa Sepengetahuan siapapun saya iseng  mencoba  untuk menulis.   Tak satupun kuberitahu, sekalipun  suami.  Supaya jika  tulisan tidak dimuat  tidak malu/kecewa.   Tulisan pertama saat ada lomba olimpiade sains  SMA  tingkat kabupaten tahun 2009. Saat itu terjadi  ketidakpuasan  tentang kejuaraan. Nah saat itu saya  buat opini dengan judul “Siapapun bisa dari juara”. Naskah saya ketik rapi, 600 karakter, saya kirim  ke koran Media rakyat saat itu. Koran lokal kabupaten. Eh!! Ternyata langsung terbit tanpa edit. Bahagia luar biasa, bangga  campur aduk. Senang sekali pokoknya, nama dan foto  saya terpampang  jelas di koran itu. Saya kirim lagi di Sumba Pos, terbit lagi. Di Sumba Pembaharuan  muncul juga. Di Cakrawala NTT, majalah provinsi juga dimuat.  Saya jadi kenal baik dengan  pimpinan redaksinya, sebuah kebanggan  bagi saya.


Dari situ akhirnya saya sedikit dikenal, peserta didik yang suka baca, teman-teman luar sekolah dan ada  beberapa orang yang saya  tidak kenal, mereka  jadi kenal saya. Ketemu  di toko orang tegur saya, Ibu Eti ya!, katanya. Haa…katanya  kenal saya,  karena melihat  fotoku  di koran. Kepala sekolah saya waktu itu, Bapak Drs Yeheskiel Rebo (alm) sering memuji saya dan sering dijadikan contoh supaya teman-teman  meniru saya untuk rajin menulis.  Antara bangga dan GR sedikit dalam hati. Ahh! tak penting  yang terpenting  saya sudah bisa membuktikan bahwa ternyata menulis itu  tidak sesulit yang saya bayangkan dulu. Walau modal nekat ternyata dihargai. “Menulis adalah sebuah keberanian yang tidak dimiliki semua orang.” ( Pramoedya Ananta Toer). Jadi saya pribadi  merasa  bangga karena saya adalah ‘salah satu’ yang ‘berani’ menulis.

 

Akhirnya saya berpikir, ternyata  menulis itu mudah. Pak Cah bilang malah menulis semudah bernafas. Benarkah? Itu relatif menurut saya. Tulisanku yang masih  pemula dan masih receh saja dihargai. Diakui dan diterbitkan. Saat itu saya rajin kirim  naskah, tapi  karena beban tugas mengajar  dan adanya tugas tambahan  semakin banyak dan  padat  akhirnya  fakum juga. Saat itu saya belum ikut komunitas menulis seperti sekarang. Masih  mandiri dan tak ada motivator seperti Ibu Kanjeng, Ibu Lilis, Pak Sahat, Bu Mey dan masih bayak teman menulis yang lain.

 

Bulan Maret 2020 corona datang. Sekolah  tutup. Pembelajaran BDR (Belajar dari Rumah). Pembelajaran dari jarak jauh ( PJJ). Saat itu  guru  ada waktu lebih banyak karena di rumah saja. Saya  jadi rajin  buka HP, selain  ber-WA  juga  main FB. Dulu saya  sebelum PJJ jarang  main hp, tidak aktif juga di medsos, nama  Fb punya tapi tidak aktif. IG juga ada tapi tidak pernah buka.

 

Saat buka face book ada  tawaran pelatihan KMO ( Kelas Menulis OnLine) saya ikut.  Ada tawaran masuk grup menulis bunda Lilis,  Menulis Buku Inspirasi ( MBI) saya ikut. Ayo dipinang,  mari bergabung membuat buku ber-ISBN pasti  terbit dari Ibu Kanjeng,  ikut juga. Asyik!. Termotivasi karena selain dapat sertifikat juga dapat pengalaman baru. Banyak teman pula, para penulis hebat seluruh Indonesia. Para anggota grup begitu baik. Begitu familiar, bahkan serasa bagai mendapatkan saudara. Walau belum pernah lihat sosoknya sama sekali, tapi seperti sudah kenal lebih dari 10 tahun. Nah, dari situ akhirnya bisa tambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga..

 

Akhirnya cinta lama bersemi kembali. Yang dulu menulis sudah terkubur dalam kini  jadi tumbuh lagi. Walau sudah tidak muda lagi, akhirnya saya berfikir ‘menulis’ untuk kenangan anak cucu kelak jika saya sudah tiada. Jika suatu saat mereka  baca buku saya, Oh!!, ternyata oma  itu dulu penulis! Hehe.....Biar Jasat terkubur tetapi tulisan bisa selalu dikenang disepanjang masa.

 

Hal yang paling diingat dari materi ibu kanjeng saat ikut pelatihan online. Pernyataan Ibu kanjeng: Kalau mau jadi penulis itu sering-seringlah berteman dengan penulis. Menulislah setiap hari agar segala kemalasan dan kemandegan dalam menulis akan hilang.  Jika kita banyak menulis membuat tulisan kita lebih berkualitas. Menulis itu bagaikan merancang atau mendisain baju. Setiap penulis  itu memiliki  warna tulisan yang berbeda. Tentunya harus rajin berlatih  agar memilki warna tulisan sendiri. Aku dengar. Aku melihat. Aku ingat. Aku melakukan. Aku Pasti Bisa!.

 

              Dengan menulis akhirnya aku  buat ruang baca tulis sederhana di sudut rumah. Kupajang  buku-bukuku. Suasana  ruangan  jadi adhome banget. Kalau  sudah duduk di situ jadi krasan dan terasa nyaman sambil menyalurkan hobi menulis. Ternyata menulis itu hobi yang dibayar. Terbukti saat jadi kurator aku dapat bonus, selain  uang juga dapat buku gratis. Lumayan. Saat aku jadi  editor bukunya teman-teman dari MBI ( Menulis  Buku Inspirasi)  buku soloku dibeli peserta. Saat  menulis endors para penulis,  saya juga dapat hadiah  buku. Dari  situ membuat hati bergairah untuk menulis.

              Sebenarnya dengan tulus menulis adalah  hobi. Jika ternyata ada bonusnya wow!  itu sungguh membahagiakan hati. Siapa yang tak  suka hadiah, bonus atau uang. Dengan begitu akhirnya kita  seolah dapat tantangan untuk tetap rajin menulis supaya tulisannya lebih berbobot. “ala bisa karena biasa’.  Pekerjaan apapun  kalau ditekuni pasti akan membawa hasil lebih baik.  Dengan berproses tak akan mengkhianati hasil.

              Nah sekarang ini saya memberanikan ikut challenge menulis selama 70 hari. Antara jadi/tidak saya ragu.  Tanpa ada ikatan dan tantangan  biasa rasa malas menyelimuti diri. Akhirnya  saya ikut. Pasti bisa! Dengan begitu saya pasti akan lebih rajin menulis di tengah kesibukan  sebagai guru,  tugas tambahan, ibu rumah tangga dan urusan sosial yang lain. Kini sudah hari ke-26. Kamis , 1 Juni 2022 pas Hari Lahir Pancasila. Bertepatan Pak Presiden Jokowi mau datang ke Sumba Timur.

 

              Dengan menyalurkan hobi menulis akhirnya merasa bahwa ‘waktu’ itu terasa berharga sekali.  Bahkan  kadang merasa waktu yang diberikan Tuhan selama 24 itu tidak cukup  untuk memenuhkan semua  tugas dan kerja saya.  Prinsipnya dalam hidup harus pinter-pinter membagi waktu. Jangan lupa tetap tidur yang cukup dan ada juga sisakan waktu jeda untuk istirahat. Kasihan badan ini  jika  tak diberi waktu untuk istirahat. Istirahat dan tidur itu penting.

 

              Saat saya menulis ini tiba-tiba ada  chatt yang masuk  sudah 2 hari yang lalu belum sempat saya  baca. Isinya bunda Lilis meminta saya untuk membuatkan ‘endors’  buku solonya  pak Yanto guru bahasa Inggris  SMP di Atambua.

 

              Ini adalah kali ke-4 untuk  mengendors buku teman-teman.  Saya sungguh berterima kasih kepada teman yang sudah memberikan  kepercayaan pada saya penulis pemula. Awalnya ragu juga tapi sekarang anggap saja sudah bisa karena  biasa.

Ini Endornya yang paling terakhir untuk pak Yanuarius Wadana, S.Pd.

 

 

Buku “ KUMPULAN PUISI“  seorang guru bahasa Inggris di Belu adalah  sebagai bentuk  suara ‘curahan rasa’  yang diabadikan  lewat indahnya kata-kata.  Berisi untaian kata  mengandung hikmah dan pesan bermakna.

Kumpulan puisi ini  hasil karya terbaik yaitu karya seni  kreatif  dari Bapak Yanuarius Wadan, S.Pd  Seorang  guru hebat, guru kreatif dan inovatif sekaligus guru  pegiat literasi yang  concern  kegiatan menulis. Beliau  berpuisi  tentang  penyemangat  dalam  kehidupan. Tentang pesona desa, impian, keluarga, kota kelahiran dan masih banyak yang lain. Hal ini tentunya memesonakan hati bagi pembaca. Dalam  setiap puisi disertai  foto-foto cantik menggugah rasa ingin terus membaca  di lembaran berikutnya.

Keindahan itu  bukan hanya karena pakaian yang  dikenakan. Keindahan  berkarya itu adalah karena ilmu yang dituangkan dan kebajikan yang dilakukan.  Kenyataannya  tidak semua orang bisa melakukannya.  Berbangga dan bersyukur bagi  kita yang bisa melakukan dan membuktikan karya nyata kita.

Proficiat  buat buku solonya pak  Yanuarius, Pak guru motivator!  teruslah menulis  dan menginspirasi.  Buku puisi ini  layak  untuk dimiliki sebagai buku referensi pribadi maupun sekolah atau lembaga ipendidikan. Puisinya semua indah  mempesona. Setiap  puisinya  penuh makna.  Buku  kumpulan puisi ini istimewa dan   punya daya tarik tersendiri  bagi para pembacanya termasuk saya.

Semoga buku ini menjadi penyemangat para guru  Atambua  Kabupaten Belu pada khususnya dan  Seluruh guru nusantara pada umumnya  untuk berliterasi.

Guru Mulia karena Karya.  Salam literasi  maju  terus literasi Indonesia.

Ledwina Eti Wuryani, S.Pd
Guru SMA Negeri 2 Waingapu
Penulis, bloger dan pegiat literasi Nusantara.

 

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku
#challenge-26
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEtiWuryani
#Rabu,1Mei2022 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...