Minggu, 29 Mei 2022

A23. PenyesalanAnak Durhaka Day23

 

Cerpen

 


 

            Disebuah  dusun kecil hiduplah  keluarga kecil yang bahagia. Mereka  termasuk keluar terpandang. Hidup mereka terpandang karena  memiliki  tanah yang luas. Ladang dan kebun yang luas, serta  sawah yang berhektar-hektar. Ternakpun banyak, seratus ekor lebih. Ada sapi, kerbau, kuda  dan kambing peliharaannya.  Mereka hanya  dikaruniai satu anak saja.  Dotir namanya. Nama itu kenangan karena  pertama kali ada dokter masuk di kampungnya. Untuk mengabadikan namanya dipanggilnya  anak semata wayangnya itu dengan Dotir. Sebagai panggilan kesayangannya. Nama Asli dokter adalah Umbu Maramba Rihi. Dipanggil Dotir karena lidah kampung susah menyebut kata ‘Dokter’.

            Bapaknya Dotir, Umbu Dundu Milanau dan  mamanya Rambu May Nggiri mereka hidup bahagia. Umur 6 tahun Dotir kecil disekolahkan  SD  dikampung  sebelah, Matawai Maringu. Jarak 5 km dari rumah. Dia  berjalan kaki. Jalan yang  medannya susah karena lokasinya perbukitan naik turun gunung.  SD berada di balik gunung. Di sekolah Dotir mempunyai banyak teman.  Ia tak pernah  memilih teman. Dia familiar dan baik hatinya.  Dia disukai  teman-temannya.  Dia termasuk anak yang cerdas, hingga dia jadi panutan  tema-temannya.  Dia selalu ranking pertama dikelasnya, betapa bahagianya orang  tua Dotir.

Tak terasa Dotir sudah mulai menginjak remaja,  sudah lulus di SD-nya. Mamanya  mendaftarkan dia masuk SMP di kota. Dia harus kos. Maklum tidak ada  keluarga di kota. Hari demi hari dilalui sebagai siswa SMP. Orang tua mengganggap Dotir sudah dewasa, dotir sudah bisa mandiri.  Di sekolah ia  berkenalan dengan Ambu Kudu. Ternyata Kudu anak dari kampung sebelah. Siswa baru juga.  Kudu orang miskin tak berpunya bahkan hidup  sangat sederhana. Dia hidup bersama ibunya yang  sudah menjanda karena bapaknya meninggal saat Kudu masih balita. Untuk biaya sekolahnya, mamanya jualan kayu api. Dia cari kayu di hutan kemudian dititipkan  dengan ‘bis kayu’ (truk yang dimodif sehingga untuk bis penumpang: Red) untuk dijual di kota. Senang Dotir berteman dengan Kudu karena anaknya  baik, sopan  dan pintar  membawa diri.

Tahun pun berganti. Tak terasa Dotir kini sudah lulus SMP. Ia harus lanjut ke SMA. Berkat nilai yang bagus, Dotir bisa  sekolah di SMA favorit di kota Wula Wajelu. Sedang  Kudu harus  berhenti  dulu sekolahnya.  Dia dan ibunya menabung dulu.  Rencana tahun depan baru masuk SMA. Mereka menyadari akan keadaan ekonomi orangtuanya..

Kini Dotir  menjadi  peserta didik SMA. Kerenn!!. Betapa bangga terasa di lubuk hatinya.  Dia berteman dengan  Boby, Denny dan Roland. Ternyata  ketiga temannya itu adalah  anak-anak pejabat di kota itu. Hidup mereka  berhura-hura, foya-foya  karena memang mereka bergelimang harta. Dotir  sudah masuk dalam jaringan mereka. Dia  tidak bisa menghindar.  Apalagi dia  kos sendiri jadi tak berdaya untuk melawan mereka. Dia menyesuaikan kehidupan mereka. Terbentuklah ‘geng’ dimana Dotir  adalah salah satu anggota mereka. Temannya bukan memberi motivasi positif, tapi  Dotir diperkenalkan pada  hal-hal yang tidak pernah dotir alami. Demi gengsi karena dibilang kampungan Dotir akhirnya menyesuaikan  dengan kehidupan mereka. Dotir tak kuasa menolak permintaan mereka..  Misal   minum-minuman, jika Dotir menolak mereka bilang  “Ahh!!”  “Kampungan” kamu!.  Kalau diajak ngebut-ngebutan, dotir menolak dikata  : “ Banci kalik  kau ya!, Masak anak muda  nggak bisa ngebut naik motor??.Gengsi dong!!  Kadang merekapun mengajaknya  ‘Judi’ ya!!..Judi dengan kartu . Orang tua di kampung tidak pernah tahu kalau Dotir sudah ‘terjerumus’ dalam pergaulan yang  tidak baik. Orang tua  dengan lugunya  selalu meluluskan permintaannya.  Ortu selalu berpikir positif, karena  orang tua tahu Dotir adalah anak baik, anak pintar dan  anak yang selalu hormat pada orang tua.

Hari demi hari dilalui. Bulan pun berganti. Ulah Dotir semakin menjadi, dia  mulai marah kalau permintaanya tidak dituruti. Saat itu minta uang, mengharap saat itu pula harus ada!!. Satu-satunya yang bisa diuangkan hanya hewan. Padahal jual hewan perlu proses yang agak panjang. Ijin, RT/RW,  Kades surat hewan harus lengkap, cari pasaran yang cocok dll.  Sedih!! Perih hati didada orang tua!!. Dotir  telah ‘berubah’. Sekarang kalau  minta sesuatu harus pakai  acara marah bahkan membentak orang tuanya.

 Dua tahun sudah waktu berjalan. Sekolahpun tak jelas karena pengaruh pergaulan. Bapaknya tak tahan menghadapi sikap Dotir. Akhinya bapaknya  jatuh sakit.  Dotirpun tak pernah peduli dengan  keadaan  bapaknya. Terus-menerus dia minta uang, kalau tidak dituruti, dia ‘maki’. Dotir sudah kesetanan dan  Jahat!!, Ya! Dia  sudah  terlalu jahat!!. Kalau minta uang, dengan wajah yang mabuk pengaruh  minuman keras. Mata melotot,  mulut bau alkohol. Ibunya hanya bisa menangis. Ayahnya yang terbaring lemah, hanya bisa menatap tak berdaya.... Ortunya sudah ada di titik ‘nadir’. Satu persatu hewan dijualnya. Uang habis pulang, jual  hewan lagi. Habis lagi uang !! Pulang lagi!, jual lagi!. Begitu seterusnya. Karena  Bapak dan mamanya sudah tua, mereka pun tak  mampu lagi menggarap sawah dan ladangnya.  Tanahnya dibiarkan saja, tak dikelola.

Dotir mulai menguasai  ternak  milik orang tuanya. Tak segan-segan ia menjualnya sendiri. Uang hasil jualan hewan dipakai bereforia bersama teman ‘geng’nya.  Dia bersama teman-temannya  sering kali dapat surat panggilan dari sekolahnya. Tapi tak pernah disampaikan kepada orang tuanya. Apalagi Dotir!.Orang tua di kampung, buta huruf pula. Kampung yang sangat jauh dari kota. Setiap ada  surat panggilan selalu dirobeknya, dibuangnya.  Begitulah!!. Dia sudah  jadi anak yang ‘bejat’. Tak tahu diri dan sedikitpun tak punya  perasaan.  Hari-hari  diisi dengan mimpi, mabuk  bahkan judi.

Orang tua di kampung  berdoa dan terus berdoa. Mohon kebesaran Tuhan. Kondisi Bapak Umbu Dundu semakin lama semakin lemah tak berdaya.  Dia  memberikan  hak atas ternak kepada anak kesayangannya.  Mamapun tak bisa berbuat  banyak. Ia iklaskan untuk Dotir yang mengelola. Kesempatanpun tak disia-siakan  oleh Dotir, dia jual-jual  hewan orang tuanya.  Penjaga hewan pun tak  berdaya karena ‘tuan’nya yang  minta.  Dotir berdalih  bahwa hasil jualan  hewan untuk berobat  bapaknya, padahal tidak. Tidak sama sekali!! Bapaknya tetap sakit,  lemah  dan tak berdaya.

Suatu hari mamanya  pergi ke  kandang  untuk menemui sang penjaga hewan. Kagetlah mama!! Jantung  berdebar kencang begitu melihat  hewan  tinggal 6 ekor.  Dihitungnya berulang-ulang. Akhirnya dia bertanya kepada Minggus dan Hanis penjaga hewan itu: ”Di mana  hewan yang lain??” :tanya mama kepada mereka. “Umbu Dotir  sudah jual-jual,  katanya untuk berobat Bapak Umbu” : Jawab mereka dengan penuh sopan kepada tuan putrinya. Betapa sakit hati mamanya mendengar kabar itu. Betapa sedihnya kalau bapaknya tahu akan hal itu. Sakit suaminya  akan semakin parah. Dengan  berjalan lunglai dan gontai akhirnya  mama umbu meninggalkan kandang. Badan terasa tak bertulang, Lemas sekali. Sesak rasa didada,  begitu deras deraian airmata  membasahi pipinya. Duka, lara, sedih, pilu  bercampur aduk menjadi satu. “Tuhaaannnn!!!”:  seru mama Dotir di dalam hatinya yang sudah rapuh. Apa yang harus  kusampaikan kepada  Bapaknya. Bagaimana kalau Bapak umbu  tahu yang sebenarnya???

Hati Mama Dotir  selalu gundah dan gelisah. Kapan dia menceritakan yang sebenarnya kepada suaminya?.  Sudah berbulan-bulan dotir tidak  memperlihatkan batang hidungnya. Dulu setiap bulan selalu datang. Dia datang dengan sopan untuk menutupi kemunafikannya. Mama dotir rinduu......sekali pada anaknya.  Bapak Dotir pun  kadang sampai menggigau memanggil namanya.  Dotir memang sudah ‘bebal’. Dia  sudah  kesurupan  setan.  Mustinya dia punya tanggung jawab untuk selalu hadir dan  menengok orang tuanya yang sudah tua. Eh  tidak!! Tidak sama sekali!!.  Kalau dia masih ‘waras’ dan ada ‘rasa’pasti  ada kontak batin antara  orang tua dan anak yang disayanginya. Ternyata tidak ada lagi.

Karena Pihak  sekolah sudah panggil berulang-ulang untuk menghadap kesekolah  tak pernah ada tanggapan. Home visit juga tak bisa ketemu karena Dotirnya sudah ‘hilang’ entah kemana. Pihak sekolah menyatakan dia sudah ‘keluar’ dari sekolah.

Sinyal memang sama sekali tak ada karena dikampung Dotir terlalu terbelakang. Daerah terpencil!!. Mayoritas penduduknya tidak sekolah. Sungguh .  Kampungnya  sangat  terbelakng, belum pernah ada sentuhan pembangunan dan kemajuan sama sekali. Mereka  hidup masih ‘sangat’ minim’. Hanya orang ‘tertentu saja  yang bisa sekolah di kota, karena  harus perlu ’biaya’ ekstra. Tak heran kalau anak-anak umur sekolah yang di kampung  sudah berkeluarga. Mereka nikah muda dan  banyak anak.

Dotir datang dari kota. Dia menghampiri mamanya dan mencium tangannya. Mama tak tahan menahan sesak di dada. Diantarnya Dotir masuk ke kamar Bapaknya. Dotir pun kaget dibuatnya  melihat kondisi Bapaknya.  Sudah kuurruusss sekali.   Tinggal kulit pembalut tulang. Muka terlihat pucat pasi.  Dotir menciumnya.  Suasana  begitu hening....sunyi....., hanya isak tangis  yang terdengar.  Ditariklah tangan dotir  kedada bapaknya. Mereka  berbicara dengan bahasa Sumba.  Artinya kita-kira,  Kamu sudah dewasa,  jagalah ternak kita. Sayangi mamamu yang sudah mulai renta. Pulanglah terus. Tinggallah di kampung. Tak usah kau sekolah lagi. Akhirnya bapak memejamkan matanya. Dia tidur untuk selama-lamanya. Betapa terpukulnya hati mamanya. Dotir menangis, pilu sedih,.... Betapa Dotir merasa bersalah.  Dotir pasti akan menyesali seumur hidupnya. Karena ulahnya, orang tua jadi hidup sengsara.  Menderita. Bahkan bapaknya sampai  meninggalkan mereka untuk  selamanya.

Kini....Dotir tinggal bersama mamanya. Hidup sepi tanpa bapanya lagi. Dotir tinggal merenungi nasibnya. Menjadi orang miskin papa, tak sekolah pula. Hidup  dijalani  dengan  keprasahan, keiklasan. Mereka  tetap mensyukuri, Tuhan  Sudah membawa dia pulang. Menemani Mamanya. Yah!!  Mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. 

Seiring berjalannya waktu,  tak terasa 7  tahun  sudah berlalu kehidupan dengan mamanya. Hidup  miskin dan penuh derita serta kesederhaan. Tak sengaja dia  bertemu Kudu anak penjual kayu api. Kini  Kudu sudah Sarjana  dan ditugaskan  menjadi guru di SMP-nya  dulu. Kudu senang bertemu dengan  Dotir, akhirnya mereka  saling bercerita. Sharing pribadi  masa lalu hingga masa kini. Dotir  menarik nafas panjang menceritakan semua yang  telah terjadi kepada sahabatnya itu.

Akhirnya Dotir berkata, saya sudah menyesali perbuatannya. Semua ini karena ketidakpatuhan saya kepada orang tua.  Biar saya menangis darah tak akan kembali seperti semula. Semoga Tuhan mengampuni saya. Saya adalah anak durhaka!!. Saya penjahat!! Saya pantas dihukum!!. Terdengar teriak dan isak tangis Dotir begitu menyesali masa lalunya. Sekarang  Dotir harus  bekerja keras untuk  hidupnya. Menemani ibunya yang  sudah  tua renta. Dia harus mencari rumput sendiri untuk  memberi makan 3 ekor  hewan ternak yang tersisa. Para penggembala sudah ‘pergi’ semua. Hewan tak ada lagi yang dijaga. Sedih!! Pilu rasa sesak di dada, hati pun serasa tersayat sembilu.  Semua sudah terjadi!. Sesal kemudian tak ada guna. Meratapi  dengan tangis pun bukan solusi.

Kini saatnya refeksi diri. Untuk  mengisi hari-hari yang masih panjang. Meniti masa depan untuk kebahagiaan tentunya. Harus bangkit!!. Harus Semangat!! Harus berani hidup mulai dari ‘nol’ lagi. Pelihara hewan baik-baik. Jaga dengan penuh kasih sayang supaya  terus berkembang. Tak ada  keberhasilan yang instan,  semua perlu proses. Umbu Dotir!!, selamat berproses. Jerih lelah, peluh keringat, kerja keras adalah awal dari sebuah keberhasilan. Hidup baik perlu perjuangan dan usaha.

Semoga pembaca cerita ini bisa mengambil hikmanya. Itulah ‘hasil’  anak yang  suka eforia di atas penderitaan orang lain. Anak yang  tak bisa membuat orang tua bahagia. Anak yang  mencari  kebahagiaan sesaat. Anak yang jadi korban  kenakalan remaja. Kiranya  adik-adik yang masih sekolah, gunakan waktu sebaik -baiknya untuk belajar. Melakukan hal yang baik. Berakit-rakit dahulu berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit daluhu bersenang –senang kemudian. Contohlah, Kudu. Dari menderita kini sudah sarjana. Betapa bahagianya Orang tua dibuatnya.

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 23

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEti  

#Jumat30Mei2022

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...