Pada saat jam istirahat
Guru Rohi duduk di bawah pohon ketapang
sambil merenung. Semilir angin menyapu
rambutnya yang hitam lurus. Wajahnya hitam manis. Dengan bola matanya yang
tajam tiap hari selalu menyempatkan
membaca buku-buku sastra yang sebagian besar menceritakan suka duka
kehidupan dan keharmonisan kehidupan
manusia dengan alam sekitar kita.
Guru Rohi adalah seorang kepala sekolah di SD Kataka. Sebuah
SD di dusun terpencil tanah Marapu pada Njara hamu. Tanah Sumba yang daerahnya
berupa perbukitan disertai hamparan
padang sabana nan luas membentang. Daerah ini sangat jauh dari hingar bingarnya
kota. Saking tertinggalnya belum ada
handphone. Handphone masih dianggap barang super mewah. Ada sih yang punya HP
tapi hanya orang-orang ‘tertentu’ yang
punya HP. Tentunya yang bisa punya
genzet sendiri. Sinyalpun vala (tiada),
mencari sinyal harus naik pohon tinggi , kalau ada, atau naik bukit yang
tertinggi. Dengan begitu anak-anak masih
ketinggalan istilah digitalisasi.
Sebagai kepala sekolah tentunya ia punya kuajiban
memajukan sekolah agar tidak terlalu ketinggalan dengan sekolah lain. Apalagi mengingat era global saat ini. Dia
berfikir keras bagaimana bisa bersaing dengan sekolah lain. Tak terasa kini usianya sudah 46 tahun. Dia
masih membujang. Waktu hidupnya sampai
mau habis demi mengabdikan diri di SD
kampung Kataka. Dia tak sempat tebar pesona untuk wanita-wanita cantik kembang
dusun di situ. Dia selalu
setia dengan tugas dan
tanggung jawabnya sebagai abdi negara. Sebagai pemimpin ‘nama baik’ sekolah ada dipundaknya. Harus dipertaruhkan!. Betapa
bahagianya kalau sekolahnya bisa
dikenal ‘baik’ oleh
masyarakat sekitar.
Sedang asyik- asyiknya berpikir dalam kesendirian itu, tiba-tiba
pundaknya di ditepuk seseorang. Pak Rohipun kaget. Nona Hada Indah adalah gadis
dari kampung sebelah putrinya bapak Kadus (Kepala Dusun). Dia baru pulang dari Malaysia menjadi TKW di
sana.
“ Maaf Pak Guru ganggu, boleh saya menemani duduk di sini “ : Sapa nona.
“ Ya… iya, yaya silahkan duduk “
Jawab Guru Rohi agak gugup. Berani juga ni anak, batin pak Rohi. Gadis itu
langsung duduk disebelah pak guru.
“ Ada apa si Pak Guru kelihatannya serius banget ?” Tanya Nona.
“Ah, tidak kok, Cuma berpikir sedikit tentang masa depan anak-anak, mereka banyak yang alpa, lanjutnya. Anak-anak
banyak tidak datang sekolah.”, jelas pak Umbu. Atau!!, mungkin sedang musim
paceklik ya Rambu ( panggilan perempuan orang Sumba Timur : red) . “Saya dengar semua warga sini hasil ladang
gagal total , benarkah?”, tanya Guru Behar kepada Nona serius.
“Ia ya benar pak Guru, sekarang anak- anak membantu orang tua mencari ubi
hutan ( iwi) untuk makan,”.Jawab Nona
sambil tersenyum manja. Setelah beberapa saat mereka ngobrol Guru Rohi ijin meninggalkan Nona karena jam
terakhir pelajaran sudah mau habis. sambil
tersenyum nona meninggalkan Guru Rohi. Terlihat
sejak pertemuan itu pak Umbu dan Nona sering mengadakan pertemuan. Mereka berdua
terlihat semakin akrab. Ini tanda-tanda baik
untuk bisa berjodoh. Nona
orangnya agresif. Nona membuat pak umbu tak berdaya dengan sifat kolokan dan
manjanya. Sebagai lelaki normal dia
pasti membutuhkan pendamping hidup. Akhirnya iapun jatuh cinta. Getaran cintapun
semakin terasa antara mereka. Guru-guru mulai tahu kedekatan pak Mbehar dengan
Nona Hada Indah, mTetangga sekitar juga tahu, mereka ikut mendukung sang kepala sekolah.
` Tepat jam sepuluh bel
sekolah terdengar nyaring menembus perbukitan. Bel sekolah dipasang menggantung
di pojok ruang Guru. Bel terbuat dari
bekas lempengan besi berbentuk bundar seperti piringan seng besar kalau di
pukul nyaring menembus radius tiga kilo meter. Dulu jaman belanda katanta untuk
patokan buruh tani tanda untuk istirahat.
Tiga puluh menit istirahat anak-anak masuk kelas kembali. Mereka taat dan
serius mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Tepat jam satu lebih lima
belas menit SD sudah sepi semua siswa
pulang kerumah masing-masing. Yang tersisa hanya suara seng atap sekolah saling
bergesekkan digerakkan angin. Sebelum para guru pulang, Guru Rohi minta supaya
meeting sebentar untuk mempersiapkan
ujian AKM. Persiapan harus lebih dini supaya hasilnya lebih baik, maksudnya.
Rapat selesai hingga jam 15.00 WITA. Para gurupun kemudian pulang dengan perut lapar tapi tak berani
protes. Bersyukur tapi bu May nggiri ke
sekolah bawa jagung rebus yang dibawa ke sekolah jadi jam istirahat bisa makan
rame-rame sebagai ganjal perut. Begitu dia. Dia rajin berkebun maka jagung
hasil berlimpah.
Guru Rohi pulang lambat, dia
masih membereskan isi meja yang
berserakan. Tiba-tiba pintunya diketuk seseorang.
“Selamat sore Pak Guru….., dia menoleh ke belakang ternyata yang datang Nona. Pak Rohi
mempersilahkan Nona duduk.
Sambil duduk ia menyampaikan
amanat bapaknya.
“ Kalau tidak keberatan, Bapak ingin bertemu “, Pinta Nona sambil tersenyum manis mendekati Guru.
“ Memangnya ada apa ya?, tanya pak Rohi penasaran.
‘Tidak ada apa-apa pak guru, Bapak hanya ingin supaya sesekali bapak
datang ke rumah”, kata Nona datar. “ Ada sedikit hasil panen ubi di rumah”,
lanjut Nona. ‘Itu jika pak guru berkenan, kalau tidak juga tidak apa-apa, kata
nona datar. Memang pak Rohi dan pak
Kadus sudah saling kenal. Mereka biasa
bertemu Cuma pak Rohi belum tahu rumah
pak Kadus, bahkan tak tahu pula kalau pak kadus punya anak gadis. Dalam hati ia jadi berfikir, ini namanya pucuk dicinta
ulam tiba. Hehe… dia jadi senang karena pastinya akan semakin membuka
jalan hubungan dia dengan putrinya pak
kadus.
“Iya ya Rambu , baiklah“ jawab Guru Rohi menyatakan kesediaanya.
Kemudian Guru Nggaba dan Nona berjalan menuju rumahnya yang berjaran
sekitar 1 km. Sampai di rumah nona ternyata Ayah Nona sudah menunggu di ruang
tamu. Ayah sedang duduk sendiri ditemani kopi panas dan sepiring petatas rebus panas di atas meja. “Permisi! ”, sapa Guru Rohi di depan rumah pak
Kadus.
“ Mari mari !! masuk Umbu guru (
Panggilan terhormat seorang laki-laki : red) “ jawab pak Kadus antusias
mempersilahkan tamu. Pak Umbu Mbehar
segera mengambil tempat duduk. Mereka berbicara masalah komite sekolah dan beberapa masalah lain. Kebetulan
pak Kadus juga ketua komite di SD Kataka.
Sementara masih dalam pembicaraan,
tiba- tiba Guru Rohi tertegun melihat di
rumah kecil sebelah terlihat ada
beberapa kendang dan gong.
Peralatan musik tradisionil untuk
mengiringi tari “kandingan” dan “kabokang”. Dengan serius Guru Rohi
memperhatikannya. “Wahh.....ini bagus untuk ekstrakurikuler sekolah”, pikirnya.
Ia bertanya tentang alat musik itu pada pak Kadus.
“ Ooo itu Umbu Guru!, itu sisa- sisa alat kesenian dusun dulu“ :
kata pak Kadus.
“ Kenapa kok tidak difungsikan kembali, padahal masih bagus “ Tanya Guru Rohi sambil melirik ke wajah Nona.
Nona diam kemudian memandang Guru Rohi secara reflek tersenyum membuat ada
getaran hati pak Rohi menggejolak luar
biasa.
“ Mari diminum Kopinya, mumpung
masih panas! “ Pinta pak Kadus. “ Ya
Pak “, Jawab Guru Rohi. “Seandainya
saya pinjam untuk kegiatan sekolah apa boleh ?” kata Guru Rohi memohon.“ Boleh-boleh!! Boleh
sekali!! Jawab pak Kadus penuh semangat. Silahkan!! jangankan hanya kendang, semuanya boleh
dipinjam! Saya siap membantu melatih di sekolah!”
: jawab pak Kadus antusias. Nanti saya membantu melatih menabuh tambur dan gongnya.
Putri saya yang melatih menari! Saya senang sekali
ada yang melestarikan kesenian kita” Jawab pak Kadus terlihat senang.
‘Dulu kami rajin berlatih karena para
penabuh sudah keluar kota dan ada yang sudah meninggal akhirnya tidak ada yang
urus’, lanjutnya.
Pak Kadus senang
karena ternyata pancingannya masuk.
Sebenarnya pak kadus ingin menjodohkan anaknya dengan pak Rohi. Nah,
dengan adanya kegiatan ini otomatis hubungan putrinya dan pak guru akan semakin
dekat.
Benar saja sejak ada
ekskul menari, anak-anak semangat datang sekolah. Tiga bulan kemudian SD Paberiwai geger.
SD itu jadi sumber cerita semua warga. Siswa-
siswinya sudah pandai menari dan menabuh kendang, tambur dan gong. Titisan dari
leluhur turun pada para siswa, sehingga mereka sangat lincah menari ‘kabokang’ dan ‘Kandingang’. Berita ini bahkan
menembus ke dusun- dusun lainnya. Akhirnya murid -murid yang dulu keluar
langsung daftar lagi . Kini murid di SD itu full, bahkan melebihi kapasitas. Spektakuler!,
betapa bangganya sang kepala sekolah dan guru-gurunya.
Pembelajaran berjalan lancar. Guru tetap semangat
mengajar. Siswa juga antusias, Setiap hari senin dan jumat Sore ada ekskul
menari. Hari itu yang menjadi ivent indah bagi para warga berkumpul dan bersuka cita melihat para siswa berlatih
kesenian tradisionil peninggalan leluhur.
Karena anak-anak sudah
pada mahir menari dan menabuh gong dan
kendang, akhirnya warga sekolah bersama
komite sepakat untuk mengadakan ‘pentas seni’. Acara berjalan lancar dan sangat meriah. Para warga dari
seluruh dusun datang. Mereka antusias dan bergembira ria.
Dua bulan lagi
akan ada pemilihan kepala desa.
Ada 2 kandidat. Salah satu Kandidat Calon adalah Umbu Mahakonda, orang terkaya
di desa Mauramba. Beliau sudah meminta tarian dari siswa SD Paberiwai untuk memeriahkan acaranya. Dia
yang akan mendanai seluruh acara. Anak-anak senang mendengar kabar itu. Mereka mempersiapkan
dengan sangat baik . Pada hari “H” acara sukses dan berjalan lancar. Kini
SD semakin banyak dikenal karena kegiatan seni budaya yang hebat disitu.
Ternyata keberhasilan
Guru Rohi tak berjalan mulus. Tak
berbuah manis manis pula. Ada seorang pemuda bernama Umbu Nuku, orang kaya di kampung lamerip ‘murka’. Dia sudah
lama naksir Nona Hada Indah. Dia yang merasa lebih berhak memperistri Rambu Nona anak pak dusun itu. Menurut adat Rambu nona adalah ‘anak om’. Dia punya kuajiban memperistri supaya keluarga tidak terlepas. Umbu Nuku merasa
pak guru Rohi sudah ’merebut’ calon istrinya. Dia
sakit hati. Nona yang dicintai, dianggap
selingkuh.
Umbu Nuku geram. Dia berpikir keras bagaimana cara menjatuhkan pak Guru Rohi. Akhirnya dia
menemukan ide jahatnya. Ia lapor ke polsek dengan tuduhan pak Kepala Sekolah SD
kataka mengadakan acara keramaian.
Menghimpun masa disaat korona. Sekolah tidak memperhatikan protokol kesehatan.
Beberapa kali pak Umbu Rohi dipanggil ke kepolisian.
Ia dianggap menyalahi aturan pemerintah setempat. Dia dianggap menggunakan
kekuasaannya untuk hal yang tidak baik. Berbagai hujatan ia terima dari
kubu Umbu Nuku. Umbu Rohi tak punya masa
dan kalah di saksi. Akhirnya pak Umbu Rohi
tidak berdaya. Entah bagaimana-bagaimana
sebulan kemudian mobil polisi datang ke sekolah. Nampak Umbu Nuku juga
ada bersama mereka. Tanpa berkata mereka langsung menangkap guru Rohi. Mobil
beriringan membawa pak Guru ke kota untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Semua warga, guru dan para
siswa bersedih . Mereka berduka bahkan tak sedikit yang menangis melihat
‘sang kepala sekolah’ di borgol. Ibu guru menari, Nona berlari-lari berteriak sambil menangis mengejar mobil polisi
yang membawa guru Rohi.
Dua bulan di dalam penjara, mendengar kabar guru Rohi ditemukan pingsan dibangsal sel
penjara. Sediiihhh…….sekali!, kasihan
pak Umbu Rohi. Menurut cerita Pak
Umbu Rohi mogok makan selama di Penjara.
Dia Stress berat. Dia Depresi. Dia sakit mag super kronis. Sudah ditangani
dokter lapas tapi tak pernah ada perubahan. Obat yang diminumnya seolah tak
berfungsi lagi. Semakin hari badannya
semakin lemah. Hingga akhirnya pak guru menghembuskan nafasnya yang terakhir. Betapa
malangnya beliau. Kabar itu didengar oleh Nona yang selama ini sudah
menjalin cinta. Cintanya terkubur.
Ratapan dan tangisan dari keluargapun pecah.
Kita tak pernah tahu takdir kita
sendiri. Tuhan sudah mengaturnya. Kita harus merelakan agar jalan menuju ke sorga dilapangkan. Selamat
jalan Pak Guru Hebat. Jasamu tiada tara. Semoga Tuhan menyiapkan tempat indah
bagimu.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 12
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Rabu19Mei2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar