Oleh : Ledwina Eti Wuryani
Franky panggilan akrabnya.
Begitu namanya ia biasa disapa. Dia
adalah seorang anak pensiunan polisi lulusan SR (Sekolah Rakyat: Red ). Mamanya
adalah ibu rumah tangga yang
setia. Keluarga sederhana itu
dulu tinggal di asrama polisi. Bapak
adalah orang yang temperamental, keras dan kasar dalam mendidik anak.
Mama Elish, ibunda
Franky orangnya kurus dan perawaannya mungil. Franky adalah anak bungsu dari 2
bersaudara, kakaknya Will namanya. Will pergi jadi TKI di Malaysia. Karena bapak sudah lama pensiun mereka tinggal
di rumah sendiri, rumah beratap alang dan berlantai tanah di Atambua.
Sejak pensiun polisi Umbu Hunga Meha
punya kebiasaan yang kurang bagus, dia
suka minum, judi dan pulang larut. Betapa sedihnya keluarga itu. Hidupnya
prihatin karena gaji pensiun pak Umbu bukan diberikan kepada mama Elish sebagai
istrinya.
Suatu saat saya dan
suami pergi ke rumahnya. Selain sebagai sesama korban bencana konflik Timor
Timur, suamiku bilang kami masih
bersaudara. Saya menyambangi mama Elish. Saat kami datang Om Polisi yang biasa disapa Mehang tidak
ada. Suasana rumah sunyi sekali.
Dengan bermodalkan
ijasah SMA Franky nekat pergi ke
Jakarta. Dia mencoba mengadu nasib. Dengan uang sedikit pemberian mama Elish
dia pergi naik kapal Dobon Solo. Sampai di Pelabuhan Tanjung Priuk dia tanya
pada polisi setempat. Dengan mengikuti petunjuk dari pak polisi, akhirnya naik
bis kota beberapa jalur untuk menemukan
tujuannya.
Singkat cerita,
sampailah ia di Sebuah perusahaan Air mineral terbesar di Jakarta. Dengan mendaftar
sebagai OB (Office Boy), puji Tuhan dia diterima. Waktu terus berjalan, tak terasa ternyata dia
sudah 2 tahun bekerja di Perusahaan itu. Pemiliknya adalah seorang konglomerat
keturunan Belanda. Dia mempunyai putri bungsu yang sekolah di SMP Tarakanita. Sekolah
mewah dan megah di Jakarta. Selama 2 tahun
Franky dikenal pegawai yang
pendiam, sopan, rajin, disiplin dan tekun. Berkat kinerja yang
bagus sang direkturpun akhirnya tahu.
Dia mendapat
kepercayaan untuk menjadi sopir pribadi Jeshika putri bungsunya. Setiap hari tugasnya
mengantar dan menjemput. Pada dasarnya Franky adalah anak yang pintar, terbukti
saat SMA dia selalu mendapat rangking
pertama di kelasnya. Hanya nasib kurang beruntung, dia tak bisa kuliah karena masalah
ekonomi. Setiap hari Jeshi mengeluhkan pelajarannya. Franky mencoba membantu
dia mengerjakan setiap PR-nya. Betapa bahagia dan bangga Jeshi akhirnya selalu
mendapatkan nilai lebih bagus dari sebelumnya. Di depan Jeshi, si Franky
selalu menunjukkan kerendahan hatinya sebagai seorang sopir. Dia begitu hormat kepada majikannya. Apapun
yang diperintahkan selalu dilaksanakan dengan setia.
Dengan sifatnya Franky yang lugu dan sopan Jeshi jadi kolokan dan manja padanya. Ia
seolah jadi merasa ada yang melindungi. Dia merasa nyaman bersama Franky.
Franky tetap bersikap profesional, dia tak pernah neko-neko. Franky jadi sopir Jeshi dari kelas 2 SMP
hingga sekarang kelas 3 SMA.
Ternyata cinta Jeshi tak pernah padam.
Sebagai orang kota Jeshi tak segan
lagi memeluk Frangky. Sebagai laki-laki normal getaran hatinyapun
tak bisa menipu. Rasa cintapun sebenarnya ada. Dengan menahan perasaannya dia
berusaha keras untuk tetap sopan dan seolah tak ada apa-apa.
Bukannya bohong, tapi dia harus berpikir 1000 kali
jika dia membalas ciuman atau pelukan dari Jeshi. Dia akan dipecat dengan tak hormat jika suatu
saat terdengar Franky menyalahgunakan kepercayaannya sebagai sopir pribadinya
Jeshi putri kesayangan dari ‘bos’-nya. Jeshika Ravelia Alied. Dia seorang gadis
cantik blasteran Indonesia-Belanda. Orangnya tegas, dan tinggi semampai.
Begitulah anak konglomerat. Grandma dan grandpanya masih di Belanda. Kedua
kakaknya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai perusahaan masing-masing.
Tak pernah Franky bayangkan, ternyata Jeshi sudah menyampaikan tentang perasaannya kepada
mama dan papanya. Akhirnya Franky dipanggil sang Direktur Utama perusahaan. Antara
takut, gugup dan penasaran dia harus menghadap sang ‘BOS’. Tak ada dari teman selevelnya yang pernah
menghadap atau melihat direktur. Tapi ini dia dipanggil. Ini adalah mujizat
baginya. Akhirnya benar, Franky
memberanikan diri untuk menghadap. Ternyata…. Papanya, Pak Gunawan Santosa
menyuruh Franky untuk kuliah. Semua
biaya kuliah ditanggung oleh perusahaan. Franky memilih di Sekolah Tinggi Theologi untuk jadi pendeta.
Sambil kuliah tugas utama sebagai sopir Jeshikapun
masih tetap berjalan. Dalam 3,5 tahun dia lulus dengan Nilai Cumlaude. Franky bangga sekali. Orang tua sengaja tak diberi
tahu. Dia seolah dendam dengan ayah kandungnya karena tak pernah memperhatikan keluarga.
Janji dalam hatinya Suatu saat kalau sudah punya uang, ia akan pulang dan membangun rumah orang tuanya.
Semoga terwujud.
Jeshika selalu membanggakan Franky. Jeshi semakin
lengket padanya. Rejeki memang tak salah alamat. Akhirnya, papanya Jeshi
menjodohkan Franky dengan putri bungsunya. Tunangan berjalan sangat meriah,
pesta sangat mewah di Grand Pacifik Room. Franky berusaha untuk menyesuaikan. Semua-muanya sudah diatur oleh keluarga Jeshi.
Para jemaat Frankypun tak luput dari undangan pestanya. Semua keluarga besar
Jeshi lengkap termasuk grandma dan grandpa juga datang dari Belanda. Begitulah.
Karena berlimpah harta, hanya tunangan saja pakai acara bulan madu di Belanda.
Saya dan keluarga Sumba dapat undangannya tapi karena harus ke Jakarta. Biaya
besar, akhirnya kami tak bisa datang.
Satu tahun kemudian Jeshika Revalian Aleid dan Franky
Nggaba Kapita melangsungkan pernikahannya. Saat itu saya dan Suamiku datang
dari Waingapu, NTT. Sebagai orang asli Sumba , kami terpanggil untuk mengikuti adat yang ada. Kami sebagai, pihak keluarga laki-laki membawa
2 pasang kuda. Benar. Kuda kita kirim dengan kapal hewan. Kami sengaja membeli
Kuda sandelwood. Pesta Sungguh megah, mewah
dan meriah. Kami hanya tenganga dan
terpana menyaksikan acara itu. Seumur hidup tak pernah mengikuti acara semegah
itu. Sang pengantin pria ternyata suaranya bagus, dia melantunkan sebuah lagu
cinta dihadapan para undangan. Kami bangga mempunyai keponakan hebat itu. MC di
pernikahan itu adalah Tamara Blesznski dan Davyd Blesznski adiknya. Kami sempat
dipanggil sang MC untuk makan roti pengantin dan berfoto bersama mempelai. Foto
masih tersimpan hingga hari ini.
Mereka hidup bahagia, dikaruniai 1 putra ganteng bernama
Aart Adeline Oktavian. Saat Suamiku Operasi di Jakarta mereka masih mengunjungi
kami di RS Harapan kita. Mereka membawa
hadiah dan makanan yang sangat lezat yang tak pernah kami rasa selama hidup.
Bahagianya kami sebagai seorang ‘om’ orang kampung berkeluarga dengan seorang
konglomerat di Jakarta. Mereka berjanji akan pergi ke Sumba. Artinya ini adalah
PR buat saya supaya saya menyiapkan segala sesuatunya jika mereka benar-benar
datang ke Sumba.
Kabar terakhir yang kudengar dari keluarga di Jogya
Franky sudah ‘cerai’ dengan kak Jeshi. Istri yang sangat dicintai ternyata
selingkuh. Dia mencari orang yang selevel dengannya. Ya Ampun, kaget kami dengar kabar itu. Kami
bela-belain kirim ‘belis’ atau mas kawin beberapa hewan. Kami sampai pergi ke
Jakarta saat mereka menikah dengan ongkos yang hutang dan belum lunas. Ehh!! Sekarang tinggal cerita.
Terus Aart anaknya ikut siapa?? Turut sedih,
prihatin dan pilu rasa hati. Umbu Mehang bapaknya sudah meninggal kini tinggal mamanya yang
masih tinggal di rumah beratap alang. Mimpi untuk membuatkan rumah orang tua
belum bisa dibuktikan. Oh nasib!! Hati
ingin memeluk gunung tapi tangan tak sampai. Hidup bagai mimpi di siang bolong.
Bumi dan langit terlalu jauh, tak bisa bergabung. Biarlah waktu yang
menyelesaikan semuanya.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge-5
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEtiWuryani
#12Mei2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar