Jumat, 01 Juli 2022

A56. CINTA YANG MEMBEKAS

 


Di gedung Saba Graha, saat aku menunggu seminar, hujan turun sangat lebat. Dua puluh menit lagi acara baru dimulai. Daripada  bengong didalam aku keluar teras samping kanan. Kulihat seorang gadis turun dari taksi, spontan kusaut payung yang bersandar di tiang sudut gedung. Kuberlari bermaksud menjemput gadis itu agar tak basah. Aku berlari  kecil langsung  kuberikan payung dan aku langsung balik. “Eh mass!, kita sama-sama saja!!, teriak  gadis itu. Akhirnya akupun setuju dan kami  berdua menuju gedung dengan satu payung. Kupegang pundak gadis itu agar tak basah.  Sampai di teras gadis itu mengeluarkan sapu tangan warna biru muda untuk melap mukaku yang basah karena guyuran hujan. Saat itu kami berkenalan. “Yoga! Yoga Surya Pradana, “ aku mengulurkan tanganku. “  Dewi. Dia mengulurkan tangannya. Ternyata dia satu kampus  Sanata Dharma, Cuma aku  fak. Ekonomi dan Dewi ambil Fisip. Lokasi kampusnya berbeda  Dewi di jalan Gejayan.

Aku dapat undangan  kegiatan mahasiswa aktivis penentang ordebaru. Aku datang. Saat  itu pelaksanaan    berlokasi  bawah tanah.  Peserta yang hadir lebih dari seratus orang mahasiswa. Di Situ hadir pula beberapa dosen senior. Pak Andi Arif Rahman dan Romo Wiryono. Beliau seorang  dosen sekaligus budayawan. Aku terperanjat,  ternyata yang jadi moderator adalah Dewi. Aku ingat betul , 5 hari yang lalu menerjang hutan  bersama diriku. Ouww!!!, ternyata bernama lengkap Rr Gustiari Dewi Astiwi. Dia adalah promotor dan harimau panggung, Seorang aktivis penentang orde baru.

Bubaran diskusi, aku mendekat. Kubisikan kata persis yang  seperti saat di Saba Graha. “Kita searah. Aku bisa mengantarmu lagi”, Dewi menoleh.”Yoga…!”. dia sedikit berseru.  Tak segan dia menggandeng tanganku menuju tempat duduk para dosen senior. Dia memperkenalkan aku pada mereka. “Bapak-bapak ini Yoga, temanku”. Para dosen menyalamiku dengan ramah. Aku jadi merasa tak asing pada mereka.

Hari terus berganti, sejak saya bersama Dewi hari-hari terasa berbeda. Ada yang terasa  indah. Akupun berusaha menemui dia walau hanya sekedar ngobrol atau makan nasi goreng dipinggir jalan.

“Orangtuamu tidak kuatir kamu jadi aktivis yang selalu turun ke jalan?” kutanya padanya.

“Awalnya sih kuatir juga, tapi lama kelamaan tidak. Ayah justru kadang memberikan bantuan logistik untuk kegiatan ini. Hanya saja Dewi dan para aktivis terlalu berani menggelar demontrasi, kadang pada saat yang kurang ‘pas’. Pemerintah ordebaru masih terlalu kuat. Penyerbuan  markas partai politik di Jakarta menjadi titik balik. Saat di Jakarta memanas, di Jogya  jadi kena dampaknya ikut memanas. Saat ini ada penyisiran para aktivis. Sebagian diculik, sebagian diciduk bahkan ada juga penembakan misterius. Dewi ada dalam daftar itu. Aku bukan simpatisan, jadi aku aman. Aku jadi sangat prihatin akan nasib Dewi. Aku harus bisa menyelamatkan dia.

Pak Arif, wakil rektorku memberikan surat pengantar untuk kami 3 minggu menghilang dari Kampus. Kami tinggal di kawasan wisata Ungaran. Tempat yang sunyi dan sepi jauh dari keramaian. Tinggallah kami berdua di sebuah paviliun sederhana. Aku keluar paviliun hanya kalau belanja bahan makanan. Kegiatan yang lain tak ada. Berhari-hari tinggal bersama. Kami berdua adalah manusia normal. Sudah dewasa dan saling membutuhkan. Terjadilah yang harusnya belum boleh terjadi.

Jaringan para aktivis demonstrasi penentang orde baru tetap bergerak. Dewi harus diamankan. Surat pengantar untuk membawa Dewi ke luar negeri sudah siap. Aku mengantar Dewi ke bandara, pesawat menuju menuju ke Den Haag Belanda. Para aktivis yang lain yang melanjutkan mengatur operasional kepergian Dewi. Akhirnya kini aku sendiri lagi. Jarak jauh antara Indonesia dan Belanda. Telekomunikasi masih sangat terbatas. Kami bersurat. Hanya  5 kali surat itu berbalas…. Sisanya setumpuk suratku kembali lagi kepadaku. Mungkin Dewi sudah pindah entah kemana, aku benar-benar hilang kontak. Semua sudah kabur. Semua sudah hilang dan tak berbekas.

Ada rindu yang menyiksa.  Ada mimpi yang kandas. Hanya bayangan hampa yang ada di hati. Benar adanya, ini yang namanya cinta bisa membuat orang bisa gila. Tuhan ….. apakah aku bisa punya asa.  Aku sudah terlanjur cinta. Apakah aku bisa merajut cinta orang yang berbeda? Ahh!!  Bayangan itu berusaha kutepis, kualihkan ke hal yang lebih bermanfaat. Belajar, terus belajar untuk masa depan yang lebih baik.

Hari terus berganti, kujalani aktivitas dan kesibukanku kini.  Bersyukur setelah selesai kuliah dan wisuda aku  lulus seleksi  sebagai dosen filsafat dan Theologi sesuai dengan latar belakang jurusanku. Seiring berjalannya waktu hingga aku bisa meanjutkanS2 dan S3 beasiswa dari pihak kampus. 

Telpon berdering. “Benar ini Profesor Yoga Surya Pradana?!”,  suara seorang gadis nyaring renyah.

“Benar. Siapa ini ya!?? “ aku bertanya balik”.

“Henzie Van Leander, panggil saja Hen dari Den Haag.

“Den Haag?, Belanda??” kembali aku bertanya.

“Iya, ya benar Den Haag Belanda!. Maaf saya menemukan nama profesor dari jejaring sosial. Saya mendapat pesan dari mama untuk menelpon prof!.”

“Mama?? Mama siapa?? Aku bertanya dengan penuh penasaran.

“Dewi, nama lengkapnya ”Rr. Gustiari Dewi Astiwi!”

Jantungku berdegup kencang. Aku tak mampu bersuara.

Ohh!! Dewi, dua puluhan tiga tahun yang lalu aku tak pernah bertemu. Hari ini anaknya menelponku. Karena aku bengong dan tak bersuara, Henzie melanjutkan menelepon.

“Mama memohon, kiranya prof segera pergi ke Den Haag. Mama sekarang dalam keadaan kritis, mama kena cancer rahim stadium 4. Mama, koma dan mama menunggu prof.”

Empat hari pengurusan surat-surat, aku langsung terbang ke Den Haag. Perjalanan sangat panjang, lama dan melelahkan. Tibalah di bandara Den Haag. Seorang laki-laki dan seorang gadis menjemputku di bandara. “Alderts van leader”, kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya. Aku menyambut uluran tangannya dan menyebutkan namaku.

Aku berjalan mengikuti mereka. Aldert menunjukkan kamar 312 dan mempersilahkan aku masuk.  Sang ayah dan gadis itu menunggu diluar. Kubuka pintu perlahan. Seorang wanita yang masih menyisakan wajah ayu  tertidur dengan penuh tusukan selang dibadannya. Kudekati dirinya. Kuelus rambutnya yang panjang tergerai. Dewi masih terpejam. Kuusap tangannya, kugenggam erat jemarinya dengan  lembut.  Hangat menjalar  dari jari tangannya. Kutatap erat wajahnya. Sekitar 15 menit aku menunggu. Akhirnya Dewi  membuka mata perlahan. Sorot mata penuh cinta menghujam hati dan menembus jantungku. Aku terdiam tak mampu bersuara. Dewipun tak mampu berucap. Butiran-butiran airmata menetes deras dari mata Dewi. Kurogoh sapu tangan biru pemberian Dewi saat itu. Dua puluh tiga tahun lalu masih kusimpan sapu tangan itu. Kuingat persis waktu itu untuk mengeringkan rambutku saat hujan deras mengguyur tubuhku. Hari ini  untuk menghapus airmatanya.

“Hen dan Alderts?” akhirnya Dewi berucap dan bertanya.

“Mereka menunggu diluar  dan Aldert yang menyuruhku untuk menemuimu”, masih kutatap Dewi.

“Aldert  adalah suamiku. Dia menikahi aku saat Henzie berusia  1 tahun, kami satu kantor di Yayasan WHI. Aldert suamiku adalah seorang malaikat”, Dewi kemudian menghentikan omongannya, aku menyimak.

“Henzie berumur dua puluh dua tahun sekarang. Henzie…….” Dewi tak mampu melanjutkan omongannya. Kembali airmata deras membasahi pipinya. Kuusap dengan sapu tangan yang sama. “Kamu bisa melanjutkan masa depanmu. Kalau aku mati biarkan aku tetap disini bersama Alderts suamiku.  Henzie…… adalah anakmu, kata Dewi.

Aku terperanjat. Aku belum bisa memahami dengan logikaku.

“Henzie belum tahu siapa ayahnya. Sambutlah dia. Peluklah dia. Perlahan kulepaskan genggaman tangan Dewi. Aku membalikkan badanku dan keluar dari kamar. Jadi kuingat saat itu……Saat di Paviliun Ungaran. Kami tinggal berdua selama 3 minggu.  Aku dan Dewi manusia yang normal. Sudah dewasa dan matang. Saling membutuhkan. Terjadilah yang seharusnya  belum boleh terjadi. Akhirnya….. kini aku tahu Henzie itu anakku. Wajahnyapun  kutatap, kupeluk erat. Dia bengong dan tak tahu maksudnya, kok ada seorang laki-laki tiba-tiba memeluknya. Aku tak mampu berbicara.

 

#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 56
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Jumat,2Juli2022

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...