Sabtu, 18 Juni 2022

A44. Sedih Aku Mendengarnya Day 44

 


 

Pagi jam 08.00 Wita saat aku di ruang guru  duduk kerja nilai, datanglah  wakil ketua osis sekolahku. Namanya Ronald.

Dia  curhat dan cerita padaku.  Panggil saja Bapak Mone, om kandung dari Ronald. Dia adalah seorang polisi terbaik tinggal di kota Kupang, salah satu ibu kota provinsi Indonesia. Karena prestasi dan kinerja yang bagus,  dia  diberi kepercayaan  sebagai juru uang menangani dana pemerintah setingkat dengan Provinsi. Memang dia anak yang pintar dan tekun saat SMA. Saya sebagai gurunya Bp Mone. Dia  peserta didikku  lulus tahun 2016. Setelah  lulus SMA dia  masuk polisi dan diterima. Karena  punya prestasi yang bagus dia pun  naik tingkat lancar-lancar tanpa hambatan.

Sudah  sekitar 1 bulan  terakhir dia punya penyakit aneh. Kepala katanya  sakit sekali  setiap jam-jam tertentu. Dia mengeluh kesakitan, hingga istrinya tidak berdaya. Setiap  dibawa ke dokter, diperiksa kata dokter semua normal. Benar,  semua orang tak pernah percaya kalau di dia sakit. Mulai jam 18.00 s/d jam 21.00 WITA pasti dia pegang kepalanya,  karena menahan sakit. Saking sakitnya kadang sambil pegang kepalanya  sambil  menangis.

Saat itu oleh istrinya dia dibawa lagi ke rumah sakit Swasta dekat rumah. Pihak rumah sakit bilang  semua normal.  Mereka pulang dengan tanda tanya.  Tapi mereka  tidak berani berfikir negative.  Hari  terus berganti , setiap hari  pada jam tertentu kumat lagi. Akhirnya dibawa ke Rumah sakit umum ,  tetap jawaban yang sama ‘semua normal’. Mereka pulang dengan  lunglai dan penuh penasaran.

Pak  Mone sudah menikah 3 tahun yang lalu, tapi saat ini istri  baru sekarang  hamil 8 bulan. Mereka lambat punya anak.  Pak Mone hampir putus asa tentang penyakitnya. Aktivitas hari-hari tidak pernah ada kendala. Semua tugas  dikerjakan dengan baik. Dia adalah orang yang tertib dan disiplin dalam segala  hal. Orang lain tak ada yang tahu tentang pergumulan penyakitnya.  Untuk yang terakhir dia kerumah sakit terbesar dikotanya, kota provinsi. Semoga ada jawaban pasti. Berbagai pemeriksaan dilakukan tapi ternyata hasilnya ‘nihil’. Semua normal bahkan di rapid pun hasilnya negative. Ini sudah pemeriksaan medis yang ke-4, jawabannya sama.

Berkat kerja yang bagus dari pak Mone, dia mendapat kesempatan untuk  studi  lanjut perwira dengan beasiswa. Dia siap untuk berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan Pendidikan tepatnya tgl 20 oktober 2021. Ternyata hari keberangkatan studi lanjut bersamaan dengan  kelahiran anak pertamanya.  Sempat dilema. Tapi sang istri menyarankan supaya  berangkat saja. Istri a da orang tua kandung yang siap mendampingi.  Okelah. Akhirnya aman terkendali.

Seperti biasa kepalanya kumat. Ini pak Mone kelihatan lebih tersiksa. Dia sampai keringat besar-besar dan badan lemah tak berdaya. Dia bahkan merintih menahan sakitnya yang terlihat sangat menyiksa. Istri hanya bisa menangis dan berdoa, berdoa dan terus berdoa.  Sampai saat doanya ditutup. Amin. Pak Mone seolah ada yang mengangkatnya ke atas langsung terbanting ke tempat tidur lagi hingga putus nafasnya. Saya hanya lihat postingannya di Medsos kalau dia meninggal, tapi tak pernah dengar kronologi hinggs beliu meninggal.

Oh Tuhan….  Sakit apa ini. Saya dengar ceritanya terlalu sedih. Cobaan keluarga baru ini terlalu berat. Saat  si bayi mungil yang begitu diharapkan lahir ke dunia, ternyata  sang ayah  harus meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Kini istri hanya bisa meratap, airmata sudah tak tersisa.  Si kecil harus menerima jadi anak yatim. Selamat jalan  pak Mone. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.

 

Benar adanya, Kita boleh merencanakan tapi semuanya  Tuhan yang menentukan. Kita tak bisa menolah takdirNya. Hidup itu sementara. Harta dan anak juga hanya titipan.  Dari cerita Omnya Ronal kita bisa mengambil hikmahnya. Hiduplah dengan pasrah padaNya. Iklaskan yang terjadi dan bisakan untuk senyum. Semoga.

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 44

#Rumah literasi PMA

#LedwinaEtiWuryani 

#Selasa, 21Juni2022

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...