Cerpen
Disebuah dusun kecil hiduplah keluarga kecil yang bahagia. Mereka termasuk keluar terpandang. Hidup mereka
terpandang karena memiliki tanah yang luas. Ladang dan kebun yang luas,
serta sawah yang berhektar-hektar.
Ternakpun banyak, seratus ekor lebih. Ada sapi, kerbau,
kuda dan kambing peliharaannya. Mereka hanya
dikaruniai satu
anak
saja. Dotir namanya. Nama itu kenangan
karena pertama kali ada dokter masuk di
kampungnya. Untuk mengabadikan namanya dipanggilnya anak semata wayangnya itu dengan Dotir.
Sebagai panggilan kesayangannya. Nama Asli dokter adalah Umbu Maramba
Rihi. Dipanggil
Dotir karena lidah kampung susah menyebut kata ‘Dokter’.
Bapaknya
Dotir, Umbu Dundu Milanau dan mamanya
Rambu May Nggiri
mereka hidup bahagia. Umur 6 tahun Dotir kecil disekolahkan SD dikampung sebelah, Matawai Maringu. Jarak 5 km dari rumah. Dia berjalan kaki. Jalan
yang medannya susah karena lokasinya
perbukitan naik turun gunung. SD berada
di balik gunung. Di
sekolah Dotir mempunyai banyak teman. Ia
tak pernah memilih teman. Dia familiar
dan baik hatinya. Dia disukai teman-temannya. Dia termasuk anak yang cerdas, hingga dia
jadi panutan tema-temannya. Dia selalu ranking pertama
dikelasnya,
betapa bahagianya orang tua Dotir.
Tak terasa
Dotir sudah mulai
menginjak remaja, sudah lulus di SD-nya. Mamanya mendaftarkan dia masuk SMP di kota. Dia harus
kos. Maklum tidak ada keluarga di kota.
Hari demi hari dilalui sebagai siswa SMP. Orang tua mengganggap Dotir sudah
dewasa, dotir sudah bisa mandiri. Di
sekolah ia berkenalan dengan Ambu
Kudu. Ternyata
Kudu anak dari kampung sebelah.
Siswa baru juga. Kudu orang miskin tak
berpunya bahkan hidup sangat
sederhana. Dia
hidup bersama ibunya yang sudah menjanda karena bapaknya
meninggal saat Kudu masih balita. Untuk biaya sekolahnya, mamanya jualan kayu
api. Dia cari kayu di hutan kemudian dititipkan
dengan ‘bis kayu’ (truk yang dimodif sehingga untuk bis penumpang: Red)
untuk dijual di kota. Senang Dotir berteman dengan Kudu karena anaknya baik, sopan dan pintar membawa
diri.
Tahun pun berganti.
Tak terasa Dotir kini sudah lulus SMP. Ia harus lanjut ke SMA. Berkat nilai
yang bagus, Dotir bisa sekolah di SMA favorit
di kota Wula Wajelu. Sedang Kudu
harus berhenti dulu sekolahnya. Dia dan ibunya menabung dulu. Rencana tahun depan baru masuk SMA. Mereka
menyadari akan keadaan ekonomi orangtuanya..
Kini Dotir menjadi
peserta didik SMA. Kerenn!!. Betapa bangga terasa di lubuk
hatinya. Dia berteman dengan Boby, Denny dan Roland. Ternyata ketiga temannya itu adalah anak-anak pejabat di kota itu. Hidup
mereka berhura-hura, foya-foya karena memang mereka bergelimang harta. Dotir sudah masuk dalam jaringan mereka. Dia tidak bisa menghindar. Apalagi dia
kos sendiri jadi tak berdaya untuk melawan mereka. Dia
menyesuaikan kehidupan mereka. Terbentuklah
‘geng’ dimana Dotir adalah salah satu
anggota mereka. Temannya bukan memberi motivasi positif, tapi Dotir diperkenalkan pada hal-hal yang tidak pernah dotir alami. Demi gengsi
karena dibilang kampungan Dotir
akhirnya menyesuaikan dengan kehidupan
mereka. Dotir tak kuasa menolak permintaan mereka.. Misal minum-minuman, jika Dotir menolak mereka bilang
“Ahh!!” “Kampungan” kamu!. Kalau diajak ngebut-ngebutan, dotir menolak
dikata : “ Banci kalik
kau ya!, Masak anak muda nggak bisa ngebut naik motor??.Gengsi dong!! Kadang merekapun mengajaknya ‘Judi’ ya!!..Judi dengan kartu . Orang tua di
kampung tidak pernah tahu kalau Dotir sudah ‘terjerumus’ dalam pergaulan
yang tidak baik. Orang tua dengan lugunya selalu meluluskan permintaannya. Ortu selalu berpikir positif, karena orang tua tahu Dotir adalah anak baik, anak
pintar dan anak yang selalu hormat pada
orang tua.
Hari demi hari
dilalui. Bulan pun berganti. Ulah Dotir semakin menjadi, dia mulai marah kalau permintaanya tidak
dituruti. Saat itu minta uang, mengharap saat itu pula harus ada!!.
Satu-satunya yang bisa diuangkan hanya hewan. Padahal jual hewan perlu proses
yang agak panjang. Ijin, RT/RW, Kades
surat hewan harus lengkap, cari pasaran yang cocok dll. Sedih!! Perih hati
didada orang tua!!.
Dotir telah ‘berubah’. Sekarang
kalau minta sesuatu harus pakai acara marah bahkan
membentak orang tuanya.
Dua tahun sudah waktu berjalan. Sekolahpun
tak jelas karena pengaruh pergaulan. Bapaknya tak tahan menghadapi sikap Dotir. Akhinya bapaknya jatuh sakit.
Dotirpun tak pernah peduli dengan
keadaan bapaknya. Terus-menerus dia minta
uang, kalau tidak dituruti, dia ‘maki’. Dotir sudah kesetanan dan Jahat!!, Ya! Dia sudah
terlalu jahat!!. Kalau minta uang, dengan wajah yang mabuk pengaruh minuman keras. Mata melotot, mulut bau alkohol. Ibunya hanya bisa
menangis. Ayahnya yang terbaring lemah, hanya bisa menatap tak berdaya....
Ortunya sudah ada di titik ‘nadir’. Satu persatu hewan dijualnya. Uang habis
pulang, jual hewan lagi. Habis lagi uang
!! Pulang lagi!, jual lagi!. Begitu seterusnya. Karena Bapak dan mamanya sudah tua, mereka pun
tak mampu lagi menggarap sawah
dan ladangnya.
Tanahnya dibiarkan saja, tak dikelola.
Dotir mulai
menguasai ternak milik orang tuanya. Tak segan-segan ia
menjualnya sendiri. Uang hasil jualan hewan dipakai bereforia bersama teman
‘geng’nya. Dia bersama teman-temannya sering kali dapat surat panggilan dari
sekolahnya. Tapi tak pernah disampaikan kepada orang tuanya. Apalagi Dotir!.Orang
tua di kampung, buta huruf pula. Kampung yang sangat jauh dari kota. Setiap
ada surat panggilan selalu dirobeknya,
dibuangnya. Begitulah!!. Dia sudah jadi anak yang ‘bejat’. Tak tahu diri dan
sedikitpun tak punya perasaan. Hari-hari
diisi dengan mimpi, mabuk bahkan
judi.
Orang tua di
kampung berdoa dan terus berdoa. Mohon kebesaran Tuhan.
Kondisi Bapak Umbu Dundu semakin lama semakin lemah tak berdaya. Dia
memberikan hak atas ternak kepada
anak kesayangannya. Mamapun tak bisa
berbuat banyak. Ia iklaskan untuk Dotir
yang mengelola. Kesempatanpun tak disia-siakan
oleh Dotir, dia jual-jual hewan
orang tuanya. Penjaga hewan pun tak berdaya karena ‘tuan’nya yang minta.
Dotir berdalih bahwa hasil
jualan hewan untuk berobat bapaknya, padahal tidak. Tidak sama sekali!!
Bapaknya tetap sakit, lemah dan tak berdaya.
Suatu hari
mamanya pergi ke kandang
untuk menemui sang penjaga hewan. Kagetlah mama!! Jantung berdebar kencang begitu melihat hewan
tinggal 6 ekor. Dihitungnya
berulang-ulang. Akhirnya dia bertanya kepada Minggus dan Hanis penjaga hewan
itu: ”Di mana hewan yang lain??” :tanya
mama kepada mereka. “Umbu Dotir sudah
jual-jual, katanya untuk berobat Bapak
Umbu” : Jawab mereka dengan penuh sopan kepada tuan putrinya. Betapa sakit hati
mamanya mendengar kabar itu. Betapa sedihnya kalau bapaknya tahu akan hal itu.
Sakit suaminya akan semakin
parah. Dengan berjalan lunglai dan
gontai akhirnya mama umbu meninggalkan
kandang. Badan terasa tak bertulang, Lemas sekali. Sesak rasa didada, begitu deras deraian airmata membasahi pipinya. Duka, lara, sedih,
pilu bercampur aduk menjadi satu.
“Tuhaaannnn!!!”: seru mama Dotir di
dalam hatinya yang sudah rapuh. Apa yang harus
kusampaikan kepada Bapaknya.
Bagaimana kalau Bapak umbu tahu yang
sebenarnya???
Hati Mama Dotir
selalu gundah dan gelisah. Kapan dia
menceritakan yang sebenarnya kepada suaminya?.
Sudah berbulan-bulan dotir tidak
memperlihatkan batang hidungnya. Dulu setiap bulan selalu datang. Dia datang
dengan sopan untuk menutupi kemunafikannya. Mama dotir rinduu......sekali pada
anaknya. Bapak Dotir pun kadang sampai menggigau memanggil
namanya. Dotir memang sudah ‘bebal’.
Dia sudah kesurupan
setan. Mustinya dia punya
tanggung jawab untuk selalu hadir dan
menengok orang tuanya yang sudah tua. Eh
tidak!! Tidak sama sekali!!. Kalau
dia masih ‘waras’ dan ada ‘rasa’pasti
ada kontak batin antara orang tua
dan anak yang disayanginya. Ternyata tidak ada lagi.
Karena
Pihak sekolah sudah panggil
berulang-ulang untuk menghadap kesekolah
tak pernah ada tanggapan. Home visit juga tak bisa ketemu karena
Dotirnya sudah ‘hilang’ entah kemana. Pihak sekolah menyatakan dia sudah
‘keluar’ dari sekolah.
Sinyal memang
sama sekali tak ada karena dikampung Dotir terlalu terbelakang. Daerah terpencil!!.
Mayoritas penduduknya tidak sekolah. Sungguh . Kampungnya
sangat terbelakng, belum pernah
ada sentuhan pembangunan dan kemajuan sama sekali. Mereka hidup masih ‘sangat’ minim’. Hanya orang
‘tertentu saja yang bisa sekolah di kota,
karena harus perlu ’biaya’ ekstra. Tak
heran kalau anak-anak umur sekolah yang di kampung sudah berkeluarga. Mereka nikah muda dan banyak anak.
Dotir datang dari
kota. Dia menghampiri mamanya dan mencium tangannya. Mama tak tahan menahan
sesak di dada. Diantarnya Dotir masuk ke kamar Bapaknya. Dotir pun kaget
dibuatnya melihat kondisi Bapaknya. Sudah kuurruusss sekali. Tinggal kulit pembalut tulang. Muka terlihat
pucat pasi. Dotir menciumnya. Suasana begitu hening....sunyi....., hanya isak
tangis yang terdengar. Ditariklah tangan dotir kedada bapaknya. Mereka berbicara dengan bahasa Sumba. Artinya kita-kira, Kamu sudah dewasa, jagalah ternak kita. Sayangi mamamu yang
sudah mulai renta. Pulanglah terus. Tinggallah di kampung. Tak usah kau sekolah
lagi. Akhirnya bapak memejamkan matanya. Dia tidur untuk selama-lamanya. Betapa
terpukulnya hati mamanya. Dotir menangis, pilu sedih,.... Betapa Dotir merasa
bersalah. Dotir pasti akan menyesali
seumur hidupnya. Karena ulahnya, orang tua jadi hidup sengsara. Menderita. Bahkan bapaknya sampai meninggalkan mereka untuk selamanya.
Kini....Dotir
tinggal bersama mamanya. Hidup sepi tanpa bapanya lagi. Dotir tinggal merenungi
nasibnya. Menjadi orang miskin papa, tak sekolah pula. Hidup dijalani
dengan keprasahan, keiklasan.
Mereka tetap mensyukuri, Tuhan Sudah membawa dia pulang. Menemani Mamanya.
Yah!! Mau bagaimana lagi. Nasi sudah
menjadi bubur.
Seiring berjalannya
waktu, tak terasa 7 tahun
sudah berlalu kehidupan dengan mamanya. Hidup miskin dan penuh derita serta kesederhaan.
Tak sengaja dia bertemu Kudu anak
penjual kayu api. Kini Kudu sudah
Sarjana dan ditugaskan menjadi guru di SMP-nya dulu. Kudu senang bertemu dengan Dotir, akhirnya mereka saling bercerita. Sharing pribadi masa lalu hingga masa kini. Dotir menarik nafas panjang menceritakan semua
yang telah terjadi kepada sahabatnya
itu.
Akhirnya Dotir
berkata, saya sudah menyesali perbuatannya. Semua ini karena ketidakpatuhan
saya kepada orang tua. Biar saya
menangis darah tak akan kembali seperti semula. Semoga Tuhan mengampuni saya.
Saya adalah anak durhaka!!. Saya penjahat!! Saya pantas dihukum!!. Terdengar
teriak dan isak tangis Dotir begitu menyesali masa lalunya. Sekarang Dotir harus
bekerja keras untuk hidupnya.
Menemani ibunya yang sudah tua renta. Dia harus mencari rumput sendiri
untuk memberi makan 3 ekor hewan ternak yang tersisa. Para penggembala
sudah ‘pergi’
semua. Hewan tak ada lagi yang dijaga. Sedih!! Pilu rasa sesak di dada, hati
pun serasa tersayat sembilu. Semua sudah
terjadi!. Sesal kemudian tak ada guna. Meratapi
dengan tangis pun bukan solusi.
Kini saatnya
refeksi diri. Untuk mengisi hari-hari
yang masih panjang. Meniti masa depan untuk kebahagiaan tentunya. Harus
bangkit!!. Harus Semangat!! Harus berani hidup mulai dari ‘nol’ lagi. Pelihara
hewan baik-baik. Jaga dengan penuh kasih sayang supaya terus berkembang. Tak ada keberhasilan yang instan, semua perlu proses. Umbu Dotir!!, selamat
berproses. Jerih lelah, peluh keringat, kerja keras adalah awal dari sebuah
keberhasilan. Hidup baik perlu perjuangan dan usaha.
Semoga pembaca
cerita ini bisa mengambil hikmanya. Itulah ‘hasil’ anak yang
suka eforia di atas penderitaan orang lain. Anak yang tak bisa membuat orang tua bahagia. Anak
yang mencari kebahagiaan sesaat. Anak yang jadi korban kenakalan remaja. Kiranya adik-adik yang masih sekolah, gunakan waktu
sebaik -baiknya untuk belajar. Melakukan hal yang baik. Berakit-rakit dahulu
berenang-renang
ketepian. Bersakit-sakit daluhu bersenang –senang kemudian. Contohlah, Kudu. Dari
menderita kini sudah sarjana. Betapa bahagianya Orang tua dibuatnya.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge
- 23
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Jumat30Mei2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar