Sabtu, 21 Mei 2022

JEJAK PENA MERAJUT KISAH Day 16

 

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

 

“Cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian, mengubah pengecut menjadi pemberani, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, dan cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan malam.”

Saya adalah orang biasa dan tak punya  kelebihan apa-apa. Tapi  apapun itu  saya  harus selalu  bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan . Sebagai orang beriman  hidup harus tegar untuk menata hatinya, meskipun  berlawanan dengan  apa yang kita terima dalam kehidupan. Terkadang air mata  menetes saat masalah datang  tetapi hati tetap meyakini  bahwa  apa yang diberikan Tuhan  adalah yang ‘terbaik’.

 

Petarung yang baik tidak pernah menunjukkan pesakitan.  Hidup adalah perjuangan yang harus  dijalani, entah kita mau  jadi apa: kaya- miskin, bahagia, duka-cita, kita harus tetap terima.  Kalau jatuh itu “resiko” tapi kalau bahagia, kaya raya, punya jabatan itu adalah “anugerah”. Apapun itu harus tetap kita “syukuri”.

 

Ada istilah, tak kenal maka tak sayang, Ledwina Eti Wuryani adalah nama saya , saya lahir di  kampung kecil, di desa Gejayan, kelurahan Gondowangi, kecamatan Sawangan , Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Tepatnya pada hari Kamis Legi, 56 tahun yang lalu.  Saya merupakan anak pertama  dari 4 bersaudara, putri  dari pasangan Sudayat Hadi Pranoto dan  C.Sutari. Ayahku seorang guru, tahu kan ’profesi ‘ guru waktu  itu. Profesi ini dulu dilihat orang dengan ”sebelah mata”.  Bapak dalam melaksanakan tugas setiap pagi dijalani dengan suka cita. Beliau naik motor tua  kesayangannya. Berbekal nasi ke sekolah karena tidak mampu untuk jajan di warung setiap hari. Yah... syukurlah ,secara finansial kehidupan kami  ‘cukup’ untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

 

Saat aku SD. Aku sekolah di SDK Kamal pagersari. Sebuah sekolah swasta di kampung. Setiap hari berjalan kaki tanpa alas kaki. Maklum saat itu sekolah tidak mewajibkan untuk bersepatu. Kami masih lugu dan sungguh diajari hidup penuh kesederhanaan. Saking polosnya kadang pulang sekolah tak ada malunya kita mandi di sungai. Kebetulan  ditengah perjalanan ada sungai Gembung yang airnya  jernih sekali. Dengan begitu membuat hati selalu tergoda untuk mandi. Jika ditanya prestasi kami selalu bersyukur aku dan 2 adikku selalu pegang rangking pertama di kelas. Itu yang membuat para guru sayang pada kami.

 

Di SMP  saya harus  jalan kaki jarak rumah ke sekolah  sekitar 7 km. Dengan menyeberang 2 sungai besar ( kali Mbelan dan Kali Njumbleng). Menyusur pematang sawah untuk mencari jalan pintas, tak bersepatu pula. Sepatu dipakai saat  mau dekat masuk lokasi sekolah. Tak heran kalau aku dan teman-teman sekampung yang sekolah di SMPK Muntilan  sering didaulat  mewakili sekolah  untuk ikut lomba lari. Dari beberapa kali ikut, lumayanlah selain dapat penghargaan juga pengalaman. He…hingga saat ini pak guru olah raga yang sudah sepuh  masih ingat padaku. Ohh.. eti yang dulu  kecil yang larinya kenceng itu ya..

 

Sedang SMA saya harus pergi di tempat yang lebih jauh lagi, di kota  provinsi sekitar 40 km dari rumahku. SMAK Stella Duce Jogyakarta. Orang tua berharap  saya  harus tinggal di asrama.  Harapan orang tua supaya kami belajar hidup mandiri. Satu satun berikut adikku menyusul di SMA yang sama. Dua tahun berikut adikku menyusul juga di SMA Collese De Britto, sekolah yang semua siswanya laki-laki. Dua tahun berikut adikku bungsu menyusul lagi. Dia di SMA Gama di Jogya juga.

 

Jadi semua kami berempat di Jogyakarta sedang Ibu dan Bapak di Muntilan. Betapa besar biaya kami. Bapak seorang guru PNS dan ibu adalah petani yang mengolah sawah warisan nenek. Untuk menunjang biaya kami ibu juga merias pengantin. Tapi itu tidak bisa mencukupkan kebutuhan kami sampai kami kuliah.

 

 

Akhirnya saya keluar dari asrama, mengingat saya harus bersama-sama  dengan 3 orang adikku. Jadi berempat kami sekolah dan kuliah di Jogya. Orang tuaku melepaskan kami, menyewakan rumah untuk kami. Nah rumah itu kita sulap jadi warung  makan untuk kami kelola.  Warung  makan sederhana, menjual makan untuk anak kos dan makan anak  sekolah. Kebetulan  warung itu ada di seberang pintu gerbang SMAnya adikku, SMA De Britto. Jadi beruntung saat itu setiap jam istirahat mereka  makan bakso dan soto di warung kami. Yang masih jadi kenangan sampai adikku hingga kini ada yang memanggik Edi soto.

 

Perjuangan yang berat.  Warung itulah yang membuat kami hidup dan mandiri. Berkat warung itu  bisa mencukupkan  biaya hidup dan biaya pendidikan aku dan adik-adikku. Bapak dan ibu tetap dikampung mensuport kami. Sebagai anak pertama  saya harus punya tanggung jawab  dalam menjaga  kepercayaan  orang tuaku. Hingga akhirnya sungguh beruntung dan penuh    aku dan adik-adik  akhirnya bisa kuliah semua hingga selesai. Aku jurusan FMIPA IKIP Sanata Dharma. Adik Nomor Dua, Rita  Eli namanya almamater UGM jurusan Elektro. Adik Nomor 3 dan 4 nama Edi dan Rudi   almamater UGM dan Universitas Atmajaya Jogyakarta Jurusan Tekni Sipil. 

 

            Bapak adalah  guru SPG, pada tahun 1990 sekolah itu kan ditutup untuk diganti SMA. Rejeki memang tak akan salah alamat, teman ayahku, Bp Drs Margono, waktu itu menjabat Dikmenun di Dinas Pendidikan Republik Indonesia.  Beliau adalah teman Bapakku waktu sekolah di SGA ( Sekolah Guru Atas). Beliau Telpon ke bapak dan berkata: “Pak Dayat, mau nggak jadi kepala sekolah di Timor-Timur? “. Ayahku menjawab:” ya, mau lah. Dan bapak menyampaikan kalau boleh sekalian aku mendampinginya di Tim Tim, ternyata disetujui. Akhirnya  dengan  semangat 45 kami ke Jakarta bertemu beliau. Kebetulan waktu itu Timor Timur  masih  sangat membutuhkan tenaga pendidik.

 

Bapak  diberi SK untuk menjabat kepala sekolah  dan saya mendapat SK untuk menjadi guru. Surat Keputusan per bulan Maret 1990 di SMA Negeri Maliana, Bobonaro, Timor Timur. Berangkat dari kampung dengan bis ‘Safari Dharma Raya’ Rp 86.000,-sampai  ke Bali naik pesawat  menuju Kupang . Dari kupang naik bus “Surikmas, ditempuh 24 jam lebih karena harus melewati 2 Sungai besar, dan saat banjir  harus menunggu sungai itu  airnya        surut, maklum belum ada jembatan, jadi bis  harus didorong untuk menyeberang sungai . Dalam perjalanan melewati jurang, bukit, tebing terjal bahkan lumpur. Jalan rusak, batu lepas dan segala perjuangan  untuk mencapai tujuan.  Tapi alhamdulillah, sampai juga ditempat tujuan. Akhirnya saya resmi menjadi  guru baru di situ   Gaji pertama   saya waktu itu, per 1 Maret 1990 adalah Rp 81.200,-

.

Mengajar di daerah konflik memang harus penuh kesabaran. Di Saat situasi ‘panas’ hati selalu was-was. Kejadian-kejadian  ngeri  sering kami lihat dan alami. Ada saja  kekacauan,  intimidasi  terjadi dimana-mana.  Saat  genting kita pun tidak berani keluar rumah apalagi ke sekolah.  Dari pada kita  ‘terluka’ lebih baik menghindar, demi keselamatan.  Dengan   menghadapai situasi seperti itu, membuat  saya menjadi  lebih  tabah, sabar, lebih dewasa  dan begitu menghargai artinya  sebuah ‘kehidupan’.  Ternyata  hidup itu  penuh pengorbanan.  Begitu mudahnya  nyawa melayang kalau kita tidak ‘waspada’ setiap saat.  Tapi  ‘puji Tuhan”  semuanya  berjalan  baik-baik saja.  

 

Tiga tahun berikutnya saya dimutasi di kota provinsi, SMA Negeri 3 Dili Timor Timur. Situasipun masih  sama adanya. Yach,  sebagai abdi negara, memang harus rela di tempatkan di seluruh pelosok Nusantara. Demi mengajar anak bangsa yang akan mengganti kita nanti tentunya.

 

Tahun 1999 Timor Timur merdeka, Seluruh warga Indonesis dipulangkan ke daerah asalnya. Karena suamiku orang NTT, saya dimutasikan di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur NTT. Sebagai  ‘amanah’ dan tanggung jawab seorang istri, jadi saya harus mengikuti  dimanapun suami berada.

 

Saya orang jawa, suami orang asli Sumba Timur, Meurumba tanah kelahirannya, Jadi  kehidupan dan latar belakang  jelas sangatlah berbeda. Sebagai ‘guru’  yang nasibnya tak pernah menentu kala itu, serba kekurangan, kami hidup bersama keluarga besar. Sekitar dua puluhan orang  kita hidup bersama. Selama dua tahun saya mencoba beradaptasi, seolah tertawa walau hatinya tak senada,  seolah  bersuka  walau sebenarnya  hati terasa ‘lara’. Itu adalah salah satu  pengorbanan seorang ‘abdi keluarga ‘ dan ‘abdi negara’. 

 

Kami  hidup sangat  sederhana, seadanya , kadang saya puasa karena memang menyesuaikan situasi yang  ada. Yang berstatus : Pegawai korban konflik bencana. Semua Rumah harta benda semua kita tinggalkan di sana.  Pedih, perih, menangis yang  sampai tak bisa keluar air mata. Sampai  pernah terlintas  dalam pikiran,  ‘apa saya harus lari saja? Tapi Tuhan  selalu menguatkan saya. Di tempat baru kita seolah membangun rumah tangga baru dari nol lagi. Harus berusaha dengan semangat baru.

 

Kalau boleh jujur saat di Tim tim kami punya 3 rumah, yang dua rumah tinggal dan yang satu kos-kosan 12 kamar. Ada juga mobil taksi dan 2 motor RX spesial dan  Honda Impresa tapi itu sudah kami tinggalkan karena kami harus menyelamatkan diri. Kami harus mengungsi. Kami pergi dengan pakaian yang melekat dibadan saja. Membawa kertas-kertas berharga berkas pegawai negeri. Wahh… kalau berkas itu  lupa  atau ketinggalan  nasib berikut entah aku jadi apa. Bisa saja aku jadi gembel yang terhina karena tak ada kerjaan.

 

Di atas adalah  saya cerita masa lalu, sekarang sudah sangat berbeda. Aku sudah jadi warga Negara Indonesia kembali. Tinggal di NTT bersama keluargaku. Aku, suami dan kedua putraku, Marcel dan Anto. Bahkan kini kedua anakku sudah Sarjana.  Gaji guru juga  sudah lumayan, sudah  bisa bernafas lega. Terus bersyukur dan bersyukur kepada  Tuhan Yang Esa dalam setiap doa.

 

Nah!, dari itu yang membuat semangat saya, untuk menuangkan  isi hati lewat cerita. Menuliskan dengan kata-kata. Mengukirnya setiap kisah. Walau bukan  kisah istimewa. Minimal dalam menjalani  hidup ini bermakna. Untuk sendiri syukur  bisa bermakna  bagi sesama. Semua orang pastinya punya jalan hidup yang berbeda. Punya  cerita yang menarik untuk disimak, Cuma tidak semua orang   bisa menuangkan dalam aksara. Ya, dalam suasana hati suka maupun  saat hati  duka, dan  nestapa bisalah  kita tuangkan dengan tulisan agar  terbaca, terkenang  sepanjang masa.  Karena memang hidup bagai roda,  kadang di atas, kadang di bawah yang terus menerus wajib dijalani oleh setiap manusia. Biar tua, kita harus sadar untuk terus belajar, mengisi hal-hal yang berguna. Berkarya sesuai dengan  kemampuan kita, siapa tahu bisa untuk memperpanjang usia. Semoga!.

 

Saya sadar atas  kemampuan  dan keterbatasan saya. walaupun isinya ceritanya masih “receh”, namun, saya telah  mencoba menulis tentang kisahku sendiri.  Entah dibaca atau tidak.  Tidaklah masalah!. Yang penting saya mencoba terus mencoba dan berusaha, minimal saya bisa di kenal dari segelintir orang, itu sudah “cukup” menurut saya.

 

Selagi masih diberi kesempatan untuk berkarya, kenapa harus disia-siakan? Hidup akan terasa  nikmat dan  bergairah kalau kita menulis, walau isinya tentang curahan hati pribadi, yang  awalnya merupakan “ beban hidup” tapi setelah dicurahkan dalam tulisan terasa ringan. Trimakasih  banyak Ibu Kanjeng, Ibu Lilis, Pak Cah dan para motivatorku yang sudah  menginspirasi dan  memotivasi saya  untuk  menulis.

 

Dengan menulis, yang diri ini merasa  bosan dan jenuh akhirnya  terasa  hidup itu asyik,  nyaman dan bisa membuat  suasana  terasa ’beda’.  Yang jelas  membuat saya punya wawasan “lebih” dari sebelumnya. Jadi suka belajar, lebih suka membaca dan percaya diri.  Selamat berkarya dan berbagi ilmu untuk kita  yang mau maju.  Tak ada keberhasilan yang tanpa usaha dan kerja keras, jangan mengeluh dan terus berusaha.  Good Fighter never Show The Paint.

 Salam Literasi!.

 

Quate’s

Kerja keras akan mengalahkan  orang berbakat, ketika orang  berbakat  tidak mau bekerja  keras.

 

 

 

 

TEMPATKU BERSANDAR

 

 

Tuhan mendengar lebih dari yang kudoakan

Tuhan juga menjawab  lebih dari yang kuharapkan

Dengan  cara-Nya diwaktu yang tepat

Aku meyakini semua akan terjadi

 

Tak selalu Tuhan menjawab Doaku

Namun Dia beri yang terbaik diwaktu yang tepat

Yang mustahil menjadi mungkin oleh karena percaya

Teruslah bersyukur janganlah lupa

 

Dengan bersyukur, Membuat kita bahagia

Dengan bersyukur, Membuat kita damai

Dengan bersyukur  serasa kita sungguh dekat dengan-Nya.

 

 

 

 

 

 

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge-16

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEtiWuryani

#Minggu22Mei2022 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...