Rabu, 12 Januari 2022

YATIM PIATU

 


Oleh : Ledwina Eti

 

Di desa Kata’bi  adalah sebuah Panti Asuhan. Anak-anaknya manis-manis. Mereka taat beribadah dan rajin bekerja.  Untuk mencukupkan hidup, mereka  berkebun berternak.  Tak pernah ada rasa lelah di raut  wajahnya. Ambu kudu salah satu  penghuni  di Panti terkesan pendiam.  Didikan Panti asuhan, dalam kamus  hidupnya, hanya ada kata  untuk ‘kebaikan’.  Segala  sesuatu yang  bertentangan  dengan imannya dianggap salah. Cara  berbicaranya datar, santun dan penuh kebenaran.  Ia tidak suka berbohong apalagi menyangkal iman.

Dengan tabiat yang sangat bagus ini akhirnya dia selalu  diminta menjadi pemimpin bagi sahabat-sahabatnya. Dia selalu jadi panutan. Dia  menjadi teladan  bagi seuruh anggota panti asuhan. Kedewasaaan berpikir, kematangan imannya  membuat orang  terkagum-kagum padanya.  Kudu  seolah  menjadi orang tua bagi mereka  penghuni panti.  Dia selalu menasehati dengan keteduhan hati.

Saat korona melanda gadis manis itu terpapar.  Karena ia mempunyai  riwayat sakit asma dan Tuberculosis iapun tak tertolong akibat terserang ganasnya corona.  Kematian memanggilnya. Betapa  panti asuhan merasakan duka yang sangat mendalam.  Mereka bersedih.  Panti terasa  tak ada kehidupan lagi. Pandemi mewabah memang sangat  luar bisa.  80 %  penghuni panti terpapar. Selang seminggu  Rambu  Kahi  teman dekat  Kudu pun tak bisa terselamatkan. Kahi menyusulnya meninggalkan dunia nyata.Semasa  hidup Kahi orangnya rajin bekerja, pendiam tak neko-neko. Dia rajin berdoa dan berpuasa. Dia tinggal di Panti karena sebatang kara,   dia salah satu korban kecelakaan tungggal yang menimpa seluruh keluarganya dan hanya dia yang selamat. Orang tua dan adiknya  meninggal dalam kecelakaan itu.  Kini  Kahi menyusul dengan cara yang berbeda. Sampai di Sorga dia bertanya kepada Sang penjaga Sorga. “Dimana  kudu berada? “, tanyanya.  Kahi menanyakan keberadaan kudu sahabat karibnya saat di panti. ‘Berbincang-bincang lama dengan Malaikat penjaga Sorga, katanya  dia ada di neraka.  Ah!! Betapa kagetnya dia. Yang benar saja!! Rambu Kudu mengerutkan dahi  tak percaya.

 

 

Waingapu, 26 November 2021

 

 

 

 

PERAMPOK

Oleh : Ledwina Eti

 

 

Umbu Maramba adalah salah satu orang terkaya di kota Kambatamapambuhang. Kini dia  sudah berusia 92 tahun. Ketiga anaknya   sudah mapan.  Semua anaknya  sudah berhasil dan tajir mlintir. Sebagai orang kampung  di Sumba mereka punya ratusan hewan, sapi, kerbau dan kuda. Padang Sabana nan luas yang menjadi saksi mata. Umbu mendidik anak dengan sangat baik.  Iman mereka kuat, keluarga mereka  disegani, selalu dipuji dan dihormati.  Begitu terlihat  ideal keluarga mereka dimata para tetangga dan kerabatnya. Seolah mereka  hidup  dalam ‘sorganya’ dunia.  Walau  keluarga kaya mereka tak pernah  alpa berdoa dan bersedekah  untuk orang yang miskin papa.

Tetapi, kenyataannya orang baik tidak selamanya disenangi semua orang. Ada saja orang yang  iri, dengki, sirik dan berpikiran jahat.  Pada suatu malam  perampok datang  kerumah Umbu Maramba.  Mereka merampok serta menghabiskan semua harta benda yang ada dalam rumah panggung mereka. Bukan hanya itu, dengan sadisnya  mereka memenggal kepala  penghuni rumah.   Umbu Maramba dan istri  serta Ndeha sang sopir   tak tertolong, mereka  menghembuskan nafas terakhirnya. Tiga orang  lainnya luka sangat  parah.

Saat kejadian satu orang dalam rumah  yang selamat  tak kuasa melarikan diri. Dia menjadi  saksi mata bagaimana “Sorga” miliknya  dihancurkan.  Rumah dibuat porak poranda oleh penjahat. Suasana begitu menyayat hati dan ngeri!. Dengan kesedihan yang mendalam Don yang luka, tak tega menyaksikan  tuannya bersimbah darah dan tak bernyawa. Dia meradang!. Dia penuh murka!! Dia mengamuk sejadi jadinya. Bagai orang kesurupan ia melampiaskan emosinya.  Dikebasnya  semua perampok  dengan parang yang ia bawa. Semua  perampok dibuatnya tak berdaya melawan dia. Satu persatu perampok mati. ......tiba-tiba!!  buk!!  Dia terjatuh karena terkena balasan tendangan sang perampok.  Karena  terasa sakit  dia sadar, dia terjatuh di bawah tempat tidurnya.. Ehh... ternyata  mimpi.  “sialan!!”.

Waingapu, 26 November 2021

 

 

 

 

 

 

HIDUP UNTUK TUHAN

Oleh : Ledwina Eti

 

 

Di Kota Salura  adalah kota kecil paling ujung pulau Sumba. Disitulah tempat pembantaian orang  yang dirasa  tak sepaham dengan  penguasa saat itu.  Ada 4 orang  perempuan penghuni penjara.  Rambu Hunggu  bersama tiga temannya.  Empat remaja ini  diperlakukan dengan sangat baik.  Kamar penjara mereka terpisah  dari para  tahanan lain.  Mereka  dipaksa melayani napsu bejat dari para penjaga mereka.

Mereka berjanji akan menjamin keamanan,  fasilitas dan  makan minumnya jika dia mau melayani dan menjaga kerahasiaan.  “Asalkan  mau tidur bersamanya,  akan selalu dilindungi” , Janji sang Sipir penjara dan kru. Tapi  Rambu Hunggu selalu menolak ajakan itu. Dalam tahanan  Rambu tak pernah lepas  mendaraskan doa.  Dia selalu memberikan nasehat-nasehat iman untuk ketiga temannya.  Sampai suatu saat  keempat  gadis cantik itu  serentak  menyatakan siap mempertahan kesuciannya walau nyawa taruhannya.  Mereka sepakat  tak memikirkan lagi masa depannya.  Mereka berprinsip jika  mati itulah saatnya bertemu dengan Tuhan.  Bila sorga dunia  sudah hancur, mereka akan merasakan surga yang abadi.

Seiring berjalannya waktu keempat gadis itu kemudian dikirim ke Nggongi.  Dalam hati ada rasa senang sebab bila nanti dibunuh mereka sudah dekat dengan kampung halamannya.  Tawaran  hidup mewah, keamanan terjamin, menjadi istri pejabat tak mereka gubris. “Kami telah menikah dengan Tuhan”, kata  mereka.  Karena merasa tak dihargai niat baiknya oleh keempat gadis itu akhirnya mereka ditampar, dipukuli, disiksa hingga babak belur.  Dia bersikeukeh  untuk mempertahankan kesuciannya. Hari-hari hanya diisi dengan derita, ketakutan dan tangisan. Hanya doa selalu dipanjatkan. Tuhan pasti akan memberikan yang ‘terbaik’. Ternyata berkat keikhlasan dan kesabaran doanya membuahkan hasil. Kepala lapas lama pensiun, digantilah oleh kepala yang baru yang baik hati, adil dan bijaksana. Akhirnya keempatnya dikeluarkan dari penjara. Kini mereka dibebaskan. Mereka melanjutkan misinya untuk hidup membiara.

 

Waingapu, 26 November 2021

                                                                                                                

 

SANG MEMPELAI WANITA

Oleh : Ledwina Eti

 

Pak Doni akhir-akhir ini  terlihat cerita. Kulihat dia senyum-senyum dan begitu bahagia. Ada yang mencurigakan saat kulihat. “Jangan-jangan dia lagi jatuh cinta? “, batinku. Sebagai teman dekat  aku biasa kerjasama saat buat perangkat pembelajaran atau saat mengisi PPK Online, Kami biasa curhat ngobrol sana-sini. Sampailah  pembicaraan yang membuatku penasaran. Ternyata benar dia lagi terkena panah asmara. Terjangkit sakit Malarindu tropikangen, Pantas saja.

Siapakah  nona  yang beruntung itu? Aslinya  dari kota Kebumen, mereka  berkenalan lewat FB sejak setahun yang lalu. Dari  situ benih-benih cinta  mulai tumbuh. Rasa merindu semakin menggebu. Ternyata antara NTT – Jawa bukan kendala menjalin cinta antara dua anak manusia. Pak Doni sudah kepala 4, sudah tak muda lagi. Dia sudah layak dan sepantasnya punya penamping. Nona yang mengaku namanya Sarah usianya 34 tahun. Cocoklah. Mengingat  usinya sudah sangat matang dan seiman dan hati sudah menyatu akhirnya mereka sepakat menikah.

Pak Doni seorang PNS, golongan III/d  sudah punya rumah pula. Nona Sarah adalah guru SD baru-baru lulus P3K. Untuk persiapan nikah sudah kelar. Hari ‘H’ sudah ditentukan. Segala sesuatunya untuk menyambut hari bahagia sudah beres. Surat cuti sudah dilayangkan. Semua berjalan tanpa kendala. Alhamdullilah!! Bunyi  musik lantunan syahdupun berkumandang saat akan dipertemukan antara mempelai pria dan mempelai wanita. Suasana bahagia, tegang, nervous campur jadi satu. Mereka masing-masing didampingi oleh keluarganya. Seolah tak percaya yang dilihat oleh pak Doni. Sang mempelai wanita terus tunduk. Mereka saling membuang sirih, yang artinya ‘kesusu pingin weruh ( ingin segera bertemu). Setelah itu oleh sang perias mengarahkan  mempelai  pria menginjak telur dan kakinya dibasuh dan dilap oleh mempelai wanita. Betapa kagetnya pak Doni ketika melihat bahwa sang istri bukannya Nona Sarah yang dipacari selama ini.  Dia adalah Sarti  adiknya Sarah. Pantas kok gemuk banget, batin pak Doni. Mau bagaimana lagi. Seluruh tamu sudah menjadi  saksi pernikahan mereka. Ya… mau tak mau harus mau. Selamat menempuh hidup baru Pak Doni dan Ibu. Semoga rukun dan bahagia selalu.

                                                                                               Waingapu, 2 Desember 2021

                                                                                                                

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGABDIAN GURU

 


Oleh : Ledwina Eti

 

Orang hebat bisa melahirkan beberapa karya bermutu, tapi guru yang bermutu dapat melahirkan ribun orang-orang hebat.  (juproni.com)

 

              Jika cerita tentang guru tak pernah ada habisnya. Selalu menarik dan selalau seru. Yang jelas  guru masa lalu berbeda  dengan guru kini. Guru sekarang  biasa kita sebut guru di zaman now atau guru milenial. Setiap guru pasti punya tantangan  tersendiri dalam mengajar.  Tentunya untuk guru  jaman sekarang , setiap guru  wajib hukumnya,  bisa menaklukkan teknologi terbaru.

 

Guru tidak cukup hanya cakap dalam materi. Guru harus memiliki  tips dalam mengajar. Bagaimana guru bisa  menciptakan pembelajaran agar menyenangkan? Bagaimana guru bisa  membahagiakan siswa dalam mengajar? Atau bagaimana siswa bisa ketagihan  belajar  untuk materi yang diajarkan oleh seorang guru? Bagaimana  cara guru menyampaikan  pembelajaran  supaya anak tidak bosan?

Masalah-masalah diatas tentunya  harus kira realisasikan. Sebagai guru yang baik kita  punya tanggung jawab kepada peserta didik kita. Ah!  Ternyata banyak  juga ya  tugas guru. Inilah tantangan bagi kita sebagai ‘seorang guru”. Sosok Guru sudah   ditamankan  dalam setiap  insan. Guru: digugu dan di tiru. Guru adalah teladan. 

Bapak saya adalah seorang guru. Beliau adalah sosok yang selalau  saya kagumi. Setiap  hari  pergi mengajar.  Dengan  motor tuanya L2S yang selalu menemani. Dia paling setia untuk tugas-tugas pengabdiannya. Saat itu untuk mencukupkan  kehidupan keluarga, bapak harus mengajar di beberapa tempat. Setiap pagi harus bawa bekal makan karena bapak pulang sore hari setiap hari.

Saat itu “sang Guru” masih sering dilihat dengan sebelah mata. Jaman Umar bakri. Guru tua, naik sepeda ontel, hidup sangat sederhana karena gaji yang diterima tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Itulah guru saat itu. Tapi jasa guru tak  diragukan. Jasanya terlalu besar karena gurulah yang bisa mengantarkan anak-anak untuk meraih cita-citanya. Maka saat itu guru  dijuluki ‘pahlawan tanpa tanda jasa’.

Saya masih ingat lagu guru yang selalu didengungkan diradio-radio dan di TV saat itu , bunyinya sebagai berikut:

Kita jadi pandai karena pak guru.

Kita jadi pintar karena bu guru,  

Gurulah pelita, penerang dalam gulita

Jasamu tiada tara.

Hingga kini saya sudah jadi guru 30 tahun lebih masih ingat lagu itu.  Bapakku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Kebetulan bapak sendiri yang mau sekolah waktu itu.  Kakaknya tidak mau sekolah. Mereka  suka dirumah saja membantu orang tua di sawah. Kakek dan nenekku adalah petani dan kerja sawah.  Berkat  kerja keras dan tekun belajar maka bapak hingga lulus kuliah, dan akhirnya jadi guru.

 

Dengan sifat yang bapak miliki: dewasa dan suka mengalah,  Kakek dan nenek saya bapak   lebih disayang dari pada kakak-kakaknya. Setelah kakek saya meninggal warisan tanah seharusnya dibagi 3, karena  ketiga anak kakek adalah laki-laki. Tapi kenyataannya tidak begitu. Bapak menerima  seberapa saja yang diberikan kakek.

 

Hal itulah yang membuat saya selalu mengagumi Bapak. Saya adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Banyak nasehat-nasehat yang selalu kami dengan dari bapak yang seorang ‘guru’.  Indah dan menyejukkan. Bapak selalu mengalah dalam segala hal.  Dengan begitu akhirnya saya begitu tertarik  menjadi guru.

 

 Hanya saya saja yang jadi guru. Adik-adik saya semua  Sarjana teknik.  Saya ingin jadi guru karena  guru pasti  akan selalu dibutuhkan. Mudah cari kerja dan pasti laku di sekolah untuk mengajar.  Guru akan dihormati dan bisa melatih, mendidik, mengajar  pada peserta didik. Seolah ada kebanggaan tersendiri di sanubari, di hati yang tak bisa diungkapkan. Mudah dirasakan tapi susah dikatakan. Begitulah. Bangga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk ikut mencerdaskan anak bangsa.

 

Benar saja, setelah lulus kuliah saya langsung bisa mendapatkan SK CPNS dan ditempatkan di daerah konflik Timor-Timur.  Saat itu, tahun 1990 Tim tim masih ‘agak’ genting. Tapi namanya abdi negara, harus rela ditempatkan dimana saja, di seluruh pelosok Nusantara. SK pertama kami mengajar di SMA Negeri Maliana Bobonaro . Sebuah kota kecil di Tim Tim. Saat itu baru satu-satunya SMA di kabupaten itu. Hampir semua adalah guru pendatang dari seluruh  Indonesia.  Ada yang dari batak, sulawesi, kalimantan, Jawa dan lain-lain. Yang  jelas seru deh saat itu  bisa berteman dan akrap dengan mereka.  Serasa senasib sepenanggungan.

 

Guru di Tim-tim  saat itu masih langka. Tahun 1990  SPG ( Sekolah Pendidikan Guru) setara SLTA ditutup.  SPG diganti menjadi SMU. Jika di SPG  dulu pelajarannya adalah khusus pendidikan SD (Sekolah Dasar). Kini tidak ada lagi kurikulum itu. Semua diganti dengan pelajaran umum. Pemerintah mengharapkan semua guru adalah ‘sarjana’ bukan hanya lulusan SLTA.

 

Nah, bapak adalah guru SPG. Saat itu teman kuliah bapak adalah pejabat di Dinas pendidikan dan kebudayaan RI. Bapak Drs, Margono, M.Si namanya.  Maka bapak diberikan SK Kepala sekolah di SMA Negeri Maliana juga.  Jadi di SMA yang  sama bapak dan anak jadi satu tempat mengabdi.  Dengan begitu kami bisa terus mengabdi untuk negara dan untuk bapak sendiri. Ini bukan kebetulan, tapi faktanya memang begitu.

 

Seiring berjalannya waktu bapaku ( HR, Sudayat) dimutasikan di kota propinsi menjadi kepala sekolah di SMA Negeri 1 Dili Timur-Timur. Suamiku juga  adalah  seorang guru. Dia orang NTT, karena belum juga lulus PNS di tempat kelahirannya, akhirnya  ikut serta bergabung dengan kami di Tim Tim.  Sekali tes  CPNS langsung Lulus.  Dia ditempatkan di SMKK Negeri 1 Dili Timor Timur.

 

Kami bertiga punya profesi guru. Saat itu sebelum PNS suami saya masih di Maliana, setelah suami PNS  saya minta mutasi di Dili.  Benar, akhirnya saya dimutasikam di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur. Sebagai guru bersyukur saya diberi kesempatan untuk mengajar PGSD  menjadi Tutor.  Selain itu saya juga di diminta untuk  menatar di BPG ( balai Penataran Guru ) bahkan di beri kesempata untuk mengikuti pelatihan Widya iswara di P4TK Yogayakarta 2 kali.

 

Sebuah kebanggaan bagi saya, karena tidak semua guru mendapatkan kesempatan itu. Itu berkat, menjadi fasilitator di BPG,  nota bene punya tambahan penghasilan. Puji Tuhan. Dengan begitu saya bisa membangun rumah untuk tinggal. Hari demi hari kita lalui dengan penuh syukur, sebagai keluarga baru kami menikmati seluruh anugerah yang sudah Tuhan berikan padaku. Kabahagiaan tidaklah muncul  dari harta yang melimpah, tapi muncul dari kebiasaan  hidup yang wajar dan normal.

 

Kami dikaruniai 2 anak putra, keduanya lahir di Tim tim. Walaupun sederhana sudah punya rumah. Dari hasil tabungan yang ada kami sudah bisa membeli taksi untuk tambahan kraena kebetulan ada anak keluarga yang ‘numpang’ dan hidup bersama kami supaya tidak menganggur. Bapak saya sebagai kepala sekolah juga sudah beli rumah  dan kami bisa bangun kos-kosan 12 kamar. Syukur dan puji Tuhan tak pernah lalai kupanjatkan.

 

Takdir menetukan lain. Suasana Tim Tim semakin mencekam. Pemberontakan terjadi dimana-mana. Saat itu anak saya sudahs saya titipkan di Jawa bersama Eyangnya.  Suasana Timor Timur  bukannya semakin membaik tapi  akhirnya……Tim Tim merdeka!  Kami Warga Indonesia harus ‘dipulangkan. Korban berjatuhan. Suasana panik. Saya pun harus meninggalkan Tim Tim dengan segera. Banyak rumah teman-teman terjual dengan harga super murah. Ada yang 3 juta, lima juta, 15 juta. Pokoknya yang peting jadi uang untuk bekal pulang ke Indonesia. Nah, rumah saya ada yang tawar 18 juta, Uang yang cukup besar itu. Tapi ternyata belum sempat dibayar semua bank sudah tutup. Pembakaran terjadi dimana-mana.

 

Saya terpaksa  ngungsi duluan bersama Pasukan perang ‘nunut’ di mobil tentara. Suami masih belum mau mengungsi, membyangkan uang itu. Siapa tahu ‘sang Dewi’ membalikkan fakta dan mau membayarnya. Sedih.  Sampai di Atambua suami belum juga kelihatan. Ribuan pengungsi tumpah ruah di atambua. Bagaimana saya bisa cari suami yang hilang entah dimana? 2 Hari dalam pergumulan, akhirnya kami pun bertemu, dia datang bersama tetangga rumah dan mobil tentara,  anaknya pak Korwas. Dik Hendrik namanya. Dia ini  istrinya adalah orang Tim Tim asli. Harta benda semua kita tinggal karena kita lari tunggang langgang cari selamat. Biarlah, itu tinggal cerita.

 

Jadilah kami seorang pengungsi resmi. Seminggu di atambua kita lanjut perjalanan di kota Kupang. Nah disitu kami ditampung di rumah rusak, dibelakang Kantor dinas PK sekarang. Jl. Suharto no 57. Yang lain di lapangan Polda, yang lainnya lagi tak tahu dimana. Disitulah kami menentukan nasib untuk mutasi di tanah tumpah darah Indonesia. Semua temanku orang jawa semua pindah ke Jawa, kecuali aku. Suami adalah orang Sumba Timur, sebagai istriyang setia  aku harus mengikuti suami dimana saja dia berad. Heeh…..Sampai pak Kakanwil heran, kenapa saya  mau tinggal di NTT?  Itu guru, prinsipnya rela mengabdi untuk anak negeri. Berbakti demi generasi.

 

Tahun 2000 SK pun turun di SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur. Kami merangkak  dari ‘nol’. Prihatin. Saya belum berani membawa anak saya  ke NTT, biarkan  Eyangnya  di Jawa yang urus. Kami  masih hidup sengsara, menderita lahir batin. Harta benda yang kita punya sudah tertinggal semuanya. Kini  di tempat baru rumahpun  masih ‘numpang’ di kakaknya suami. Bersyukur kami punya SK PNS.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

#Pembelajaran

Kalau mau menangkap ayam

Jangan dikejar nanti kita akan lelah

Dan ayampum akan lari

 

Berikanlah ia beras  dan makanan

 nanti akan dengan mudah ia datang dengan rela

 

Begitulah jadi guru ,  melangkahlah dengan baik

Jangan terlalu kencang

Mengejar,  ngotot,  memburu

Nanti akan lelah  tanpa hasil

 

Rela  terus belajar mengeluarkan tenaga, pikiran, mengeluarkan anggaran untuk membeli fasilitas/sarana yang diperlukan. Misal Komputer, HP, Printer, data yang memadai.

 

 

#Pembelajaran

Kalau mau menangkap ayam

Jangan dikejar nanti kita akan lelah

Dan ayampum akan lari

 

Berikanlah ia beras  dan makanan

 nanti akan dengan mudah ia datang dengan rela

 

Begitulsh rejeki,  melangkahlah dengan baik

Jangan terlalu kencang

Mengejar,  ngotot,  memburu

Nanti akan lelah  tanpa hasil

 

Keluarkan sedekah

 

 

SUKA DUKAKU JADI GURU

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

 

Ada kalanya hidup terasa mudah dan menyenangkan, tetapi kadang juga terasa berat. Dalam menikmati liku-liku kehidupan ini dibutuhkan rasa sabar, Rasa iklas dan semangat yang kuat, syukur jika kita hadapi dengan senyuman.  Semangat dibutuhkan untuk bisa bangkit dan tegar. Janganlah berhenti menghadapi tantangan  hidup .

 

 

            Bapak adalah seorang guru PNS pengangkatan sekitar tahun 1962. Bapak adalah sosok yang kukagumi. Dia begitu menyayangi anak-anaknya. Kami empat bersaudara tak pernah dibeda-bedakan. Setiap habis gajian ‘yang hanya sedikit’ itu  pasti kami langsung diajak berkumpul.  Bapak buka amplopnya kami duduk berkeliling di meja makan. Kami anak-anak disuruh menulis apa kebutuhan masing-masing. Jika ada yang kurang cukup bisa disharingkan. Jelas kami punya kebutuhan berbeda.

Saya adalah anak pertama. Saya harus bersikap dewasa dan siap mengalah. Yang kami ajukan dari uang sekolah,buku, pena, pengganti sepatu yang sudah jebol dan lain-lain. Kami sudah terlatih hidup mandiri, sekolah jalan kaki biar 7 km waktu SMP. Apalagi setelah kuliah, hanya saya yang  kuliah keguruan  di IKIP, ikatan Dinas pula. Ketiga adikku Jurusan 2 orang Teknik Sipil dan  1 Teknik Elektro ( UGM dan Atamajaya Jogya). Kami ber-4 tak pernah komplain atau saling iri.

            Bapak orangnya gigih dan pekerja keras. Untuk mencukupkan kebutuhan bapak sampai rela mengajar di tiga sekolah. SPG Van-lith, SMA Pendowo dan STM Pengudi Luhur di kota Muntilan. Pagi-pagi bapak sudah berangkat sekolah dengan motor tua L2S. Ibu sudah menyiapkan nasi yang dibungkus untuk bekal mengajar karena bapak selalu pulang sore hari. Melihat  jerih lelah dan susah payahnya bapak kami salut sekali dengan perjuangan beliau. Bapak tak pernah mengeluh. Semua tugas dikerjakan dengan hati.

            Dengan melihat sosok bapak ‘hanya’ aku yang tertarik jadi guru. Hanya aku yang kuliah  guru. Saat itu guru dipandang dengan sebelah mata. Guru gaji kecil, hidup bersahaja dan terlihat hidup susah. Dengan begitu maka guru disebut dengan ‘Pahlawan tanpa tanda Jasa’. Tak banyak orang yang suka punya cita-cita jadi guru saat itu, apalagi jika orang kaya alias berduit. Wah,  Itu  sepertinya susah!!

            Di IKIP Sanata Dharma aku mengambil jurusan matematika. Mengingat masih 3 adikku yang perlu biaya lebih besar aku mengambil jurusan D3 waktu itu. Berharap supaya cepat selesai dan ada subsidi juga.  Pikirku jika aku ambil jurusan matematika bisa sambil memberi les privat. Benar sambil kuliah aku sambil memberi les 2 orang kakak beradik tetangga kos. Saya dibayar Rp 25 ribu/bulan untuk 2 kali pertemuan per minggu.  Lumayan bagi anak kos, bisa untuk tambah beli kebutuhan hidup harian.

            Setelah lulus saya ditempatkan di Timor Timor. Langsung dapat SK CPNS  di SMA Negeri Maliana Bobonaro. Sebuah kota kecil dan tertinggal. Sebuah pengalaman berharga jadi guru baru. Gaji pertama saat itu  Rp 56.080,- cukuplah untuk seorang bujang. Sebuah kebahagiaan bisa untuk dikirm ke ibu, adik-adik dan kolekte di gereja. Karena guru langka saya juga dipercaya mengajar PGSD ( sekolah calon guru SD) Universitas Terbuka. Menjadi Tutor Buta aksara ( Pemberantasan Buta Huruf).

            Dukanya, karena di daerah konflik jadi seolah pikiran selalu was-was dan tidak tenang. Semua aktifitas terbatas. Makan seadanya. Seolah kesepian karena tak pernah ada hiburan dan tak bisa tebar pesona. Di Kota itu selalu ketemu orang yang sama, di pasar, di sekolah di gereja. Aktifitas hanya  itu-itu saja dan jelas tak bisa berkembang.

            Tiga tahun kemudian  saya dimutasi ke Dili Kota Provinsi. Suasana jelas lebih ramai. Anak-anaknya lebih ekstrim. Gesekan-gesekan sering terjadi. Keributan juga lebih sering terjadi. Sedikit ada masalah sepele akan menyulut kemarahan hingga perkelaian. Sampai pada pemberontakan. Pembakaran mulai terjadi dimana-mana. Sampai titik darah penghabisan. Hingga lepas dengan negara kesatuan Republik Indonesia. Akhirnya Timor-Timur Merdeka!.

Setelah Timor Timur menentukan nasibnya sendiri  alias merdeka berarti  penduduk yang asal Indonesia wajib hukumnya untuk pulang ke asalnya. Yaitu Indonesia. Penduduk dari Timtim Status baru. Saya yang nota bene seorang guru jadi punya status baru guru korban konflik bencana. Kita sudah tinggalkan semua harta benda. Kita tinggalkan semua kenangan pahit getir dan duka lara. Kita tinggalkan juga siswa-siswi tercinta walaupun kadang mengharu birukan hati.

            Dengan modal ‘nol’lagi  kami akan mulai menatap masa depan.  Dengan semangat  membara dan penuh harapan semoga di tempat yang baru akan mendapatkan suka cita. Ini bukan mengeluhkan nasib. Bukan juga pamer kesedihan. Atau minta belas kasihan. Tidak sama sekali. Hanya  mau curhat semata. Biar kisah ini tak hilang atau sirna ditelan masa. Tapi akan terpatri dalam aksara. Ini adalah kisah  nyata salah satu perjalanan hidup seorang abdi negara.  Cerita dari hati yang paling dalam. Sebagai seorang guru  sekaligus seorang istri yang setia. Sebagai seorang istri tentunya punya kuajiban untuk  mengikuti dimana saja suami bekerja. Tugasnya mengajar, melayani dan menjaga  buah kasih, yaitu siswa/i dan anak kandungnya. 

            Tempat  mengajar yang baru di kota Waingapu. Semboyan itu “ Matawai Amahu Pada Njara Hamu” .  Kira-kira artinya sumber air yang jernih  tanah/padang yang luas  membentang tempat makan hewan yang banyak berkeliaran khususnya kuda. Sebuah  kota kecil yang  sungguh ‘asing’ bagiku. Kekeluargaan yang teramat sangat kental dengan adat tradisinya. Nama dan derajat masih dijunjung tinggi.  Makan tak makan yang penting berkumpul. Jadi  bagi penduduk asli seperti suami harus mengikuti adat yang ada. Adat yang sudah diwariskan leluhurnya. Dia punya kuajiban dan tanggungjawab untuk menghidupi anak-anak ‘dalam rumah’nya. Budaya itu sampai sekarang  masih sangat dihormati dan dipatuhi. Jadi tak heran  saat pertama saya datang, kami harus hidup bersama dengan 20-an orang lebih. Bisa dibayangkan! Berapa kg beras kami harus masak untuk setiap hari.

            Sebagai orang baru dan masih berstatus pendatang plus  bekas korban konflik, saya dan suami harus menanggung hidup dengan sekian orang. Ya Tuhan, aku  ingin menangis tapi kutahan. Aku ingin lari tapi tak mungkin. Mau mengeluh?? Mengeluh dengan siapa? Hanya untuk  makan  gajiku PNS saat itu, sangat tidak cukup.  Gaji saya Tahun 2000, dengan SK gol/pangkat  III/b Penata Muda Tk 1  Rp 291.200,- . Untuk mencukupkan hidup, kami sampai gali lubang  tutup lubang. Motor astrea grand puruk (sudah jelek) yang kami punya  kami sewakan untuk tambah beli beras. Sedih ya.

Selama 3 tahun pertama hidup penuh keprihatinan. Sebagai pakaian ganti  kami hanya bisa beli baju RB (rombengan). Pakaian KW yang masih layak pakai. Dari Timor Timur kami tak bawa baju yang cukup. Saat lari mengungsi hanya bawa bekal dan pakaian  seadanya. Setiap hari  makan tak pernah ada gizi. Yang penting ada nasi. Yah, lombok sayur hijau sudah cukup. Hanya itu yang terjangkau untuk dibeli.   Makan cukup 2x sehari. Pulang sekolah jam 14.00 WITA dan Sore jam 20.00 WITA. Karena motor disewakan berarti pergi ke sekolah jalan kaki dengan medan yang lumayan.  Daerahnya berupa perbukitan. SMA Negeri 2 Waingapu tempat mengajar letaknya agak diketinggian jadi harus memanjat dan merayap ditebing untuk lewat jalan pintas. Jarak tempuh rumah sekolah sekitar 2 km.

            Badanku kurus kering. Muka kelihatan lebih tua dari umurku yang waktu itu 34 tahun. Kulit keriput. Muka kusam tak ada semangat hidup. Tersenyum  susah maka wajah jadi tak menarik. Anto anak bungsuku juga saat periksa di puskesmas, dokter Rukmiati bilang berstatus ‘gizi buruk’.  Sungguh  sangat berbeda dengan Marcel  anak sulungku yang berada di Jawa bersama Bapak dan Ibu kandungku. Dia begitu dimanja. Disayang dengan segala yang ada.

            Cobaan hidup saat itu terasa berat. Hanya Doa yang bisa kudaraskan setiap hari. Itu yang menjadi kekuatanku. Sangat tidak mungkin aku mengeluh pada orang tuaku. Boleh dibilang saat di Timor Timur kami ‘sudah ada’ semua. Dari hasil kerja dan tabungan hingga punya rumah, mobil dan motor.  Tapi itu tinggal kenangan.  Itu semua kita tinggal  Timtim Kini di tempat baru harus siap menerima kenyataan. Hanya ratapan, rintihan bahkan tangisan pribadi dalam hati yang menemaniku.  Kesedihanku tak berani kutunjukkan kepada suami dan keluarganya. Aku berusaha tersenyum  walau terpaksa. Sebenarnya tak mampu tapi berusaha kuat. Hati terasa sakit  meratapi keadaan, tapi tak berdaya untuk mengungkapkan. Saya terasa sebatang kara karena orang jawa.

            Cerita di sekolah. Saat pertama kali saya menginjakkan kaki di SMA Negeri 2 Waingapu. Hati memang terasa damai. Saat masuk kelas tak kuasa aku menahan haru. Anak-anaknya manis dan taat. Mereka begitu hormat pada guru. Sungguh sangat berbeda dengan kelakuan anak Timtim ada yang suka mabuk, arogan dan tak menghormati guru. Profesi guru di Waingapu itu kujalani dengan penuh tanggungjawab dan setia. Guru matematika yang saat itu saya sendiri. Pak Tjangkui meninggal 2 tahun kemudian karena sakit.  Beliau guru matematika sebelum saya ada. Akhirnya saya yang menggantinya mengajar sampai  42 jam seminggu, padahal ideal guru mengajar 24 Jam. Caranya: masuk 1 kelas, kelas yang lain diberi tugas dan seterusnya. Ada juga ibu Atik yang membantu mengajar, beliau sebenarnya guru Kimia.

            Hari terus berjalan. Kami  hidup bersama puluhan orang di rumah. Dengan terpaksa aku minta pada suami supaya hidup pisah dengan keluarga besarnya. Aku akan ‘lari’  jika kali ini permintaanku yang pertama dan yang terakhir ‘tak’ dikabulkan. Akhirnya benar, kami memisahkan diri. Kami membangun gubuk. Ya benar gubuk, rumah kecil dengan lantai tanah.  Sedikit  lega. Penduduk rumah  terbagi. Sebanyak13 orang yang  ikut bersamaku. Biarlah. Selain sekolah mereka bisa membantu kerja rumah  untuk mewujudkan mimpi membuat rumah yang lebih layak.

            Lebih dari 4 tahun saya beradaptasi.  Berjuang dengan kemiskinan dan penuh pergumulan. Biar jelek rumah sudah berdiri. Ada orang bilang rumahku seperti kandang ayam karena memang  semua jendela kita tutup dengan rangkaian gedek bambu.  Atapnya seng taruh-taruh sembarang karena  usuknya belum cukup. Tak apalah, kami menikmatinya. Kehidupan sengsara akhirnya terbiasa menemaniku. Ada perasaan bahagia jika ada orang/teman yang memberikan undangan pesta.  Disitu  baru kami bisa menikmati rasa enaknya daging. Dalam hati,  makan dipesta  ibarat sebuah anugerah. Hal di atas membuat aku jadi  orang yang tahan banting dan panjang sabar. Jadi lebih tegar dan menghargai  arti  kehidupan berumah tangga sejati.

Bersyukurlah, akhirnya saya bisa menyesuaikan keadaan. Sebagai orang kota biasa menjadi tempat ‘numpang’ anak-anak keluarga dari kampung yang ingin sekolah. Ada yang SD, SMP, SMA/SMA bahkan ada yang kuliah. Rumahku seperti asrama, tapi gratis.  Mereka bukan anak orang yang mampu tapi orang tuanya ingin anaknya maju. Tapi mereka tak pernah berpikir bahwa biaya hidup di kota itu besar.  Saya dan keluarga harus mencukupkan kebutuhannya.  Ingin protes! Kami juga punya kebutuhan sebenarnya!! Tapi mereka ‘kurang’ mengerti!. Sudahlah!!, kalau mengeluhkan  tentang itu tak akan habis. Dalam doa semoga Tuhan selalu memberkati.  

Setiap orang pasti punya pergumulan. Mereka akan punya cerita masing-masing.  Suka duka selalu mewarnai hidup  setiap kita. Roda terus berputar tak mungkin  akan  terus dibawah. Akan bahagia jika selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Doa adalah senjata ampuh untuk  jadi kekuatan hidupku. Iklas berbagi, rela memberi adalah  manusiawi. Tuhan memberikan cuma-cuma  berikanlah juga dengan cuma-cuma. Bahasa itu yang sejuk dan menghiburku. Aku selalu mencoba untuk tidak  mengeluh. Berkat pasti akan datang dariNya kalau kita tulus meyakini.

Tak terasa kini saya sudah 21 tahun tinggal di Waingapu. Hari terus berganti. Tahun demi tahun pun telah kulalui. Tahun baru 2022 kita sambut dengan penuh harapan dan lebih baik.  Bahagia akan mengikuti seiring berjalannya waktu. Secercah harapan akan semakin ada. Tuhan pasti akan selalu menunjukkan jalan. Nikmat Tuhan akan semakin nyata. Kutuliskan ceritaku ini yang berstatus sebagai guru. Perjalanannya hidup yang penuh dengan suka dan duka. Dari daerah konflik di TimorTimur hingga dimutasi di Waingapu , Sumba Timur, NTT  yang saat itu masih  tertinggal. Daerah padang sabana paling ujung timur Indonesia. Orang bilang NTT adalah Nasib Tak Tentu. Diberita koran juga pernah  tertulis NTT adalah  daerah penyumbang orang miskin nomor one di Indonesia. Kasihan e. Kualitas kebahagiaan bukan dari harta atau kekayaan. Kami menikmati kedamaian dan ketenteraman lahir batin.

Semua cerita perjalanan dan liku-liku kehidupan akan ada hikmahnya. Aku tetap guru. Sekolah  adalah ladang amalku. Tempatku mengabdi hingga purna bakti. Akan setia sampai waktu pensiun nanti.  Bersyukur baru-baru, bulan Desember 2021 tepatnya tanggal 15 saya dapat ‘anugerah’  Lencana Karya Satya dan piagam penghargaan tanda-tangan Presiden RI, Bapak Ir. Joko Widodo. Bangga dan bahagia!!. Trimakasih pak Presiden, kenangan ini akan saya ingat hingga putus nafasku.

 

 

PROFIL PENULIS

 


Salam ...Saya,  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah.   Tinggal di Timtim 10 tahun ( Kabupaten Bobonaro 3 tahun, Dili 7 tahun) dan di NTT sudah 21 tahun.  Seorang ibu 2 putra,  sekaligus  guru  di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, NTT. Penulis suka menulis di media masa, majalah dan buku. Sudah 30 lebih  buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003 Waingapu, Sumba Timur NTT.  Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat bagi sesama.

 

Minggu, 09 Januari 2022

CERITA GURU DI RANTAU

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

 

Jadilah pribadi yang apa adanya didepan orang disekitarmu. Tak perlu kita bersandiwara. Hidup sebenarnya tidak sulit. Kadang kita sendiri yang membuatnya jadi Sulit. Selalu bahagia dan bersyukur serta punya rasa’ kasih sayang’ yang akan membuat kita selalu sehat dan panjang umur.

 

            Setelah Timor Timur menentukan nasibnya sendiri  alias merdeka berarti  penduduk yang asal Indonesia wajib hukumnya untuk pulang ke asalnya. Yaitu Indonesia. Penduduk dari Timtim Status baru. Saya yang nota bene seorang guru jadi punya status baru guru korban konflik bencana. Kita sudah tinggalkan semua harta benda. Kita tinggalkan semua kenangan pahit getir dan duka lara. Kita tinggalkan juga siswa-siswi tercinta walaupun kadang mengharu birukan hati.

            Dengan modal ‘nol’  kami akan menatap masa depan.  Dengan semangat  membara dan penuh harapan semoga di tempat yang baru akan mendapatkan suka cita. Ini bukan mengeluhkan nasib. Bukan juga menjual kesedihan. Atau minta belas kasihan. Tidak sama sekali. Hanya  mau curhat semata. Biar kisah ini tak hilang atau sirna ditelan masa. Tapi akan terpatri dalam aksara. Ini adalah kisah  nyata salah satu perjalanan hidup seorang abdi negara.  Cerita dari hati yang paling dalam. Sebagai seorang guru  sekaligus seorang istri yang setia tentunya punya kuajiban untuk  mengikuti dimana saja suami bekerja. Tugasnya mengajar, melayani dan menjaga  buah kasih, yaitu siswa/i dan anak kandungnya.

            Kami  belum tahu akan nasib di tempat yang baru. Kedua anakku masih balita saat itu. Anak pertama berumur 4 tahun kutitipkan ibu kandungku di Magelang, tempat kelahiranku. Anak kedua berumur 2 tahun kubawa di Waingapu, Sumba Timur. Pada tahun 2000, Waingapu bukan kota yang maju. Di Dili jauh lebih maju karena kota provinsi.  Walau sering terjadi gesekan-gesekan antar pendatang, polisi, tentara dan putra daerah yang tak setuju dengan Integrasi, tapi kualitas hidup lebih baik.

            Kota Waingapu yang punya semboyan “ Matawai Amahu Pada Njara Hamu” .  Kira-kira artinya sumber air yang jernih  tanah/padang yang luas  membentang tempat makan hewan yang banyak berkeliaran khususnya kuda. Sebuah  kota kecil yang  sungguh ‘asing’ bagiku. Kekeluargaan yang teramat sangat kental. Nama dan Derajat masih dijunjung tinggi.  Makan tak makan yang penting berkumpul. Jadi  bagi penduduk asli seperti suami harus mengikuti adat yang ada. Adat yang sudah diwariskan leluhurnya. Dia punya kuajiban dan tanggungjawab untuk menghidupi anak-anak ‘dalam rumah’nya. Budaya itu sampai sekarang  masih sangat dihormati dan dipatuhi. Jadi tak heran  saat pertama saya datang, kami harus hidup bersama dengan 20-an orang lebih. Bisa dibayangkan! Berapa kg beras kami harus masak untuk setiap hari.

            Sebagai orang baru dan masih berstatus pendatang plus  bekas korban konflik, saya dan suami harus menanggung hidup dengan sekian orang. Ya Tuhan, aku  ingin menangis tapi kutahan. Aku ingin lari tapi tak mungkin. Mau mengeluh?? Mengeluh dengan siapa? Hanya untuk  makan  gajiku PNS saat itu, sangat tidak cukup.  Gaji saya Tahun 2000, dengan SK gol/pangkat  III/b Penata Muda Tk 1  Rp 291.200,- . Untuk mencukupkan hidup, kami sampai gali lubang  tutup lubang. Motor astrea grand puruk (sudah jelek) yang kami punya  kami sewakan untuk tambah beli beras. Sedih ya. Hidup penuh keprihatinan. Sebagai pakaian ganti  kami beli baju RB (rombengan) yang layak pakai. Dari Timor Timur kami tak bawa baju yang cukup. Saat mengungsi hanya bawa seadanya. Pasti orang lain tak pernah bayangkan hehe….

            Setiap hari  makan tak pernah ada gizi. Yang penting ada nasi. Yah, lombok sayur hijau sudah cukup. Hanya itu yang terjangkau untuk dibeli.  Sedikit beruntung  kalau ada ikan kering sesekali. Untuk memenuhkan, agar semua anggota keluarga kebagian lauk, maka ikan kering kita buat sup, masak dikasih  air banyak-banyak. Kami juga tak makan pagi.  Jadi tidak pernah bisa sarapan pagi. Makan cukup 2x sehari. Pulang sekolah jam 14.00 WITA dan Sore jam 20.00 WITA. Karena motor disewakan berarti pergi ke sekolah jalan kaki dengan medan yang lumayan.  Daerahnya berupa perbukitan. SMA Negeri 2 Waingapu tempat mengajar letaknya diketinggian jadi harus memanjat dan merayap tebing untuk lewat jalan pintas. Jarak tempuh rumah sekolah kurang lebih 1,5 km.

            Badanku kurus kering. Muka kelihatan lebih tua dari umurku yang waktu itu 34 tahun. Kulit keriput. Muka kusam tak ada semangat hidup. Tersenyum  susah maka wajah jadi tak menarik. Anto anak bungsuku juga saat periksa di puskesmas, dokter bilang berstatus ‘gizi buruk’.  Sungguh  sangat berbeda dengan Marcel  anak sulungku yang berada di Jawa bersama Bapak dan Ibu kandungku. Dia begitu dimanja. Disayang dengan segala yang ada.

            Cobaan hidup saat itu terasa berat. Hanya Doa yang bisa kudasarkan setiap hari. Itu yang menjadi kekuatanku. Sangat tidak mungkin aku mengeluh pada orang tuaku. Boleh dibilang saat di Timor Timur kami ‘sudah ada’ semua, rumah, mobil, motor.  Kini di tempat baru nasib sungguh menyedihkan. Hanya ratapan, rintihan bahkan tangisan pribadi dalam hati yang menemaniku.  Kesedihanku tak berani kutunjukkan kesuami dan keluarganya. Aku berusaha tersenyum  walau terpaksa.  Harus selalu siap menerima kenyataan. Sebenarnya tak mampu tapi berusaha kuat. Hati terasa sakit  meratapi keadaan, tapi tak berdaya untuk mengungkapkan. Karena saya terasa sebatang kara karena orang jawa.

            Cerita di sekolah. Saat pertama kali saya menginjakkan kaki di SMA Negeri 2 Waingapu. Hati memang terasa damai. Saat masuk kelas tak kuasa aku menahan haru. Anak-anaknya manis dan taat. Mereka begitu hormat pada guru. Sungguh sangat berbeda dengan kelakuan anak Timtim ada yang suka mabuk, dansa dan tak menghormati guru. Sebuah kebanggaan seorang guru saat anak-anak itu hormat dan taat kepada gurunya. Profesi guru di Waingapu itu kujalani dengan penuh setia. Karena  kekurangan guru matematika yang saat itu saya sendiri. Pak Tjang (guru matematika) meninggal mungkin karena sakit.  Beliau satu-satunya guru matematika sebelum saya ada. Pak Tjang juga Anggota dewan, wakil kepala sekolah, bendahara sekolah dan jabatan-jabatan lain yang beliau sandang.  Akhirnya saya yang menggantinya mengajar sampai  42 jam seminggu.

            Hari terus berjalan. Kami  hidup bersama puluhan orang saat itu. Dengan terpaksa aku minta pada suami supaya hidup pisah dengan keluarga besarnya. Aku akan ‘lari’  jika kali ini permintaanku yang pertama dan yang terakhir tak dikabulkan. Akhirnya benar, kami memisahkan diri. Kami membangun gubuk. Ya benar gubuk, rumah kecil dengan lantai tanah.  Sedikit  lega. Penduduk rumah  terbagi. Sebanyak13 orang yang  ikut bersamaku. Biarlah. Selain sekolah mereka bisa membantu kerja rumah dan cetak batako untuk mewujudkan mimpi membuat rumah yang lebih layak.

            Lebih dari 4 tahun kami berjuang dengan kemiskinan dan penuh pergumulan. Biar jelek rumah sudah berdiri. Ada orang bilang rumahku seperti kandang ayam karena memang  semua jendela kita tutup dengan rangkaian gedek bambu.  Atapnya seng taruh-taruh sembarang karena  usuknya belum cukup. Tak apalah, kami menikmatinya. Kehidupan sengsara akhirnya terbiasa menemaniku. Ada perasaan bahagia jika ada orang/teman yang memberikan undangan pesta.  Disitu  baru kami bisa menikmati rasa enaknya daging. Dalam hati,  makan dipesta  ibarat sebuah anugerah. Hal di atas membuat aku jadi  orang yang tahan banting dan panjang sabar. Jadi lebih menghargai  arti  kehidupan berumah tangga sejati.

            Suatu hari saya berpikir saya harus menjemput anakku yang tinggal bersama orangtua di Jawa. Saya sungguh merindukan kebersamaan keluarga yang utuh.  Aku, Suami dan 2 anakku. Saya tinggal bersama banyak anak tapi semua diluar kandungan. Hasil menabung sedikit-demi sedikit akhirnya saya bisa beli tiket kapal Dobon Solo. Dengan penuh suka cita akhirnya saya bisa menjemput anakku. Kedua orangtuaku sebenarnya tak boleh. Marcel adalah cucu pertama dari keluarga Heribertus Sudayat, ayah kandungku. Bapak sudah pensiun dari PNS. Ibu tak ada teman. Jadi Marcel yang jadi hiburan mereka dikala sepi. Tiga adikku di Jakarta dengan keluarga dan kehidupannya. Manalah mungkin boleh diminta anaknya untuk tinggal di kampung?.

Dengan berbagai alasan, rayuan dan permohonan akhirnya Marcel berhasil kubawa ke NTT. Saat itu dia kelas 2 SD. Dengan naik kapal Kelimutu kami menuju NTT. Sangat tak mampu untuk beli tiket pesawat. Babak baru untuk marcel di rumah orang tua kandung, yaitu saya dan Pak Chris bapaknya. Beberapa kali dia lari dari rumah. Ulang-ulang dia menghilang. Dia benar-benar tak mau tinggal di rumah buruk orang tuanya sendiri. Kami jadi kewalahan. Dia kadang ke pasar. Pergi hilang menyusuri sungai Praiwora. Pergi ke swembak tempat sumber air. Suatu saat  saya menemukan dia  sedang  duduk merenung dengan bertopang dagu di pematang sawah. Sedih! Dia tak mau kuajak pulang ke rumah. Saya hanya bisa meneteskan  air mata saat itu. Kucoba menasehati. Aku berusaha mengambil hati setiap hari. Menceritakan sedikit demi sedikit hal yang bisa masuk diotaknya si kecil 7 tahun itu.

Bersyukurlah, akhirnya dia bisa  memahami  arti kemiskinan. Bisa menerima kenyataan dan menyesuaikan keadaan. Sebagai orang kota biasa menjadi tempat ‘numpang’ anak-anak kampung yang ingin sekolah. Ada yang SD, SMP, SMA/SMA bahkan ada yang kuliah. Mereka bukan orang yang mampu tapi orang tuanya ingin anaknya maju. Tapi mereka tak pernah berpikir bahwa biaya hidup di kota itu besar, sementara berapa sih gaji pegawai yang tak punya sawah?? Ingin protes! Kami juga punya kebutuhan!! Tapi mereka ‘kurang’ mengerti!. Sudahlah, kalau berdebat  tentang itu tak akan habis, semoga suatu saat akan berubah.

Setiap orang pasti punya pergumulan. Mereka akan punya cerita masing-masing.  Suka duka selalu mewarnai hidup  setiap kita. Roda terus berputar tak mungkin  akan  terus dibawah. Akan bahagia jika selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Doa adalah senjata ampuh untuk  jadi kekuatan hidupku. Iklas berbagi , rela memberi adalah  manusiawi. Tuhan memberikan cuma-cuma  berikanlah juga dengan cuma-cuma. Bahasa itu yang sejuk dan menghiburku. Aku selalu mencoba untuk tidak  mengeluh. Berkat pasti akan datang darinya kalau kita tulus meyakini.

Saya Sadar penuh bahwa saya ini adalah ‘pendatang’. Hidup ditanah orang. Bersyukur karena digaji negara. Saya bekerja  sesuai dengan kemampuan yang ada. Jaga nama baik, tetap berusaha sabar dan terus rendah hati. Terus belajar, semoga bisa bermanfaat bagi orang lain.  Janganlah banyak berharap. Janganlah  mimpi terlalu tinggi,  sakiitt kalau jatuh. Pernah aku lulus untuk melanjutkan S2  tahun 2007/2008 di UGM Prodi UMKM, biaya kementerian ‘alasan’ tidak jelas jadi dibatalkan alias tidak diijinkan 'entah kenapa?'. Biar anggap itu mimpi. Hanya curhat untuk kenangan. Kubur dalam-dalam yang pernah terjadi. ‘Enjoy’  hidup ternyata lebih asyik, pasrah sempurna nikmat penuh.

Tak terasa kini saya sudah 21 tahun tinggal di Waingapu. Hari terus berganti. Tahun demi tahun pun telah kulalui. Tahun baru 2022 kita sambut mulai hari ini.  Bahagia mengikuti seiring berjalannya waktu. Secercah harapan semakin ada. Tuhan  selalu menunjukkan jalan. Nikmat Tuhan semakin nyata. Kutuliskan ceritaku ini yang berstatus sebagai guru. Perjalanannya hidup yang penuh dengan liku-liku. Dari daerah konflik hingga dimutasi di Waingapu, Sumba Timur, NTT  yang saat itu masih  tertinggal. Daerah paling ujung timur Indonesia. Orang bilang NTT adalah Nasib Tak Tentu. Diberita koran pernah tertulis NTT adalah  daerah penyumbang orang miskin nomor one di Indonesia.

Semua cerita perjalanan dan liku-liku kehidupan akan ada hikmahnya. Aku tetap guru. Sekolah  adalah ladang amalku. Tempatku mengabdi hingga purna bakti. Akan setia sampai waktu pensiun menanti lima tahun lagi.  Bersyukur baru-baru, bulan Desember 2021 tepatnya tanggal 15 saya dapat ‘anugerah’  Lencana Karya Satya dan piagam penghargaan tanda-tangan Presiden RI, Bapak Ir. Joko Widodo. Bangga dan bahagia!!. Trimakasih pak Presiden, kenangan ini akan saya ingat hingga putus nafasku.

 

 

PROFIL PENULIS

 


Salam ...aya,  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah.   Tinggal di Timtim 10 tahun ( Kabupaten Bobonaro 3 tahun, Dili 7 tahun) dan di NTT sudah 21 tahun.  Seorang ibu 2 putra,  sekaligus  guru  Matematika di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, NTT. Penulis suka menulis di Media masa, majalah dan buku. Sudah 30 lebih  buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003 Waingapu, Sumba Timur NTT.  Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat bagi sesama.

 

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...