Franky panggilan akrabnya.
Begitu namanya ia biasa disapa. Dia
adalah seorang anak pensiunan polisi lulusan SR (Sekolah Rakyat: Red ). Mamanya
adalah ibu rumah tangga yang
setia. Keluarga sederhana itu
dulu tinggal di asrama polisi. Bapak
adalah orang yang temperamental. Bapak juga keras dalam
mendidik anak.
Mama Elish, ibunda
Franky orangnya kurus dan perawaannya mungil. Franky adalah anak bungsu dari 2
bersaudara, kakaknya Will namanya. Will pergi jadi TKI di Malaysia. Karena bapak sudah lama pensiun mereka tinggal
di rumah sendiri. Rumahnya
sederhana sekali beratap alang dan berlantai tanah di Atambua. Sejak pensiun polisi Umbu Hunga Meha punya
kebiasaan yang kurang bagus, dia suka
minum, judi dan pulang larut. Betapa sedihnya keluarga itu. Hidupnya prihatin
karena gaji pensiun pak Umbu bukan diberikan kepada mama Elish sebagai
istrinya.
Dengan bermodalkan
ijasah SMA Franky nekat pergi ke
Jakarta. Dia mencoba mengadu nasib. Dengan uang sedikit pemberian mama Elish
dia pergi naik kapal Dobon Solo. Sampai di Pelabuhan Tanjung Priuk dia tanya
pada polisi setempat. Dengan mengikuti petunjuk dari pak polisi, akhirnya naik
bis kota beberapa jalur untuk menemukan
tujuannya.
Singkat cerita.
Beberapa kali mengadu nasib mencari kerja tapi belum beruntung. Sempat juga jadi
pemulung dan beberapa pekerjaan yang terhina. Yang terakhir mengadu nasib di perusahaan Air mineral terbesar di Jakarta.
Dengan mendaftar sebagai OB (Office Boy), dia diterima. Waktu terus berjalan, tak terasa ternyata dia
sudah 2 tahun bekerja di Perusahaan itu. Pemiliknya adalah seorang konglomerat
keturunan Belanda. Dia mempunyai putri bungsu yang sekolah di SMP favorit di Jakarta.
Selama 2 tahun Franky dikenal pegawai
yang pendiam, sopan, rajin, disiplin dan
tekun. Berkat kinerja yang bagus sang
direkturpun akhirnya tahu.
Dia mendapat
kepercayaan untuk menjadi sopir pribadi Jeshika putri bungsunya. Setiap hari tugasnya
mengantar dan menjemput. Pada dasarnya Franky adalah anak yang pintar, terbukti
saat SMA dia selalu mendapat rangking
pertama di kelasnya. Hanya nasib kurang beruntung, dia tak bisa kuliah karena masalah
ekonomi. Setiap hari Jeshi mengeluhkan pelajarannya. Franky mencoba membantu
dia mengerjakan setiap PR-nya. Betapa bahagia dan bangga Jeshi akhirnya selalu
mendapatkan nilai lebih bagus dari sebelumnya. Di depan Jeshi, si Franky
selalu menunjukkan kerendahan hatinya sebagai seorang sopir. Dia begitu hormat kepada majikannya. Apapun
yang diperintahkan selalu dilaksanakan dengan setia.
Dengan sifatnya Franky yang lugu dan sopan Jeshi jadi kolokan dan manja padanya. Ia
seolah jadi merasa ada yang melindungi. Dia merasa nyaman bersama Franky.
Franky tetap bersikap profesional, dia tak pernah neko-neko. Franky jadi sopir Jeshi dari kelas 2 SMP
hingga kelas 3 SMA. Ternyata Jeshi
mulai selalu mencuri perhatian . Sebagai orang kota Jeshi tak segan lagi memeluk Frangky. Sebagai laki-laki normal getaran hatinyapun
tak bisa menipu. Rasa cintapun sebenarnya ada. Dengan menahan perasaannya dia
berusaha keras untuk tetap sopan dan seolah tak ada apa-apa.
Bukannya bohong, tapi dia harus berpikir 1000 kali
jika dia membalas ciuman yang mendarat dipipinya. Dia tetap berusaha tenang. Dia akan dipecat dengan
tak hormat jika suatu saat terdengar Franky menyalahgunakan kepercayaannya
sebagai sopir pribadi Jeshi putri kesayangan dari ‘bos’-nya. Jeshika Ravelia
Alied. Dia seorang gadis cantik blasteran Indonesia-Belanda. Orangnya tegas,
dan tinggi semampai. Begitulah tampang anak konglomerat. Kedua kakaknya sudah
berkeluarga dan sudah mempunyai perusahaan masing-masing.
Tak pernah Franky bayangkan, ternyata Jeshi sudah menyampaikan tentang perasaannya kepada
mama dan papanya. Akhirnya Franky dipanggil sang Direktur Utama perusahaan. Antara
takut, gugup dan penasaran dia harus menghadap sang ‘BOS’. Tak ada dari teman selevelnya yang pernah
menghadap atau melihat direktur. Tapi ini dia dipanggil. Ini adalah mujizat
baginya. Akhirnya benar, Franky
memberanikan diri untuk menghadap. Ternyata…. Papanya, Pak Gunawan Santosa
menyuruh Franky untuk kuliah. Semua
biaya kuliah ditanggung oleh perusahaan. Franky memilih di Sekolah Tinggi Theologi untuk jadi pendeta.
Sambil kuliah tugas utama sebagai sopir Jeshikapun
masih tetap berjalan. Dalam 3,5 tahun dia lulus dengan Cumlaude. Franky bangga sekali. Orang tua sengaja tak diberi
tahu. Dia seolah dendam dengan ayah kandungnya karena tak pernah memperhatikan keluarga.
Janji dalam hatinya suatu saat kalau sudah punya uang, ia akan pulang dan membangun rumah orang tuanya.
Semoga bisa terwujud.
Jeshika selalu membanggakan Franky. Jeshi semakin
lengket padanya. Rejeki memang tak salah alamat. Akhirnya, papanya Jeshi
menjodohkan Franky dengan putri bungsunya. Tunangan berjalan sangat meriah,
pesta sangat mewah di Grand Pacifik Room. Franky berusaha untuk menyesuaikan. Semuanya sudah diatur oleh keluarga Jeshi.
Para jemaat Frankypun tak luput dari undangan pestanya. Semua keluarga besar
Jeshi lengkap termasuk grandma dan grandpa juga datang dari Belanda. Begitulah.
Karena berlimpah harta, hanya tunangan saja pakai acara bulan madu di Belanda.
Saya dan keluarga Sumba dapat undangannya tapi karena harus ke Jakarta. Biaya
besar, akhirnya kami tak bisa datang.
Satu tahun kemudian Jeshika Revalian Aleid dan Franky
Nggaba Kapita melangsungkan pernikahannya. Saat itu kami datang dari Waingapu.
Sebagai orang asli Sumba , kami
terpanggil untuk mengikuti adat yang
ada. Kami sebagai, pihak keluarga
laki-laki membawa 2 pasang kuda. Benar. Kuda kita kirim dengan kapal hewan.
Kami sengaja membeli Kuda sandelwood.
Pesta Sungguh megah, mewah dan meriah. Kami hanya tenganga dan terpana menyaksikan acara
itu. Seumur hidup tak pernah mengikuti acara semegah itu. Sang pengantin pria
ternyata suaranya bagus, dia melantunkan sebuah lagu cinta dihadapan para undangan.
Kami bangga mempunyai keponakan hebat itu. MC di pernikahan itu adalah Tamara
Blesznski dan Davyd Blesznski adiknya. Kami sempat dipanggil sang MC untuk
makan roti pengantin dan berfoto bersama mempelai. Foto pernikahan masih
tersimpan.
Mereka hidup bahagia, dikaruniai 1 putra ganteng bernama
Aart Adeline Oktavian. Saat aku ada tugas di Jakarta mereka membawa hadiah dan
makanan yang sangat lezat yang tak pernah kami rasa selama hidup. Bahagianya
kami sebagai seorang ‘om’ dan tante orang kampung berkeluarga dengan seorang
konglomerat di Jakarta. Mereka berjanji akan pergi ke Sumba. Artinya ini adalah
PR supaya saya menyiapkan segala sesuatunya jika mereka benar-benar datang ke
Sumba.
Empat tahun sudah mereka membina keluarga. Kabar terakhir yang
kudengar dari keluarga di Jogya Franky sudah ‘cerai’ dengan Jeshi. Istri yang sangat dicintai ternyata
selingkuh. Dia mencari orang yang selevel dengannya. Ya Ampun, kaget kami dengar kabar itu. Kami
bela-belain kirim ‘belis’ atau mas kawin hewan. Kami sampai pergi ke Jakarta saat
mereka menikah dengan ongkos yang hutang dan
belum lunas. Ehh!! Sekarang tinggal cerita. Terus Aart anaknya ikut
siapa?? Dia ikut mamanya. Kami turut sedih,
prihatin dan pilu rasa hati. Umbu Mehang bapaknya sudah meninggal dan tinggal mamanya yang masih tinggal di rumah beratap
alang. Mimpi untuk membuatkan rumah orang tua belum bisa dibuktikan. Oh
nasib!! Hati ingin memeluk gunung tapi
tangan tak sampai. Antara Bumi dan langit memang terlalu jauh, tak bisa
bergabung. Frangki dan Jeshi kini menentukan kehidupannya masing-masing. Mau bagaimana
lagi??
Apapun tantangan hidup harus dihadapi dengan bijak. Dijalani dengan iklas. Dibingkai
dengan sabar. Disampul dengan kebaikan, syukur jika dibaluti dengan senyuman.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge-5
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEtiWuryani
#jumat13Mei2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar