Rabu, 18 Mei 2022

SEHATI TAK SETAKDIR day-12

 

          Pada saat jam istirahat Guru Rohi  duduk di bawah pohon ketapang sambil merenung.  Semilir angin menyapu rambutnya yang hitam lurus. Wajahnya  hitam manis. Dengan bola matanya yang tajam  tiap hari selalu menyempatkan membaca buku-buku sastra yang sebagian besar menceritakan suka duka kehidupan  dan keharmonisan kehidupan manusia dengan alam sekitar kita.

Guru Rohi adalah seorang kepala sekolah di SD Kataka. Sebuah SD di dusun terpencil tanah Marapu pada Njara hamu. Tanah Sumba yang daerahnya berupa perbukitan  disertai hamparan padang sabana nan luas membentang. Daerah ini sangat jauh dari hingar bingarnya kota. Saking tertinggalnya  belum ada handphone. Handphone masih dianggap barang super mewah. Ada sih yang punya HP tapi hanya  orang-orang ‘tertentu’ yang punya HP. Tentunya yang  bisa punya genzet sendiri.  Sinyalpun vala (tiada), mencari sinyal harus naik pohon tinggi , kalau ada, atau naik bukit yang tertinggi.  Dengan begitu anak-anak masih ketinggalan istilah  digitalisasi.

Sebagai kepala sekolah tentunya ia punya kuajiban memajukan sekolah agar tidak terlalu ketinggalan dengan sekolah  lain. Apalagi mengingat era global saat ini. Dia berfikir keras bagaimana bisa bersaing dengan sekolah lain.  Tak terasa kini usianya sudah 46 tahun. Dia masih membujang.  Waktu hidupnya sampai mau habis demi mengabdikan diri di  SD kampung Kataka. Dia tak sempat tebar pesona untuk wanita-wanita cantik  kembang  dusun di  situ. Dia selalu setia  dengan tugas  dan   tanggung jawabnya sebagai abdi negara. Sebagai pemimpin  ‘nama baik’ sekolah ada  dipundaknya. Harus dipertaruhkan!. Betapa bahagianya kalau  sekolahnya  bisa  dikenal ‘baik’  oleh masyarakat  sekitar.

Sedang asyik- asyiknya berpikir dalam kesendirian itu, tiba-tiba pundaknya di ditepuk seseorang. Pak Rohipun kaget.  Nona Hada Indah adalah  gadis  dari kampung sebelah putrinya bapak Kadus (Kepala Dusun).  Dia baru pulang dari Malaysia menjadi TKW di sana.

“ Maaf  Pak  Guru ganggu, boleh saya  menemani duduk di sini “ : Sapa nona.

“ Ya… iya, yaya silahkan  duduk “ Jawab Guru Rohi agak gugup. Berani juga ni anak, batin pak Rohi. Gadis itu langsung duduk disebelah pak guru.

“ Ada apa si Pak Guru kelihatannya serius banget ?” Tanya Nona.

“Ah, tidak kok, Cuma berpikir sedikit tentang masa depan anak-anak,  mereka banyak yang alpa, lanjutnya. Anak-anak banyak tidak datang sekolah.”, jelas pak Umbu. Atau!!, mungkin sedang musim paceklik ya Rambu ( panggilan perempuan orang Sumba Timur : red) .  “Saya dengar semua warga sini hasil ladang gagal total , benarkah?”, tanya Guru Behar kepada Nona serius.

“Ia ya benar pak Guru, sekarang anak- anak membantu orang tua mencari ubi hutan ( iwi) untuk  makan,”.Jawab Nona sambil tersenyum manja. Setelah beberapa saat mereka ngobrol  Guru Rohi  ijin meninggalkan Nona karena jam terakhir  pelajaran sudah mau habis. sambil tersenyum  nona meninggalkan Guru Rohi. Terlihat sejak pertemuan itu pak Umbu dan Nona  sering mengadakan pertemuan. Mereka berdua terlihat semakin akrab. Ini tanda-tanda baik  untuk bisa berjodoh.  Nona orangnya agresif. Nona membuat pak umbu tak berdaya dengan sifat kolokan dan manjanya. Sebagai lelaki normal  dia pasti membutuhkan pendamping hidup. Akhirnya iapun jatuh cinta. Getaran cintapun semakin terasa antara mereka. Guru-guru mulai tahu kedekatan pak Mbehar dengan Nona Hada Indah, mTetangga sekitar juga tahu, mereka ikut  mendukung sang kepala sekolah.

`             Tepat jam sepuluh bel sekolah terdengar nyaring menembus perbukitan. Bel sekolah dipasang menggantung di pojok ruang Guru.  Bel terbuat dari bekas lempengan besi berbentuk bundar seperti piringan seng besar kalau di pukul nyaring menembus radius tiga kilo meter. Dulu jaman belanda katanta untuk patokan buruh tani  tanda untuk istirahat. Tiga puluh menit istirahat anak-anak masuk kelas kembali. Mereka taat dan serius mengikuti kegiatan belajar mengajar.

         Tepat jam satu lebih lima belas menit SD  sudah sepi semua siswa pulang kerumah masing-masing. Yang tersisa hanya suara seng atap sekolah saling bergesekkan digerakkan angin. Sebelum para guru pulang, Guru Rohi minta supaya meeting  sebentar untuk mempersiapkan ujian  AKM. Persiapan harus lebih  dini supaya hasilnya lebih baik, maksudnya. Rapat selesai hingga jam 15.00 WITA. Para gurupun kemudian  pulang dengan perut lapar tapi tak berani protes.  Bersyukur tapi bu May nggiri ke sekolah bawa jagung rebus yang dibawa ke sekolah jadi jam istirahat bisa makan rame-rame sebagai ganjal perut. Begitu dia. Dia rajin berkebun maka jagung hasil berlimpah.

Guru Rohi   pulang lambat, dia masih membereskan isi  meja yang berserakan. Tiba-tiba pintunya diketuk seseorang.

“Selamat sore Pak Guru….., dia menoleh ke belakang  ternyata yang datang Nona. Pak Rohi mempersilahkan Nona duduk.  

Sambil duduk ia menyampaikan  amanat bapaknya.

“ Kalau tidak keberatan, Bapak ingin bertemu “, Pinta Nona  sambil tersenyum manis mendekati Guru.

“ Memangnya ada apa ya?, tanya pak Rohi penasaran.

‘Tidak ada apa-apa pak guru, Bapak hanya ingin supaya sesekali bapak datang ke rumah”, kata Nona datar. “ Ada sedikit hasil panen ubi di rumah”, lanjut Nona. ‘Itu jika pak guru berkenan, kalau tidak juga tidak apa-apa, kata nona datar. Memang  pak Rohi dan pak Kadus  sudah saling kenal. Mereka biasa bertemu  Cuma pak Rohi belum tahu rumah pak Kadus, bahkan tak tahu pula kalau pak kadus punya  anak gadis. Dalam hati  ia jadi berfikir, ini namanya pucuk dicinta ulam tiba. Hehe… dia jadi senang karena pastinya akan semakin membuka jalan  hubungan dia dengan putrinya pak kadus.

“Iya ya Rambu , baiklah“ jawab Guru Rohi menyatakan kesediaanya. 

Kemudian Guru Nggaba dan Nona berjalan menuju rumahnya yang berjaran sekitar 1 km. Sampai di rumah nona ternyata Ayah Nona sudah menunggu di ruang tamu. Ayah  sedang duduk   sendiri ditemani  kopi panas dan  sepiring petatas rebus panas di atas meja.  “Permisi! ”, sapa Guru Rohi di depan rumah pak Kadus.

“ Mari mari !!  masuk Umbu guru ( Panggilan terhormat seorang laki-laki : red) “ jawab pak Kadus antusias mempersilahkan tamu. Pak Umbu Mbehar  segera mengambil tempat duduk. Mereka berbicara masalah  komite sekolah dan beberapa masalah lain. Kebetulan pak Kadus juga ketua komite di SD Kataka.

Sementara  masih dalam pembicaraan, tiba- tiba Guru Rohi  tertegun melihat di rumah kecil sebelah  terlihat ada beberapa  kendang dan gong. Peralatan  musik tradisionil untuk mengiringi tari “kandingan” dan “kabokang”. Dengan serius Guru Rohi memperhatikannya. “Wahh.....ini bagus untuk ekstrakurikuler sekolah”, pikirnya.

Ia bertanya tentang alat musik itu pada pak Kadus.

“ Ooo itu Umbu  Guru!,  itu sisa- sisa alat kesenian dusun dulu“ : kata pak Kadus.

“ Kenapa kok tidak difungsikan kembali, padahal masih bagus  “ Tanya Guru Rohi sambil melirik ke wajah Nona. Nona diam kemudian memandang Guru Rohi secara reflek tersenyum membuat ada getaran hati pak Rohi   menggejolak luar biasa.

 “ Mari diminum Kopinya, mumpung masih panas! “ Pinta pak Kadus. “ Ya  Pak  “, Jawab Guru Rohi. “Seandainya saya pinjam untuk kegiatan sekolah apa boleh ?”  kata Guru Rohi memohon.“ Boleh-boleh!! Boleh sekali!! Jawab pak Kadus penuh semangat.  Silahkan!!  jangankan hanya kendang, semuanya boleh dipinjam! Saya siap membantu melatih  di sekolah!” : jawab pak Kadus antusias. Nanti saya membantu melatih menabuh tambur dan gongnya. Putri saya yang melatih menari!   Saya  senang sekali  ada yang melestarikan kesenian kita” Jawab pak Kadus terlihat senang. ‘Dulu kami  rajin berlatih karena para penabuh sudah keluar kota dan ada yang sudah meninggal akhirnya tidak ada yang urus’, lanjutnya.

              Pak Kadus senang karena ternyata pancingannya masuk.  Sebenarnya pak kadus ingin menjodohkan anaknya dengan pak Rohi. Nah, dengan adanya kegiatan ini otomatis hubungan putrinya dan pak guru akan semakin dekat.

Benar saja sejak ada  ekskul menari, anak-anak semangat datang sekolah.  Tiga bulan kemudian SD Paberiwai   geger.  SD  itu  jadi sumber cerita semua warga. Siswa- siswinya sudah pandai menari dan menabuh kendang, tambur dan gong. Titisan dari leluhur turun pada para siswa, sehingga mereka sangat lincah menari  ‘kabokang’ dan ‘Kandingang’. Berita ini bahkan menembus ke dusun- dusun lainnya. Akhirnya murid -murid yang dulu keluar langsung daftar lagi . Kini murid di SD itu full,  bahkan melebihi kapasitas. Spektakuler!, betapa bangganya sang kepala sekolah dan guru-gurunya.

            Pembelajaran  berjalan lancar. Guru tetap semangat mengajar. Siswa juga antusias, Setiap hari senin dan jumat Sore ada ekskul menari. Hari itu yang menjadi ivent indah bagi para warga berkumpul dan  bersuka cita melihat para siswa berlatih kesenian tradisionil peninggalan leluhur.

            Karena anak-anak sudah pada mahir menari dan  menabuh gong dan kendang, akhirnya  warga sekolah bersama komite sepakat untuk mengadakan ‘pentas seni’. Acara berjalan  lancar dan sangat meriah. Para warga dari seluruh dusun datang. Mereka antusias dan bergembira ria. 

Dua bulan lagi  akan  ada pemilihan kepala desa. Ada 2 kandidat. Salah satu Kandidat Calon adalah Umbu Mahakonda, orang terkaya di desa Mauramba. Beliau sudah meminta tarian dari siswa SD Paberiwai  untuk memeriahkan  acaranya. Dia  yang akan mendanai seluruh acara. Anak-anak  senang mendengar kabar itu. Mereka  mempersiapkan  dengan sangat baik . Pada hari “H” acara sukses dan berjalan lancar. Kini SD semakin banyak dikenal karena kegiatan seni budaya  yang hebat disitu.

Ternyata  keberhasilan Guru Rohi tak berjalan mulus.  Tak berbuah manis manis pula. Ada seorang pemuda bernama Umbu Nuku, orang  kaya di kampung lamerip ‘murka’. Dia sudah lama naksir Nona Hada Indah. Dia yang merasa lebih berhak memperistri  Rambu Nona anak pak dusun itu. Menurut adat  Rambu nona adalah ‘anak om’.  Dia punya kuajiban memperistri supaya  keluarga tidak terlepas. Umbu Nuku  merasa  pak guru Rohi  sudah ’merebut’  calon istrinya.  Dia  sakit hati. Nona  yang dicintai, dianggap selingkuh.

Umbu Nuku geram. Dia berpikir keras bagaimana  cara menjatuhkan pak Guru Rohi. Akhirnya dia menemukan ide jahatnya. Ia lapor ke polsek dengan tuduhan pak Kepala Sekolah SD kataka  mengadakan acara keramaian. Menghimpun masa disaat korona. Sekolah tidak memperhatikan protokol kesehatan.

Beberapa kali pak Umbu Rohi dipanggil ke kepolisian. Ia dianggap menyalahi aturan pemerintah setempat. Dia dianggap menggunakan kekuasaannya untuk hal yang tidak baik. Berbagai hujatan ia terima dari kubu  Umbu Nuku. Umbu Rohi tak punya masa dan kalah di saksi.  Akhirnya pak Umbu Rohi tidak berdaya. Entah bagaimana-bagaimana  sebulan kemudian  mobil  polisi datang ke sekolah. Nampak Umbu Nuku juga ada bersama mereka. Tanpa berkata mereka langsung menangkap guru Rohi. Mobil beriringan membawa pak Guru ke kota untuk mempertanggungjawabkan  tindakannya. Semua warga, guru dan para siswa  bersedih . Mereka berduka  bahkan tak sedikit yang menangis melihat ‘sang kepala sekolah’ di borgol. Ibu guru menari, Nona berlari-lari  berteriak sambil menangis mengejar mobil polisi yang membawa guru Rohi.

Dua bulan di dalam penjara, mendengar kabar  guru Rohi ditemukan pingsan dibangsal sel penjara. Sediiihhh…….sekali!, kasihan  pak Umbu Rohi. Menurut cerita  Pak Umbu Rohi  mogok makan selama di Penjara. Dia Stress berat. Dia Depresi. Dia sakit mag super kronis. Sudah ditangani dokter lapas tapi tak pernah ada perubahan. Obat yang diminumnya seolah tak berfungsi  lagi. Semakin hari badannya semakin lemah. Hingga akhirnya pak guru menghembuskan nafasnya yang terakhir. Betapa malangnya beliau.  Kabar itu  didengar oleh Nona yang selama ini sudah menjalin cinta.  Cintanya terkubur. Ratapan dan tangisan dari keluargapun pecah.  Kita tak pernah tahu  takdir kita sendiri. Tuhan sudah mengaturnya. Kita harus merelakan  agar jalan menuju ke sorga dilapangkan. Selamat jalan Pak Guru Hebat. Jasamu tiada tara.  Semoga Tuhan menyiapkan tempat indah bagimu. 

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 12

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEti

#Rabu19Mei2022

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...