Saat itu, saya merasakan betapa sejuknya udara di pagi hari. Angin bertiup sepoi-sepoi seakan membelai tubuh hingga menembus sampai di relung hati. Kumerenung sambil memandang di sekitarku, betapa indahnya alam ini. Saat itu aku merasakan damai di hati. Aku mengagumi betapa muliaNya Tuhan sang pemilik hidup. Dia begitu agung dan mengasih ciptaanNya di bumi ini.
Hari cerah di awal Oktober. Seperti biasa saya mengajar di sekolah. Kebetulan mulai hari Senin, 4 Oktober 2021 adalah hari pertama sekolahku memulai pembelajaran tatap muka terbatas sejak pandemi covid- 19 sejak Maret 2020. Saya mengajar full dari jam pertama hingga jam terakhir di kelas 10 IA1 (A) . Jumlah siswa perkelas jumlahnya @ 36 orang dibagi lagi menjadi 2 kelas A dan B atau setiap kelas hanya boleh 18 maksimal orang siswa dalam satu ruang kelas sesuai petunjuk teknis syarat pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas. Satu jam pelajaran 60 menit dan siswa setiap rombongan belajar 2 kali masuk sekolah dalam seminggu.
Keluarga kami mendapat undangan
penguburan pangkat besan. Anak perempuan saya sudah jadi
menantunya mereka.
Jadi keluarga punya kuajiban
untuk melayat. Membawa barang sesuai dengan adat setempat. Kami berjumlah 85 orang. Kami pergi dengan prosedur adat sumba. Kami
sebagai pihak ‘Ina’ keluarga asal istri dari anak laki-laki almarhum. Apa yang kami bawa? Sepasang kain (sarung dan kain) yang diserahkankan kepada pihak keluarga yang
berduka. Sebagai balasan mereka nanti akan memberikan hewan berupa kerbau, sapi
atau kuda sesuai kemampuan, kerelaan atau ketersediaan hewan yang ada pada keluarga duka. Apalagi Keluarga pihak “anakawini” almarhum Bapak Mbulu
Takanjanji bukan orang biasa. Beliau
adalah keluarga bangsawan, tokoh masyarakat, tokoh adat di Desa Tuta Hamapenji Rindi Umalulu Sumba Timur. Beliau adalah orang yang terpandang
yang menjadi menjadi panutan bagi keluarga dan masyarakat di situ. Setiap ada
acara adat, acara pemerintahan di desanya, tanpa kehadiran beliau berarti acara
pertemuan belum boleh dimulai. Maka masyarakat di situ menyebutnya
dengan U-Er yang artinya umbu rapat.
Ceritanya meninggalnya beliau begini.
Pada suatu hari pak umbu mengeluh sakit
pusing atau sakit kepala. Badan terasa
lemah disertai batuk dan flu. Gejalanya
persis seperti orang yang terserang Covid-19. Saat itu pandemic lagi ganas-ganasnya. Korban yang
meninggal sudah terlalu banyak. Bahkan, di
Sumba Timur sempat dinyatakan zona hitam. Nah, dari situ semua orang yang punya
gejala covid-19 trauma pergi ke rumah sakit. Kenapa? Kalau benar-benar kita
kena covid meninggal pastinya dikubur secara covid. Waduh!! Itu yang kita
benar-benar takut. Ada rasa ‘berbeda’.
Ada rasa terisolir. Itu yang kami rasakan saat itu. Jadi kami benar-benar takut pergi ke rumah sakit.
Kami keluarga tak bisa berbuat banyak. Tuhan memanggil melalui banyak
cara. Kini Pak
Umbu telah dipanggil Tuhan. Saya begitu terharu saat
datang ke acara penguburannya. Saya sebagai orang
Jawa dan awam tidak memahami tradisi orang sumba
Timur. Benar-benar
kagum dan terkesima dengan prosesi penguburan ala tradisi budaya sumba Timur. Benar
suami saya asli orang
Sumba Timur, tapi kami belum bisa menyelami banyak adat mereka. Orang sumba masih memegang
erat tradisi dan budayanya. Adatnya masih kuat dan kental.
Sekelumit riwayat
hidup almarhum Bulu Takajanji alias Umbu Rapat. Lahir di desa Mutunggeding,
kecamatan Rindi Umalulu, kabupaten Sumba timur provinsi Nusa Tenggara Timur, 14
April 1958. Pak Umbu menempuh pendidikan ‘hanya’ sampai di kelas V sekolah dasar. Beliau adalah seorang pekerja keras, tekun
dan ulet. Ia merintis usaha dari modal nol. Dia memulai usaha dengan niat yang
kuat dengan prinsip meraih rejeki dengan berusaha. Di bak truk yang dia miliki
ditulis “Usaha Rejeki” yang disingkat “U-Er” bisa juga ditapsir sebagai
singkatan dari nama ‘Umbu Rapat’. Beliau juga
yang selalu membuka atau memimpin rapat di kampungnya, baik tentang rapat
keluarga atau rapat pemerintah desanya.
Sebelum U-Er
meninggal, Beliau
sudah
mempersiapkan semuanya. Mungkin sudah ada firasat bahwa Tuhan akan memanggilnya.
Hewan dan logistik untuk acara pengebumian dirinya sudah disiapkan semuanya. Rumah adat ukuran 14x16 m2 sudah selesai dibangun.
Bahkan rumah potong hewan untuk usaha anaknyapun sudah diuruskan lengkap
dengan SIUP ( Surat ijin Usaha).
Bapak
Umbu Rapat
adalah orang yang baik. Salah satu bukti
yang bisa ditunjukkan adalah jumlah tamu yang hadir mengikuti acara penguburan.
Tamu yang melayat dari berbagai kalangan. Ada unsur
pemerintah kabupaten, kecamatan, desa yang hadir. Bahkan sejumlah pejabat dari unsur muspida. Sebagai tamu saya mendengar
dari dapur, ibu-ibu bercerita, tamu yang di undang secara adat dari berbagai
marga kurang lebih 300 marga
kabihu. Pelayat dari pantauan mata memandang
sekitar 2000-an orang.
Jenasah orang ‘Maramba’ Sumba tidak biasa langsung dikubur. Bisa sampai umur
bulan bahkan tahun baru dikubur, jenasah disimpan di kamar, dijaga dan selalu
disiapkan makanan. Setiap malam ada saja yang mete ( jaga malam). Termasuk
jenasah U-Er. Beliau sekitar setahun baru dikubur. Untuk menjamu tamu yang melayat sejak beliau
meninggal sampai penguburan sudah lebih 20 ekor hewan (Sapi, Kerbau, Kuda,
kambing, babi).
Ada juga istilah
“dangang” yaitu hewan berupa kerbau, kuda dan babi yang dipotong pada saat
penguburan. Hewan tersebut merupakan kuda tunggang dan hewan bawaan almarhum ke
alam baka. Itu merupakan tradisi yang harus dilakukan. Adat budaya itu warisan leluhurnya harus ditaati. Menurut
kepercayaan mereka takutnya ada sangsi sang leluhur. Dengan meyakini tradisi
leluhurnya hidup didunia akan merasa tenang.
Di samping itu, ada
juga istilah ‘kameti’ yaitu hewan yang
dipotong untuk para tamu undangan yang diundang secara adat baik pihak “Ina
atau yiara” maupun “anakawini” . Daging kameti yang dibawa pulang
tamu, dibagikan untuk anggota rombongan yang
mengikuti acara penguburan tersebut. Di samping kameti, untuk tamu
selaku pihak pihak keluarga duka, mereka juga
memberikan hewan sebagai balasan kain yang
dibawa. Sedangkan tamu “anakawini”
yang membawa hewan “dangang” oleh pihak
keluarga duka membalas dengan memberikan kain berupa sarung (lawu) atau kain
(hinggi) untuk dibawa pulang. Semua tamu harus membawa pulang sesuatu. Tamu tak boleh pulang kosong. Entah itu
kain atau hewan. Itu semua almarhum sudah siapkan.
Tentu saja selain
yang sudah disiapkan keluarga almarhum ditambah lagi pembawaan para tamu
undangan yang diundang secara adat. Padahal
untuk harga kerbau tukar 6 ke atas dihargai sekitar 30 juta per ekor kerbau
“dangang.” Misalnya kuda, sapi, babi,
yang disiapkan dalam prosesi upacara penguburan tersebut ada 20 ekor dan
rata-rata harganya per ekor anggap saja Rp. 10 jutaan,
itu bisa kita hitung 10 juta x 20 ekor = Rp 200.000.000,- Belum biaya konsumsi,
kain sebagai balasan para tamu yang membawa kain/hewan.
Inilah
sebuah contoh tanggung jawab ‘seorang’ `
ayah terhadap keluarga. Kini Uyan ( Umbu Oktavianus Takanjanji) Suami dari anak saya kudu (Rambu Jati Maramba
Hau alias Rambu nai Hana) yang jadi pewaris karena dia adalah anak tunggal
laki-laki. Semoga dia bisa menjaga
amanah bapaknya. Bisa menjaga berbagai usaha yang sudah dirintis oleh ayahnya.
Bentuk usaha yang diwariskan berupa: usaha penggilingan padi, rumah potong hewan,
usaha mengantar pulaukan daun lontar, usaha cetak batako, usaha pertanian berupa
lahan sawah, usaha ternak, jual beli kain tenun pahikung melolo, pengiriman hasil bumi ke Bali ( daun lontar, pisang,
kemiri), dan bebeberapa usaha lain.
Mendengar kisah hidup dan perjalanan usaha almarhum, saya salut,
terharu, sedih bercampur aduk dalam hati......saya tak kuasa
menahan air mata. Para tamu yang hadir pun terlihat semua sedih, semua
menangis. Mereka semuanya merasa kehilangan ‘bapak tua’ (U-Er) . Banyak para pemuda-pemudi di daerah
mengadu nasib hidupnya kepada beliau merasa
kehilangan.
Acara adat untuk
anak kami (belis) sudah dibayar lunas. Belis
itu kalau adat jawa adalah Mahar atau seserahan. Di Sumba belis
berupa Hewan sapi, kerbau dan kuda. Lebih 20 ekor saat itu yang dibawa
dari keluarga laki-laki. Namun acara pernikahan secara gerejani dan pencatatan sipil
belum dilaksanakan. Sebenarnya rencana pernikahan
(resepsi) bulan Oktober 2021 tetapi
ternyata Tuhan berkehendak lain. Kini Umbu Okta
suami dari anakku perempuan harus bisa mandiri.
Harus siap jadi pengganti ayahnya. Harus kuat dan tabah. Ia dan
keluarga harus bisa mempersiapkan pernikahannya sendiri tanpa bapak lagi.
Semoga Tuhan
senantiasa memberkati semua usaha. Semoga rencana mereka berjalan lancar dan sukses mengikuti jejak
sang bapak yang ulet. Selamat Jalan Bpak
MBulu Takajanji, selamat jalan Umbu Rapat..... Tuhan sudah
menyiapkan tempat di Sorga kekal.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge
- 14
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Sabtu21Mei2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar