Selasa, 25 Agustus 2020

TRIPLE FILTER TEST, TIGA FILTER TULISAN DARI SOCRATES

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Tahukah Anda, Tuan, apa yang baru saja saya dengar tentang seorang teman Anda?” tanya seorang lelaki kepada Socrates.

“Tunggu sebentar. Sebelum kamu menceritakan sesuatu tentang teman saya, tolong kamu jawab dulu tiga pertanyaan ini”, jawab Socrates.

“Baiklah, saya siap”, jawa lelaki itu.

“Pertama tentang kebenaran (truth). Yakinkah kamu bahwa yang akan kamu katakan itu benar?” tanya Socrates.

“Maaf Tuan, sesungguhnya saya baru saja mendengar berita itu, dan ingin segera memberitahukannya kepada Anda.”

“Saya tidak yakin”, tambah lelaki itu.

“Baiklah, kamu tidak yakin”, ujar Socrates.

“Pertanyaan kedua tentang kebaikan (goodness). Apakah yang akan kamu ceritakan kepada saya mengenai teman saya itu adalah sesuatu yang baik?”

“Maaf Tuan, bahkan yang akan saya ceritakan ini adalah hal yang buruk,” jawab lelaki tersebut.

“Jadi, kamu ingin menceritakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai teman saya, tetapi kamu tidak yakin bahwa itu benar. Hmmmm…”, gumam Socrates.

“Sekarang pertanyaan ketiga, tentang kemanfaatan (usefulness). Apakah hal yang ingin kamu ceritakan kepada saya tentang teman saya tersebut akan bermanfaat buat saya?”

“Sepertinya tidak, Tuan, maafkan saya,” jawab lelaki tersebut.

“Jika apa yang ingin kamu sampaikan kepada saya adalah hal yang tidak benar, tidak baik, dan tidak bermanfaat. Mengapa kamu ingin menceritakan kepada saya?” ujar Socrates.

Tiga Filter untuk Posting Tulisan

Seperti yang sudah sering saya sampaikan, kita boleh menulis apa saja. Bebas, merdeka. Sebab salah satu tujuan menulis adalah pelepasan. Menulis adalah memerdekakan diri dari berbagai beban. Melepas semua himpitan. Melepas semua kata yang tak bisa tersampaikan dengan suara. Maka menulis leluasa menyampaikan segala-galanya.

Namun untuk memosting tulisan, tidak bebas. Sebab bisa jadi ada piha-pihak yang bisa terlukai, tersakiti, dan merasa terzalimi. Kita berhadapan dengan etika, norma dan hukum. Salah satunya terkait dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) jo. Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008.

Kita ingat, musisi Ahmad Dhani terjerat Pasal 27 ayat 3 jo. Pasal 45 ayat 3 UU ITE dengan dugaan pencemaran nama baik, karena ada muatan kata “idiot” dalam videonya. Terlepas dari unsur politis dalam kasus tersebut, namun sudah sepatutnya kita semua menjadi berhati-hati dalam memosting tulisan.

Agar tulisan kita tidak berujung petaka, hendaknya kita gunakan Triple Filter Test model Socrates, setiap kali hendak memosting tulisan. Pertama, filter kebenaran (truth). Kedua, test kebaikan (goodness). Ketiga, tes kemanfaatan (usefulness).

Pertama, yakinkah bahwa yang Anda posting adalah hal yang benar? Kebenaran bisa dikaitkan dengan hukum agama, ataupun hukum positif. Jangan sampai memosting tulisan yang melanggar apalagi bertentangan dengan prinsip kebenaran agama, ataupun Undang-Undang. Hendaknya kita posting hal-hal benar, atau mengarahkan kepada kebenaran.

Kedua, yakinkah bahwa yang Anda posting adalah hal yang baikr? Kebaikan bisa dikaitkan dengan konteks norma agama, etik dan moral. Ada norma agama, serta nilai moral dan etika yang berkembang dan diterima masyarakat tentang baik dan tidak baik. Hendaknya kita posting hal-hal baik, atau mengarahkan kepada kebaikan.

Ketiga, yakinkah bahwa yang Anda posting adalah hal yang bermanfaat? Kebermanfaatan bisa terjadi dalam aspek yang sangat luas. Misalnya memberi informasi, ilmu, pengetahuan kepada masyarakat luas. Bisa pula dalam bentuk memotivasi, menginspirasi, mengedukasi, menghibur, dan lain sebagainya.

Itulah tiga filter model Socrates, sebelum kita memosting tulisan. Maka tulislah, apa saja. Bebas merdeka. Namun endapkan dulu sebelum diposting. Tidak semua tulisan harus diposting, sebab tergantung tujuan kita membuat tulisan tersebut. Postinglah hanya yang positif.

Catatan :

Kata posting, postingan, memosting atau memposting, bukanlah kata baku dalam KBBI. Namun karena sudah sangat sering kita dengar, maka seakan sudah menjadi kosa kata bahasa Indonesia. Maka sayapun menggunakan, karena sudah dipahami secara luas.

Bahan Bacaan

GURU DAN SISWA : NILAI ‘PLUS’ SETELAH PANDEMI

 

Tugas  4:  KMO  (Artikel)

 

Saat Pandemi datang, kita sedih. Apalagi melihat, mendengar tentang berita di TV, di Medsos, saudara-saudara kita  yang  terserang covid, positif covid, karantina  yang dirawat bahkan yang  meninggal . Rasa takut, cemas , was-was ada terus pastinya. Tuhan... semoga saya  selalu  diberikan Kesehatan  dan terbebas dari  covid 19..

Saya adalah seorang ASN (guru) , dimana waktu itu saya  selalu membayangkan, betapa bahagianya  jika saya  bisa menghirup  udara pagi di rumah setiap hari. Aktifitas di rumah yang bebaasss!!, setiap hari.  Ternyata  Tuhan memberikan jawaban. Hari pertama, kedua, ketiga  selama sekitar 3 minggu, terasa  jenuh  dan bosan .  Seiring berjalannnya waktu, akhirnya  kita bisa menikmati indahnya “ di rumah saja”. Hal-hal yang  tidak pernah kita bayangkan, akhirnya  bisa terjadi. Hasil dari “ hanya di rumah saja” .

Suharnan (2005) mengemukakan bahwa kreatifitas disebut juga sebagai berpikir kreatif (creative thinking), yaitu proses berpikir seseorang atau aktivitas kognitif seseorang dalam menghasilkan ide-de yang baru dan bermanfaat” . Ternyata dengan adanya  musibah ini, hari-hari di rumah saja , kita bisa  lebih kreatif, Walau hanya  sederhana. Kebetulan dirumah saya ada  beberapa  anak sekolah yang “tinggal” di rumah. Pak Menteri  menganjurkan Saat Pandemi mereka belajar di rumah (BDR). Akhirnya saya pun bisa menerapkan pembelajaran yang  tujuan mengarahkan untuk memunculkan kreatif siswa. Dimana pembelajaran itu  tidak diproleh di sekolah, tapi akan sangat berguna  untuk bekal hidup mereka  di masa yang akan datang. Saya ajak  anak-anak untuk  berkebun sayur, hasil di jual mendapatkan uang,  masak-masak, “nasi bakar” kita posting di medsos, teman-teman  pesan kita antar, uang lagi masuk, Ikut  KMO ( Kelas Menulis Online), yang tadinya hanya iseng, akhirnya menghasilkan tulisan-tulisan sederhana yang kita posting di fb,ada yang coment, like, merupakan pengalaman baru yang membahagiakan. Saya buat ‘pembelajaran’ untuk ‘daring’ posting juga di  You tube, sampai ratusan yang nonton ( tayang) ada yang like  bahkan ada  juga yang “subscribe”  dari hati yang  paling dalam begitu membanggakan saya. Ternyata  saya yang selama ini merasa “ tak berharga” bisa  berbagi, bisa menginspirasi dari membaca coment teman-teman di fb.  Ini  fakta saya rasakan.  Hasil kreatif yang   bermanfaat.

                Sebagai seorang  guru  matematika SMA kita melaksanakan BDR juga.  Salah satu tugas untuk peserta didik saya adalah  membuat ‘produk’,  Mereka saya suruh  menulis  di kertas manila . Dibuat se’kreatif’ mungkin. Dan saya  tahu  anak-anak  semua  punya  bakat masing-masing dan  meraka punya rasa kreatif yang berbeda-beda.  Dan judul  tugas tersebut adalah “Aku Setelah Pandemi”. Dibuat poster, difoto bersamanya, krim lewat WA grup kelas atau FB.  Karena merupakan tugas wajib dan  merupakan salah satu   penilaian  ‘ketrampilan’  dalam  matematika. Mereka pun harus bisa menunjukkan kebolehannya. Berbagai macam  kreatifitas anak  di ’rumah’ mereka. Karena BDR,  waktu Luang lebih banyak. Pertemuan bersama keluarga  lebih banyak. Kebersamaan dan keakraban merekapun lebih terasa. Jadi peserta didik lebih leluasa  dalam kerja, pastinya didampingi oleh orang tua atau saudara-saudara mereka. Anak yang cerdas pasti mereka memanfaatkan  waktu di rumah mereka dengan efektif. Hasil  ‘dirumah’ antara lain :  Jadi mempunyai hobi baru memasak, bisa membuat kue untuk dijual,  membuat nasi kuning yang di bungkus kemudian disetor/dititip di  kios-kios, tentu  bangga bisa mendapatkan ‘uang ‘ dan masih banyak lagi ketrampilan-ketrampilan baru yang selama ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya..

                Melihat dan membaca di postingan teman-teman guru dan para siswa yang  mempunyai hobi baru ‘menanam’  bunga, membuat  ‘kebun ‘ baru,  jadi petani baru, Suluh ikan bahkan sampai ada yang  ‘menjual hasil ‘ dari kebun dan sawah mereka. Saya tahu karena saya  rajin membaca  di medsos, buka fb bagian  Pasar ST.  Pasar On Line Sumba Timur. Kalau kita  ingin sesuatu , apa saja kebutuhan  rumah tangga , misal  jagung, beras, ikan  dll........e ternyata yang jual teman sendiri, tetangga, kenalan...yang mana  mayoritas ternyata,,.... profesi baru mereka.   Hehe....senang  sekaligus bangga deh ketemu mereka, pastinya  dikasih ‘lebih’ murah. Misal di pasar harga Rp 25.000,- ternyata  di online bisa  harga Rp 15.000,-  ‘untung’ pasti. Asyik deh. Di Jawa belanja online sudah sangat biasa, tapi bagi saya  disini  hal yang baru,  terkhusus  belanja  lokal. Kalau di jawa  terasa ‘aneh’ kalau  di online ketemu teman sendiri, tapi  Waingapu , tempatku, itu biasa.

Pembelajaran BDR menggunakan  ‘daring’ (dalam jaringan)  :   GCR ( Google ClassRomm),  Aplikasi  zoom , googleform dan berbagai Aplikasi Internet akhirnya mereka  jadi  “tahu’ dan ‘pengalaman  menggunakan  HP Android dengan lancar jaya dan penuh semangat.  Mereka  jadi tahu benar  tentang ‘ fungsi” HP android yang sebenarnya. Kalau dulu  tahunya  ‘hanya’ untuk ‘main game’ buka ‘ You Tube’ ,”FB” kapasitas sebagai pemain game dan penonton saja.  Tapi sekarang  bisa untuk menggali informasi berbagai  hal. Bahkan  akhirnya  bisa kreatif  mendownload  berbagai aplikasi  karena ‘tuntutan’ tugas sekolah yang harus di”video’kan. Seperti  aplikasi  ‘KineMaster”, “Canva” , CS, ‘Tik Tok’, ‘ZOOM’ “classroom’, ‘Zenius’ ,’Snaptube’, ‘Meet , ‘Telegram’dan masih banyak lagi, yang mana gurunya sudah ‘kalah’  kreatif dibanding   ketrampilan anak-anak.  Memang tidak semua,  tapi ‘lumayan’ anak-anak jadi lebih kreatif  dalam memanfaatkan HP.

Janganlah  pendemi itu dianggap sebagai  musibah, tetapi anggap  dia datang sebagi tamu, kita  sebagai tuan rumah harus menerima dengan penuh suka cita.  Kita tetap bersahabat, berdampingan. Ternyata  bagi sebagian orang, pandemi ini   membawa dampak positif. Membawa Berkah. Kita bisa  punya kegiatan-kegiatan kreatif.  Dimana dari kegiatan kreatif  bisa menumbuhkan bakat kita masing- masing  yang terpendam. Memunculkan  ide kreatif diluar dugaan kita. Bahkan lebih membanggakan lagi  bisa   mempunyai penghasilan tambahan. Jangan munafik kalau  sebenarnya kita selalu  bangga kalau  kita  punya penghasilan tambahan, di luar penghasilan rutin  bulanan.  Kita  bisa belanja   keinginan kita sesuai  uang “bonus” yang kita punya. Berbeda kalau uang gaji bulanan,  biasa sudah rutin masuk ‘pos’  rutin. Dengan adanya uang bonus,  atau  istilah  uang di luar dugaan. Kita bisa pakai untuk  sedikit bersenang-senang bersama keluarga, pesiar, memanjakan  diri, misal ke Salon yang dulu tidak  pernah sempat, atau bahkan  uang merasa kurang cukup.

Terima kasih  Tante Corona,  atas kedatanganmu,  kita tetap bersahabat, Darimu kami menjadi lebih dewasa, lebih  menghargai kehidupan, lebih bisa menjaga kesehatan, tahu diri, dan  bisa menggali bakat pribadi. Salam.

MENULIS DAN KEBAHAGIAAN KECIL KITA

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Menulis kreatif mendorong Anda ke dalam spiral kegembiraan. Itu mendorong Anda untuk mencari lebih banyak pengalaman dan menjalani kehidupan yang lebih bertenaga” –Annie I., 2020.

.

Masa pandemi ini, tak ada yang bisa memberi informasi kapan akan berakhir. Hanya Allah saja yang tahu. Manusia, siapapun dia, tak ada yang tahu. Maka tugas kita adalah menjalani hidup dengan menjaga kewarasan dan kebahagiaan.

Sejak memasuki masa karantina, total saya ‘work from home’, tidak kemana-mana lagi. Benar-benar di rumah saja. Agustus ini adalah bulan keenam saya berada di rumah. Shalat berjama’ah di rumah. Shalat Jumat diganti shalat Duhur berjama’ah di rumah.

Sebagai kepala keluarga, saya tidak boleh kehilangan nalar, tidak boleh kehilangan semangat serta kebahagiaan. Sebab kebahagiaan saya, adalah kebahagiaan seluruh anggota keluarga. Stres dan bingung saya, adalah stres dan kebingungan semua anggota keluarga. Maka saya tidak boleh bingung, juga tidak boleh stres.

Saya gunakan cara pandang manusia beriman —yang disabdakan Nabi Saw, “Semua urusannya baik”. Jika mengalami peristiwa sesuai yang diharapkan, bersyukur, maka itu baik baginya. Jika mengalami peristiwa tidak sesuai yang diharapkan, bersabar, maka itu baik baginya. Syukur dan sabar, itu kondisi manusia beriman. Keduanya baik.

Secara teknis, saya gunakan pendekatan psikologi positif Martin Seligman. Menurut Seligman, kebahagiaan itu bertumbuh, flourish. Maka ia mengenalkan konsep PERMA —positive emotion, engagement, relationship, meaning dan achievement, untuk menumbuhkan kebahagiaan.

Salah satu unsur pertumbuhan kebahagiaan adalah achievement, yaitu capaian keberhasilan. Maka saya selalu membuat target-target harian, dan berusaha untuk mencapainya. Salah satu target itu, setiap hari saya membuat target menciptakan satu artikel tentang dunia tulis menulis, dan diposting melalui blog.

Semenjak memasuki masa karantina, saya membuat blog baru, bernama Lockdown 2020, www.lockdown2020.id. Melalui blog baru ini, saya menulis tentang apa saja. Termasuk memasukkan tulisan-tulisan lama yang belum terpublikasikan. Maka dalam waktu singkat, blog itu langsung penuh tulisan.

Karena setiap hari menulis bertema tulis menulis, tidak terasa lama-lama menjadi banyak artikel saya dalam tema tersebut. Maka pada bulan Juli lalu, saya membuat blog baru lagi bernama Ruang Menulis, www.ruangmenulis.id. Sejak ada blog baru ini, semua naskah terkait tulis menulis, munculnya di sini.

Inilah kebahagiaan kecil saya, setiap hari. Sederhana kan? Bahagia itu bertumbuh dengan mencapai target-target kecil yang kita ciptakan sendiri. Maka kendati tidak bisa kemana-mana, hanya di rumah saja, kebahagiaan bisa kita ciptakan. Bahkan terus menerus bertumbuh, seiring dengan pencapaian target-target kecil kita sendiri.

Ternyata, secara akdemis, hal ini telah dipelajari banyak ahli. Bahwa menulis secara teratur, akan menciptakan kebahagiaan. Annie I (2020) menyatakan, “Menulis rutin setiap hari akan membantu mengatur emosi dan pikiran Anda”, ujarnya.

Annie mengibaratkan, otak manusia seperti sebuah tas. “Bayangkan kepala Anda seperti tas penuh barang yang Anda bawa ke mana-mana. Sepanjang hari Anda terus mengumpulkan ‘barang’ dan akhirnya Anda merasa kewalahan”, ungkapnya.

Maka, menurut Annie, “menulis adalah proses membongkar isi tas tersebut dan memberi ruang bagi hal-hal baru dalam pikiran Anda. Ini menghasilkan manfaat besar dalam mewujudkan kesehatan mental Anda”.

Annie menegaskan, “Menulis kreatif mendorong Anda ke dalam spiral kegembiraan. Itu mendorong Anda untuk mencari lebih banyak pengalaman dan menjalani kehidupan yang lebih bertenaga”.

Sudah sangat jelas, bahwa menulis bisa menghadirkan kebahagiaan. Apalagi jika Anda sekaligus memadukan dengan membuat target menulis. Berapa kata setiap hari yang hendak Anda tuliskan? Berapa karakter setiap hari yang hendak Anda hasilkan? Tema apa yang hendak Anda munculkan setiap hari?

Tetapkan target. Tulislah setiap hari. Capailah target Anda sendiri. Nikmati dan rayakan keberhasilan kecil Anda. Sederhana. Anda akan selalu bahagia.

Minggu, 23 Agustus 2020

Menjadi Penulis Produktif

 

Oleh : Cahyadi Takariawan

Dalam proses menulis, kualitas tulisan adalah bagian dari proses. 

Namun, ada realitas yang tak terbantahkan ---bahwa Anda tidak akan bisa membuat tulisan yang berkualitas, apabila tidak pernah menulis. Maka kuantitas tulisan, adalah bagian utuh dari proses untuk menghasilkan kualitas tulisan.

Ungkapan good things take time menjadi relevan dalam proses menulis. Anda tidak akan bisa menciptakan tulisan yang berkualitas, jika tidak menyediakan waktu yang cukup untuk menulis setiap hari. 

Jangan menunggu mood atau wangsit untuk menulis. William Faulkner, penulis novel Sanctuary, mengungkapkan “Saya hanya menulis apabila mendapat inspirasi. Dan setiap jam sembilan pagi, inspirasi itu selalu datang”. 

Ini mengajarkan kepada kita konsistensi. Menulislah setiap hari pada waktu yang sudah Anda tentukan sendiri. 

Prolem kebanyakan orang yang tengah belajar menulis adalah konsistensi. Mereka tidak konsisten, mudah beralasan, sehingga tidak pernah menghasilkan karya tulis. 

Measa sibuk, lalu tidak menulis. Merasa lelah, lalu tidak menulis. Ini yang membuat tidak produktif.

Selengkapnya, simak hanya di

https://www.kompasiana.com/pakcah/5f3bc8e7097f3658a24f5212/menjadi-penulis-produktif

"When the good stuff comes to the surface, write it down" -- Neal Cavanaugh, 2018

Dalam proses menulis, kualitas tulisan adalah bagian dari proses. Namun, ada realitas yang tak terbantahkan ---bahwa Anda tidak akan bisa membuat tulisan yang berkualitas, apabila tidak pernah menulis. Maka kuantitas tulisan, adalah bagian utuh dari proses untuk menghasilkan kualitas tulisan.

Ungkapan good things take time menjadi relevan dalam proses menulis. Anda tidak akan bisa menciptakan tulisan yang berkualitas, jika tidak menyediakan waktu yang cukup untuk menulis setiap hari.

Warren Buffet menyatakan, "No matter how great the talent or efforts, some things just take time. You can't produce a baby in one month by getting nine women pregnant." Sehebat apapun bakat, sebesar apapun tekad, semua hal tetap memerlukan waktu. Anda tidak bisa melahirkan bayi dalam satu bulan, meskipun mengumpulkan sembilan perempuan hamil.

Menjadi Penulis Produktif

Produktif, artinya banyak menghasilkan karya. Selalu menciptakan karya tulis tanpa henti, setiap hari. Itu makna produktif dalam dunia menulis. Untuk menjadi penulis PRODUKTIF, bisa ditempuh dengan sembilan tips berikut ini.

P -- Persiapan

R -- Rencana

O -- Outline

D -- Doa

U -- Unik

HALAMAN :














K -- Konsisten

T -- Teliti

I --  Ilmiah

F -- Finish  

Berikut penjelasan rinci dari sembilan tips menjadi penulis PRODUKTIF. Jika Anda lakukan sembilan tips ini, dijamin Anda benar-benar produktif dalam menghasilkan karya tulis.

P -- Persiapan 

Agar bisa produktif menulis, Anda perlu persiapan. Misalnya persiapan mental spiritual, perisapan bahan, persiapan data, persiapan buku referensi, persiapan waktu, persiapan tempat dan persiapan alat.

Bahkan secara teknis, menyiapkan minuman sehat yang Anda perlukan sebagai teman saat menulis. Semua perlu Anda persiapan dengan baik, agar saat menulis bisa optimal. Produktif itu, harus dimulai dengan persiapan yang baik dan matang.

R -- Rencana 

Anda harus menyusun rencana jangka panjang maupun jangka pendek. Rencana panjang terkait dengan berapa target buku yang akan Anda hasilkan setiap tahunnya. Target jangka pendek terkait dengan aktivitas menulis rutin yang Anda lakukan setiap hari.

Rencanakan dengan matang, Anda akan menulis fiksi atau nonfiksi. Jika memilih fiksi, jenis apa yang Anda pilih, demikian pula apabila nonfiksi, jenis mana yang akan Anda tulis. Rencanakan, berapa panjang tulisan Anda. Rencanakan tema apa yang akan Anda tulis, dan siapa segmen pembacanya.

HALAMAN :


O -- Outline 

Buatlah outline atau kerangka tulisan agar memudahkan Anda menuangkan ide ke dalam tulisan. Yang dimaksud dengan outline adalah poin-poin penting yang ingin Anda tuangkan ke dalam tulisan. Bisa dalam bentuk narasi, flowchart, diagram atau bentuk lainnya. Bahkan untuk tulisan pendek, outline hanya dalam pikiran saja.

Outline akan sangat membantu, terutama ketika Anda menulis dalam rentang waktu yang panjang. Misalnya menulis novel atau membuat buku ilmiah populer dalam tiga bulan. Kerangka tulisan akan sangat membantu.

Produktif itu, karena memiliki kerangka tulisan yang jelas.

D -- Doa 

Bagi Anda yang beragama Islam, minimal ucapkan basmalah sebelum memulai menulis. "Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan 'bismillahirrahmanir rahiim', amalan tersebut terputus berkahnya" (HR. Al-Khatib dalam Al-Jami').

Berdoalah agar bisa menghasilkan tulisan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Berdoalah agar dimudahkan menulis. Dengan berdoa, Anda telah menghadirkan spiritualitas yang kuat sejak awal proses penulisan.

Produktif itu, karena berbekal doa dan permohonan terbaik kepada Allah.

U -- Unik 

Percayalah dengan keunikan Anda masing-masing. Anda tidak perlu menjadi Tere Liye KW atau Dee Lestari KW. Anda cukup menjadi diri sendiri yang unik, dengan gaya bahasa Anda, dengan cara penulisan Anda. Justru di situ letak kekuatan tulisan Anda, karena menampilkan diri Anda secara unik.


Penilaian baik atau tidak baik, tidak perlu menjadikan Anda risau, karena semuanya bagian dari proses. Namun Anda perlu meyakini satu hal, bahwa Anda akan semakin berkualitas jika menampilkan keunikan diri Anda sendiri dalam menulis.

Produktif itu, harus menampilkan jati diri Anda yang unik.

K -- Konsisten 

Jangan menunggu mood atau wangsit untuk menulis. William Faulkner, penulis novel Sanctuary, mengungkapkan "Saya hanya menulis apabila mendapat inspirasi. Dan setiap jam sembilan pagi, inspirasi itu selalu datang". Ini mengajarkan kepada kita konsistensi. Menulislah setiap hari pada waktu yang sudah Anda tentukan sendiri.

Problem kebanyakan orang yang tengah belajar menulis adalah konsistensi. Mereka tidak konsisten, mudah beralasan, sehingga tidak pernah menghasilkan karya tulis. Merasa sibuk, lalu tidak menulis. Merasa lelah, lalu tidak menulis. Ini yang membuat tidak produktif.

Produktif itu, harus konsisten dalam menulis setiap hari.

T -- Teliti 

Teliti ulang semua yang sudah Anda tulis. Lakukan self-editing dengan teliti, jangan ada isi tulisan yang salah atau menyalahi kebenaran maupun etik. Ini yang disebut sebagai substansial editing, yaitu meneliti kandungan atau isi atau pesan utama dari tulisan. Substansial editing adalah kewajiban penulis.

Selain itu, teliti tulisan Anda agar sesuai dengan kaidah Pedoman Umum Bahasa Indonesia (PUEBI) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Ini yang disebut sebagai mechanical editing, yaitu meneliti tulisan untuk disesuaikan secara mekanik dengan kaidah daturan kebahasaan.

Produktif itu, harus disertai ketelitian dalam mengedit dan membenahi tulisan.

I -- Ilmiah

HALAMAN :



Semua tulisan yang hendak dipublikasikan, fiksi maupun nonfiksi, tetap terikat dengan kaidah ilmiah. Anda harus bisa menjelaskan dan mempertanggungjawabkan isi tulisan secara akademis, meskipun bersumber dari imajinasi. Bahkan jika isi tulisan fiksi Anda sesuatu yang tidak mungkin terjadi dalam kehidupan keseharian, tetap ada kerangka ilmiah yang mendukungnya.

Jika Anda merujuk, maka harus mencantumkan sumber rujukan atau referensi. Inilah di antara kaidah ilmiah yang penting dalam dunia tulis menulis. Ada kejujuran ilmiah dalam setiap tulisan kita.

Produktif itu, harus mengikuti kaidah ilmiah dalam dunia penulisan.

F -- Finish  

Selesaikan tulisan Anda. Jangan tergoda menulis tema lain saat Anda sedang berkonsentrasi menulis sebuah tema. Sangat banyak godaan penulis, untuk menuliskan aneka tema yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Jika Anda mudah tergoda, niscaya Anda tidak akan pernah sampai garis finish.

Misalnya, saat tengah menulis buku, Anda tergoda untuk melakukan projek lainnya. Dampaknya buku tidak selesai. Saat tengah menulis cerpen, tergoda membuat novel. Setelah mulai menulis novel, Anda tergoda ingin menulis esai. Jika selalu Anda turuti, Anda tidak akan pernah menjadi penulis produktif.

Produktif itu, harus mencapai garis finish.


TUJUH KEBIASAAN PENULIS YANG SANGAT EFEKTIF

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“We are what we repeatedly do. Excellence, therefore, is not an act,  but a habit” — Aristoteles

.

Anda semua pasti pernah mengenal karya monumental Stephen R. Covey, berupa sebuah buku berjudul “The 7 Habits Of Highly Effective People”. Ini menjadi salah satu buku best seller dunia yang diterjemahkan ke dalam sangat banyak bahasa. Memaparkan tujuh kebiasaan yang sangat efektif dalam kehidupan manusia.

Ya, itu buku lama. Namun saya ingin membahas tujuh habit tersebut dalam perspektif tulis menulis. Bagaimana kita menggunakan tujuh kebiasaan yang efektif tersebut, sebagai seorang penulis.

Kebiasaan 1 : Jadilah Proaktif

Penulis harus proaktif. Jangan duduk menunggu mood berjam-jam tidak ngapa-ngapain. Jangan merenung bertahun-tahun dan tidak menghasilkan satupun karya tulis. Menurut Stephen R. Covey, bersikap proaktif artinya bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri dan membuat pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai, bukan pada suasana hati atau keadaan.

Menulis selalu memiliki tujuan, dan terkait dengan nilai-nilai yang kita yakini. Maka penulis mengembangkan sikap proaktif dengan mengoptimalkan empat karunia manusia yang unik, yaitu kesadaran diri, hati nurani, daya imajinasi, dan kehendak bebas. Menulislah dengan empat karunia ini.

Kebiasaan 2 : Memulai dari Tujuan Akhir

Apa tujuan akhir dari kehidupan Anda? Ingin masuk surga, pastinya. Nah, mulai saja dari sini. Jika Anda ingin menempati surga tertinggi, harus mengupayakan dengan tenaga, waktu dan perhatian yang tertinggi pula. Termasuk dalam menulis. Capailah surga, melalui tulisan Anda. Bagian ini, menurut Stephen R. Covey adalah penciptaan manusia secara mental.

Lalu, apa bentuk akhir dari tulisan Anda? Sebuah buku, sebuah artikel, puisi, cerpen, atau novel? Berapa halaman buku yang ingin Anda buat? Berapa karakter atau berapa kata yang hendak Anda hasilkan dari artikel Anda? Ini adalah bentuk akhir secara teknis, dari setiap tulisan Anda.

Mulai saja dari tujuan akhir, dipadukan dengan bentuk akhir ini.  Dengan mendefinisikan secara jelas tujuan akhir kehidupan Anda, dan dengan menentukan bentuk akhir dari tulisan Anda. Setiap tulisan, harus Anda proses dengan segenap kesungguhan, agar bisa meningkatkan level surga Anda nantinya.

Kebiasaan 3 : Dahulukan yang Utama

Menentukan prioritas sangatlah penting. Hal ini karena semua manusia memiliki keterbatasan, maka dahulukanlah yang utama. Menurut Stephen R. Covey, mendahulukan yang utama artinya mengorganisasikan dan melaksanakan hal-hal yang telah diciptakan secara mental berupa tujuan, visi, dan nilai-nilai yang Anda yakini.

Saat Anda mengatakan tidak punya waktu untuk menulis, maka artinya Anda tidak menganggap menulis sebagai hal penting yang patut diprioritaskan. Anda tengah menyatakan, sangat banyak hal lain yang lebih penting untuk Anda kerjakan.

Jika memang demikian, jangan lagi bertanya bagaimana cara menulis atau cara membuat buku, jika hal itu memang bukan hal penting bagi Anda. Tentu saja, Anda berhak untuk memiliki prioritas yang lainnya.

Namun jika dalam prioritas hidup, Anda memasukkan menulis masuk sebagai hal utama, maka Anda harus mengalokasikan waktu khusus untuk melakukannya. Harus ada waktu rutin yang Anda gunakan untuk menulis. Ini menunjukkan, Anda telah membuat prioritas.

Kebiasaan 4 : Berpikir Menang / Menang

Menurut Stephen R. Covey, berpikir menang / menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi. Sebagai penulis, Anda tidak bisa sendirian dalam memunculkan karya tulis. Anda selalu memerlukan pihak lain.

Anda memerlukan editor, desainer buku, juga penerbit. Maka jangan berpikir konfrontatif, ingin menang dalam semua titik interaksi. Namun berpikirlah menang / menang, sehingga semua pihak merasa senang bekerja sama dengan Anda.

Anda juga memerlukan jalur distribusi bahkan mungkin reseller untuk mempercepat proses penjualan buku Anda. Berpikir menang / menang membuat buku Anda cepat terjual dan semua mendapatkan keuntungan.

Kebiasaan 5 : Berusaha untuk Memahami Terlebih dulu, Baru Dipahami

Sebagai penulis, Anda berusaha untuk memahami pembaca terlebih dahulu. Anda harus menyapa pembaca Anda, maka berusahalah untuk memahami kebutuhan mereka. Jangan malas melakukan survei, meskipun sederhana, untuk mengetahui kebutuhan segmen Anda. Dengan cara ini, Anda akan mampu memberikan tulisan terbaik untuk mereka.

Di antara cara sederhana untuk mengetahui kebutuhan pembaca adalah dengan survei melalui media baik online maupun media cetak / elektronik. Mengetahui persoalan yang tengah dialami oleh masyarakat, membuat Anda mampu menyapa mereka denga bahasa yang tepat. Dengan cara ini, pembaca akan merasa nyaman karena mendapat perhatian melalui tulisan Anda.

Menurut Stephen R. Covey, berusaha memahami menuntut kemurahan; sedangkan berusaha dipahami menuntut keberanian. Maka efektivitas terletak dalam kemampuan menjaga keseimbangan di antara keduanya.

Kebiasaan 6 : Wujudkan Sinergi

Sebagai penulis, sangat banyak hal yang bisa Anda wujudkan sebagai sinergi. Misalnya, membuat sinergi antara karya tulis Anda dengan semua akun medsos yang Anda kelola. Jika Anda mampu mengoptimalkan akun media sosial, miaslnya facebook, instagram, youtube dan lain-lain, maka sekaligus akan menjadi jalan lempang bagi Anda untuk melakukan sosialisasi, promosi atau publikasi karya Anda.

Secara sangat positif, ini mencapai tujuan-tujuan penulisan yang Anda lakukan —bahwa semakin banyak orang mendapat inspirasi dari tulisan Anda. Tentu nilai kemanfaatan bagi diri Anda akan semakin meningkat apabila tulisan Anda dibaca oleh semakin banyak orang.

Sinergi juga bisa Anda lakukan dengan berbagai pihak yang akan bisa membantu menyebarkan informasi ataupun promosi terhadap karya tulis yang Anda hasilkan. Misalnya bersinergi dengan toko buku online maupun offline, serta berbagai pihak yang bisa bekerja sama dengan Anda dalam proses penyebarluasan karya tulis Anda. Tetap dengan menggunakan prinsip win / win solution.

Kebiasaan 7 : Mengasah Gergaji

Suatu ketika Anda bertanya kepada seorang penebang pohon, “Apa yang sedang Anda kerjakan?”

“Tidak dapatkah Anda melihat? Saya sedang menggergaji pohon ini,” jawabnya.

“Anda terlihat lelah. Berapa lama Anda telah mengerjakannya?” tanya Anda.

“Lebih dari 5 jam, dan saya lelah. Ini benar-benar kerja keras!” serunya.

“Nah, mengapa Anda tidak beristirahat saja beberapa menit dan mengasah gergaji itu? Saya yakin Anda dapat bekerja lebih cepat setelah mengasahnya,” ucap Anda.

“Saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji. Saya terlalu sibuk menggergaji!”

Anda lihat, pisau gergaji penebang pohon itu pasti akan semakin tumpul, ketika ia tidak mau berhenti sejenak untuk mengasah gergajinya. Makin lama, ia semakin tidak produktif. Dengan waktu yang sama, hanya sedikit pohon berhasil ia gergaji.

Demikian pula menulis. Anda akan semakin produktif jika rajin mengasah ketrampilan. Anda belajar dan belajar. Anda menempa diri untuk menajamkan pisau gergaji kepenulisan Anda. Dengan demikian intuisi menulis Anda tidak akan pernah tumpul, bahkan bisa semakin tajam.

Bahan Bacaan

FUNERAL TEST UNTUK PENULIS

 



.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Stephen R. Covey dalam buku “The 7 Habits Of Highly Effective People” menyebut tujuh kebiasaan yang sangat positif untuk kehidupan keseharian manusia. Tujuh habit  tersebut sudah saya sampaikan di siniuntuk menjadi kebiasaan positif penulis.

Covey di antaranya menyatakan, bahwa habit yang sangat penting adalah ‘memulai dari akhir’. Bagi orang beriman, akhir itu adalah akhirat. Maka kita bisa memulai dengan harapan akan akhirat yang indah, yaitu surga. Jika kita ingin meraih surga, maka semua yang kita lakukan saat kehidupan dunia, harus bisa mengantarkan kita ke surga.

Bagi penulis, aktivitas menulis dan hasil karya tulis adalah ibadah. Maka ibadah bukan hanya saat shalat atau puasa, ibadah bukan hanya saat berdzikir dan berdoa, namun juga saat menulis dan menghasilkan karya. Ini harus menjadi tiket bagi kita untuk menggapai surga.

Funeral Test

Namun sebelum tiba di akhirat dan menikmati keindahan surga, kita juga bisa menerapkan Funeral Test yang dikemukakan oleh Stephen R. Covey. Pada dasarnya test ini sebentuk harapan-harapan yang kita bangun dalam kehidupan kita hingga mencapai ujung akhirnya. Akhir perjalanan di dunia, adalah kematian.

Maka Stephen R. Covey mengajukan saran Funeral Test atau Test Pemakaman, agar kita bisa membayangkan kondisi akhir dari perjalanan kehidupan kita di dunia. Covey menyarankan, agar setiap kita bertanya kepada diri sendiri tiga pertanyaan penting. Tiga test yang mengajak kita memulai dari sana, dari akhir kehidupan dunia.

Jika kelak kita dimakamkan, di hari pemakaman itu, apa yang Anda inginkan? Mari saya mengajak Anda untuk menemukan jawaban atas tiga pertanyaan Covey berikut:

  1. Kata-kata seperti apa tentang diri saya, yang saya inginkan dari orang-orang di hari pemakaman saya?
  2. Sebagai orang yang seperti apa, saya nanti dikenang oleh orang-orang setelah saya meninggal dunia?
  3. Untuk hal apa, saya nanti akan dikenang setelah saya meninggal?

Pertama, Merancang Harapan akan Kata-kata yang Akan Diucapkan Orang

Membayangkan hari pemakaman diri kita, lalu banyak orang hadir pada pemakaman itu. Apa yang akan mereka katakan di hari itu? Misalnya, “Seorang penulis telah meninggal dunia. Beliau telah tiada, namun semua karya tulisnya akan abadi sepanjang masa”.

Seperti saat Sapardi Djoko Damono wafat, ungkapan dari Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia menyatakan, “Prof. Sapardi merupakan seorang guru, sahabat dan kolega. Kami semua di kampus sangat kehilangan dengan kepergian almarhum yang kita semua kenal dengan dekat dan akrab. Beliau merupakan orang yang sangat bersahaja”.

“Hari ini, bukan saja FIB UI yang kehilangan guru besarnya, tetapi Indonesia juga harus melepas salah satu anak bangsa yang turut berperan mengangkat harkat bangsanya melalui karya dan pengabdiannya pada seni budaya Indonesia,’’ ujar Dekan FIB UI Dr. Adrianus Laurens Gerung Waworuntu.

Kedua, Merancang Citra Diri setelah Kematian

Covey menanyakan, “Sebagai orang yang seperti apa, saya nanti dikenang oleh orang-orang setelah saya meninggal dunia?”

Tentu kita semua sangat bahagia apabila dikenang dengan semua karya kebaikan kita. “Beliau adalah orang baik. Kami bersaksi akan kebaikan beliau”. Ini tentu kenangan yang sangat mendalam.

Betapa sedih jika dikenang sebagai pelaku kejahatan, apalagi ketika namanya diabadikan dalam sejarah sebagai penjahat negeri. Tentu kita tidak ingin dikenang sebagai penulis yang menyebarkan kebencian, permusuhan, dan perpecahan bangsa.

Kita ingin dikenang sebagai penulis yang konsisten dalam menebarkan kebaikan, mengajak kepada persatuan, dan menguatkan persaudaraan. Penulis yang selalu mengajak berpikir positif, tulisannya memberikan energi untuk bangkit di saat sulit, konsisten mengajak melakukan hal-hal terbaik.

Ketiga, Merancang Persepsi dan Memori Orang terhadap Kita

Pertanyaan ketiga Covey adalah, “Untuk hal apa, saya nanti akan dikenang setelah saya meninggal?”

Betapa mulia, jika setelah seseorang meninggal dunia, dirinya dikenang sebagai pahlawan bangsa. Di masa pandemi corona, berguguranlah ratusan tenaga medis yang telah berjuang menyelamatkan nyawa manusia dari serangan Covid-19. Namun diri mereka sendiri menjadi korban.

Sejarah akan mencatat orang-orang mulia seperti Prof. Dr. dr. Iwan Dwi Prahasto (Guru Besar FK UGM), Prof. Dr. dr. Bambang Sutrisna (Guru Besar FKM UI) dan ratusan pejuang Covid-19 lainnya yang telah gugur, sebagai pahlawan bangsa. Nama mereka akan disebut dalam pelajaran sejarah, dan tercatat dalam lembar dokumen negara sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Merancang Akhir yang Indah

Memulai dari akhir, artinya kita memiliki harapan-harapan besar yang bukan hanya duniawi. Sebab tiga funeral test yang dikemukakan Covey, sebatas berdimensi dunia —yaitu apa pandangan orang terhadap kita setelah mati. “Gading”, mungkin itu yang diwariskan gajah setelah dirinya mati. Namun toh, ‘tak ada gading yang tak retak’.

Maka yang sangat esensial adalah merancang keabadian di akhirat, dengan sebaik-baik amal di dunia. Jadikan tulisan Anda sebagai sebaik-baik amal, yang bisa dibanggakan dihadapan Allah kelak ketika menghadap kepadaNya.

Seseorang akan menghadap Allah dengan amal berkilat, karena tulisan yang ditinggalkannya membuat perubahan kebaikan kepada sangat banyak manusia. Semoga itu adalah kita.

Bahan Bacaan

Stephen R. Covey, The 7 Habits Of Highly Effective People (Edisi Terjemahan), Dinamis Publishing, 2017

MENGALAHKAN MUSUH, MEMENANGKAN KETERATURAN

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“If you write regularly, you will generate more creative ideas than if you write only sporadically. Successful writers do not wait until they are inspired to write” — Joseph M. Moxley

.

Mungkin Anda hanya menulis sedikit kata setiap harinya, namun Anda lakukan itu dengan teratur. Anda selalu rutin menulis, pada waktu yang sudah Anda tetapkan, setiap hari. Tidak ada hari berlalu, kecuali Anda menghasilkan karya tulis –sebagian kecil dari tema, atau menyelesaikan satu tema.

Joseph M. Moxley menyarankan keteraturan yang patut kita simak. “Jika Anda menulis secara teratur, Anda akan menghasilkan lebih banyak ide kreatif daripada jika Anda hanya menulis secara sporadis. Penulis yang sukses tidak menunggu sampai mereka terinspirasi untuk menulis”, ujar Moxley.

Mengalahkan Musuh-Musuh Keteraturan

Namun untuk menjadi teratur, Anda harus mengalahkan sangat banyak musuh. Berikut sebagian musuh yang wajib Anda kalahkan.

  • Kemalasan

Musuh pertama untuk membangun keteraturan dalam menulis adalah kemalasan. Seperti apapun pandainya seseorang, seperti apapun hebatnya dalam kemampuan menulis, namun jika malas, tak akan bisa menghadirkan keteraturan. Para pemalas cenderung tidak menghasilkan karya.

Itu sebabnya, bagi Anda yang beragama Islam, kita dituntunkan untuk berdoa secara rutin, agar dihindarkan dari sifat kemalasan. Doa tersebut diajarkan oleh Nabi Saw, “Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali”. Ya Allah, aku berlindung dari sifat lemah dan malas.

Menurut Imam Nawawi, ‘ajz (lemah) adalah tidak memiliki kemampuan untuk melakukan kebaikan. Sedangkan malas (kasal), adalah kurangnya motivasi untuk melakukan kebaikan padahal memiliki kemampuan. Jadi ‘ajz itu tidak ada kemampuan sama sekali, sedangkan kasal itu masih ada kemampuan namun tidak ada dorongan untuk melakukan kebaikan.

Kita didorong untuk melawan rasa lemah dan malas. Ini menandakan, kita diharapkan menjadi manusia yang giat dan produktif melakukan banyak kebaikan. Bukan menjadi pemalas dan lemah kemauan.

  • Ketakutan

Musuh kedua adalah ketakutan. Banyak penulis pemula yang diliputi ketakutan akan kualitas hasil karya. Misalnya, takut kalau hasil karya tulisnya tidak berkualitas. Ada yang takut mendapat kritikan atau celaan dari pembaca. Ada yang takut dinilai negatif oleh orang-orang di sekitar. Ada yang takut tulisannya tidak dibaca dan tidak dipedulikan. Ada yang takut dinilai sebagai tidak patut.

Semua jenis ketakutan itu, akan membelenggu. Dampaknya, membuat tidak menepati jadwal-jadwal menulis yang telah ditetapkan sesuai Zona Waktu Menulis (ZWM) masing-masing. Ada ketakutan, “Ngapain harus capek-capek menulis, nanti hasil tulisanku cuma diketawain pembaca”.

Ketakutan seperti ini sebenarnya bisa diatasi dengan membuat disclaimer kepada pembaca. Santai saja, karena toh tidak ada orang sempurna di muka bumi ini. Bahkan penulis paling hebat sekalipun, juga memiliki kekurangan dan kelemahan. Jadi Anda boleh saja menuliskan disclaimer di awal tulisan, jika Anda merasa nyaman dengan itu.

Saya pernah menulis dengan disclaimer berlapis-lapis. Coba cermati tulisan saya dengan disclaimer yang berlapis, di sini. Artikel saya yang berjudul “Tulisan yang Bagus dan Berkualitas, Seperti Apa?” benar-benar saya buat dengan ketakutan. Namun saya harus menuliskannya, dengan cara memberi disclaimer berlapis. Ini membuat saya merasa lebih nyaman dan aman.

  • Keragu-raguan

Musuh ketiga adalah keragu-raguan. Banyak penulis yang dilanda keragu-raguan, apakah ada gunanya menulis tema ini? Apakah jika aku tulis cerita ini, akan ada manfaatnya? Apakah tulisanku ini nanti akan menyinggung pihak tertentu? Sangat banyak jenis keraguan yang menghinggapi diri penulis, sampai akhirnya memilih tidak menulis pada waktu yang seharusnya ia menulis.

Para ulama menjelaskan, sebagian dari sifat ragu-ragu itu dari setan. Terutama bagi mereka yang kehidupannya penuh dengan ragu-ragu. Artinya, itu adalah musuh yang harus dilawan, karena berdampak merugikan. Membuat tidak produktif, dan membuang-buang banyak kesempatan.

Memang ada jenis keragu-raguan yang positif, misalnya ketika menulis terkait dengan hal-hal yang memerlukan rujukan. “Apakah hadits yang saya kutip ini sahih?” Nah keraguan ini positif, dan ditindaklanjuti dengan mencari informasi status hadits. Jangan sampai menyebarkan hadits dengan informasi yang salah.

Yang harus dilawan adalah ragu-ragu yang membuat tidak menulis. Ritme keteraturan yang hendak divangun menjadi hancur berantakan karena mengikuti keragu-raguan. Tetapkan pendirian, buang keragu-raguan.

  • Ketidaktahuan

Musuh keempat adalah ketidaktahuan. Banyak penulis pemula membayangkan, menulis buku adalah sesuatu yang hebat dan istimewa. Persepsi ini terbangun, karena ketidaktahuan tentang cara membuat buku.

Annie Dillard  penulis buku For The Time Being menyatakan, “You know when you think about writing a book, you think it is overwhelming. But, actually, you break it down into tiny little tasks any moron could do.”

“Anda tahu ketika berpikir untuk menulis buku, Anda pikir itu luar biasa. Tetapi, sebenarnya, Anda memecahnya menjadi tugas-tugas kecil kecil yang bisa dilakukan orang biasa saja”, ujar Dillard.  

Jadi banyak hal yang karena ketidaktahuan, membuat seseorang tidak berani melakukan atau mencoba melakukan. Maka kita harus banyak belajar, untuk mereduksi ruang-ruang ketidaktahuan yang merugikan.

  • Ketidaktegasan

Musuh kelima adalah ketidaktegasan. Sangat banyak hal harus dilakukan, sementara sangat sedikit waktu yang kita miliki. Maka harus memiliki prioritas yang jelas, sembari berani bersikap tegas. Misalnya, berani tegas mengatakan tidak terhadap berbagai tawaran agenda yang bisa merusak ritme keteraturan.

Anda harus benar-benar mengelola waktu. Robert Boice penulis buku Professors as Writers menyatakan, “Clearly, writers must learn to deal with time. Jelas, penulis harus belajar berurusan dengan waktu”. Tanpa pengelolaan waktu yang tegas, menulis akan selalu dikalahkan oleh agenda lainnya.

Maka bersikap tegaslah, agar Anda bisa menikmati ritme keteraturan dalam menulis. Katakan tidak dengan tegas, untuk semua hal yang bisa merusak keteraturan menulis.

Bahan Bacaan

Joseph M. Moxley, Establish a Comfortable Place to Write, www.writingcommons.org

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...