Minggu, 29 Mei 2022

A25. Saat Corona Menyerangku Day25

 

 

Oh Tuhan!.Rintihku  dalam hati. Tak terasa  sesak sekali  hatiku, jika ingat saat itu....

Karena hari Sabtu tak ada kuliah aku pergi ke Eyang di muntilan. Mama suka marah-marah  kalau aku tak kerumah Eyang. Sebenarnya aku ada tugaa untuk mengantar ke gereka setiap hari Minggu.  Tapi bagaimana , kuliahku padat dan tugas banyak. Kadang satu bulan sekali aku baru pergi ke rumah Eyang di Muntilan.

 

Sampai di rumah Eyang ternyata semua penghuni rumah terpapar covid-19. Nah, saat ini aku  jadi dilema. Mau pulang ya tak mungkinlah. Padahal di situ ada tante Rini, Om Yamto dan Ronald anaknya yang 6 tahun. Akhirnya aku tetap masuk, makan dan bermain juga dengan Ronald sehabis aku ngantar Eyang untuk ibadah Sabtu Sore di gereja St. Petrus.

 

Hari  Minggu sore aku pulang ke Jogya karena hari Senin pagi ada kuliah sesi pertama. Sampai di kamar kos badanku kok terasa  lemas...tiba-tiba badanku panas tinggi. Kepala thiung-thiung, terasa mau pecah. Ya Tuhan,  ada apaan ini!!. Seumur  hidup aku belum pernah  merasakan sakit  seperti begini. Aku takut sekali!! Aku mulai panik.  Aku berusaha tenang.  Tenggorokanku mulai terasa sakit. Dag dig dug  dadaku bergetar kencang! Aku jadi ingat...... jangan-jangan aku  terserang covid-19!!.

 

Kok, yang kurasakan  tanda-tandanya seperti yang  kulihat/kubaca di medsos yang terpapar covid ganas Delta vaian.  Kuambil bawang merah, kuiris lalu kucium....,ternyata  tak bisa kurasakan  aromanya. Kuambil kaos kaki dalam sepatu yang kupakai tadi...ternyata aku tak merasakan bau... aku lari ke Indomart beli  minyak kayu putih kucium-cium....benar tak rasa apa-apa. aku mulai gelisah, dan takut.  Duhh!!  Secepat itu  menularnya! Pasti aku ketularan di rumah Eyang. Rasa hati  tak karuan. Jantungpun terus berdebar kencang. Aku panik dan gelisah terus! Aku  jadi ingat,  O Iya!!  Tante Rini positif. Tapi saya tidak salaman tadi, batinku. Saya juga tetap pakai masker......jangan-jangan....Tuhan!!,  ahh!! saya  tak berani curiga.

 

Getaran jatung semakin kencang  diikuti  badan kok tambah panas.  Aku batuk, tenggorokan terasa sakit sekali, dahak yang kukeluarkan  warna coklat!! Kepala terasa berat dan badan semakin panas. Aku  tak sadar apa yang akan terjadi pada diriku.  Hampir copot jantungku. Nafasku semakin sesak malam itu. Aku tak berdaya, hhhh!!  aku  mau minta tolong sama siapa!!?????

 

 Kosku berderet empat kamar ...sepi sekali karena mereka  semua mudik. Jadi aku sendirian. Ya aku sendirian!! Hanya ditemani suara kodok di sawah dan  gesekan bambu diterpa angin dan hembusan udara malam .

 

Tuhan!!!!  “Kuatkan aku!”, rintihku dalam hati.   Aku  terus  berdoa dan hanya bisa berdoa.   Semoga  aku  bisa kuat  menjalani sakit dan penderitaanku ini. Dengan menahan rasa sakit yang amat hebat aku tak bisa tidur, badanku lemas, deman, panas rasanya tubuh ini, perut perih sekali. Lengkaplah penderitaanku. Mau lari ke rumah sakit suasana  malam mencekam.  Aku tak berdaya. Aku juga tak cukup uang ke dokter. Mau telpon mama di NTT, percuma. Nti mereka malah panik.  Semoga ini  bukan malam yang terakhir bagiku.

 

Dalam kepanikan aku mencoba keluar......menatap jam menunjukkan jam 00.23 WIB. Suasana sepi menambah bulu kudukku berdiri.  Kebetulan  dibelakang  kamar kosku adalah kuburan. Di perkampungan pula. Sunyi sepi........ Maklum anak rantau, jadi  cari kos yang murah dan sepi. Selain  tak memberatkan ortuku yang  penghasilannya pas-pasan dengan harapan bisa belajar dengan baik di lingkungan yang sepi.  Angin  berhembus sepoi-sepoi. Menyusup hingga ke nadi. Aku  duduk di teras kos seraya merenungi nasib dan menahan sakitku. Aku tak berani cerita karena takut diusir pemilik kos. Saat ini  lagi heboh-hebohnya  orang terpapar. Aku berusaha menenangkan diri. Biarlah kutanggung sendiri sakitku, aku berusaha bertahan.

 

 Aku hanya ditemani nyamuk yang sesekali menggigitku. Aku tak bisa tidur semalaman. Sambil menahan sakit kepalaku dan batuk yang terus tak henti.   Mencoba kutahan.......sampai akhirnya kudengar suara  mesjid adzan  subuh dari kejauhan... kulihat HP ternyata sudah jam 04.43 WIB.

 

Hari ini jadwalku  harus ke rumah sakit Betheda...sendiri, ku stater motorku  untuk swab, mbayar Rp250ribu. Aduh!! Mahal sekali, uang makanku seminggu!! Tak apalah,  demi sebuah kesehatan. Gegub jantung, rasa was was dan takut  bersamaan menunggu  hasil swab. Tak lama kemudian perawat  membawa hasilnya. .......ternyata, benar aku positif!!! “Delta Varian” virus terbaru yang ganas  dan sedang  menggila.

 

Kepala terasa disambar petir.  Aku hampir  pinsan mendengar  berita itu. Untung Tuhan menguatkanku.  Dari    62  yang swab disitu,  hanya ada 3 orang  yang  positif.  Termasuk aku!. Lunglai  rasanya bagai badan tak bertulang. Aku diberi obat, mungkin vitamin ya. Disuruh  minum setiap hari. Perawat  pesan supaya,  ingat prokes ketat, olah raga, berjemur setiap jam 09.00 WIB   dan  jangan lupa olah raga. Dengan langkah gontai  aku meninggalkan rumah sakit. Aku  tak bisa berkata-kata. Aku mau  curhat sama siapa. Kalau aku  cerita aku pasti diusir, mau kemana??. Tak terasa airmata menetes  deras dipipiku.

 

Hari demi hari  kujalani selama pesakitan ini.  Kemarin ada temanku meninggal di kampus, padahal awalnya dia  sehat-sehat.  Di Jogya Zona merah, saat itu ternyata di Muntilan zona hitam menurut berita  akan segera lookdown. Aku jadi  kepikiran dengan nasib diriku. Sakitku belum juga berkurang.  Selain panas, tenggorokanku  sakit sekali, kumasuki  makanan dengan paksa masih  teramat sakit kalau menelan.

 

Jantungku ini deg degan kencang terus, aku selalu tersugesti  dengan kematian.  Aku hanya bisa  terus berdoa dan  tak henti. Tuhaaannnnn.......bantu  hambamu. Sembuhkanlah aku. Airmata deras  selalu membasahi pipiku. Aku takut sekali. Aku tak berdaya.  Aku hampir  putus asa.

 

Akhirnya terpaksa aku cerita keadaanku ke Tante Fanie yang di Jakarta (adiknya mama no.2) tentang keadaanku......... Akhirnya  tante   mengirimkan aku obat Cina ‘Lian Hua’ namanya. Pasti itu mahal harganya. Harus diminum  3x4 butir sehari selama 9 hari. Obatnya gede-gede pula.  Demi kesembuhan aku mulai minum. Tante terus cek tentang  keberadaanku. Sejak tante di Jakarta tahu saku sakit, makanan  enak dan vitamin terus mengalir  terus lewat go-send. Lancar jaya. Orang sakit obatnya  gembira, mencoba tidak stress,  makan yang enak-enak. Semua dipenuhi oleh tante. Semua ini berkat adanya online, tante yang pesan  dari Jakarta barang sampai di kosku.  Tante memang paling sayang sama aku, mereka punya anak perempuan semua. Yang satu kuliah di Jogya  dekat kosku dan yang satu SMA di Semarang

 

Inilah aku. Saatnya aku berjuang untuk diriku.  Aku harus kuat. Aku  sayang  pada diriku. Love self. Aku harus sehat. “pasti bisa!. Ya pasti Bisa.  “Tuhaannnnn....dengarkan aku!”,  pintaku  mohon belas kasihan Tuhan.  Tak akan sedetikpun  aku meninggalkan Tuhan.  Kudaraskan  doaku terus menerus. Aku ingin  hidup!. Aku  tak boleh gampang menyerah! Aku  tak ingin orang tua dan keluargaku  sedih mendengar  fakta yang kurasakan.

 

Tenggorokan  sakit sekali kalau menelan, tapi  terus  kupaksakan diri untuk makan dan  minum air panas. Dengan keringat dingin terus kumasukkan nasi kemulutkan  demi keselamatanku. Aku tak boleh  cengeng. Harus kuat, harus semangat!

 

Tiba-tiba  bapa, mama  telpon, pasti ini tante yang memberitahukan tentang aku. Aku berusaha tenang,  aku menutupi sakitku yang sebenarnya.  Seolah-olah aku baik-baik saja. Tentunya agar  ortu tetap tenang. Hanya  aku berharap semoga Bos tidak  tanya  laporan dan Tugas akhirku.

 

Masa Isoman 14 hari, terasa lamaaaa.....sekali. Sebenarnya aku hampir tak tahan dengan sakitku,  aku tak sanggup lagi  menanggung  penderitaan ini. Aku ingin berontak! kesaalllll!!! Tapi sama  siapa??? Tuhan  tak akan mencobai  umatnya melebihi kemampuannya.  Aku yakin dan percaya!.  Kata-kata itu yang selalu menguatkan perasaanku.

 

Puji Tuhan, dengan  penghiburan dari orang-orang terdekat. Dengan doa. Akhirnya sakitku mulai berangsur sembuh. Tuhan selalu menjagaku, mendampingiku dan masih memberiku  kesempatan  padaku untuk melanjutkan ziarah kehidupanku.

Trimakasih untuk pengalaman ini,  Akhirnya aku sudah  terbebas dari Tante Corona. Aku jadi menghargai kehidupan. Pandemi membuat aku menjadi dewasa dan terus bersyukur kepadaNya.  Beruntung saya  tidak punya penyakit bawaan, jadi  selamat.

 

Ini sejarah bahkan pandemi memang ada.  Sempat menggoncang dunia. Karena Dia raturan ribu nyawa melayang. Dia datang ke Indonesia sejal 20 Maret 2020 hingga kini 31 Mei 2022 masih ada juga. Semoga segera tuntas dan  kami seluruh dunia terbebas.

 

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 25

#Rumah literasi PMA

#LedwinaEtiWuryani 

#Rabu,25Mei2022

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...