Oleh : Ledwina
Eti Wuryani, S.Pd
“Cinta
mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi
teguh berpendirian, mengubah pengecut menjadi pemberani, mengubah penderitaan
menjadi kebahagiaan, dan cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan
malam.”
Saya
adalah orang biasa dan tak punya
kelebihan apa-apa. Tapi apapun
itu saya
harus selalu bersyukur atas nikmat
yang diberikan Tuhan . Sebagai orang beriman
hidup harus tegar untuk menata hatinya, meskipun berlawanan dengan apa yang kita terima dalam kehidupan.
Terkadang air mata menetes saat masalah
datang tetapi hati tetap meyakini bahwa
apa yang diberikan Tuhan adalah
yang ‘terbaik’.
Petarung
yang baik tidak pernah menunjukkan pesakitan.
Hidup adalah perjuangan yang harus
dijalani, entah kita mau jadi
apa: kaya- miskin, bahagia, duka-cita, kita harus tetap terima. Kalau jatuh itu “resiko” tapi kalau bahagia,
kaya raya, punya jabatan itu adalah “anugerah”. Apapun itu harus tetap kita “syukuri”.
Ada
istilah, tak kenal maka tak sayang, Ledwina Eti Wuryani adalah nama saya , saya
lahir di kampung kecil, di desa Gejayan,
kelurahan Gondowangi, kecamatan Sawangan , Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa
Tengah. Tepatnya pada hari Kamis Legi, 56 tahun yang lalu.
Saya merupakan anak pertama dari
4 bersaudara, putri dari pasangan
Sudayat Hadi Pranoto dan C.Sutari. Ayahku seorang guru, tahu kan
’profesi ‘ guru waktu itu. Profesi ini
dulu dilihat orang dengan ”sebelah mata”.
Bapak dalam melaksanakan
tugas setiap pagi dijalani dengan suka cita.
Beliau naik motor tua kesayangannya. Berbekal nasi ke sekolah karena tidak mampu untuk jajan di warung setiap
hari. Yah...
syukurlah ,secara finansial kehidupan kami
‘cukup’ untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Saat aku SD. Aku sekolah di SDK Kamal pagersari. Sebuah sekolah swasta
di kampung. Setiap hari berjalan kaki tanpa alas kaki. Maklum saat itu sekolah
tidak mewajibkan untuk bersepatu. Kami masih lugu dan sungguh diajari hidup
penuh kesederhanaan. Saking polosnya kadang pulang sekolah tak ada malunya kita
mandi di sungai. Kebetulan ditengah
perjalanan ada sungai Gembung yang airnya
jernih sekali. Dengan begitu membuat hati selalu tergoda untuk mandi.
Jika ditanya prestasi kami selalu bersyukur aku dan 2 adikku selalu pegang
rangking pertama di kelas. Itu yang membuat para guru sayang pada kami.
Di SMP saya harus
jalan kaki jarak rumah ke sekolah
sekitar 7 km. Dengan menyeberang
2 sungai besar ( kali Mbelan dan Kali Njumbleng). Menyusur pematang sawah untuk
mencari jalan pintas, tak bersepatu pula. Sepatu dipakai saat mau dekat masuk lokasi sekolah. Tak heran
kalau aku dan teman-teman sekampung yang sekolah di SMPK Muntilan sering didaulat mewakili sekolah untuk ikut lomba lari. Dari beberapa kali
ikut, lumayanlah selain dapat penghargaan juga pengalaman. He…hingga saat ini
pak guru olah raga yang sudah sepuh masih ingat padaku. Ohh.. eti yang dulu kecil yang larinya kenceng itu ya..
Sedang SMA saya
harus pergi di tempat yang lebih jauh lagi, di kota provinsi
sekitar 40 km dari rumahku. SMAK Stella Duce
Jogyakarta. Orang tua berharap saya
harus tinggal di asrama. Harapan
orang tua supaya kami belajar hidup mandiri. Satu satun berikut adikku menyusul di SMA yang sama.
Dua tahun berikut adikku menyusul juga di SMA Collese De Britto, sekolah yang
semua siswanya laki-laki. Dua tahun berikut adikku bungsu menyusul lagi. Dia di
SMA Gama di Jogya juga.
Jadi semua kami berempat di Jogyakarta sedang Ibu dan Bapak di Muntilan.
Betapa besar biaya kami. Bapak seorang guru PNS dan ibu adalah petani yang
mengolah sawah warisan nenek. Untuk menunjang biaya kami ibu juga merias
pengantin. Tapi itu tidak bisa mencukupkan kebutuhan kami sampai kami kuliah.
Akhirnya
saya keluar dari asrama, mengingat saya harus
bersama-sama dengan 3 orang adikku. Jadi
berempat kami sekolah dan kuliah di Jogya. Orang tuaku melepaskan kami, menyewakan
rumah untuk kami. Nah rumah itu kita sulap jadi warung makan untuk kami kelola. Warung makan sederhana, menjual makan untuk anak kos
dan makan anak sekolah. Kebetulan warung itu ada di seberang pintu gerbang
SMAnya adikku, SMA De Britto. Jadi beruntung saat itu setiap jam istirahat mereka makan bakso dan soto di warung kami. Yang
masih jadi kenangan sampai adikku hingga kini ada yang memanggik Edi soto.
Perjuangan yang berat. Warung
itulah yang membuat kami hidup dan mandiri. Berkat warung itu bisa mencukupkan biaya hidup dan biaya pendidikan aku dan
adik-adikku. Bapak dan ibu tetap dikampung mensuport kami. Sebagai
anak pertama saya
harus punya tanggung jawab dalam
menjaga kepercayaan orang tuaku. Hingga akhirnya sungguh beruntung dan penuh aku dan
adik-adik akhirnya bisa kuliah semua
hingga selesai. Aku jurusan FMIPA IKIP Sanata
Dharma. Adik Nomor Dua, Rita Eli namanya
almamater UGM jurusan Elektro. Adik Nomor 3 dan 4 nama Edi dan Rudi almamater UGM dan Universitas Atmajaya Jogyakarta
Jurusan Tekni Sipil.
Bapak adalah
guru SPG, pada tahun 1990 sekolah itu kan ditutup untuk diganti SMA.
Rejeki memang tak akan salah alamat, teman ayahku, Bp Drs Margono, waktu itu
menjabat Dikmenun di Dinas Pendidikan Republik Indonesia. Beliau adalah teman Bapakku
waktu sekolah di SGA ( Sekolah Guru Atas). Beliau Telpon
ke bapak dan berkata: “Pak Dayat, mau nggak jadi kepala
sekolah di Timor-Timur? “. Ayahku menjawab:” ya, mau lah. Dan bapak
menyampaikan kalau boleh sekalian aku mendampinginya di Tim Tim, ternyata
disetujui. Akhirnya dengan
semangat 45 kami ke Jakarta bertemu beliau. Kebetulan waktu itu Timor
Timur masih sangat membutuhkan tenaga pendidik.
Bapak diberi SK untuk menjabat kepala sekolah dan saya mendapat SK untuk menjadi guru. Surat
Keputusan per
bulan Maret 1990 di SMA Negeri Maliana, Bobonaro,
Timor Timur. Berangkat dari kampung dengan bis ‘Safari Dharma Raya’ Rp
86.000,-sampai ke Bali naik pesawat menuju Kupang .
Dari kupang naik bus “Surikmas, ditempuh 24 jam lebih karena harus melewati 2 Sungai besar, dan saat
banjir harus menunggu sungai itu airnya
surut, maklum belum ada jembatan, jadi bis harus didorong untuk menyeberang sungai .
Dalam perjalanan melewati jurang, bukit, tebing terjal bahkan lumpur. Jalan
rusak, batu lepas dan segala perjuangan
untuk mencapai tujuan. Tapi
alhamdulillah, sampai juga ditempat tujuan. Akhirnya saya resmi
menjadi guru baru di situ Gaji pertama
saya waktu itu, per 1 Maret 1990
adalah
Rp 81.200,-
.
Mengajar
di daerah konflik memang harus penuh kesabaran. Di Saat situasi ‘panas’ hati
selalu was-was. Kejadian-kejadian ngeri sering kami lihat dan alami.
Ada saja
kekacauan, intimidasi terjadi dimana-mana. Saat
genting kita pun tidak berani keluar rumah apalagi ke sekolah. Dari pada kita ‘terluka’ lebih baik menghindar, demi
keselamatan. Dengan menghadapai situasi seperti itu,
membuat saya menjadi lebih
tabah, sabar, lebih dewasa dan
begitu menghargai artinya sebuah
‘kehidupan’. Ternyata hidup itu
penuh pengorbanan. Begitu
mudahnya
nyawa melayang kalau kita tidak ‘waspada’ setiap saat. Tapi
‘puji Tuhan” semuanya berjalan
baik-baik saja.
Tiga tahun
berikutnya saya dimutasi di kota provinsi, SMA
Negeri 3 Dili Timor Timur. Situasipun masih
sama adanya. Yach, sebagai abdi
negara, memang harus rela di tempatkan di seluruh pelosok Nusantara. Demi mengajar anak bangsa yang akan mengganti kita nanti
tentunya.
Tahun 1999
Timor Timur merdeka, Seluruh warga Indonesis dipulangkan ke daerah asalnya. Karena
suamiku orang NTT, saya dimutasikan di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur NTT.
Sebagai ‘amanah’ dan ‘tanggung jawab’
seorang istri, jadi saya harus
mengikuti dimanapun suami berada.
Saya orang
jawa, suami orang asli Sumba Timur, Meurumba tanah kelahirannya, Jadi kehidupan dan latar belakang jelas sangatlah berbeda. Sebagai ‘guru’ yang nasibnya tak pernah menentu kala itu,
serba kekurangan, kami hidup bersama keluarga besar. Sekitar dua puluhan
orang kita hidup bersama. Selama dua
tahun saya mencoba beradaptasi, seolah tertawa walau hatinya tak senada, seolah
bersuka walau sebenarnya hati terasa ‘lara’. Itu adalah salah
satu pengorbanan seorang ‘abdi keluarga
‘ dan ‘abdi negara’.
Kami hidup sangat
sederhana, seadanya , kadang saya puasa
karena memang menyesuaikan situasi yang
ada. Yang berstatus : Pegawai korban konflik bencana. Semua Rumah harta
benda semua kita tinggalkan di sana. Pedih, perih, menangis yang sampai tak bisa keluar air mata. Sampai pernah terlintas dalam pikiran, ‘apa saya harus lari saja? Tapi Tuhan selalu menguatkan saya. Di tempat baru kita
seolah membangun rumah tangga baru dari nol lagi. Harus berusaha dengan semangat baru.
Kalau boleh jujur saat di Tim tim kami punya 3 rumah,
yang dua rumah tinggal dan yang satu kos-kosan 12 kamar. Ada juga mobil taksi
dan 2 motor RX spesial dan Honda Impresa
tapi itu sudah kami tinggalkan karena kami harus menyelamatkan diri. Kami harus
mengungsi. Kami pergi dengan pakaian yang melekat dibadan saja. Membawa
kertas-kertas berharga berkas pegawai negeri. Wahh… kalau berkas itu lupa atau
ketinggalan nasib berikut entah aku jadi
apa. Bisa saja aku jadi gembel yang terhina karena tak ada kerjaan.
Di atas
adalah saya cerita masa lalu, sekarang
sudah sangat berbeda. Aku sudah jadi
warga Negara Indonesia kembali. Tinggal di NTT bersama keluargaku. Aku, suami
dan kedua putraku, Marcel dan Anto. Bahkan kini kedua anakku sudah Sarjana. Gaji guru juga sudah lumayan, sudah bisa bernafas lega. Terus
bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan Yang Esa dalam setiap doa.
Nah!, dari
itu yang membuat semangat saya, untuk menuangkan isi hati lewat cerita. Menuliskan dengan
kata-kata. Mengukirnya setiap kisah. Walau bukan kisah istimewa. Minimal dalam menjalani hidup ini bermakna. Untuk sendiri syukur
bisa bermakna bagi sesama. Semua
orang pastinya punya jalan hidup yang berbeda. Punya cerita yang menarik untuk disimak, Cuma tidak
semua orang bisa menuangkan dalam
aksara. Ya,
dalam suasana hati suka maupun saat hati duka, dan
nestapa bisalah kita
tuangkan dengan tulisan agar terbaca,
terkenang sepanjang masa. Karena memang hidup bagai roda, kadang di atas, kadang di bawah yang terus
menerus wajib dijalani oleh setiap manusia. Biar tua, kita harus sadar untuk
terus belajar, mengisi hal-hal yang berguna. Berkarya sesuai dengan kemampuan kita, siapa tahu bisa untuk memperpanjang
usia. Semoga!.
Saya sadar
atas kemampuan dan keterbatasan saya. walaupun
isinya ceritanya masih “receh”, namun, saya telah mencoba menulis tentang kisahku sendiri.
Entah dibaca atau tidak. Tidaklah
masalah!. Yang penting saya mencoba terus mencoba dan berusaha, minimal saya
bisa di kenal dari segelintir orang, itu sudah “cukup” menurut saya.
Selagi
masih diberi kesempatan untuk berkarya, kenapa harus disia-siakan? Hidup akan
terasa nikmat dan bergairah kalau kita menulis, walau isinya tentang curahan hati pribadi,
yang awalnya merupakan “ beban hidup”
tapi setelah dicurahkan dalam tulisan terasa ringan. Trimakasih banyak Ibu
Kanjeng, Ibu Lilis, Pak Cah dan para motivatorku yang sudah menginspirasi dan memotivasi saya untuk
menulis.
Dengan menulis, yang diri ini merasa bosan dan jenuh akhirnya terasa
hidup itu asyik, nyaman dan bisa
membuat suasana terasa ’beda’. Yang jelas
membuat saya punya wawasan “lebih” dari sebelumnya. Jadi suka belajar, lebih suka membaca dan
percaya diri. Selamat berkarya dan
berbagi ilmu untuk kita yang mau
maju. Tak ada keberhasilan yang tanpa usaha
dan kerja keras, jangan mengeluh dan terus berusaha. Good
Fighter never Show The Paint.
Salam Literasi!.
Quate’s
Kerja keras akan
mengalahkan orang berbakat, ketika
orang berbakat tidak mau bekerja keras.
TEMPATKU BERSANDAR
Tuhan mendengar lebih dari yang kudoakan
Tuhan juga menjawab lebih dari
yang kuharapkan
Dengan cara-Nya diwaktu yang
tepat
Aku meyakini semua akan terjadi
Tak selalu Tuhan menjawab Doaku
Namun Dia beri yang terbaik diwaktu yang tepat
Yang mustahil menjadi mungkin oleh karena percaya
Teruslah bersyukur janganlah lupa
Dengan bersyukur, Membuat kita bahagia
Dengan bersyukur, Membuat kita damai
Dengan bersyukur serasa kita
sungguh dekat dengan-Nya.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge-16
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEtiWuryani
#Minggu22Mei2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar