cerpen
Sebut
saja Domi. Aku dilahirkan di kampung kecil di pulau kecil. Paling Timur Indonesia. Aku tinggal dengan orang
tuaku. Dua kakakku perempuan dan
aku anak bungsu. Bapak adalah seorang
kepala desa. Hidup kami boleh dibilang ‘cukup’
apalagi kalau dibanding
tetangga di sekitarku.
Kini
aku sudah lulus SD Lindi Pingu dikampungku.
Aku berniat melanjutkan ke SMP. Di kampung belum ada SMP, jadi harus hijrah ke Kota. Bu
guru
pernah bilang kalau ingin jadi orang sukses. Ya sekolah setinggi-tingginya!!.
Saya selalu ingat nasehat ibu Nona, guruku waktu SD. Orang bodoh itu pemilik masa lalu, gampang ditipu dan miskin terus,
maka kamu harus rajin belajar supaya jadi
anak yang pintar, kata ibu
nona saat itu. Karena SMP
yang ada hanya di kota,
kota sangat jauh harus ditempuh dengan jalan kaki atau
naik kuda. Jarak tempuh bisa 2 jam perjalanan atau sekitar 80-an km. Jauuhh!!. Tempat tinggal kami perbukitan, banyak tebing
terjal, lembah curam dan ada juga padang sabana yang luas membentang. Mobil dan motor
belum ada yang masuk di kampung kami. Perjalanan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki atau
kuda saja. Dari sekian puluh tahun yang lalu setiap ada Pilkada selalu di pihak
yang kalah. Dengan begitu dampaknya tak pernah
kena sentuhan pembangunan.
Bapak
menginginkan aku jaga hewan saja tak perlu sekolah . Saya anak laki-laki
satu-satunya, kedua kakakku perempuan.
Menurut adat perempuan kalau sudah menikah
harus ikut suami. Mereka perempuan tak ada hak warisan dari orang tua
karena mereka dianggap ‘orang keluar’. Saya sebenarnya yang
punya tanggungjawab untuk menjaga orang tua dan seluruh ternak dan
sawah orang tua.
Aku bersikeras untuk sekolah. Harus!!. Aku harus mengejar mimpiku. Sekolah
penting
untuk masa depanku. Aku harus sekolah di Jawa. Kalau perlu nanti aku
punya istri orang Jawa haha!!. Tanpa ijin orang tua
aku lari dari rumah. Jarak dari
rumah
ke kota lumayan jauh.
Aku jalan kaki bisa sekitar 20-an km sampai di jalan
raya. Kutunggu bis kayu yang biasa bawa penumpang ke kota. Dengan bis kayu itu kami naik bersama
hewan kuda atau anak sapi. Itu
sudah biasa, memang begitu muatan bis
kayu sehari-hari. Karena aku tak punya
uang, aku bayar
om supir dengan ayam yang kubawa, aku angkat ayam dirumah tanpa ijin mama.
Sudah biasa orang kampung membayar pakai apa yang ada di rumah. Bisa dengan ayam, pisang, keladi.
Pak Sopirpun tak pernah menuntut lebih.
Apapun yang penumpang bawa , ya itulah yang diterima tanpa protes.
Sampai
di kota aku langsung menuju ke gereja. Saya berpikir kalau di gereja pasti tempatnya orang
baik . Tanpa malu-malu saya menuju
pastoran di Gereja Bunda
Allah. Disitu ada seorang pastor orang belanda, bernama Romo WinKel.
Aku mendekatinya. Aku berdiri di samping
pater....hehe... siapa tahu pater butuh
tenagaku. Akhirnya benar dugaanku. Hai umbu ( umbu adalah panggilan anak laki orang sumba: Red) . Dengan ramah pater menyapaku.
Beliau mengajakku
masuk. Duh!! Betapa senangnya
hatiku. Dengan badan yang
kemomos (kotor) dan tak beralas kaki aku memberanikan diri untuk masuk. Pater
baiiik
sekali, beliau cerita banyak
kepadaku. Aku diajak makan juga. Ternyata
anak-anak asrama banyak
juga di situ, beliau
bilang khusus anak Sumba Timur gratis
diasrama dan di sekolah.
Pater menawarkan aku tinggal di asrama. Ini yang namanya ‘Pucuk
di cinta
ulam tiba’. Tanpa berpikir panjang aku mengiyakan
tawaran Pater.
Dengan begitu aku resmi jadi penghuni
asrama. Aku sekolah
gratis!. Semua kegiatan diatur
dengan jam. Anak asrama punya tugas
masing-masing, terjadwal
rapi di tempel di dinding aula. Dari piket, cuci piring, siram sayur, pel dll.
Makan
3 kali sehari.
Sayur dikebun petik sendiri. Piara ayam. Pokoknya terjamin
deh!. Kadang kita minum susu juga, ada sumbangan dari luar negeri. Orang NTT terkenal mayoritas tak mampu, maka sering dapat bantuan. Ternyata
biaya hidup adalah bantuan dari jerman. Orang jerman yang kaya
raya dan berjiwa sosial. Bantuan
diberikan kepada Pastor
untuk dikelola membantu anak-anak miskin
yang membutuhkan. Bahagianya kita. Di kampung aku tak pernah minum susu, makanpun seadanya. Di Asrama terjamin
semua, jangan heran kalau pipiku jadi montok.
Enam tahun tak terasa hidup di asrama. Kini saya sudah lulus SMA. Saya beranikan diri pulang ke kampung. Saya pulang bapak biasa-biasa saja. Bapak cuek saja. Mama memang sudah meninggal sejak aku masih
bayi. Mama yang ada sekarang adalah mama
tiri, tapi beliau tak punya anak.
Aku
ijin orang tua kalau ingin kuliah.
Eh bapak masih melarangnya. Orang tua
sudah menyiapkan
istri untuk saya. Adat kami sebagai laki-laki harus menikah dengan ‘nona’ anak dari om. Bapak
sudah cicil bayar ‘belis’ ( mahar kalau bahasa Jawa : Red). Dan saya harus
mau. Setelah nikah Saya harus ambil alih tugas bapak. Ya! jaga hewan, bapak sudah tua. Kami banyak anak-anak dalam rumah.
Yang tinggal bersama orang tua bisa lebih dari 20-an orang. Mereka
itu yang biasa di suruh-suruh.
Ada yang jaga ternak. Ada yang urus kebun. Ada pula yang urus ladang dan sawah.
Saya cari
akal supaya saya bisa lanjut sekolah di jawa. Demi
sebuah cita-cita saya sampai terbawa mimpi. Akhirnya saya tak ijin ke orang tua, saya curi 2 ekor
kudanya bapak dibantu ama kudu. Setelah terjual aku naik kapal kelimutu menuju
Jawa. Saya mendaftar kuliah di IKIP Swasta di Jawa. Karena nilaiku di SMA bagus, syukurlah aku
diterima tanpa tes. Aku selalu dapat ranking saat di SMA. Saat-saat kuliah adalah
sebuah perjuangan yang berat bagi saya. Saya
harus bersaing dengan orang-orang jawa yang hebat.
Aku berusaha belajar tekun.
Aku rajin ke perpus. Aku tak malu mendekati temanku yang kulihat baik hati. Aku
juga berusaha untuk aktif diorganisasi seperti Pramuka, Mapala
(Mahasiswa Pencinta Alam), Sema ( Senat Mahasiswa). Dengan begitu akhirnya saya di kenal dosen. Wah, beruntung aku ditawari beasiswa. Tak pikir
panjang aku terima beasiswa itu. Rejeki memang tak salah alamat. Lumayan bisa untuk biaya hidup sebagai orang
rantau. Aku mencoba menulis di majalah lokal, berkali-kali tak dimuat tak pernah
dimuat. Berkat kesabaran akhirnya dimuat juga. Ini salah satu income buatku. Aku
jadi rajin menulis di koran-koran lokal. Lumayan juga , setiap koran terbit dan
tulisanku dimuat ada duwit yang masuk dikirim dengan wesel saat itu.
Ada orang sumba yang menjabat
Protokol di kantor gubernur, masih
keluarga pula. Di semester 3 kukirim Nilai di KRS-ku, kusampaikan kalau orang
tua tak mau membiayai aku. Puji Tuhan Pak Lukas mengirimiku setiap bulan Rp Rp
15.000,- sementara uang kuliah perbulan
Rp7.500,-
Selama 8 semester tak ada
kendala. Terus berjuang merajut Asa. Beasiswa lancar, kuliah juga lancar.
Hingga semester 8 doaku terkabul, nona
orang Jawa yang kutembak ternyata menjawab oke. Lengkaplah kebahagiaanku. Tugasku
menyelesaikan skripsiku. Linda kekasihku lulus duluan karena dia mengambil D3. Dia ditempatkan di Timor Timur. Aku pacaran LDR. Dua tahun kemudian kami
menikah di Jawa. Aku ikut tes PNS di Timtim langsung lulus dan ditempatkan di
SMKK di Dili.
Singkat cerita karena Timor
Leste sudah merdeka saya sudah kembali lagi di kampung halamanku. Hidup memang
perjuangan. Trimakasih Tuhan kini aku
sudah menjadi orang yang berguna. Aku harus tetap rendah hati, aku percaya Tuhan akan terus
menuntunku, semoga aku dimampukan untuk menjadi penyalur berkat-Nya. Semoga!
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge-23
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEtiWuryani
#Selasa31Mei2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar