Guru:
Digugu dan Ditiru. Istilah yang
selalu terdengar di benak kita. Jika kita
berbicara tentang guru. Ini adalah
topik yang tidak pernah habis untuk
dibahas. Selalu menarik. Selalu kompleks dan selalu seru. Walau guru-guru sudah banyak yang berlalu
(pensiun). Muncullah guru-guru baru yang lebihkompeten, dengan semangat baru. Ada guru penggerak, guru pembelajar, guru Digital.
Guru adalah seseorang yang mengabdikan dirinya
untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan dan melatih peserta didiknya. Mereka
ini adalah para penggerak untuk Indonesia terus maju, khususnya dibidang
pendidikan.
Menurut
Indra Djati Sidi,Ph.d. Dalam bukunya Menuju masyarakat belajar, guru mempunyai
2 permasalahan eksternal, Yaitu : Tantangan krisis etika dan moral anak bangsa
(memanusiakan manusia) dan tantangan masyarakat. Guru diharapkan bisa menjawab tantangan itu. Guru harus memiliki kepribadian yang kuat dan matang untuk dapat
menanamkan nilai-nilai moral dan etika.
Guru mampu memberi bekal kepada peserta
didik, selain ilmu pengetahuan dan teknologi
juga menanamkan sikap disiplin, kreatif, inovatif dan kompetitif.
Tentunya supaya masyarakat juga bisa
melihat bahwa peserta didik mempunyai bekal yang memadahi. Mempunyai karakter dan kepribadian yang kuat
sebagai Warga negara, sebagai anak bangsa, yaitu bangsa Indonesia.
Apalagi pada jaman
milenial saat ini. Guru harus belajar untuk mengikuti kemajuan teknologi yang semakin pesat.
Selain mempelajari iptek, kita juga
harus membangun pendidikan karakter. Membangun
karakter agar kelak tidak hanya unggul
dalam sumber daya manusia tetapi
juga kuat dalam karakternya. “Mayoritas mengatakan, intelektual yang membuat
seseorang hebat, mereka salah. Yang membuat hebat adalah karakter”
(Albert Einstein).
Era
ini dapat dipandang sebagai era
pengetahuan dan teknologi. Era Milenial.
Tugas guru mendidik , mengajar,
membimbing , mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi setiap peserta didik. Diharapkan guru untuk selalu meningkatkan
kualitas agar memiliki kompetensi yang
sesuai dengan perkembangan jaman. Dimana abad ke-21 persaingan semakin tajam.
Individu yang tidak membekali diri dengan kompetensi yang memadahi harus siap menerima kenyataan, yaitu
terpinggirkan.
Untuk
menghadapi Era Milenial diperlukan cara
berpikir yang kreatif dan inovatif, mampu berpikir kritis dalam pemecahan
masalah. Mampu berkomunikasi berkolaborasi dengan individu maupun komunitas dan jaringan information and
commucation technology (ICT). Jaman
ini tanpa ICT akan sulit seseorang mengembangkan
pekerjaannya. Sebagai warga negara yang baik
wajib dan tetap harus punya rasa
tanggung jawab terhadap pribadi dan sosial.
Adanya
tuntutan peserta didik yang harus
terus berinovasi dan berkreasai.
Guru harus lebih menguasai teknologi. Menguasai Iptek. Mengendalikan siswa dengan kemajuan yang pesat seperti saat ini.
Ketika guru mempunyai ikhtiar dalam budaya literasi, membaca berbagai buku, dia akan mampu merespon
setiap perubahan. Guru mampu menjawab tantangan jaman. Yaitu
lahirnya inovasi-inovasi di dunia
pendidikan. Tentunya berawal dari membaca, numerik, menganalisa dan kemudian menciptakan. Perubahan dimulai dari atas, semua berawal dan berakhir dari guru itu sendiri.
Jauh
rasanya ketika kita berharap dalam meningkatkan kualitas guru hanya menunggu adanya program
seminar, pelatihan tanpa dibarengi mencari
ilmu sendiri yaitu membaca dan
belajar. Guru Ideal hari ini harus ‘tangguh’
dalam karakter unggul dalam skill
dan oke dalam teknologi. Ketika guru tidak cakap dalam teknologi, yang mana setiap perannya
digantikan teknologi. Kita harus
siap menjadi pengguna
teknologi, bahkan kalau mungkin bisa
‘menciptakan’. Siap untuk membuat inovasi
dan kreasi dalam dunia pendidikan.
Apalagi
Program utama menteri pendidikan yang
akan ditingkatkan demi menghadap revolusi
industri 4.0 adalah sumber daya
manusia, salah satunya guru. Membangun
karakter sebuah keharusan. Guru menjadi pintu
lahirnya generasi muda. Guru
Harus berani beradaptasi dengan teknologi. Guru tidak lagi berjibaku berpegang teguh dengan kapur dan berkotor-kotor dalam sistem mengajarnya dan berdiri di depan
kelas. Jamannya sudah berbeda. Guru harus
menggunakan teknologi demi menciptakan
sistem pembelajaran yang up to
date dan semakin menarik.
Ada
beberapa perubahan kecil yang bisa guru
lakukan mulai dari sekarang. Yakni
mengajak siswa untuk berdiskusi dari pada mendengar. Memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas (pesentasi aktif).
Mencetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas. Menciptakan
karya atau produk, ketrampilan, portopolio dan praktek. Menemukan bakat dalam diri
peserta didik. Siswa harus mandiri. Siswa juga harus berinovasi.
Menjadi
guru ikut perjuangan. Berjuang untuk selalu memenangkan di setiap proses pembelajaran. Berjuang untuk mengentaskan setiap kesulitan
pembelajaran. Berjuang untuk selalu
membangun iklim positif ketika
menghadapi kesulitan. Seorang guru akan merasakan puas jika kita sudah bertanggungjawab akan keberhasilan
peserta didik. Bukan hanya sekedar mengajar. Inilah kemenangan dalam dunia pendidikan. Karena
mendidik itu kepuasan batin. Jika kita
mendidik dengan penuh tanggung jawab, kita akan
merasakan suatu kebahagiaan
dan kebanggaan tersendiri.
Pendidkan
karakter, bukan hanya teori tapi perlu
dibarengi dengan aksi dan diekspresikan
dengan keteladanan. Karena
itu peluang membangun karakter dan sumber daya manusia dalam
revolusi industri 4.0 harus mulai
sejak duduk di bangku SD. Tentunya dari
guru yang memiliki dedikasi tinggi
dan jiwa yang tulus. Tentunya guru
yang setia menerima tantangan. Guru yang menjemput
peluang. Guru yang bisa menjadi teladan, yang selalu di hati dan dinanti oleh setiap peserta didik,
wali murid dan masyarakat.
Guru tak akan bisa tergantikan oleh kemajuan teknologi. Guru harus menjadi penggerak untuk terus maju. Keberlangsungan generasi dan masa depan anak bangsa ditentukan oleh guru. Ayo, sebagai guru
teruslah kita berinovasi. Apalagi guru
seperti saya, yang sudah tua, ya harus
tahu diri, tetap terus belajar supaya
tidak tinggal tetap dilandasan. Salam untuk para guru.
#LonglifeEducation.
Tak perlu menjadi ‘unicorn’. Mari menjadi
manusia biasa saja. Yang bersedia dan rela belajar, terus belajar dan terus
berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Tetap
Semangat menjadi guru!. Teruslah
bermanfaat dan menyebar inspirasi!
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge
- 13
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Sabtu14Mei2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar