Sarti senyum merekah menatap indahnya taman di depan teras rumahnya.
Taman itu dibuat oleh Andi suaminya tercinta
sebelum meninggalkannya untuk jadi TKI di Arab Saudi. Taman itu
adalah wujud cinta suami kepada istrinya.
Mereka adalah pasangan suami istri baru. Jika merindukan Andi, Sarti kadang bisa
berjam-jam duduk di taman itu sambil
mengingat kenangan – kenangan indah saat bersama Andi.
Masih dalam lamunan dan bayangan
wajah Andi yang mempesonanya. Tiba-tiba Ambu tetangga sebelah menghampirinya.
“Maaf buk, ada kiriman dari pak pos tadi”, kata Ambu. Setelah memberikan surat
itu, iapun kemudian berlalu. Sarti membaca
sang pengirim surat bersampul coklat itu ternyata Andi suaminya yang
dirindukan terus menerus. Berdebar-debar hati saat membuka surat itu. Tak sabar
ia ingin tahu isinya. Setelah tahu isinya. Seketika senyum bahagia berubah menjadi duka cita. Wajahnya yang
cantik merona berubah jadi pucat pasi.
Ternyata itu adalah surat gugatan cerai dari Andi suaminya. Orang yang
selama ini dicintai dan dirindukan menusuknya dari belakang. “Andi jahat sekali kau ee…. “ kata Sarti dalam
hatinya. Airmata menetes deras membasahi pipinya. Sarti tak kuasa menahan
kesedihan yang teramat sangat. Kini buah kasih yang berada diperutnya sudah jalan 3 bulan. Ia harus menanggung
sendiri. Betapa malangnya engkau Sarti. Semoga kuat menghadapi kenyataan hidup.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge-62
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEtiWuryani
#Waingapu8Juli2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar