Minggu, 22 Mei 2022

PENGABDIAN YANG MEMBAWA BERKAH day 17

 

Aku anak kampung Meurumba  yang mengadu nasib ke kota. Orang tuaku tidak punya pekerjaan karena aku adalah anak korban konflik bencana. Rumah tempat aku tinggal beratap alang dan berlantai tanah. Dulu orang tuaku wiraswasta, karena harus mengungsi harta benda kami ditinggal semua di daerah asal. Tak ada sedikitpun barang yang bisa kubawa. Sebagai pengungsi untuk keperluan sehari-hari saja keluargaku sering kekurangan, apalagi untuk biaya sekolahku. Dengan tekad yang kuat, aku berusaha sekolah di sebuah SMA  di kota dengan biaya sendiri.  Pulang sekolah aku membantu di tempat cuci mobil. Sebagai imbalannya aku bisa bayar uang sekolah dan beli buku. Dari sini aku berhasil menyelesaikan pendidikanku di SMA.

 

Aku tak berani punya cita-cita. Aku hanya ingin bekerja di kota  kalau dapat upah  ingin membantu kehidupan orang tua yang bekerja serabutan. Aku mencoba mengadu nasib di Jogya. Aku memberanikan diri  melamar setiap ada lowongan kerja, apapun saja. Mencari pekerjaan  memang sulit. Sekitar dua puluhan tempat  aku mengajukan lamaran tapi semuanya nihil. Doa dan puasa kujalani demi sebuah pekerjaan. Secara tak sengaja aku membantu nona yang kecopetan di terminal. Nona tersebut menyebutkan namanya dan mengajakku untuk bertemu orang tuanya. Ternyata Orangtuanya kaya yang punya perusahaan air minum. Akupun jadi OB di tempat itu.

 

Aku berusaha kerja sebaik mungkin agar tak dipecat.  Sebagai pegawai aku mendapat tugas tambahan mengantar jemput Gisella putrinya pak Santosa direktur perusahaan tempat aku bekerja. Suatu saat dia mengeluh tak bisa mengerjakan PR Fisika. Aku mencoba membantu kerja PR itu.  Kebetulan waktu SMA aku pernah mengikuti lomba Olimpiade fisika di sekolah. Rumus-rumus masih segar diingatanku. Seiring berjalannya waktu akhirnya Gisell sering bertanya tentang semua PR-nya kepadaku. Semua bisa kukerjakan dengan baik. Singkat cerita pak Direktur menawariku untuk kuliah. Ini namanya kejatuhan durian runtuh. Dengan antusias aku menjawab setuju. Aku mengambil  jurusan Theologi. Belajar sambil bekerja keras sudah menjadi keseharianku. Lelah dan sakit sudah menjadi bagian hidupku dalam menjalani kehidupanku yang cukup keras. Selama 3 tahun kuselesaian kuliahku. Tak kusangka Pak Santosa menjodohkanku dengan Gisell putrinya denganku. Kini aku bahagia bersama istriku yang cantik dan baik hati. Tak lupa aku selalu mengirimkan uang untuk orangtuaku yang selalu mendoakan hidup dan pekerjaanku.  

 

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 17

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEti

#Selasa24Mei2022

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...