Pagi jam 08.00 Wita saat aku di ruang guru duduk kerja nilai, datanglah wakil ketua osis sekolahku. Namanya Ronald.
Dia curhat dan
cerita padaku. Panggil saja Bapak Mone,
om kandung dari Ronald. Dia adalah seorang polisi terbaik tinggal di kota
Kupang, salah satu ibu kota provinsi Indonesia. Karena prestasi dan kinerja
yang bagus, dia diberi kepercayaan sebagai juru uang menangani dana pemerintah setingkat
dengan Provinsi. Memang dia anak yang pintar dan tekun saat SMA. Saya sebagai
gurunya Bp Mone. Dia peserta didikku lulus tahun 2016. Setelah lulus SMA dia
masuk polisi dan diterima. Karena
punya prestasi yang bagus dia pun
naik tingkat lancar-lancar tanpa hambatan.
Sudah sekitar 1
bulan terakhir dia punya penyakit aneh.
Kepala katanya sakit sekali setiap jam-jam tertentu. Dia mengeluh
kesakitan, hingga istrinya tidak berdaya. Setiap dibawa ke dokter, diperiksa kata dokter semua
normal. Benar, semua orang tak pernah
percaya kalau di dia sakit. Mulai jam 18.00 s/d jam 21.00 WITA pasti dia pegang
kepalanya, karena menahan sakit. Saking
sakitnya kadang sambil pegang kepalanya sambil
menangis.
Saat itu oleh istrinya dia dibawa lagi ke rumah sakit
Swasta dekat rumah. Pihak rumah sakit bilang
semua normal. Mereka pulang
dengan tanda tanya. Tapi mereka tidak berani berfikir negative. Hari terus berganti , setiap hari pada jam tertentu kumat lagi. Akhirnya dibawa
ke Rumah sakit umum , tetap jawaban yang
sama ‘semua normal’. Mereka pulang dengan
lunglai dan penuh penasaran.
Pak Mone sudah
menikah 3 tahun yang lalu, tapi saat ini istri baru sekarang hamil 8 bulan. Mereka lambat punya anak. Pak Mone hampir putus asa tentang penyakitnya.
Aktivitas hari-hari tidak pernah ada kendala. Semua tugas dikerjakan dengan baik. Dia adalah orang yang
tertib dan disiplin dalam segala hal.
Orang lain tak ada yang tahu tentang pergumulan penyakitnya. Untuk yang terakhir dia kerumah sakit terbesar
dikotanya, kota provinsi. Semoga ada jawaban pasti. Berbagai pemeriksaan
dilakukan tapi ternyata hasilnya ‘nihil’. Semua normal bahkan di rapid pun
hasilnya negative. Ini sudah pemeriksaan medis yang ke-4, jawabannya sama.
Berkat kerja yang bagus dari pak Mone, dia mendapat
kesempatan untuk studi lanjut perwira dengan beasiswa. Dia siap
untuk berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan Pendidikan tepatnya tgl 20 oktober
2021. Ternyata hari keberangkatan studi lanjut bersamaan dengan kelahiran anak pertamanya. Sempat dilema. Tapi sang istri menyarankan
supaya berangkat saja. Istri a da orang
tua kandung yang siap mendampingi.
Okelah. Akhirnya aman terkendali.
Seperti biasa kepalanya kumat. Ini pak Mone kelihatan
lebih tersiksa. Dia sampai keringat besar-besar dan badan lemah tak berdaya.
Dia bahkan merintih menahan sakitnya yang terlihat sangat menyiksa. Istri hanya
bisa menangis dan berdoa, berdoa dan terus berdoa. Sampai saat doanya ditutup. Amin. Pak Mone
seolah ada yang mengangkatnya ke atas langsung terbanting ke tempat tidur lagi
hingga putus nafasnya. Saya hanya lihat postingannya di Medsos kalau dia
meninggal, tapi tak pernah dengar kronologi hinggs beliu meninggal.
Oh Tuhan…. Sakit
apa ini. Saya dengar ceritanya terlalu sedih. Cobaan keluarga baru ini terlalu
berat. Saat si bayi mungil yang begitu
diharapkan lahir ke dunia, ternyata sang
ayah harus meninggalkan mereka untuk
selama-lamanya. Kini istri hanya bisa meratap, airmata sudah tak tersisa. Si kecil harus menerima jadi anak yatim. Selamat
jalan pak Mone. Semoga keluarga yang
ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
Benar adanya, Kita boleh merencanakan tapi semuanya Tuhan yang menentukan. Kita tak bisa menolah
takdirNya. Hidup itu sementara. Harta dan anak juga hanya titipan. Dari cerita Omnya Ronal kita bisa mengambil
hikmahnya. Hiduplah dengan pasrah padaNya. Iklaskan yang terjadi dan bisakan
untuk senyum. Semoga.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge
- 44
#Rumah
literasi PMA
#LedwinaEtiWuryani
#Selasa,
21Juni2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar