Rabu, 18 Mei 2022

Menolak Merasa Gagal Dalam Menulis

 

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“The process of developing a story is one of discovery. While the process is difficult and time consuming, the crew never believed that a failed approach meant that they had failed. Instead, they saw that each idea led them a bit closer to find the better option” –Ed Catmull.

.

Ketika seorang penulis kebingungan menyelesaikan tulisannya, ia segera merasa telah gagal. Ketika cerita yang ditulis dalam cerpen atau novel seperti kehilangan arah, penulisnya merasa gagal. Ketika penulis tidak bisa segera mengakhiri ceritanya, sehingga tampak sangat melelahkan, ia cepat merasa gagal.

Mengapa para penulis sering dihinggapi perasaan gagal? Salah satunya adalah dampak dari penanaman value sejak kecil, bahwa gagal itu tidak mampu menjawab soal ujian. Gagal itu ketika waktu yang ditentukan sudah habis, namun soal ujian belum selesai dikerjakan. Gagal itu ketika hasil ujian tidak seperti yang direncanakan. Intinya, gagal itu buruk dan memalukan.

Ed Catmull presiden Pixar Animation dan Disney Animation dalam buku Creativity, Inc. menyatakan, “Proses mengembangkan sebuah cerita adalah salah satu penemuan. Meskipun prosesnya sulit dan memakan waktu, para kru tidak pernah percaya bahwa pendekatan yang gagal berarti mereka telah gagal”.

Ini adalah cara pandang yang sangat menarik dan positif. Mungkin saja mereka tidak berhasil menulis cerita seperti yang dibayangkan semula, namun bukan berarti itu gagal. “Mereka melihat bahwa setiap ide telah membawa mereka sedikit lebih dekat untuk menemukan pilihan yang lebih baik,” ujar Catmull.

For most of us, failure comes with baggage, a lot of baggage, that I believe is  traced directly back to our days in school. From a very early age, the message is drilled into our heads: Failure is bad; failure means you didn’t study or prepare; failure means you slacked off or –worse! aren’t smart enough to begin with. Thus, failure is something to be ashamed of” –Ed Catmull.

Sangat menarik untuk mempelajari bagaimana tim hebat itu menciptakan kisah Toy Story, Monsters Inc., The Incredibles, dan banyak film animasi lainnya yang mendunia. Mereka adalah penulis cerita yang sangat ulung. Ternyata terdiri dari orang-orang yang pantang menyerah. Mereka menolak untuk gagal.

Ed Catmull menyatakan, bukanlah disebut sebagai kegagalan bahwa Anda harus menghabiskan waktu bertahun-tahun menulis novel atau apa pun, dengan adegan tanpa akhir yang dipotong di sepanjang jalan. Saat Anda harus memotong atau membuang tertentu dari tulisan yang sudah Anda susun selama bertahun-tahun, tidak perlu merasa gagal.

“Maybe we should unlearn what they taught us in the classroom in order to write better. Each time you hit a dead end in your story, or discover something you thought was right with your plot no longer works, then celebrate! You’re one step closer to your true story” –Ed Catmull.

Takut gagal, sering kali justru membuat kita menjadi gagal. “Bagi sebagian besar dari kita, kegagalan datang dengan sepenuh beban, yang dapat ditelusuri langsung dari masa-masa kita di sekolah”, ujar Catmull. Ada beban untuk tidak gagal, yang membuat kita justru terkurung dalam ketakutan.

“Sejak usia sangat dini, pesan itu tertanam di kepala kita, bahwa kegagalan itu buruk; kegagalan berarti Anda tidak belajar atau mempersiapkan diri; kegagalan berarti Anda mengendur atau, yang lebih buruk—Anda tidak cukup pintar untuk memulai. Jadi, kegagalan adalah sesuatu yang memalukan”, lanjutnya.

Jika sebagai penulis Anda terbebani dengan ketakutan untuk gagal, maka menulis menjadi penuh tekanan. Bebaskan diri Anda dari ketakutan untuk gagal. “Mungkin,” ujar Catmull, “kita harus melupakan apa yang mereka ajarkan di kelas agar kita bisa menulis dengan lebih baik. Setiap kali Anda menemui jalan buntu dalam cerita, atau menemukan bahwa plot cerita Anda tidak lagi berfungsi, maka rayakan saja!”, lanjutnya.

Menurut Catmull, pada saat itu sesunggunya Anda telah selangkah lebih dekat dengan cerita yang hebat, yang justru Anda tunggu kemunculannya. Maka jangan lihat hal itu sebagai kegagalan. Itu adalah sebuah penemuan yang bisa membuat Anda menghasilkan karya tulis gemilang.

Jangan Menyerah

It took me so long to admit to myself that writing was my dream and that to give up would feel like failure” –Nillu Nasser.

Nillu Nasser, penulis novel All The Tomorrows, menyatakan, “Butuh waktu lama bagi saya untuk mengakui pada diri sendiri bahwa menulis adalah impian saya dan menyerah akan terasa seperti kegagalan”. Menulis memang tidak mudah, terutama bagi pemula. Namun jangan cepat menyerah.

Dalam proses belajar menulis dan menghasilkan karya tulis, jangan cepat-cepat merasa lelah. Anda harus menolak merasa gagal, sebab kegagalan yang ditakuti itu justru bisa mematikan kreasi. Lihat kegagalan dari sisi lain, sehingga Anda tidak perlu merasa gagal.

“Even when it’s hard, what keeps me going is the elusive feeling when the world you are creating starts fizzing with potential, you realize it feels truthful and that you are close to understanding something that has escaped you before. It’s the closest I’ve come to magic” –Nillu Nasser.

“Bahkan ketika menulis terasa demikian sulit, apa yang membuat saya terus maju adalah perasaan yang sulit dipahami, bahwa ketika dunia yang Anda ciptakan mulai mengalirkan potensi, Anda menyadari itu terasa benar dan bahwa Anda hampir memahami sesuatu yang telah luput sebelumnya”, ungkap Nillu Nasser.

Anda boleh mengalami kesulitan dalam menghasilkan tulisan, namun tak perlu merasa gagal. Perasaan gagal itu yang potensial melemahkan spirit menulis Anda.

Bahan Bacaan

Colleen M. Story, 24 Inspiring and Encouraging Quotes for Writershttps://writingandwellness.com, 17 Desember 2018

Marcy Mason McKay, The Two Best Reasons to Fail as a Writer, https://thewritepractice.com, diakses 17 Mei 2022.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...