Aku
anak kampung Meurumba yang mengadu nasib ke kota. Orang tuaku tidak punya pekerjaan karena aku adalah anak korban
konflik bencana. Rumah tempat aku tinggal beratap alang dan berlantai tanah.
Dulu orang tuaku wiraswasta, karena harus mengungsi harta benda kami ditinggal
semua di daerah asal. Tak ada sedikitpun barang yang bisa kubawa. Sebagai
pengungsi untuk keperluan sehari-hari saja keluargaku
sering kekurangan, apalagi untuk biaya sekolahku. Dengan tekad yang kuat, aku
berusaha sekolah di sebuah SMA di kota dengan biaya sendiri. Pulang sekolah
aku membantu di tempat cuci mobil. Sebagai imbalannya aku bisa bayar uang sekolah dan beli buku. Dari
sini aku berhasil menyelesaikan pendidikanku di SMA.
Aku tak berani punya cita-cita. Aku hanya ingin bekerja di kota kalau dapat upah ingin membantu kehidupan orang tua yang
bekerja serabutan. Aku mencoba mengadu nasib di Jogya. Aku memberanikan
diri melamar setiap ada lowongan kerja,
apapun saja. Mencari pekerjaan memang
sulit. Sekitar dua puluhan tempat aku
mengajukan lamaran tapi semuanya nihil. Doa dan puasa kujalani demi sebuah
pekerjaan. Secara tak sengaja aku membantu nona yang kecopetan di terminal.
Nona tersebut menyebutkan namanya dan mengajakku untuk bertemu orang tuanya.
Ternyata Orangtuanya kaya yang punya perusahaan air minum. Akupun jadi OB di
tempat itu.
Aku berusaha kerja sebaik mungkin agar tak
dipecat. Sebagai pegawai aku mendapat
tugas tambahan mengantar jemput Gisella putrinya pak Santosa direktur
perusahaan tempat aku bekerja. Suatu saat dia mengeluh tak bisa mengerjakan PR
Fisika. Aku mencoba membantu kerja PR itu.
Kebetulan waktu SMA aku pernah mengikuti lomba Olimpiade fisika di
sekolah. Rumus-rumus masih segar diingatanku. Seiring berjalannya waktu
akhirnya Gisell sering bertanya tentang semua PR-nya kepadaku. Semua bisa
kukerjakan dengan baik. Singkat cerita pak Direktur menawariku untuk kuliah. Ini
namanya kejatuhan durian runtuh. Dengan antusias aku menjawab setuju. Aku
mengambil jurusan Theologi. Belajar
sambil bekerja keras sudah menjadi keseharianku. Lelah dan sakit sudah menjadi
bagian hidupku dalam menjalani kehidupanku yang cukup keras. Selama 3 tahun kuselesaian kuliahku. Tak kusangka Pak
Santosa menjodohkanku dengan Gisell putrinya denganku. Kini aku bahagia bersama
istriku yang cantik dan baik hati. Tak lupa aku selalu mengirimkan uang untuk
orangtuaku yang selalu mendoakan hidup dan pekerjaanku.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 17
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Selasa24Mei2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar