Jumat, 20 Mei 2022

Panca Indera Penulis

 

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Sebagian penulis pemula, merasa kebingungan dalam menemukan ide atau inspirasi yang bisa menjadi bahan tulisan. Kebingungan mereka ini, bisa digambarkan dengan ungkapan “tikus mati di lumbung padi”. Sebab, semua yang ada dalam diri kita sendiri, adalah ide dan inspirasi yang bisa ditulis.

Kita tidak harus jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk mendapatkan ide tulisan. Anda bisa menulis tentang keindahan Menara Pisa di Italia hanya dari gadget saja. Anda bisa menuliskan pengalaman berkesan, atau menceritakan apa yang dilihat serta didengar. Sangat mudah bukan? Mengapa masih ada yang merasa sulit menemukan ide menulis?

Menggunakan Panca Indera untuk Menemukan Ide Menulis

Bagaimana cara mudah mendapatkan ide tulisan? Gunakan panca indera yang kita miliki. Ini sudah sangat cukup untuk mendapatkan banyak ide menulis.

  • Indera Penglihatan

Mata adalah indera penglihatan yang dikaruniakan Allah untuk kita. Melalui mata, kita bisa menyaksikan sangat banyak kejadian, peristiwa, keindahan alam, warna-warni, dan segala dimensi yang terlihat. Kita bisa mengerti gelap dan terang. Kita bisa mengerti malam dan siang.

“Luar biasa! Hanya itu yang terucap dari mulutku saat pertama kali melihat Menara Pisa di Italia”. Coba kembangkan menjadi cerita, meskipun Anda belum sampai di Italia. Bagaimana caranya? Lihat saja keindahan menara Pisa melalui Youtube. Anda akan bisa menuliskan cerita tentangnya.

  • Indera Pendengaran

Telinga adalah indera pendengaran, yang dengannya kita bisa mendapatkan sangat banyak informasi. Kita bisa mendengar berita, cerita, obrolan, percakapan, suara-suara, bunyi-bunyian, dan semua dimensi yang terdengar. Berbagai hal yang kita dengar, bisa menjadi bahan tulisan.

“Suara gemercik hujan membuatkan merasakan keteduhan”. Anda bisa meneruskan membuat cerita tentang suara gemercik hujan? Coba bikin puisi, atau cerpen, atau quotes yang menyertakan suara gemerik hujan.

  • Indera Penciuman

Hidung adalah indera penciuman. Kita bisa mencium bau wangi, bau amis, bau busuk, bau mistis, bau sedapnya makanan, dan segala dimensi yang tercium aromanya oleh hidung. Dalam menulis cerita, indera penciuman menjadi sangat penting dilibatkan.

“Aku mencium bau mayat di ruang gelap ini”, adalah ungkapan yang menggunakan indera penglihatan dan penciuman. Anda bisa kembangkannya menjadi cerpen atau novel.

  • Indera Peraba

Kulit adalah indera peraba. Kita bisa merasakan kasar, halus, lembek, keras, kenyal, berair, panas, dingin, dan semua dimensi yang bisa diraba. Bahkan kita bisa membedakan kerasnya besi, kerasnya batul karang, kerasnya roti, kerasnya makanan, dan lain sebagainya. Semua bisa menjadi bahan tulisan.

“Aku kaget. Roti ini keras sekali”. Coba kembangkan menjadi bahan cerita, tentang roti yang sangat keras.

  • Indera Perasa

Lidah adalah indera perasa. Dengan indera ini kita bisa merasakan pahit, asin, manis, kecut, getir, enak, tidak enak, rasa aneh, dan semua dimensi yang dirasa. Kita bisa membedakan tingkat rasa, seperti sangat manis, kurang manis, atau tidak manis. Semua yang kita rasakan, bisa menjadi bahan tulisan.

“Bubur Manado terkenal sangat lezat. Saya selalu menghabiskan sampai tetes bubur terakhir di mangkuk”. Anda bisa mengembangkan cita rasa makanan yang  Anda nikmati selama mudik lebaran, menjadi bahan tulisan.

Menggunakan Pikiran, Perasaan, Pengalaman

Selain menggunakan panca indera, kita juga bisa menggunakan pikiran, perasaan dan pengalaman diri untuk menjadi bahan tulisan. “Apa yang Anda pikirkan?” Adalah pertanyaan facebook kepada Anda. Coba tulis apa yang sedang Anda pikirkan.

Demikian pula “Apa yang sedang Anda rasakan?” Anda bisa menuliskan kesedihan, kegelisahan, kebahagiaan, keputusasaan, kedukaan, keceriaan, ataupun keajaiban. Tuliskan perasaan yang sedang berkecamuk dalam jiwa Anda. Ini akan membuat Anda selalu bisa menulis.

Anda juga bisa menuliskan pengalaman dalam kehidupan yang pernah Anda jalani. Pengalaman adalah guru terbaik, demikian pepatah mengatakan. Pengalaman menjadi guru yang lebih baik lagi apabila dituliskan. Dengan ditulis, bisa memberikan pelajaran kepada sangat banyak khalayak.

Saya mengajak Anda menengok tulisan Sri Rohmatiah Djalil di Kompasiana. Ia adalah ibu rumah tangga, dan alumni sangat banyak kelas menulis. Sekarang tengah menjabat sebagai Presiden Komunitas Emak Produktif (KEPO). Dirinya sangat produktif menulis, dan mampu mendayagunakan semua pengalaman hidupnya untuk menjadi bahan tulisan.

Lihat judul-judul tulisannya. Ia mampu melihat segala sesuatu dalam kecamata sebagai penulis. Maka ia tidak bingung menulis. Ia tidak perlu mencari hal-hal yang jauh darinya. Apa yang dilihat, apa yang dirasakan, apa yang didengarkan, apa yang dialami, dan apa yang menarik baginya, bisa menjadi bahan tulisan.

Berikut contoh judul-judul tulisan Sri Rohmatiah di Kompasiana (https://www.kompasiana.com/srirohmatiah). Perhatikan bagaimana ia melihat segala sesuatu, dan dijadikan bahah tulisan.

  • Pintu Masuk Kota Madiun Macet hingga 1 Km
  • Hati-hati 4 Penyakit Ini Sering Muncul Usai Lebaran dan Bagaimana Cara Mengatasinya
  • 7 Bagian Mobil yang Harus Diperiksa Sebelum Perjalanan Mudik Lebaran
  • 3 Cara Mengalokasikan THR Anak Anti Investasi Bodong
  • Arus Balik Tol Madiun-Malang Lancar Tanpa Hambatan
  • 3 Cara Membayar Upah Buruh Tani di Desa Saya
  • Harga Kebutuhan Pokok Jelang Ramadan, Minyak Goreng Masih Juara
  • Perjuangan Memperoleh SIM A dan SIM D Secara Offline
  • 4 Hal yang Saya Lakukan agar Anak Mantap Memilih Jurusan Kedokteran
  • Daftar BPJS Kesehatan Secara Online dan Offline Ternyata Mudah, Berikut Pengalaman Saya

Masih sangat banyak tulisan dia di Kompasiana. Judul-judul yang dibuat, sudah menggambarkan kepiawaiannya dalam menjadikan panca inderanya sebagai alat menangkap ide untuk menulis. Berbagai pengalaman dalam kehidupannya, telah mewarnai halaman-halaman di Kompasiana.

Masih ada yang merasa sulit menemukan ide menulis? Coba angkat tangannya.

Bahan Bacaan

Kellie McGann, How to Unlock All Five Senses in Your Writinghttps://thewritepractice.com/five-senses-in-writing, diakses 12 Mei 2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...