Minggu, 29 Mei 2022

A24. MERAJUT ASA Day 24

cerpen 


 


 

Sebut saja Domi.  Aku  dilahirkan di kampung kecil di pulau kecil.  Paling Timur Indonesia. Aku tinggal dengan orang tuaku.  Dua kakakku perempuan dan aku  anak bungsu. Bapak adalah seorang kepala desa. Hidup kami  boleh dibilang ‘cukup’ apalagi  kalau  dibanding  tetangga  di sekitarku.

Kini aku sudah lulus  SD Lindi Pingu dikampungku. Aku berniat  melanjutkan  ke SMP. Di kampung belum ada SMP, jadi harus hijrah ke Kota.  Bu guru pernah bilang  kalau ingin jadi  orang sukses. Ya sekolah setinggi-tingginya!!. Saya  selalu ingat nasehat  ibu Nona, guruku  waktu SD. Orang bodoh itu pemilik masa lalu, gampang ditipu dan miskin terus, maka kamu  harus rajin belajar supaya jadi anak yang pintar, kata ibu nona saat itu.  Karena  SMP  yang ada hanya di kota, kota sangat jauh harus ditempuh dengan jalan kaki atau naik kuda. Jarak tempuh  bisa  2 jam perjalanan  atau sekitar 80-an km. Jauuhh!!.  Tempat tinggal  kami perbukitan, banyak tebing terjal,  lembah curam dan ada juga padang sabana yang luas membentang.  Mobil  dan motor belum  ada yang  masuk di kampung kami. Perjalanan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki atau kuda saja. Dari sekian puluh tahun yang lalu setiap ada Pilkada selalu di pihak yang kalah. Dengan begitu dampaknya tak pernah  kena sentuhan pembangunan.

Bapak menginginkan aku  jaga hewan  saja tak perlu sekolah . Saya anak laki-laki satu-satunya,  kedua kakakku perempuan. Menurut adat   perempuan kalau  sudah menikah  harus  ikut  suami. Mereka perempuan tak ada hak warisan dari orang tua karena mereka dianggap ‘orang keluar’. Saya  sebenarnya yang punya tanggungjawab  untuk  menjaga orang tua dan seluruh  ternak dan  sawah orang tua.

Aku  bersikeras untuk sekolah. Harus!!. Aku harus mengejar mimpiku. Sekolah penting untuk  masa depanku. Aku harus sekolah di Jawa. Kalau perlu nanti aku punya istri orang Jawa haha!!.  Tanpa ijin orang  tua  aku lari dari  rumah. Jarak dari rumah ke kota  lumayan  jauh.  Aku  jalan kaki  bisa sekitar 20-an km sampai di jalan raya. Kutunggu  bis kayu yang biasa  bawa penumpang ke kota. Dengan bis kayu itu kami naik  bersama  hewan kuda atau anak sapi.  Itu sudah biasa, memang begitu  muatan bis kayu sehari-hari. Karena  aku tak punya  uang,  aku  bayar  om supir dengan  ayam yang kubawa, aku angkat ayam dirumah tanpa ijin mama. Sudah biasa orang  kampung  membayar pakai apa yang ada di rumah. Bisa dengan ayam, pisang, keladi. Pak Sopirpun tak  pernah menuntut lebih. Apapun yang penumpang bawa , ya itulah yang diterima tanpa protes.

Sampai di kota  aku langsung  menuju ke gereja. Saya berpikir kalau  di gereja pasti  tempatnya orang  baik . Tanpa malu-malu  saya  menuju  pastoran di Gereja Bunda Allah. Disitu ada  seorang  pastor orang belanda, bernama Romo WinKel. Aku mendekatinya.  Aku berdiri di samping pater....hehe... siapa tahu  pater  butuh  tenagaku.  Akhirnya  benar dugaanku.  Hai umbu ( umbu adalah  panggilan anak laki orang sumba: Red) . Dengan  ramah pater  menyapaku. Beliau mengajakku  masuk. Duh!! Betapa  senangnya hatiku. Dengan badan yang kemomos (kotor) dan tak beralas kaki aku memberanikan diri untuk masuk.  Pater  baiiik sekali, beliau cerita banyak kepadaku. Aku  diajak makan juga.  Ternyata  anak-anak asrama banyak juga di situ, beliau bilang  khusus anak Sumba Timur gratis diasrama dan di sekolah.

Pater  menawarkan aku tinggal di asrama. Ini yang namanya ‘Pucuk di cinta ulam tiba. Tanpa berpikir panjang aku mengiyakan tawaran Pater. Dengan begitu  aku resmi jadi penghuni asrama.  Aku  sekolah  gratis!. Semua  kegiatan diatur dengan jam. Anak asrama  punya tugas masing-masing, terjadwal rapi di tempel di  dinding aula. Dari piket, cuci piring, siram sayur, pel dll.

Makan 3 kali sehari. Sayur  dikebun  petik sendiri. Piara ayam. Pokoknya terjamin deh!. Kadang kita  minum susu juga, ada sumbangan dari luar negeri.  Orang NTT terkenal mayoritas tak mampu, maka sering dapat bantuan. Ternyata biaya hidup adalah  bantuan dari jerman. Orang jerman yang kaya raya dan berjiwa sosial.  Bantuan diberikan kepada Pastor untuk dikelola membantu anak-anak  miskin yang membutuhkan. Bahagianya kita. Di kampung aku tak pernah minum susu, makanpun seadanya. Di Asrama terjamin semua, jangan heran kalau pipiku jadi montok.

Enam tahun tak  terasa hidup di asrama. Kini saya  sudah lulus SMA. Saya beranikan  diri pulang ke kampung. Saya pulang  bapak biasa-biasa saja. Bapak cuek saja.  Mama memang sudah meninggal sejak aku masih bayi. Mama yang ada  sekarang adalah mama tiri, tapi beliau tak punya anak.

Aku ijin orang tua kalau  ingin kuliah. Eh  bapak masih melarangnya. Orang  tua  sudah menyiapkan istri  untuk saya. Adat kami  sebagai laki-laki harus  menikah dengan ‘nona’ anak dari om. Bapak sudah  cicil bayar ‘belis ( mahar kalau bahasa Jawa : Red). Dan saya harus mau.  Setelah nikah Saya  harus  ambil alih tugas bapak. Ya! jaga  hewan, bapak sudah  tua. Kami banyak anak-anak dalam rumah. Yang tinggal  bersama orang  tua bisa lebih dari 20-an orang.  Mereka  itu yang biasa  di suruh-suruh. Ada yang jaga  ternak. Ada yang urus  kebun. Ada pula yang urus ladang dan sawah. 

Saya  cari  akal supaya saya bisa  lanjut sekolah di jawa.  Demi  sebuah cita-cita saya  sampai terbawa mimpi. Akhirnya saya tak ijin ke orang tua, saya curi 2 ekor kudanya bapak dibantu ama kudu. Setelah terjual aku naik kapal kelimutu menuju Jawa. Saya mendaftar kuliah di IKIP Swasta di Jawa.  Karena nilaiku di SMA bagus, syukurlah aku diterima tanpa tes. Aku selalu dapat ranking saat di SMA. Saat-saat kuliah adalah sebuah perjuangan yang berat bagi saya. Saya  harus bersaing dengan orang-orang jawa yang hebat.

Aku berusaha belajar tekun. Aku rajin ke perpus. Aku tak malu mendekati temanku yang kulihat baik hati. Aku juga berusaha  untuk  aktif diorganisasi seperti Pramuka, Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam), Sema ( Senat Mahasiswa). Dengan begitu akhirnya  saya di kenal dosen. Wah,  beruntung aku ditawari beasiswa. Tak pikir panjang aku terima beasiswa itu. Rejeki memang tak salah alamat.  Lumayan bisa untuk biaya hidup sebagai orang rantau. Aku mencoba menulis di majalah lokal, berkali-kali tak dimuat tak pernah dimuat. Berkat kesabaran akhirnya dimuat juga. Ini salah satu income buatku. Aku jadi rajin menulis di koran-koran lokal. Lumayan juga , setiap koran terbit dan tulisanku dimuat ada duwit yang masuk dikirim dengan wesel saat itu.

Ada orang sumba yang menjabat Protokol di kantor  gubernur, masih keluarga pula. Di semester 3 kukirim Nilai di KRS-ku, kusampaikan kalau orang tua tak mau membiayai aku. Puji Tuhan Pak Lukas mengirimiku setiap bulan Rp Rp 15.000,- sementara  uang kuliah perbulan Rp7.500,-

Selama 8 semester tak ada kendala. Terus berjuang merajut Asa. Beasiswa lancar, kuliah juga lancar. Hingga semester 8 doaku terkabul,  nona orang Jawa yang kutembak ternyata menjawab oke. Lengkaplah kebahagiaanku. Tugasku menyelesaikan skripsiku. Linda kekasihku lulus duluan  karena dia mengambil D3. Dia  ditempatkan di Timor Timur.  Aku pacaran LDR. Dua tahun kemudian kami menikah di Jawa. Aku ikut tes PNS di Timtim langsung lulus dan ditempatkan di SMKK di Dili.

Singkat cerita karena Timor Leste sudah merdeka saya sudah kembali lagi di kampung halamanku. Hidup memang perjuangan. Trimakasih Tuhan  kini aku sudah menjadi orang yang berguna. Aku harus tetap  rendah hati, aku percaya Tuhan akan terus menuntunku, semoga aku dimampukan untuk menjadi penyalur berkat-Nya. Semoga!

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge-23

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEtiWuryani

#Selasa31Mei2022 

 



 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...