Pada Suatu hari, saat ku kecil umur 5 tahunan, masih teringat
jelas dalam otakku. Saat ku
bermain peta umpet, ditempat
persembunyianku. Seorang nenek tua, tua sekali menghampiriku. Nenek itu sudah
sangat lemah, pikun dan tak berdaya.
Anak-anaknya dan cucu, cicitnya
tak ada yang mempedulikannya.
Dengan bahasa sederhana, dia bilang lapar. Tersentuhlah
hatiku. Aku segera lari ke rumah, kuambil nasi, sayur dan lauk di lemari dapur. Kuambil daun pisang di kebun samping rumahku. Kubungkus rapi, kulari menuju nenek tua tadi. Air mata
menetes membasahi pipinya yang sudah keriput.
Tangan gementar menerima
pemberianku. Nenek menangis dan memelukku.
Akupun merasakan kesedihannya.
Umur nenek mungkin sudah di atas 100 tahun.
Badannya lemah dengan tongkat di tangannya. Punggung sudah merunduk. Kepala lemah sudah
‘buyuten’, kata orang jawa.
Setiap 2 hari sekali, di sekitar jam 15.00 WIB nenek sudah
duduk ditempat biasa. Aku sudah mengerti apa yang ia harapkan dariku. Seperti
biasa akupun mengambilkan nasi beserta lauk yang ada di rumah. Begitu bahagia rasanya saat itu aku bisa membantu
orang lain. Trimakasih Tuhan, hidupku
tidak seperti nenek itu yang disengsarakan oleh keluarganya.
Disetiap pertemuan , nenek selalu mendoakanku. Agar kelak jadi ‘orang’ baik, rendah hati dan
hidup baik. Semoga aku jadi orang yang
berhasil. Sejuk... Teduh... bagai tersiram air es terasa dalam dada dan
sanubaiku. Kalau nenek tak datang, aku jadi rindu sekali padanya. Hal itu
terjadi sampai lebih 2 tahun, sampai nenek itu meninggal. Saya sangat
kehilangan, saya merasa terpukul.
Sedih!. Tak terasa air mata pun mengalir deras di pipiku. Tak satupun orang tahu
tentang hubungan ini sampai hari ini.
Aku akan ingat selalu nasehat-nasehatnya.
Dia selalu memberi nasehat. Mengajariku untuk selalu
bersyukur. Hidup rendah hati dan mengandalkan Tuhan disetiap nafas yang sudah Tuhan berikan. Itu kuingat
jelas dan kulaksanakan sampai hari ini.
Bapak guru dan ibu di rumah saja. Dengan penghasilan bapak sebagai guru. Saya
dan adik-adik memang terlatih hidup sederhana. Mencukupkan gaji bapak yang tak seberapa
Ayah adalah guru
SPG. Tahun 1990 SPG diganti dengan SMA.
Bersamaan dengan itu Juni 1989 aku lulus
kuliah. Saat itu pula di Timor Timur membutuhkan guru dan kepala sekolah. Seorang teman dari ayahku, Bp
Margono adalah Dikmenum di Jakarta.
Telpon ke bapak dan menawarkan
pekerjaan. Pak Dayat! “Mau atau tidak kalau dijadilkan kepala sekolah?!!, tapi
di Timor-timur!.” : pertanyaan pak Margono ke bapak saya. Akhirnya bapak menyetujuinya. Bersamaan dengan itu, Aku lulus kuliah. Bapak disarankan ke jakarta menemui beliau. Sesuai persetujuan Bapak Margono akhirnya aku diajak serta. Kami menuju ke Depdikbud RI. SK
pun terbit. Kami berdua ditempatkan di suatu sekolah. SMA Negeri Maliana Bononaro
tepatnya. Bapak sebagai kepala sekolah
dan aku sebagai guru biasa.
Bulan Maret 1990 kami berdua pergi ke Tim tim dengan berbekal
SK. Pada Tahun itu, Timor Timor masih
sangat ketinggalan. Kita pergi melewati
hutan rimba, sungai , tebing-tebing tejal. Waktu tempuh dari kupang ke Maliana lebih dari
24 jam. Musim hujan Pula. Jalan licin, terjal dan penuh lumpur. Jalan kiri tebing tinggi dan sebelah kanan
jurang yang amat sangat curam. Ngeriii!!!. Kita semua penumpang
rame-rame dorong kalau bis ‘selip’ di jalan. Sungai banjir!. Tidak ada jembatan. Untuk
melewati kita harus tunggu sungai
surut baru bis menyeberang. Kita tunggu dengan setia, hingga bis bisa masuk menelusuri sungai. Badan basah kuyup, mulut biru gementar
menahan dinginnya hujan. Sebelumnya kita
tak tahu medan, jadi tak ada persediaan
mantel ataupun jas hujan.
Dengan berbagai duka, lara,
nestapa penuh cerita. Akhirnya sampailah
kami di sekolah tujuan. SMA Negeri , di Kota Maliana, sekolah satu-satunya SMA
di kabupaten Boborano. Kotanya sepi sekali. Ada pasar tradisional dan jualannya
juga sangat sederhana. Ya!, cukuplah
untuk kebutuhan makan sehari-hari. Makanan pokok mereka jagung. Ada juga ‘Paung’ makanan khas mereka.
( roti keras sebesar genggaman tangan yang terbuat dari terigu dan dibakar : red)
Kita pun menyesuaikan dengan mereka.
Waktu itu saya umur 23 tahun, murid saya
seumuran dengan saya. Kalau pas
mengajar mereka tidak memperhatikan
pelajaran yang saya bawakan tapi
melotot lihat saya. Saya dibuatnya gugup dan grogi setengah mati.
Penduduk tidaklah banyak. Setiap ke
pasar, ke gereja di jalan selalu ketemu oang yang sama. Bagaimana kita tidak saling kena?l!! Polisi, tentara, dokter
dan pegawai lainpun kita saling kenal. Guru di SMA semua orang Muda. Mereka
dari berbagai wilayah se-nusantara.
Asyik!! Kami bergabung mengajar sesuai dengan
latar belakang pendidikan yang berbeda.
Hari berganti hari, bulan pun berganti. Tak terasaa 2 tahun sudah saya di SMA Negeri Maliana.
Namanya juga pegawai negeri. Tahun 1993
saya mutasi di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur.
Habis menikah , jadi mengIkuti suami karena suami kerja di Dili. SMA dekat pantai di kota
propinsi. Saat itu penduduk masih aman tenteram dan damai. Tak ada gejolak. Anak-anak siswa masih manis-manis
begitu menghargai guru. Waktu itu selain
mengajar kita masih membantu menjadi
tutor PGSD ( Pendidikan Guru sekolah Dasar) dan widya iswara di BPG ( balai
Penataran Guru).
Lima tahun kemudian ........ Situasi Dili mulai memanas.
Perbedaan pendapat mulai kelihatan.
Kericuhan mulai ada. Antara Pro kemerdekaan dan Pro Integrasi mulai
terlihat nyata. Suasana mulai tidak
nyaman. Hari-hari mulai dengan pertikaian. Mulai terasa antara
Pribumi dan pendatang. Murid-murid
SMA ada yang pribumi ada juga pendatang.
Sebagian besar siswa menyandang sebagai pro kemerdekaan. Mereka ingin Merdeka!.
Mereka berharap ‘lepas’ dari Indonesia. Jadi!!, mulai memperlihatkan ‘giginya’. Mulai
kelihatan membenci gurunya. Di sekolah mulai tidak nyaman. Kadang ada hal kecil saja, penyulutkan suasana menjadi besar.
Ada kejadian didalam kelas saya
saat KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Saya ingat waktu itu saya mengajar bahasa jerman di kelas II C.
Ada anak yang main lempar-lemparan
dengan kapur. Sebut lah namanya Sarlota, Dia
terlempar kapur di dadanya.
Murkalah sarlota. Waktu itu
belum ada HP seperti sekarang ini. Nona itu lari di Tata Usaha pinjam
telpon untuk telpon “harim” yang sekolah di SMA Negeri 2 Dili. Setelah dengar
kabar dari sang Nona. Emosilah sang pacar!! Sang Pacar pun marah tak bisa dibendung. Akhirnya dia anak teman-teman “geng’ mereka untuk datang ke SMA kami untuk menyerang. Aksi pun jadilah. Ratusan
siswa menyerbu masuk di SMA
Negeri3. Kebetulan sekolah kami lantai
2. Mereka mengamuk!, Teriak-teriak!! Melempari
gedung dengan batu. Kejadi sangat
mengerikan. Kita semua panik. Guru pun tidak berdaya. Suasana semakin mencekam. Tak lama
kemudian Brimop pun datang 3 truk. Suasana mencekam!. Sungguh kejadian itu
membuat histeris beberapa
siswa, guru termasuk saya.
Saat kita menngajar PGSD, di
Salah 1 SD di Comoro. Rombongan orang tak dikenal menyerang kita. Meraka rame-rame membawa senjata tajam. Teriaknya :
“Usir pendatang!!!”.Sararan mereka adalah kita, karena kita mayoritas pendapatang. Suasana jadi sangat mencekam.
Kami semua jadi berhamburan
menyelamatkan diri. Lari sembunyi ke tempat yang aman untuk meyelamatkan diri.
Setelah suasana mulai tenang kita pulang di rumah kita masing-masing.
Kejadian lain di dalam kelas saat
kita mengajar. Anak nakal menyalakan petasan. Kagetlah kita, tertawalah mereka!. Tapi apa daya kita guru.
Dari pada kita buat masalah yang kurang
berkenan di hati mereka. Sudahlah di’putih’kan saja. Ampuni mereka. Dia kan tuan rumah kita adalah pendatang, jadi
harus tahu diri.
Kami orang Indonesia asli.
Pelajaran dan kurikulum pun Indonesia punya. Jadi ada pelajaran Bahasa
Indonesia, PKN (Pendidikan Kewarganegaraan), Sejarah. Nach itu!! adalah pelajaran ‘anti’ bagi sekelompok siswa. Apalagi yang merasa bukan Warga Negera Indonesia.
Terutama yang anti intergrasi atau pro
kemerdekaan. Kalau Guru mau masuk mengajar. Mereka bilang: “Ibu guru pulang
saja ke Indonesia!. Saya bukan orang Indonesia. Tak usah bikin repot, akhirnya
guru mundur lebih baik tak usah mengajar. Mereka mempunyai komunitas
namanya Safari , Saya anak fretilin anti republik Indonesia.
Pelajaran di kelasku matematika, diluar terdengat-ribut-ribut. Ehh! Ternyata
ada siswa nakal naik sepeda sembarang melintasi kelas -kelas.
Karena kelas terganggu keluarlah semua
warga sekolah dan jadi ribut semua. Ehh!!
anak nakal itu tidak mau menyesali
kesalahannya justru marah! Teriak-teriak! Ngajak teman geng mereka untuk
membalik motor dan mebakar motor guru BK yang ‘terpaksa’ marah karena ulahnya. Sedih!!. Begitulah!. Guru
tidak berdaya menghadapi anak siswa sendiri. Anak sekolah biasa membawa senjata
tajam. Dari sekitar 30 guru hanya 1
orang yang putra daerah. Berarti kita
guru kan musuh mereka. Dari pada kita mati konyol lebih baik kita menghindar.
Kelas 3 sudah lulus, biasanya kita
ada perpisahan. Anak-anak Timtim kan
suka dansa-dansa. Ya, pesta dansa biasa
malam hari. Maka mereka minta supaya
perpisahan diadakan malam hari. Kepala
sekolah menolak. Demi keamanan, kepala sekolah akan mengadakan pagi hari saja.
Anak-anak kecewa mengamuklah mereka.
Kaca-kaca jendela jadi ‘korban’. Mereka menghancurkannya.
Hingga gundul. Licin! Bolonglah
jendela-jendela kelas. Akhirnya
diganti besi 12 untuk jendela.
Ya!! persis seperti Penjara. Aminkan
saja.
Dengan jendela
besi pun bukan kendala untuk anak-anak bolos dari kelasnya. Dengan
kekuatan mereka yang luar biasa, dilipatlah
besi jendela ke atas hingga cukup
untuk kepala. Ya, tentunya supaya mereka
bisa keluar dari kelas untuk ‘lari’ boloscari kesenangan dan kebebasan. Sebagai
guru perempuan saya tidak berani menegurnya. Biarlah. Tuhan, Tabahkan dan sabarkan hati supaya jangan ‘emosi’.
Saat penerimaan siswa baru, kebetulan nilai yang memenuhi syarat adalah
banyak yang ‘pendatang’. Murkalah mereka yang ‘tidak’ bisa masuk di SMA 3 Dili. Mereka jadi cari gara-gara. Mereka membuat ribut,
teriak-teriak, maki!! dan
mengeluarkan kata-kata yang tak sopan,
kata-kata kotor yang ditujukan untuk kami para guru. Kita panitia hanya bisa
diam seribu bahasa . Dari pada cari hal. Kita tutup pintu!. Dari pada kita babak belur kena lemparan??! Lebih
baik cari selamat. Kami sembunyi di
ruang paling aman tanpa jendela kaca. Ya!! Di Laboratorium
sekolah. Setelah situasi aman kita semua pulang
dengan damai. Esoknya pendaftaran dibuka
kembali bersama para polisi demi keamanan. Alhamdulilah,aman untuk hari
berikutnya..
Guru STM Negeri, rumahnya persis
di depan rumah saya. Ada pemuda tak di
kenal datang mau pinjam motor untuk pawai. Entah pawai apa. Mereka gedor di rumahnya, teriak-teriak. Tuan rumah keluar
dan minta maaf, motor tidak bisa
dipinjam karena mau dipakai untuk kedokter , anaknya sakit. Wh..mereka
kurang mengerti, marahlah.
Dilemparilah kaca rumahnya, hingga otak kecil di kepala tuan tumah kena lem,paran
batu samapai pinsa. Begitu pun di rumah say, pagar yang tinggi ,ereka naik
pagar dan goyang-gotyahkan pagar dengan
kasar. Teriak-teriak mau pinjam motor. Kami keluar dari pada kita celaka
kedua motor kita pnjamkan. Padahal kitas
tak kenal pemuda itu’ siapa’ dan ‘darimana’. Ahh, biar yang penting
‘elamat. Esoknya merek kembalisan dalam keadaan rusak, bahkan tempat oli di isi pasir. Sedih!!. Perih !!,jadi
seorang pendatang. Dianggapnya kami orang upahan. Begitu terhina!.
Waktu itu di SMP ketrampilan.
Biasa terima raput bukan guru. Polisi
atau tentara di sekolah ‘tertentu. Salah sartu
pak guru memberanikan diri untuk membaginya. Ternyta anak ‘paling nakal’
di kelas itu tidak naik kelas. Saat pembagian rapotnya ‘tiba’ , dibukalah rapotnya. Ternyta dia ‘tidak’ naik kelas , dengan sebelah pisau
dihunuskanlah pisau itu ke perut pak guru.
Darahpun mengalis, ususnya nyapun berderai. Tragis!!. Dilrikanlah pak
gur itu ke rumah sakit.
Saat KBM Juga terdengar
konflik di kampus UNTIM, Univessitas Timor-Timur. Suasana Jadi mencekap di sekolah kita. Biasa ada semacam ‘demo’ dari pro kemesdekaan. Ngeri
sekali karena biasanya selalu ada korban-korban atau kematian. Kita cari
selamat, biar sore samapai malam kita
tunggu di sekolah. Dulu ada bisa kota, saya sudah lupa namanya. Kalu bis sudah operasi berarti suasana sudah aman, walau masih kondusif,
jarak rumah saya ke sekolah sekitar7 km, kalau naik motor tidak aman berarti
saya harus naik bus kota.
Rumah saya di Becora.
Kebetulan disitu mayoritas guru yang berpenduduk di situ.
Komplek kami dekat LP ( lembaga pemasyarakatan). Sering ada saja
kejadian kejar-kejaran antara
petugas dan napi yang lari.
Meraka berteriak teriak. Tembak saja!!
Lempar saja!! Bunuh saja!!. Aduh suara itu
samapi ketelinga nakku si kecil Anto dan Marcek yang waktu itu bewrumur
1 dan 3 tahun.
Karean situ si yang tidak mendukung akhirnya nak saya saya titipkan di Eyangnya di Muntilan, jawa
Tengah. Dikampoungku tepatnya. Cerita
lucu ternyata di jawa bahasa-bahasa yang biasa di palkai di
dili terbawa sampai di jawa. Tembak saja...!!!!, Doarrr!! Doarrr!! Lempar saja...!! pukul
saja,...!! bunuh saja!!. Duh!! Samapi
saya malu dengan
bahasa anak saya. Tetangga jadi
tertawa dengan sikap anak-anak
saya. Bahkan digereja, jadi anak amat
sangaaat pemberani dan tak tahu diri. Mereka berlari sampai di altar
tempat Pastor sedang meminpin Misa.
Dor!! Doe!! Dorrr!!, berrka berlari.
Tuhaannnnn, adu saya jadi malu sendiri lihat anak saya. Saya mau naik ke
altar pasti seluruh umat tahu kalau itu nakku. Ada tetangga rumah bilang
s dengan suara pelas, tapi saya dengar. Eh!! Maklum dasar anak dari Tiomor Timur. Saya dengar
menoleh sambil senyum ke Orang itu. Kukasih koder ke anakku supaya turun dari altar, yaaaa akhir
nyata banyak umt yang menoleh ke arahkua, Betapa maluku.
Muluku ada fimana! Merah mukaku bagai udang yang di rebus.
Gaya-gara korban
lingkungan timor-timot ada llagi
kejafian di pasar Muntilan. Anakku tuh
orangyang tak ada sedikitpun rasa takut. Super berani. Suatu ketika kami ajak
berama-sama ke sarsar. Aku, Bapak, dan kediua orang tuanku dan ke2 anak ku,Kami
ber enam. Kita beriring-itringan
berjalan mau pilih warung soto. Mau makan ceritannya. Saat
kita masuk salah satu warung. Ehh!! Anakku yang pertama tidak ada. Padahal tadi di gandenga eyang
putri. Karena berjejal terlepaslah dari tangannya. Tahu kan!!. Namanya Pasar fulll dengan
manusia. Cari-cari tak diketemukan. Kita hubungi lewat informasi, di
koling-koling tidak ada jawaban. Panik;lah kita semua. Dari jam 10,00 hingga jam 15.00 kami tunggu.
Tuhan,,,,,,dimana anak saya. Kami seperti orang berkabung karena dula lara. Sedih...apalgi waktu itu ada isu gosip anak ya hilang. Anak yang diculik.
Ada lagi anak yang di karung karena organnya
dijual. Dan lain-lain. Dan sebagainya.
Ditengah
kesediah....om saya, yang rumahnya bersebelahan dengan saya kebetulan
ketemu kami dan Dia tanya. Kenapa kok belum pulang. Akhirnya saya cerita kalau marcel anakku hilang. Hah!! Dia
ada di rumah. Dia ada main dengan Iko, teman sebayanya. Saya jadi senang,
bingung campur-campur. Dan akhirnya kami buru-buru pulang melihat fakta. Jarak rumah ke pasari sekita
10 km. Sampai di rumah , budeku cerita kalau marcel tapi di anat polisi. Ini si
kecil nyeberang jalan dengan percaya
diri. Tapi samapi sekarang saya belum
Tahu kok bisa di antar ke rumah. Mungkin
ada tetangga yang tahu.
Kejadian lain lagi cerita anakkua. Dia sudah TK, nol kecil di TK Teresia Muntilan. Itu Bersama ibu sy yang selalu setia antar jaga sampai pulang. Sudah langganan,
setiap pulang kalau ibu mau belanja
dipasar. Anak marcel dititip di warung. Kasih makan, harapan dia akan setia , duduk manis
sambil tunggu eyansnya. Ehh!! Ada kejadia yang menarik ‘di luar’ warung
‘topeng monyet’. Keluarnlah dia tanpa sepengatuan pemilik warung, yang sudah
diberi mandat oleh eyangnay marcel untuk
‘menjaga’. Namanya anak kecil...karena
banyak orang berdeskan dan
tergeser-geser kahirnya dia tak tahu
lagi warung bakso tapi dimana. Tetap PD
anaku mengukur jalan , nyeberang n
jalan taqnpa tujuan. Posili melihat nak
kecil ‘terlepas’. Karena pake seragam polisi langsung menuju TK. Karena sekolah
tutup , tapi untung ada penjaga. Bertanyalah polisi ke penjaga. Untung Kepala
sekolah adalah Suster dan tinggal di
rumah susteran dekat dengan sekolah.
Berjaran 200 m. Penjaga menunjukkan rumah suster. Digandenglah anakku
itu oleh polisi, dan polisi bertnya data anakku. Susr=ter hafal namanya.
Marcelinus AN Hunga Meha. Anak Eks Timtim. Tinggal di rumah Eyangnya di
Gejayan, Gondowangi, Sawangan , magelang,
Akhirnya Pak polis menganatarnya ke rumh. Sementara ibu
stress beras mencari di pasar, anak sudah enak-enak di rumha. Saat
ibu pergi ke kantor polisi mau minta tolong. Untung pak Polisi yang mengantar mercel sudah pulang dan memberikan informasi. Legalah ibu saya. Kejadian
Ini di jawa, yang berpenduduk supaer padat. Bukan di Timor-timu yang
pendudukknya sedikit, kalau ke padsar
sering ketemu orang yang sama.
Seiring berjalannya waktu. Dengan segala penglaman Duka ,
lara dan nestapa. Tapi puji Tuhan gaji
tetap lancar. Alhamdulilah, rejekipun
selalu dicukupkan. Biarlah itu
adalah pengalaman yang sanagt
berharga., Ibu adalah pengabdian
untuk anak bangsa , Untuk negara.
Sebagai Negeri harus bersedia
ditemaptkan di seluruh pelosok Nusantara. Senag-tak senag harus dijalani dengan setia dan suka cita. Harus selalu bersykur dengan apa yang Ada.Kerja dengan iklas dan
bertanggung jawab.
Akhirnya konflik pun berlalu. Diakhiri denan Eksodus
besar-besaran karena Timot Timor ‘Merdeka’. Nama pun berubah menjadi ‘Timor Leste’. Kita harus segera ‘pulang’ ke Indonesia. Suana
sangat mengerikan. Pembakaran, pembunuhan pun terjadi. Ngeri!!,. Tangisan
terjadi dimana-mana. Rumah dijual murah. Ada yang 10 juta. Motor baru di jual 2
juta, ...yagn penting jafi uang untuk berkal ‘lari’ pulang ke tanah tumpah darah kita masing-masing.
Masih beruntung dapat uang, yang lain
ada yang pulang dengan tangan hampa, hanya dengan tangisan dan deraiaan
airmata.
Saya, waktu itu pulang sendiri. Berbekal SK PNS saya punya.
Ikut rombongan bapak Korwar ( koordinator pengawas pendididikan dan kebudayaan.
Beriring-iringan dengan panglima perang
pro Integrasi ‘ Eurici Guteres. Naik Mobil tentara. Tak lama kemudian
ternyata ratusn bahkn ribuan mobil yang
berma-sama denga kami untuk eksodus. Kami tinggal di tambua . “Numapang’
di mes kepala sekolah sekitar 2 minggu. Lanjut kita ke kupang ‘numpang di rumah
penjaga Dinas pendidikan dan kebudayaang Propinsi NTT di Kupang. Beruntung saya
karena saya bersama-sama dengan pejabat jadi bisa numpang di tempat yang ‘agak’
terhormat. Teman-teman yang lain di
lapangan Polda dengan segala
kekurangannya. Sedih. Pilu. Makan juga tunggu belas kasihan. Seadanya.
Suami entah sudah sampai dimana. Dia menunggu rumah laku.
karena run=mah ada yang mau beli.harga
rumah 20 juta Sang pembeli akan
memberi dulu uang 18 juta ,berjanji
seger akan dilunasi setelah depositu jatuh tempo tanggal 10 September
1999. Tapi ternyata suami tidak mau terima dulu, uang disimpan dulu oleh pembeli, nati kalau sudah
genap baru dikasih semua. Yah!!
Ternyata pengumuman kemerdekaan
dimajukan 3 hari. Semua jadi berubah. Gedung-gedung pemerintah di bakr. Bank pun juga dibakar. Paniklah kita
semua. Boro-boro dibayar, gigit jari lah jadinya. Ya kita menghibur diri. Belum
rejeki!.
Akhirnya ternyata suami
ketemu dan selamat. Bisa pulang
bersama dik Henreik ., anak pak korwas
dengan fuso mobil tentara indonesis. Di Kupang kami tinggal lama karean
sambil menunggu SK pem=nempatan Semua
korban bencana Timor-timor boleh
minta mutasi dimana saja, Di jawa di Sumatra, kalimantan datu tempat
lainnya. Semua teman-teman saya orang
jawa persija ( persatuan istri jawa) yang suaminya orang luar jawa ikut istri pindah ke jawa. Ini pas
giliran saya , saya ditanya pak kakanwil : Ibu
mau pidah kemana? Jawbku: Ke Sumba Timur,pak!. Bapk tua itu melihat saya
seolah-olah tak percaya. Beliua menatap sdaaya. Melihat saya dari
kaki ujung rambut. Ibu !...bertanya uaang sambil menatap: “Ibu sudah
tahu Sumab Timur?. Jawabku: “Ya Bapak!’
Tahu!. Benar, ibu mau mutasi ke
waingapu? Jawabku. : Ia Pak, benar. Bap
tua itu kahirnya memberi waktu
kepada saya untuk em mikirkan
ulang , besok baru kembali. Esokya saya datang
kemabli ke Kanwil dan dengan tekat bulat. Siap untuk mengikut suami di
sumba Timur.
Saya dimutasi di SMA Negeri 2 Waingapu. Sebagai orang
baru saya harus beradaptasi dengan kehidupan yang baru.
Lingkungan yang baru dan suasana yang baru pula. Suami adalah keturunan
bangsawan yang mempunyai banyak anak-anak yang harus jadi tanggung jawabnya.
Pertama kami tinggal bersama lebih 20 orang. Beda lho bangsawan di
jawa dengan di Sumba. Hewabn banyak tapi
bukan untuk makan tapi untuk adat. Hehe
...saya tidak berani cerita tentang busa mereka, takut salah.
BIsa bayangkan Gaji saya III/B waktu itu baru 219.200 ribu. Begitu juga suami. Anakku masih di jawa, saya belu berani panggil datang untuk hifdup bersama, karena ternyata kami pun masih hidup sengsaran. Rumah seisinya dan mobil ditinggal semua dan tak ada harta yang terbawa. Hidup kembali ‘nol’. Ya benar, mulai dari ‘nol’ bulat. Berdoa, puasa kujalani supaya tidak terpuruk terus dan mudah emosi. Hidup miskin siap dijalani. Tetapi harus pasrah, iklas dan disyukuri. Dekat Tuhan terasa Indah. Memang, Saat hidup sampai di titik ‘nadir’, saya ingin lari dari kenyataan. Ingin lari pulang ke jawa. Ternyata benar kata pak kakanwil kalau hidup di Waingapu tidak seperti di jawa.
Saya harus bangkit. Saya harus bisa menerima kenyataan.
Saya tak boleh putus asa. Tuhan ada. Tuhan menjaga dan senantiasa mendampingi
kita. Aku harus kuat. Memang waktu itu saya
tak bisa makan 3 kali sehari mengingat
banyaknya tanggunan. Pagi tak bisa sarapan, pulang sekolah jam 2
baru maulai masak jam 15 makan sing.
Nati tenagh malan]m lagi batu makan sore. Begitu setrusnya. Badanku kurs
kering. Tapi itu kujalni degan senang hati, yang jelas saya tidak berani surhat
denga bapak dan ibuku yang di jawa. Barlah itu kutanggung sendiri. Itu
adakah sebuah resiko dari keputusan.
Hari pun berganti. Bulan berjalan maju ke depan .
bertambah tahun ternyata membuahkan perubahan. Suatu ketika saya
berkunjung ke salah satu teman saya. Suami istri orang jawa, istri sakit parah.
Sakit yang menurut saya ‘aneh’. .
Kasihan mereka sebagai orang rantau menderita begitu. Dari situ akhirnya
saya rajin berkunjung. Memberi kekuatan. Sharing. Akhirnya saya pun
secara pribadi jadi ikut terhibur.
Ternyata kehidupan saya lebih baik, ada
saudara, ada yang memperhatikan pastinya.
Hehe... sebagai
orang rantau meskit kita punya cerita. Pasti punya pergumulan. Hidup bagai roda yang berputar. Hidup adalah tantagan
yang harus dihadapi setiap insan. Hidup tentunya punya kuajiban untuk dilakukan. Namun...hidup
juga keindahan yang harus sekalu disyukuri.
Dari pengalaman itu akhirnya saya dan teman tapi membentuk sebuah
komunitas. Paguyunban jawa. Istri-stri jawa yang bersuami orang luar jawa.
Ternyata banyak sekarang sudah 32 orang.
Kita adakan pertemuan setiap bulan minggu ketiga. Disitulah kita jadi
terhibur, saling merindukan, cerita.
Saling memotifasi. Semangat hiduppun
jadi terasa. Hidup terasa lebih bermakna. Ternyata banyak teman dab banyak bergaul itu bisa membangkitkan semangat
hidup. Teman baik membuat hidup kita
lebih baik
Kini, perhari ini pun kami masih bersama-sma dengan 20an
orang di rumah. Tapi karena kita terima dengan suka cita, semua bisa
terpenuhkan. Tuhan mencukupkan. Segala urusan
dimudahkan. Sepanjng kita memberikan dengan iklas Tuhan akan melipat
gandakan berkat itu buat kita. Trimakasih Tuhan untuk ujiannya. Semua sudah
berlalu dan tinggal cerita. Biarlah yang lalu supaya berlalu. Kita pikir untuk ke depan yang lebih baik. Rela
berbagi iklas memberi.
Ini sekedar cerita pengalaman saya. Cerita sedernana. Curahan hati yang dirangkai lewat kata kata penulis pemula. Bahasa receh dan masih belum
sempurna. Hidup bukan tentang
mendapatkan apa yang kamu
inginkan, tetapi tentang menghargai
apa yang kamu miliki. Dan sabarlah.
Insa Allah Rejeki akan menghampiri.
Hidup juga teramat singkat dan sungguh
amat disayangkan jika keberadaan kita di dunia
hanya bisa dirasakan untuk pribadi.
Kita pasti akan merasa puas jika
hidup kita berguna untuk banyak orang.
Semoga!.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge
- 45
#RumahLiterasiPMA
#
WaingapuSelasa21Juni 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar