Jumat, 20 Mei 2022

ANA KAWINI Day 14

 

 


 

Saat itu, saya merasakan  betapa sejuknya udara di pagi hari.  Angin  bertiup sepoi-sepoi seakan membelai tubuh hingga menembus sampai di relung hati.  Kumerenung sambil memandang di sekitarku,  betapa indahnya alam ini. Saat itu aku   merasakan damai di hati. Aku mengagumi betapa muliaNya Tuhan  sang pemilik hidup. Dia begitu agung dan mengasih ciptaanNya di bumi ini.


Hari cerah di awal Oktober. Seperti biasa saya  mengajar di sekolah. Kebetulan  mulai hari  Senin, 4 Oktober 2021 adalah hari pertama  sekolahku memulai pembelajaran tatap muka terbatas  sejak pandemi covid- 19 sejak Maret 2020.  Saya mengajar full dari jam pertama hingga jam terakhir di kelas 10 IA1 (A) . Jumlah  siswa  perkelas jumlahnya @ 36 orang  dibagi lagi menjadi 2 kelas A dan B atau setiap kelas hanya boleh 18 maksimal orang siswa dalam satu ruang kelas sesuai petunjuk teknis syarat pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas. Satu jam pelajaran 60 menit dan siswa setiap rombongan belajar 2 kali masuk sekolah  dalam seminggu.

 Keluarga kami mendapat undangan penguburan pangkat besan. Anak perempuan saya sudah jadi menantunya mereka.  Jadi keluarga punya kuajiban untuk melayat. Membawa barang sesuai dengan adat setempat. Kami  berjumlah 85 orang.  Kami pergi dengan prosedur adat sumba. Kami sebagai pihak ‘Ina’ keluarga asal istri dari anak laki-laki almarhum.  Apa yang kami bawa? Sepasang kain  (sarung dan kain) yang  diserahkankan kepada pihak keluarga yang berduka. Sebagai balasan mereka nanti akan memberikan hewan berupa kerbau, sapi atau kuda sesuai kemampuan, kerelaan atau ketersediaan hewan yang ada pada  keluarga duka. Apalagi Keluarga  pihak “anakawini” almarhum Bapak Mbulu Takanjanji bukan orang biasa.  Beliau adalah keluarga bangsawan, tokoh masyarakat, tokoh adat  di Desa Tuta Hamapenji Rindi Umalulu Sumba Timur. Beliau adalah orang yang terpandang yang menjadi menjadi panutan bagi keluarga dan masyarakat di situ. Setiap ada acara adat, acara pemerintahan di desanya, tanpa kehadiran beliau berarti acara pertemuan belum boleh dimulai. Maka masyarakat di situ menyebutnya dengan U-Er  yang artinya umbu rapat.

              Ceritanya meninggalnya beliau begini. Pada suatu hari pak umbu  mengeluh sakit pusing  atau sakit kepala. Badan terasa lemah disertai  batuk dan flu. Gejalanya persis seperti orang yang terserang Covid-19. Saat itu pandemic  lagi ganas-ganasnya. Korban yang meninggal  sudah terlalu banyak. Bahkan, di Sumba Timur sempat dinyatakan zona hitam. Nah, dari situ semua orang yang punya gejala covid-19 trauma pergi ke rumah sakit. Kenapa? Kalau benar-benar kita kena covid meninggal pastinya dikubur secara covid. Waduh!! Itu yang kita benar-benar takut.  Ada rasa ‘berbeda’. Ada rasa terisolir. Itu yang kami rasakan saat itu. Jadi kami  benar-benar takut pergi ke rumah sakit.

 

Kami keluarga tak bisa berbuat banyak. Tuhan memanggil melalui banyak cara. Kini Pak Umbu  telah dipanggil  Tuhan. Saya begitu terharu saat datang ke acara penguburannya. Saya sebagai orang Jawa dan  awam tidak memahami tradisi orang sumba Timur. Benar-benar kagum dan terkesima dengan prosesi penguburan ala tradisi budaya sumba Timur. Benar suami saya asli orang Sumba Timur, tapi kami belum bisa menyelami banyak adat mereka. Orang sumba masih memegang erat tradisi dan budayanya. Adatnya masih kuat dan kental. 

 

Sekelumit riwayat hidup almarhum Bulu Takajanji alias Umbu Rapat. Lahir di desa Mutunggeding, kecamatan Rindi Umalulu, kabupaten Sumba timur provinsi Nusa Tenggara Timur, 14 April 1958. Pak Umbu menempuh pendidikan ‘hanya’ sampai di kelas V sekolah dasar.  Beliau adalah seorang pekerja keras, tekun dan ulet. Ia merintis usaha dari modal nol. Dia memulai usaha dengan niat yang kuat dengan prinsip meraih rejeki dengan berusaha. Di bak truk yang dia miliki ditulis “Usaha Rejeki” yang disingkat “U-Er” bisa juga ditapsir sebagai singkatan dari  namaUmbu Rapat. Beliau juga yang selalu membuka atau memimpin rapat di kampungnya, baik tentang rapat keluarga atau rapat pemerintah desanya.

 

Sebelum U-Er meninggal, Beliau sudah mempersiapkan semuanya. Mungkin  sudah ada firasat bahwa Tuhan akan memanggilnya. Hewan dan logistik untuk acara pengebumian dirinya  sudah disiapkan semuanya. Rumah adat  ukuran 14x16 m2 sudah selesai dibangun. Bahkan  rumah potong hewan untuk usaha anaknyapun sudah  diuruskan lengkap dengan SIUP ( Surat ijin Usaha).

              Bapak Umbu Rapat adalah orang yang baik. Salah satu bukti  yang bisa ditunjukkan adalah jumlah tamu yang hadir  mengikuti acara penguburan. Tamu yang melayat  dari berbagai kalangan. Ada unsur pemerintah kabupaten, kecamatan, desa yang hadir. Bahkan sejumlah pejabat  dari unsur muspida. Sebagai tamu saya mendengar dari dapur, ibu-ibu bercerita, tamu yang di undang secara adat dari berbagai marga kurang lebih  300 marga kabihu.  Pelayat dari pantauan mata memandang sekitar 2000-an orang.

Jenasah orang ‘Maramba’ Sumba tidak biasa langsung dikubur. Bisa sampai umur bulan bahkan tahun baru dikubur, jenasah disimpan di kamar, dijaga dan selalu disiapkan makanan. Setiap malam ada saja yang mete ( jaga malam). Termasuk jenasah U-Er. Beliau sekitar setahun  baru dikubur.  Untuk menjamu tamu yang melayat sejak beliau meninggal sampai penguburan sudah  lebih  20 ekor hewan (Sapi, Kerbau, Kuda, kambing, babi).

Ada juga istilah “dangang” yaitu hewan berupa kerbau, kuda dan babi yang dipotong pada saat penguburan. Hewan tersebut merupakan kuda tunggang dan hewan bawaan almarhum ke alam baka. Itu merupakan tradisi yang harus dilakukan. Adat budaya itu  warisan leluhurnya harus ditaati. Menurut kepercayaan mereka takutnya ada sangsi sang leluhur. Dengan meyakini tradisi leluhurnya hidup didunia akan merasa tenang.

 

Di samping itu, ada juga istilah ‘kameti’  yaitu hewan yang dipotong untuk para tamu undangan yang diundang secara adat baik pihak “Ina atau yiara” maupun “anakawini” . Daging kameti yang dibawa pulang tamu,  dibagikan untuk anggota rombongan yang mengikuti acara penguburan tersebut. Di samping kameti,  untuk tamu  selaku pihak pihak keluarga duka, mereka juga  memberikan hewan sebagai balasan kain yang dibawa. Sedangkan  tamu “anakawini” yang membawa hewan  “dangang” oleh pihak keluarga duka membalas dengan memberikan kain berupa sarung (lawu) atau kain (hinggi) untuk dibawa pulang. Semua tamu harus membawa pulang  sesuatu. Tamu tak boleh pulang kosong. Entah itu kain atau hewan.  Itu semua  almarhum  sudah siapkan.

 

Tentu saja selain yang sudah disiapkan keluarga almarhum ditambah lagi pembawaan para tamu undangan yang  diundang secara adat. Padahal untuk harga kerbau tukar 6 ke atas  dihargai   sekitar 30 juta per ekor kerbau “dangang.”  Misalnya kuda, sapi, babi, yang disiapkan dalam prosesi upacara penguburan tersebut ada 20 ekor dan rata-rata harganya per ekor anggap saja Rp. 10 jutaan, itu bisa kita hitung 10 juta x 20 ekor = Rp 200.000.000,- Belum biaya konsumsi, kain sebagai balasan para tamu yang membawa kain/hewan.

 

Inilah sebuah  contoh tanggung jawab ‘seorang’ ` ayah terhadap keluarga. Kini Uyan ( Umbu Oktavianus Takanjanji)  Suami dari anak saya kudu (Rambu Jati Maramba Hau alias Rambu nai Hana) yang jadi pewaris karena dia adalah anak tunggal laki-laki. Semoga dia  bisa menjaga amanah bapaknya. Bisa menjaga berbagai usaha yang sudah dirintis oleh ayahnya. Bentuk usaha yang diwariskan berupa: usaha penggilingan padi, rumah potong hewan, usaha mengantar pulaukan daun lontar, usaha cetak batako, usaha pertanian berupa lahan sawah,   usaha ternak, jual beli kain tenun pahikung  melolo, pengiriman  hasil bumi ke Bali ( daun lontar, pisang, kemiri), dan bebeberapa usaha lain.

 

Mendengar kisah hidup dan  perjalanan usaha almarhum, saya salut, terharu, sedih bercampur aduk dalam hati......saya tak  kuasa  menahan air mata. Para tamu yang hadir pun terlihat semua sedih, semua menangis. Mereka semuanya merasa kehilangan ‘bapak tua’ (U-Er) . Banyak  para pemuda-pemudi  di daerah  mengadu nasib hidupnya kepada beliau merasa kehilangan.

 

Acara adat untuk anak kami (belis) sudah dibayar lunas.  Belis itu kalau adat jawa adalah Mahar atau seserahan. Di Sumba  belis  berupa Hewan sapi, kerbau dan kuda. Lebih 20 ekor saat itu yang dibawa dari keluarga laki-laki. Namun acara pernikahan secara gerejani dan pencatatan sipil belum dilaksanakan. Sebenarnya rencana pernikahan (resepsi)  bulan Oktober 2021   tetapi   ternyata Tuhan berkehendak lain. Kini Umbu Okta suami dari anakku perempuan  harus bisa mandiri. Harus siap jadi pengganti ayahnya. Harus kuat dan tabah. Ia dan keluarga  harus bisa  mempersiapkan pernikahannya sendiri  tanpa bapak lagi.  

 

Semoga Tuhan senantiasa memberkati semua usaha. Semoga rencana mereka  berjalan lancar dan sukses mengikuti jejak sang bapak yang ulet.  Selamat Jalan Bpak MBulu Takajanji, selamat jalan Umbu Rapat..... Tuhan sudah menyiapkan tempat di Sorga kekal.

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 14

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEti

#Sabtu21Mei2022

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...