Di
gedung Saba Graha, saat aku menunggu seminar, hujan turun sangat lebat. Dua
puluh menit lagi acara baru dimulai. Daripada
bengong didalam aku keluar teras samping kanan. Kulihat seorang gadis
turun dari taksi, spontan kusaut payung yang bersandar di tiang sudut gedung.
Kuberlari bermaksud menjemput gadis itu agar tak basah. Aku berlari kecil langsung kuberikan payung dan aku langsung balik. “Eh
mass!, kita sama-sama saja!!, teriak gadis
itu. Akhirnya akupun setuju dan kami
berdua menuju gedung dengan satu payung. Kupegang pundak gadis itu agar
tak basah. Sampai di teras gadis itu
mengeluarkan sapu tangan warna biru muda untuk melap mukaku yang basah karena
guyuran hujan. Saat itu kami berkenalan. “Yoga! Yoga Surya Pradana, “ aku
mengulurkan tanganku. “ Dewi. Dia
mengulurkan tangannya. Ternyata dia satu kampus
Sanata Dharma, Cuma aku fak. Ekonomi
dan Dewi ambil Fisip. Lokasi kampusnya berbeda Dewi di jalan Gejayan.
Aku dapat undangan kegiatan mahasiswa aktivis penentang
ordebaru. Aku datang. Saat itu
pelaksanaan berlokasi bawah tanah. Peserta yang hadir lebih dari seratus orang
mahasiswa. Di Situ hadir pula beberapa dosen senior. Pak Andi Arif Rahman dan
Romo Wiryono. Beliau seorang dosen
sekaligus budayawan. Aku terperanjat,
ternyata yang jadi moderator adalah Dewi. Aku ingat betul , 5 hari yang
lalu menerjang hutan bersama diriku.
Ouww!!!, ternyata bernama lengkap Rr Gustiari Dewi Astiwi. Dia adalah promotor
dan harimau panggung, Seorang aktivis penentang orde baru.
Bubaran diskusi, aku mendekat. Kubisikan
kata persis yang seperti saat di Saba
Graha. “Kita searah. Aku bisa mengantarmu lagi”, Dewi menoleh.”Yoga…!”. dia
sedikit berseru. Tak segan dia
menggandeng tanganku menuju tempat duduk para dosen senior. Dia memperkenalkan
aku pada mereka. “Bapak-bapak ini Yoga, temanku”. Para dosen menyalamiku dengan
ramah. Aku jadi merasa tak asing pada mereka.
Hari terus berganti, sejak saya bersama Dewi
hari-hari terasa berbeda. Ada yang terasa indah. Akupun berusaha menemui dia walau hanya
sekedar ngobrol atau makan nasi goreng dipinggir jalan.
“Orangtuamu
tidak kuatir kamu jadi aktivis yang selalu turun ke jalan?” kutanya padanya.
“Awalnya
sih kuatir juga, tapi lama kelamaan tidak. Ayah justru kadang memberikan
bantuan logistik untuk kegiatan ini. Hanya saja Dewi dan para aktivis terlalu
berani menggelar demontrasi, kadang pada saat yang kurang ‘pas’. Pemerintah
ordebaru masih terlalu kuat. Penyerbuan
markas partai politik di Jakarta menjadi titik balik. Saat di Jakarta
memanas, di Jogya jadi kena dampaknya
ikut memanas. Saat ini ada penyisiran para aktivis. Sebagian diculik, sebagian
diciduk bahkan ada juga penembakan misterius. Dewi ada dalam daftar itu. Aku
bukan simpatisan, jadi aku aman. Aku jadi sangat prihatin akan nasib Dewi. Aku
harus bisa menyelamatkan dia.
Pak
Arif, wakil rektorku memberikan surat pengantar untuk kami 3 minggu menghilang
dari Kampus. Kami tinggal di kawasan wisata Ungaran. Tempat yang sunyi dan sepi
jauh dari keramaian. Tinggallah kami berdua di sebuah paviliun sederhana. Aku
keluar paviliun hanya kalau belanja bahan makanan. Kegiatan yang lain tak ada. Berhari-hari
tinggal bersama. Kami berdua adalah manusia normal. Sudah dewasa dan saling
membutuhkan. Terjadilah yang harusnya belum boleh terjadi.
Jaringan
para aktivis demonstrasi penentang orde baru tetap bergerak. Dewi harus
diamankan. Surat pengantar untuk membawa Dewi ke luar negeri sudah siap. Aku
mengantar Dewi ke bandara, pesawat menuju menuju ke Den Haag Belanda. Para
aktivis yang lain yang melanjutkan mengatur operasional kepergian Dewi.
Akhirnya kini aku sendiri lagi. Jarak jauh antara Indonesia dan Belanda.
Telekomunikasi masih sangat terbatas. Kami bersurat. Hanya 5 kali surat itu berbalas…. Sisanya setumpuk
suratku kembali lagi kepadaku. Mungkin Dewi sudah pindah entah kemana, aku
benar-benar hilang kontak. Semua sudah kabur. Semua sudah hilang dan tak
berbekas.
Ada
rindu yang menyiksa. Ada mimpi yang kandas.
Hanya bayangan hampa yang ada di hati. Benar adanya, ini yang namanya cinta
bisa membuat orang bisa gila. Tuhan ….. apakah aku bisa punya asa. Aku sudah terlanjur cinta. Apakah aku bisa merajut
cinta orang yang berbeda? Ahh!! Bayangan
itu berusaha kutepis, kualihkan ke hal yang lebih bermanfaat. Belajar, terus
belajar untuk masa depan yang lebih baik.
Hari terus berganti, kujalani aktivitas dan kesibukanku kini. Bersyukur setelah selesai kuliah dan wisuda aku lulus seleksi sebagai dosen filsafat dan Theologi sesuai dengan latar belakang jurusanku. Seiring berjalannya waktu hingga aku bisa meanjutkanS2 dan S3 beasiswa dari pihak kampus.
Telpon
berdering. “Benar ini Profesor Yoga Surya Pradana?!”, suara seorang gadis nyaring renyah.
“Benar.
Siapa ini ya!?? “ aku bertanya balik”.
“Henzie
Van Leander, panggil saja Hen dari Den Haag.
“Den
Haag?, Belanda??” kembali aku bertanya.
“Iya,
ya benar Den Haag Belanda!. Maaf saya menemukan nama profesor dari jejaring
sosial. Saya mendapat pesan dari mama untuk menelpon prof!.”
“Mama??
Mama siapa?? Aku bertanya dengan penuh penasaran.
“Dewi,
nama lengkapnya ”Rr. Gustiari Dewi Astiwi!”
Jantungku
berdegup kencang. Aku tak mampu bersuara.
Ohh!!
Dewi, dua puluhan tiga tahun yang lalu aku tak pernah bertemu. Hari ini anaknya
menelponku. Karena aku bengong dan tak bersuara, Henzie melanjutkan menelepon.
“Mama
memohon, kiranya prof segera pergi ke Den Haag. Mama sekarang dalam keadaan
kritis, mama kena cancer rahim stadium 4. Mama, koma dan mama menunggu prof.”
Empat
hari pengurusan surat-surat, aku langsung terbang ke Den Haag. Perjalanan
sangat panjang, lama dan melelahkan. Tibalah di bandara Den Haag. Seorang laki-laki
dan seorang gadis menjemputku di bandara. “Alderts van leader”, kata laki-laki
itu sambil mengulurkan tangannya. Aku menyambut uluran tangannya dan
menyebutkan namaku.
Aku berjalan mengikuti mereka. Aldert
menunjukkan kamar 312 dan mempersilahkan aku masuk. Sang ayah dan gadis itu menunggu diluar.
Kubuka pintu perlahan. Seorang wanita yang masih menyisakan wajah ayu tertidur dengan penuh tusukan selang
dibadannya. Kudekati dirinya. Kuelus rambutnya yang panjang tergerai. Dewi
masih terpejam. Kuusap tangannya, kugenggam erat jemarinya dengan lembut.
Hangat menjalar dari jari
tangannya. Kutatap erat wajahnya. Sekitar 15 menit aku menunggu. Akhirnya Dewi membuka mata perlahan. Sorot mata penuh cinta
menghujam hati dan menembus jantungku. Aku terdiam tak mampu bersuara. Dewipun
tak mampu berucap. Butiran-butiran airmata menetes deras dari mata Dewi.
Kurogoh sapu tangan biru pemberian Dewi saat itu. Dua puluh tiga tahun lalu
masih kusimpan sapu tangan itu. Kuingat persis waktu itu untuk mengeringkan
rambutku saat hujan deras mengguyur tubuhku. Hari ini untuk menghapus airmatanya.
“Hen
dan Alderts?” akhirnya Dewi berucap dan bertanya.
“Mereka
menunggu diluar dan Aldert yang menyuruhku
untuk menemuimu”, masih kutatap Dewi.
“Aldert
adalah suamiku. Dia menikahi aku saat
Henzie berusia 1 tahun, kami satu kantor
di Yayasan WHI. Aldert suamiku adalah seorang malaikat”, Dewi kemudian
menghentikan omongannya, aku menyimak.
“Henzie
berumur dua puluh dua tahun sekarang. Henzie…….” Dewi tak mampu melanjutkan
omongannya. Kembali airmata deras membasahi pipinya. Kuusap dengan sapu tangan
yang sama. “Kamu bisa melanjutkan masa depanmu. Kalau aku mati biarkan aku
tetap disini bersama Alderts suamiku.
Henzie…… adalah anakmu, kata Dewi.
Aku
terperanjat. Aku belum bisa memahami dengan logikaku.
“Henzie
belum tahu siapa ayahnya. Sambutlah dia. Peluklah dia. Perlahan kulepaskan
genggaman tangan Dewi. Aku membalikkan badanku dan keluar dari kamar. Jadi
kuingat saat itu……Saat di Paviliun Ungaran. Kami tinggal berdua selama 3
minggu. Aku dan Dewi manusia yang normal.
Sudah dewasa dan matang. Saling membutuhkan. Terjadilah yang seharusnya belum boleh terjadi. Akhirnya….. kini aku
tahu Henzie itu anakku. Wajahnyapun
kutatap, kupeluk erat. Dia bengong dan tak tahu maksudnya, kok ada seorang
laki-laki tiba-tiba memeluknya. Aku tak mampu berbicara.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 56
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Jumat,2Juli2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar