Sabtu, 18 Juni 2022

A45. UJIAN HIDUP ITU IBARAT MINUM JAMU, ....PAHIT RASANYA, TAPI MENYEHATKAN Day 45

 


Pada Suatu hari, saat ku kecil umur 5 tahunan, masih  teringat  jelas dalam otakku.  Saat ku bermain peta umpet,  ditempat persembunyianku. Seorang nenek tua, tua sekali menghampiriku. Nenek itu sudah sangat lemah, pikun dan tak berdaya.  Anak-anaknya  dan cucu, cicitnya tak  ada yang mempedulikannya.

Dengan bahasa sederhana, dia bilang lapar. Tersentuhlah hatiku. Aku segera lari ke rumah, kuambil nasi, sayur dan lauk  di lemari dapur.  Kuambil daun pisang  di kebun  samping rumahku. Kubungkus rapi,  kulari menuju nenek tua tadi. Air mata menetes membasahi pipinya yang sudah keriput.  Tangan  gementar menerima pemberianku. Nenek menangis dan memelukku.  Akupun  merasakan kesedihannya. Umur nenek mungkin sudah di atas 100 tahun.  Badannya lemah dengan tongkat di tangannya.  Punggung sudah merunduk. Kepala lemah sudah ‘buyuten’, kata orang jawa.

Setiap 2 hari sekali, di sekitar jam 15.00 WIB nenek sudah duduk ditempat biasa.  Aku sudah  mengerti apa yang ia harapkan dariku. Seperti biasa akupun  mengambilkan  nasi beserta lauk yang ada di rumah.  Begitu bahagia rasanya saat itu aku bisa membantu orang lain. Trimakasih Tuhan,  hidupku tidak seperti nenek itu yang disengsarakan oleh keluarganya.

Disetiap pertemuan , nenek selalu mendoakanku.  Agar kelak jadi ‘orang’ baik, rendah hati dan hidup baik.  Semoga aku jadi orang yang berhasil. Sejuk... Teduh... bagai tersiram air es terasa dalam dada dan sanubaiku. Kalau nenek tak datang, aku jadi rindu sekali padanya. Hal itu terjadi sampai lebih 2 tahun, sampai nenek itu meninggal. Saya sangat kehilangan, saya  merasa terpukul. Sedih!. Tak terasa air mata pun mengalir deras di pipiku. Tak satupun orang tahu tentang  hubungan ini sampai hari ini. Aku akan ingat selalu nasehat-nasehatnya.

Dia selalu memberi nasehat. Mengajariku untuk selalu bersyukur. Hidup rendah hati dan mengandalkan Tuhan disetiap  nafas yang sudah Tuhan berikan. Itu kuingat jelas dan kulaksanakan sampai hari ini.  Bapak guru dan ibu di rumah saja.  Dengan penghasilan bapak sebagai guru. Saya dan adik-adik memang terlatih hidup sederhana. Mencukupkan gaji bapak yang  tak seberapa

Ayah  adalah guru SPG.  Tahun 1990 SPG diganti dengan SMA. Bersamaan dengan itu Juni 1989 aku lulus  kuliah.  Saat itu  pula di Timor Timur  membutuhkan guru dan kepala  sekolah. Seorang teman dari ayahku, Bp Margono adalah Dikmenum di Jakarta.  Telpon  ke bapak dan menawarkan pekerjaan. Pak Dayat! “Mau atau tidak kalau dijadilkan kepala sekolah?!!, tapi di Timor-timur!.” : pertanyaan pak Margono ke bapak saya. Akhirnya  bapak  menyetujuinya. Bersamaan dengan itu, Aku  lulus kuliah.  Bapak disarankan ke jakarta menemui beliau.  Sesuai persetujuan Bapak Margono akhirnya aku  diajak serta. Kami menuju ke Depdikbud RI. SK pun terbit.  Kami berdua ditempatkan  di suatu sekolah. SMA Negeri Maliana Bononaro tepatnya. Bapak sebagai kepala sekolah  dan aku sebagai guru biasa.

              Bulan Maret 1990  kami berdua pergi ke Tim tim dengan berbekal SK. Pada Tahun itu, Timor Timor masih  sangat ketinggalan. Kita pergi melewati  hutan  rimba, sungai  , tebing-tebing tejal.  Waktu tempuh dari kupang ke Maliana lebih dari 24 jam. Musim hujan Pula. Jalan licin, terjal dan penuh lumpur.  Jalan kiri tebing tinggi dan sebelah kanan jurang yang amat sangat curam. Ngeriii!!!. Kita semua  penumpang  rame-rame dorong kalau bis ‘selip’ di jalan. Sungai  banjir!. Tidak ada jembatan. Untuk melewati  kita harus  tunggu sungai  surut baru bis menyeberang. Kita tunggu dengan setia, hingga  bis bisa masuk menelusuri sungai.  Badan basah kuyup, mulut biru gementar menahan  dinginnya hujan. Sebelumnya kita tak tahu medan, jadi tak ada persediaan  mantel ataupun  jas hujan.

              Dengan berbagai duka, lara, nestapa penuh cerita.  Akhirnya sampailah kami di sekolah tujuan. SMA Negeri , di Kota Maliana, sekolah satu-satunya SMA di kabupaten Boborano. Kotanya sepi sekali. Ada pasar tradisional dan jualannya juga sangat  sederhana. Ya!, cukuplah untuk  kebutuhan  makan sehari-hari. Makanan pokok mereka  jagung. Ada juga ‘Paung’ makanan khas mereka. ( roti keras sebesar genggaman tangan yang terbuat dari terigu dan dibakar : red) Kita pun menyesuaikan dengan mereka.

              Waktu itu saya  umur 23 tahun,  murid saya  seumuran dengan  saya. Kalau pas mengajar mereka  tidak  memperhatikan  pelajaran yang saya bawakan  tapi melotot lihat saya. Saya dibuatnya gugup dan grogi setengah mati.

              Penduduk tidaklah banyak. Setiap ke pasar, ke gereja di jalan selalu ketemu oang yang sama. Bagaimana kita  tidak saling kena?l!! Polisi, tentara, dokter dan pegawai lainpun kita saling kenal. Guru di SMA semua orang Muda. Mereka dari berbagai  wilayah se-nusantara. Asyik!! Kami bergabung mengajar sesuai dengan  latar belakang pendidikan yang berbeda.

              Hari berganti hari, bulan  pun berganti.   Tak terasaa 2 tahun  sudah saya di SMA Negeri Maliana. Namanya  juga pegawai negeri. Tahun 1993 saya mutasi di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur.  Habis menikah , jadi mengIkuti suami karena  suami kerja di Dili. SMA dekat pantai di kota propinsi.  Saat itu penduduk  masih aman tenteram dan damai.  Tak  ada gejolak. Anak-anak siswa masih manis-manis begitu menghargai guru. Waktu itu  selain mengajar kita  masih membantu menjadi tutor PGSD ( Pendidikan Guru sekolah Dasar) dan widya iswara di BPG ( balai Penataran Guru).

              Lima tahun  kemudian ........ Situasi Dili mulai memanas. Perbedaan  pendapat mulai kelihatan. Kericuhan  mulai ada. Antara  Pro kemerdekaan dan Pro Integrasi mulai terlihat nyata. Suasana  mulai tidak nyaman. Hari-hari mulai dengan pertikaian. Mulai terasa  antara  Pribumi dan pendatang. Murid-murid  SMA  ada yang pribumi ada juga pendatang. Sebagian besar siswa menyandang sebagai pro kemerdekaan. Mereka ingin Merdeka!. Mereka berharap ‘lepas’ dari Indonesia. Jadi!!, mulai  memperlihatkan ‘giginya’. Mulai kelihatan  membenci gurunya.  Di sekolah mulai tidak nyaman. Kadang  ada hal kecil saja, penyulutkan  suasana menjadi besar.

              Ada kejadian didalam kelas saya saat KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Saya ingat waktu itu  saya mengajar bahasa jerman di kelas II C. Ada anak  yang main lempar-lemparan dengan kapur. Sebut lah namanya Sarlota, Dia  terlempar  kapur di dadanya. Murkalah  sarlota.  Waktu itu  belum ada HP seperti sekarang ini. Nona itu lari di Tata Usaha pinjam telpon untuk telpon “harim” yang sekolah di SMA Negeri 2 Dili. Setelah  dengar  kabar dari sang  Nona.  Emosilah sang pacar!! Sang Pacar pun marah tak  bisa dibendung. Akhirnya dia anak  teman-teman “geng’ mereka  untuk datang ke SMA kami  untuk menyerang. Aksi pun jadilah. Ratusan siswa  menyerbu masuk di SMA Negeri3.  Kebetulan sekolah kami lantai 2.  Mereka mengamuk!, Teriak-teriak!! Melempari gedung dengan batu.  Kejadi sangat mengerikan. Kita semua panik. Guru pun tidak berdaya.  Suasana semakin mencekam. Tak lama kemudian  Brimop pun  datang 3 truk. Suasana  mencekam!. Sungguh  kejadian itu  membuat histeris beberapa  siswa,  guru termasuk saya.

              Saat kita menngajar PGSD, di Salah  1 SD di Comoro. Rombongan  orang tak dikenal menyerang kita. Meraka  rame-rame membawa senjata tajam. Teriaknya : “Usir pendatang!!!”.Sararan mereka adalah kita, karena kita  mayoritas pendapatang. Suasana jadi sangat mencekam. Kami  semua jadi berhamburan menyelamatkan diri. Lari sembunyi ke tempat yang aman untuk meyelamatkan diri. Setelah suasana mulai tenang kita pulang di rumah kita masing-masing.

              Kejadian lain di dalam kelas saat kita mengajar. Anak nakal menyalakan petasan. Kagetlah kita,  tertawalah mereka!. Tapi apa daya kita guru. Dari pada kita buat masalah yang  kurang berkenan di hati mereka. Sudahlah di’putih’kan saja. Ampuni mereka. Dia  kan tuan rumah kita adalah pendatang, jadi harus tahu diri.

              Kami orang Indonesia asli. Pelajaran dan kurikulum pun Indonesia punya. Jadi ada pelajaran Bahasa Indonesia, PKN (Pendidikan Kewarganegaraan), Sejarah. Nach itu!!  adalah pelajaran  ‘anti’ bagi sekelompok siswa. Apalagi  yang merasa bukan Warga Negera Indonesia. Terutama yang  anti intergrasi atau pro kemerdekaan. Kalau Guru mau masuk mengajar. Mereka bilang: “Ibu guru pulang saja ke Indonesia!. Saya bukan orang Indonesia. Tak usah bikin repot, akhirnya guru mundur lebih baik tak usah mengajar. Mereka mempunyai  komunitas  namanya Safari , Saya anak fretilin anti republik Indonesia.

              Pelajaran  di kelasku matematika,  diluar terdengat-ribut-ribut. Ehh! Ternyata ada  siswa nakal  naik sepeda sembarang melintasi kelas -kelas. Karena  kelas terganggu keluarlah semua warga sekolah dan jadi ribut semua.  Ehh!! anak nakal itu tidak  mau menyesali kesalahannya justru marah! Teriak-teriak! Ngajak teman geng mereka untuk membalik  motor dan mebakar  motor guru BK yang ‘terpaksa’ marah  karena ulahnya. Sedih!!. Begitulah!. Guru tidak berdaya menghadapi anak siswa sendiri. Anak sekolah biasa membawa senjata tajam. Dari  sekitar 30 guru hanya 1 orang yang  putra daerah. Berarti kita guru kan musuh mereka. Dari pada kita mati konyol lebih baik kita menghindar.

              Kelas 3 sudah lulus, biasanya kita ada perpisahan. Anak-anak Timtim  kan suka dansa-dansa. Ya, pesta dansa  biasa malam hari.  Maka mereka minta supaya perpisahan  diadakan malam hari. Kepala sekolah menolak. Demi keamanan, kepala sekolah akan mengadakan pagi hari saja. Anak-anak  kecewa mengamuklah mereka. Kaca-kaca  jendela  jadi ‘korban’. Mereka menghancurkannya. Hingga gundul. Licin! Bolonglah   jendela-jendela kelas. Akhirnya  diganti  besi 12 untuk jendela. Ya!! persis  seperti Penjara. Aminkan saja.

              Dengan  jendela  besi pun bukan kendala untuk anak-anak bolos dari kelasnya. Dengan kekuatan mereka yang luar biasa, dilipatlah  besi jendela ke atas hingga  cukup untuk kepala. Ya, tentunya  supaya mereka bisa keluar dari kelas untuk ‘lari’ boloscari kesenangan dan kebebasan. Sebagai guru perempuan saya tidak berani menegurnya. Biarlah.  Tuhan, Tabahkan dan sabarkan hati supaya  jangan ‘emosi’.

              Saat penerimaan siswa baru,  kebetulan nilai yang memenuhi  syarat adalah  banyak yang ‘pendatang’. Murkalah mereka yang ‘tidak’  bisa masuk di SMA 3 Dili. Mereka  jadi cari gara-gara. Mereka membuat ribut, teriak-teriak, maki!!  dan mengeluarkan  kata-kata yang tak sopan, kata-kata kotor yang ditujukan untuk kami para guru. Kita panitia  hanya bisa  diam seribu bahasa . Dari pada cari hal.  Kita tutup pintu!. Dari  pada kita babak belur kena lemparan??! Lebih baik cari selamat. Kami sembunyi di  ruang  paling aman  tanpa jendela kaca. Ya!! Di Laboratorium sekolah.  Setelah  situasi aman kita semua  pulang  dengan damai. Esoknya pendaftaran dibuka  kembali  bersama para polisi  demi keamanan. Alhamdulilah,aman untuk hari berikutnya..

              Guru STM Negeri, rumahnya persis di depan rumah saya. Ada  pemuda tak di kenal datang mau pinjam motor untuk pawai. Entah pawai apa. Mereka  gedor di rumahnya, teriak-teriak. Tuan  rumah keluar  dan minta maaf, motor  tidak bisa dipinjam karena mau dipakai untuk kedokter , anaknya sakit.  Wh..mereka  kurang mengerti,  marahlah. Dilemparilah  kaca rumahnya, hingga  otak kecil di kepala tuan tumah kena lem,paran batu samapai pinsa. Begitu pun di rumah say, pagar yang tinggi ,ereka naik pagar dan goyang-gotyahkan pagar  dengan kasar. Teriak-teriak mau pinjam motor. Kami keluar dari pada kita celaka kedua  motor kita pnjamkan. Padahal kitas tak kenal pemuda itu’ siapa’ dan ‘darimana’. Ahh, biar  yang penting  ‘elamat. Esoknya merek kembalisan dalam keadaan rusak, bahkan  tempat oli di isi pasir. Sedih!!. Perih !!,jadi seorang pendatang. Dianggapnya kami orang upahan.  Begitu terhina!.

              Waktu itu di SMP ketrampilan. Biasa terima raput  bukan guru. Polisi atau tentara di sekolah ‘tertentu. Salah sartu  pak guru memberanikan  diri  untuk membaginya. Ternyta anak ‘paling nakal’ di kelas itu tidak naik kelas. Saat pembagian rapotnya  ‘tiba’ , dibukalah rapotnya. Ternyta  dia ‘tidak’ naik kelas , dengan sebelah pisau dihunuskanlah pisau itu ke perut pak guru.  Darahpun mengalis, ususnya nyapun berderai. Tragis!!. Dilrikanlah pak gur itu ke rumah sakit.

              Saat KBM Juga  terdengar  konflik di kampus UNTIM, Univessitas Timor-Timur. Suasana Jadi  mencekap di sekolah kita. Biasa  ada semacam ‘demo’ dari pro kemesdekaan. Ngeri sekali karena biasanya selalu ada korban-korban atau kematian. Kita cari selamat, biar  sore samapai malam kita tunggu di sekolah. Dulu ada bisa kota, saya sudah lupa namanya.  Kalu bis sudah operasi berarti  suasana sudah aman, walau masih kondusif, jarak rumah saya ke sekolah sekitar7 km, kalau naik motor tidak aman berarti saya harus naik bus kota.

              Rumah saya di Becora. Kebetulan  disitu  mayoritas guru yang berpenduduk di situ. Komplek kami dekat LP ( lembaga pemasyarakatan). Sering  ada saja   kejadian  kejar-kejaran  antara  petugas dan  napi yang lari. Meraka  berteriak teriak. Tembak saja!! Lempar saja!!  Bunuh saja!!. Aduh  suara itu  samapi ketelinga nakku si kecil Anto dan Marcek yang waktu itu bewrumur 1 dan 3 tahun. 

Karean situ si yang tidak mendukung akhirnya nak saya  saya titipkan di Eyangnya di Muntilan, jawa Tengah. Dikampoungku tepatnya.  Cerita lucu  ternyata  di jawa bahasa-bahasa yang biasa di palkai di dili terbawa sampai di jawa. Tembak saja...!!!!,  Doarrr!! Doarrr!! Lempar saja...!! pukul saja,...!!  bunuh saja!!. Duh!! Samapi saya  malu  dengan  bahasa anak saya.  Tetangga  jadi  tertawa  dengan sikap anak-anak saya. Bahkan digereja, jadi anak  amat sangaaat pemberani dan tak tahu diri. Mereka berlari sampai di altar tempat  Pastor sedang meminpin Misa. Dor!! Doe!! Dorrr!!, berrka berlari.  Tuhaannnnn, adu saya jadi malu sendiri lihat anak saya. Saya mau naik ke altar pasti seluruh umat tahu kalau itu nakku. Ada tetangga  rumah bilang  s dengan suara pelas, tapi saya dengar. Eh!! Maklum  dasar anak dari Tiomor Timur. Saya  dengar  menoleh sambil senyum ke Orang itu. Kukasih koder ke anakku  supaya turun dari altar, yaaaa akhir nyata  banyak  umt yang menoleh ke arahkua, Betapa maluku. Muluku ada fimana! Merah mukaku bagai udang yang di rebus.

Gaya-gara  korban lingkungan  timor-timot ada llagi kejafian di pasar Muntilan. Anakku  tuh orangyang tak ada sedikitpun rasa takut. Super berani. Suatu ketika kami ajak berama-sama ke sarsar. Aku, Bapak, dan kediua orang tuanku dan ke2 anak ku,Kami ber enam. Kita  beriring-itringan berjalan mau  pilih  warung soto. Mau makan ceritannya. Saat kita  masuk salah satu  warung. Ehh!! Anakku yang pertama  tidak ada. Padahal tadi di gandenga eyang putri. Karena berjejal terlepaslah dari tangannya. Tahu kan!!. Namanya Pasar  fulll dengan  manusia. Cari-cari tak diketemukan. Kita hubungi lewat informasi, di koling-koling tidak ada jawaban. Panik;lah kita semua. Dari jam 10,00  hingga jam 15.00 kami tunggu. Tuhan,,,,,,dimana anak saya. Kami seperti orang berkabung karena  dula lara. Sedih...apalgi waktu itu ada  isu gosip anak ya hilang. Anak yang diculik. Ada lagi anak yang di karung karena organnya  dijual. Dan lain-lain. Dan sebagainya.

Ditengah  kesediah....om saya, yang rumahnya bersebelahan dengan saya kebetulan ketemu kami dan Dia tanya. Kenapa kok belum pulang. Akhirnya saya  cerita kalau marcel anakku hilang. Hah!! Dia ada di rumah. Dia ada main dengan Iko, teman sebayanya. Saya jadi senang, bingung campur-campur. Dan akhirnya kami buru-buru pulang  melihat fakta. Jarak rumah ke pasari sekita 10 km. Sampai di rumah , budeku cerita kalau marcel tapi di anat polisi. Ini si kecil  nyeberang jalan dengan percaya diri. Tapi samapi sekarang  saya belum Tahu kok bisa di antar ke rumah. Mungkin  ada tetangga yang   tahu.

Kejadian lain lagi cerita anakkua. Dia sudah TK, nol  kecil di TK Teresia Muntilan. Itu  Bersama ibu sy yang selalu setia  antar jaga sampai pulang. Sudah langganan, setiap pulang  kalau ibu mau belanja dipasar. Anak marcel dititip di warung. Kasih makan, harapan dia akan setia  , duduk manis  sambil tunggu eyansnya. Ehh!! Ada kejadia yang menarik ‘di luar’ warung ‘topeng monyet’. Keluarnlah dia tanpa sepengatuan pemilik warung, yang sudah diberi mandat oleh  eyangnay marcel untuk ‘menjaga’. Namanya anak kecil...karena  banyak orang  berdeskan dan tergeser-geser  kahirnya dia tak tahu lagi warung  bakso tapi dimana. Tetap PD anaku  mengukur jalan , nyeberang n jalan  taqnpa tujuan. Posili melihat nak kecil  ‘terlepas’.  Karena pake seragam  polisi langsung menuju TK. Karena sekolah tutup , tapi untung ada penjaga. Bertanyalah polisi ke penjaga. Untung Kepala sekolah adalah Suster dan  tinggal di rumah susteran dekat  dengan sekolah. Berjaran  200 m. Penjaga  menunjukkan rumah suster. Digandenglah anakku itu oleh polisi, dan polisi bertnya data anakku. Susr=ter hafal namanya. Marcelinus AN Hunga Meha. Anak Eks Timtim. Tinggal di rumah Eyangnya di Gejayan, Gondowangi, Sawangan , magelang,  Akhirnya Pak polis menganatarnya ke rumh. Sementara  ibu  stress beras mencari di pasar, anak sudah enak-enak di rumha. Saat ibu  pergi ke kantor polisi  mau minta tolong. Untung pak Polisi  yang mengantar mercel sudah pulang dan  memberikan informasi. Legalah ibu saya. Kejadian Ini di jawa, yang  berpenduduk  supaer padat. Bukan di Timor-timu yang pendudukknya sedikit, kalau ke padsar  sering ketemu orang yang sama.

Seiring berjalannya waktu. Dengan segala penglaman Duka , lara dan nestapa. Tapi puji Tuhan gaji  tetap lancar. Alhamdulilah, rejekipun  selalu dicukupkan. Biarlah  itu adalah pengalaman  yang sanagt berharga.,  Ibu adalah pengabdian untuk  anak bangsa , Untuk negara. Sebagai Negeri harus  bersedia ditemaptkan di seluruh pelosok Nusantara. Senag-tak senag  harus dijalani dengan setia  dan suka cita. Harus selalu bersykur  dengan apa yang Ada.Kerja dengan iklas dan bertanggung jawab.

Akhirnya konflik pun berlalu. Diakhiri denan Eksodus besar-besaran karena Timot Timor ‘Merdeka’. Nama pun  berubah menjadi ‘Timor Leste’. Kita  harus segera ‘pulang’ ke Indonesia. Suana sangat mengerikan. Pembakaran, pembunuhan pun terjadi. Ngeri!!,. Tangisan terjadi dimana-mana. Rumah dijual murah. Ada yang 10 juta. Motor baru di jual 2 juta, ...yagn penting jafi uang untuk berkal ‘lari’ pulang  ke tanah tumpah darah kita masing-masing. Masih beruntung dapat uang, yang  lain ada yang pulang dengan tangan hampa, hanya dengan tangisan dan deraiaan airmata.

Saya, waktu itu pulang sendiri. Berbekal SK PNS saya punya. Ikut rombongan bapak Korwar ( koordinator pengawas pendididikan dan kebudayaan. Beriring-iringan  dengan panglima perang pro Integrasi ‘ Eurici Guteres. Naik Mobil tentara. Tak lama kemudian ternyata  ratusn bahkn ribuan  mobil yang  berma-sama denga kami untuk eksodus. Kami tinggal di tambua . “Numapang’ di mes kepala sekolah sekitar 2 minggu. Lanjut kita ke kupang ‘numpang di rumah penjaga Dinas pendidikan dan kebudayaang Propinsi NTT di Kupang. Beruntung saya karena saya bersama-sama dengan pejabat jadi bisa numpang di tempat yang ‘agak’ terhormat. Teman-teman yang lain  di lapangan Polda dengan segala  kekurangannya. Sedih. Pilu. Makan juga tunggu belas kasihan. Seadanya.

Suami entah sudah sampai dimana. Dia menunggu rumah laku. karena run=mah ada yang mau beli.harga   rumah 20 juta Sang pembeli  akan memberi dulu uang 18 juta ,berjanji  seger akan dilunasi setelah depositu jatuh tempo tanggal 10 September 1999. Tapi ternyata suami tidak mau terima dulu, uang  disimpan dulu oleh pembeli, nati kalau sudah genap baru dikasih semua. Yah!!  Ternyata  pengumuman kemerdekaan dimajukan  3 hari. Semua  jadi berubah. Gedung-gedung pemerintah  di bakr. Bank pun juga dibakar. Paniklah kita semua. Boro-boro dibayar, gigit jari lah jadinya. Ya kita menghibur diri. Belum rejeki!.

Akhirnya ternyata suami  ketemu dan selamat.  Bisa pulang bersama dik Henreik ., anak pak korwas  dengan fuso mobil tentara indonesis. Di Kupang kami tinggal lama karean sambil menunggu SK pem=nempatan Semua  korban bencana Timor-timor boleh  minta mutasi dimana saja, Di jawa di Sumatra, kalimantan datu tempat lainnya. Semua teman-teman saya  orang jawa persija ( persatuan istri jawa) yang suaminya orang  luar jawa ikut istri pindah ke jawa. Ini pas giliran saya , saya ditanya pak kakanwil : Ibu  mau pidah kemana? Jawbku: Ke Sumba Timur,pak!. Bapk tua itu melihat saya seolah-olah tak percaya. Beliua menatap sdaaya. Melihat saya  dari  kaki ujung rambut. Ibu !...bertanya uaang sambil menatap: “Ibu sudah tahu  Sumab Timur?. Jawabku: “Ya Bapak!’ Tahu!. Benar, ibu  mau mutasi ke waingapu? Jawabku. : Ia Pak, benar.  Bap tua itu kahirnya memberi waktu  kepada  saya untuk em mikirkan ulang , besok baru kembali.  Esokya  saya datang  kemabli ke Kanwil dan dengan tekat bulat. Siap untuk mengikut suami di sumba Timur.

Saya dimutasi di SMA Negeri 2 Waingapu. Sebagai orang baru  saya  harus beradaptasi dengan kehidupan yang baru. Lingkungan yang baru dan suasana yang baru pula. Suami adalah keturunan bangsawan yang mempunyai banyak anak-anak yang harus jadi tanggung jawabnya. Pertama kami  tinggal  bersama lebih 20 orang. Beda lho bangsawan di jawa dengan di Sumba. Hewabn banyak tapi  bukan untuk makan tapi untuk adat. Hehe  ...saya tidak berani cerita tentang busa mereka, takut salah.

 BIsa bayangkan Gaji saya III/B waktu itu baru 219.200 ribu. Begitu juga suami. Anakku masih di jawa, saya  belu berani  panggil datang  untuk hifdup bersama, karena ternyata  kami pun masih hidup sengsaran. Rumah seisinya dan mobil  ditinggal  semua dan tak ada  harta yang terbawa. Hidup kembali ‘nol’. Ya  benar, mulai dari ‘nol’ bulat. Berdoa, puasa kujalani supaya  tidak  terpuruk terus dan mudah emosi.  Hidup  miskin siap dijalani. Tetapi harus  pasrah, iklas dan disyukuri. Dekat Tuhan terasa Indah. Memang, Saat  hidup sampai di titik ‘nadir’,  saya ingin lari dari kenyataan. Ingin lari pulang ke jawa. Ternyata benar kata pak kakanwil kalau hidup di Waingapu tidak seperti di jawa.

 

Saya harus bangkit. Saya harus bisa menerima kenyataan. Saya tak boleh putus asa. Tuhan ada. Tuhan menjaga dan senantiasa mendampingi kita. Aku harus kuat. Memang waktu itu saya  tak bisa makan 3 kali sehari mengingat  banyaknya tanggunan. Pagi tak bisa sarapan, pulang sekolah jam 2 baru  maulai masak jam 15 makan sing. Nati tenagh malan]m lagi batu makan sore. Begitu setrusnya. Badanku kurs kering. Tapi itu kujalni degan senang hati, yang jelas saya tidak berani  surhat  denga bapak dan ibuku yang di jawa. Barlah itu kutanggung sendiri. Itu adakah sebuah resiko dari keputusan.

Hari pun berganti. Bulan berjalan maju ke depan . bertambah  tahun ternyata  membuahkan perubahan. Suatu ketika saya berkunjung ke salah satu teman saya. Suami istri orang jawa, istri sakit parah. Sakit yang  menurut saya ‘aneh’. . Kasihan mereka  sebagai  orang rantau menderita begitu. Dari  situ akhirnya  saya rajin berkunjung. Memberi kekuatan. Sharing. Akhirnya  saya pun  secara pribadi  jadi ikut terhibur. Ternyata  kehidupan saya lebih baik, ada saudara, ada yang memperhatikan pastinya.

Hehe... sebagai  orang rantau meskit kita punya cerita. Pasti punya  pergumulan. Hidup  bagai roda yang berputar. Hidup adalah tantagan yang harus dihadapi setiap insan. Hidup tentunya punya kuajiban untuk dilakukan. Namun...hidup juga keindahan yang harus sekalu disyukuri.

Dari pengalaman itu akhirnya  saya dan teman tapi membentuk sebuah komunitas. Paguyunban jawa. Istri-stri jawa yang bersuami orang luar jawa. Ternyata  banyak sekarang sudah 32 orang. Kita adakan pertemuan setiap bulan minggu ketiga. Disitulah kita jadi terhibur, saling merindukan, cerita.  Saling memotifasi.  Semangat hiduppun jadi terasa. Hidup terasa lebih bermakna. Ternyata  banyak teman   dab banyak bergaul itu bisa membangkitkan semangat hidup. Teman baik  membuat hidup kita lebih baik

Kini, perhari ini pun kami masih bersama-sma dengan 20an orang  di rumah. Tapi karena  kita terima dengan suka cita, semua bisa terpenuhkan. Tuhan mencukupkan. Segala urusan  dimudahkan. Sepanjng kita memberikan dengan iklas Tuhan akan melipat gandakan berkat itu buat kita. Trimakasih Tuhan untuk ujiannya. Semua sudah berlalu dan tinggal cerita. Biarlah yang lalu supaya berlalu. Kita  pikir untuk ke depan yang lebih baik. Rela berbagi iklas memberi.

Ini sekedar cerita pengalaman saya. Cerita  sedernana. Curahan hati  yang dirangkai lewat kata kata  penulis pemula. Bahasa receh dan masih belum sempurna. Hidup  bukan tentang  mendapatkan  apa yang kamu inginkan,  tetapi tentang  menghargai apa yang kamu miliki. Dan sabarlah. Insa Allah Rejeki  akan menghampiri. Hidup juga teramat  singkat dan sungguh amat disayangkan  jika keberadaan  kita di dunia  hanya bisa dirasakan untuk pribadi.  Kita pasti akan  merasa puas jika hidup kita berguna  untuk banyak orang. Semoga!.

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 45

#RumahLiterasiPMA

# WaingapuSelasa21Juni  2022

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...