Senin, 13 Juni 2022

A39. SAATNYA BELUM TIBA!

 

                           


 

Tidak biasanya Pak Kades datang malam-malam, entah ada urusan apa dengan suamiku. Suami menyuruhku membuatkan kopi panas untuknya. Kulihat persediaan  air di gentong  habis. Sisa sedikit dan dihuni si jentik-jentik centil  yang menari-nari bahagia di dalamnya. Susahnya hidup dikampung, air harus ambil di sumber air. Antara berani dan takut  sebagai seorang ibu rumah tangga yang baik harus melayani tamu dengan baik. Aku berjalan terengah-engah menyusuri lorong jalan setapak  kumuh  becek dan licin di sumber air Swembak.  Malam nan gelap gulita. Suasana sepi. Hee.. bulu kudukku merinding. Aku terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Dengan senter kecil kubawa sebagai penerang dalam kegelapan. Jaraknya dari rumah kurang lebih 300 m menuju sumber air itu. 

Pelan-pelan aku  merayap ke  bawah dengan rasa agak takut  menuju sumber air. “Hai Asna! Lihat aku! “, tiba-tiba kudengar suara orang memanggilku.  Dug  dag suara jantungku bergetar kencang. Kutengok kiri, kanan, muka, belakang tak terlihat orang.  Kuberanikan diri menuju ke sumber suara. Eh !!  ternyata di dalam ada sebuah  rumah asramaku dulu. Seorang wanita  cantik menyambutku dengan  ramah. Dia adalah  ibu asrama yang baru. Bu Har namanya aku sangat kenal baik. Asyiikkk  sekali  reunian ketemu teman-teman lama.  Aku terasa nyaman dan kerasan tinggal lagi bersamanya. Menu makanan masih seperti dulu. Masih ada juga menu favoritku, yaitu nasi gorengya mbak Yem, salah satu asisten rumah tangga asrama. Begitu Indah suasananya. Hari-hariku penuh keceriaan dan kegembiraan. Rutinitas seperti dulu sangat kurasakan.  

    Saat aku mau bangun tidur rasanya kok gelap sekali. Ya elllah.. aku berada diruang kecil pas badanku. Kuketok-ketok ruangan itu. Aroma harum minyak wangi cap serimpi yang biasa untuk melumuri jenasah  menyengat hidungku. Aku paksakan diri merontak. Aku mencoba berteriak.  Akhirnya pintu dibuka. Aku bangun dan betapa kaget aku saat itu. Aku berada ditengah para tamu. Ternyata aku  barusan mati.  Dimasukkan dalam peti. Saat aku bangun semua tamu  terngaga, kaget, bingung campur-campur. Percaya atau tidak,  aku sudah mati bangun kembali. Katanya aku  sudah 3 hari hilang. Setelah ketemu  sudah dalam keadaan tak bernafas. Keluarga tak berfikir Panjang  aku dimasukkan dipeti karena sudah dianggap mati. Kini sudah selesai berdoa requem dan siap dikubur.  Untung tidak diformalin hingga aku bisa bangun kembali dan hidup  Jadi aku bisa selamat. Belum saatnya Tuhan memanggilku pulang.

 

 

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 39

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEti

#Rabu15Juni2022

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...