Rabu, 30 Desember 2020

Mujizat Tuhan Ada




Oleh: Ledwina Eti Wuryani

Pada  hari Kamis, sepulang dari kantor, ada tergeletak  surat undangan di atas meja ruang tamu.  Dikirm Lewat  JNE. Kuambil dan segera kubaca. Ehh!! Yustin, Ternyata teman  SMP- ku nikah beneran!. Temanku  akrab waktu itu, teman senasib dan sepenanggungan, hehe...

Teman dekat, dan  jika aku ketemu aku selalu  meminta undangan nikah padanya. Setahuku  hanya tinggal dia  perempuan yang masih jomblo. Semua  sudah berkeluarga. Setiap Chatt atau japri aku selalu  tanya kapan undangannya.  Akupun berjanji  datang kalau dia menikah. Yach, namanya ‘janji’ jadi aku harus berusaha menepati.

  Sorang  Wanita karier yang  sudah sukses. Dia pekerja keras. Dia kerja di bank Dunia. Keren!. Betapa  tidak!  Dia sudah mapan!!, gaji gede.  Di Jakarta sudah punya rumah  dan mobil  .  Cuma rumah tangga yang belum ada. Ku tahu  saat dia datang  reunian SMP, sumbangan untuk kas  Reuni dia paling gede juga. Teman-temanku cerita juga tentang dia kalau dia Jomker ( Jomblo keren), hehe....

Baru kali itu juga  aku datang reuni SMP. Teman-teman  semua baik sekali, kami begitu akrab. Ada rasa lucu, rasa rindu. Suka dan ceria.  Hihi.. saya membayangkan waktu itu, ketika kami semua masih  pakai seragam  putih biru dan  anak laki-laki  pake celana pendek. Ingat juga teman-teman yang nakal, seperti Sindu suka melawan guru. Ari Suka  usil dan ngerjain teman. Yuli yang suka ngantuk di kelas. Eh! Iya satu, si   Toro yang suka ngamplang dan ngutang di mbak Menik penjaga kantin.

Ingat pak Tamaji guru olah raga yang ganteng, sehingga jadi idola murid cewek. Mereka  cewek cari perhatian!. Hhh..dasar!  Undari yang suka manja   pada pak Tamaji. Ibu Trini , guru matematika tersayang, anggun dan cantik. Nah!,  ini aku paling disayang, hingga akhirnya aku kuliah ambil jurusan matematika. Pak Bakri, Sang kepala Sekolah  yang ‘berwibawa’ dan ’galak’. Jika kita sementara di kantin jam pelajaran ada kepsek melintas, 0oo...kita berusaha  berhamburan lari sembunyi. Ada yang  bawah meja, ada  yang ngumpet di balik krombong, ada  juga yang  sembunyi di  balik pintu...lucu deh pokoknya. Pak kepsek biasa keliling kalau  jam pelajaran. Ibu Siti Kireni yang centil, suka  pakai baju yang seksi. Hihi.. aku paling  ‘demen’ lihat  ibu ini, dia mengajar ketrampilan menjahit.  Kalau pelajarannya, aku yang disuruhnya  nulis di papan tulis. Ibu yang cerewet saja di kelas. Anak-anak  mencatat sambil ketawa-ketiwi karena  kata-kata ibu yang selalu membuat lucu.

Ada satu temanku yang  bikin aku serba salah. Dulu kami pernah jatuh cinta, cinta monyet sih.  Sampai sekarang  dia tahu saja  nomor HP- ku entah dari mana dia  bisa  ada nomorku. Dia kadang tidak perasaan  SMS padaku.  SMS mesra!. Omong mimpi. Obral janji!  Aku jadi kikuk padanya. Aku jadi serba salah. Mau dijawab bagaimana?. Setiap  pagi tak pernah alpa mengucapkan selamat pagi.  Tak pernah lupa!!, kok ya tidak  bosan!. Aku tidak pernah  balas.  Mau kublokir  aku sendiri yang perasaan. Wah!! Kalau  suamiku tahu bisa bahaya.

Saya sudah  hapus nomornya dia, tapi  muncul saja dan tetap WA nan dan muncul di Sim 2. Aku jadi tidak  nyaman, sampai sekarang dia belum berkeluarga. Wahh!!, ini yang membuat aku  jadi  takut terjadi  apa-apa padaku.  Aku ni  wanita yang tak sempurna. Aku  sudah  melupakan semuanya,  sudah kukubur dalam-dalam sejak itu.

Jujur sih, kadang pas  suami marah-marah  aku jadi ingat dia.  Betapa tidak!! Dia paling perhatian padaku.  Orangnya royal dan  tidak pelit. Suka  kasih hadiah. Betapa  wanita tidak suka  orang yang seperti itu. Aneh!!, kenapa belum berjodoh juga samapai sekarang.  Yach!! Karena ‘sesuatu’ hal  terpaksa deh aku meninggalkan dia. Dia memang selalu memuji keberadaanku. Dia selalu bilang belum mendapatkan ‘orang’ yang  seperti aku. Ahh!!   Itu yang membuatku selalu berbunga-bunga. Aku  jadi terbang  ‘melayang’ bagai tak injak tanah.  Aku  begitu tersanjung! “Hhh!!, dasar lelaki kalau ada maunya!”,gumanku dalam hati

Perselingkuhan adalah hal yang paling ‘berdosa’. Jangan!!.  Janganlah aku menyakiti pasanganku. Sejelek suamiku. Sejahat dia, dia adalah belahan jiwa. Dia ayah dari anak-anakku. Aku sudah  berjanji di hadapan  altar gereja. Kami sudah dimeteraikan. Harga mati!. Hanya maut yang bisa memisahkan kami , cieee.....bener nih! Aku  harus bersyukur pada Tuhan dengan apa yang ada.

Setan memang ada. Setan bisa  saja merasuki semua orang juka  sudah dimabuk asmara. Orang bisa lupa mana yang darat, mana pula yang lautan. Ahhaay...Kebas  bang jagooo!!! Bambang  suka menggangguku. Merayuku. Mengajakku suatu saat pergi ketempat ‘tertentu’. Mau di Bali?, di Jakarta!!, ahh !! itu  ngajak gila namanya. Kadang  akupun manusia  yang lemah dan  tidak berdaya. Maju-mundur, maju mundur.....Ahh!!  aku jadi pusing!!. Tidaaakk!!,  Mohon  jangan ganggu aku!. Sebagai seorang ibu  hendaklah jadi panutan, jadi contoh yang baik untuk anak-anak dan keluarga besarku.

Kembali cerita ke Yustin temanku yang mau menikah. Beruntunglah yang jadi suaminya. Semuanya sudah  ada.  Sang suami  tinggal menikmati  luar dalam, haha... “Tapi umur Yustin sudah 38 tahun, apakah  dia bisa  punya momongan??” pikirku meragukan. Saya ingat sang artis  Maya  yang dulu saya  lihat di TV nikah sudah  berusia 40-an tapi punya anak. Yach, semoga  dia cepat dikaruniai momongan. Kita punya keyakinan Jodoh  adalah Tuhan yang atur. Nach dapatnya jodoh setelah berumur sekian. Resiko!. Harus diterima. Resiko dipikir belakang. Yang penting sekarang sudah berjodoh. Sudah ada yang ‘perhatian’ dan ‘cinta’  sepenuh hati. Hidup pun jadi terasa begitu indah.

“Aku  akan datang ke pernikahannya!”, niatku.  Pekerjaanku  akan kubereskan memang  sekarang!. Yach, tentunya  supaya aku bisa  menghadiri pernikahan  Yustin. Dia ada di Jakarta  sementara aku di Magelang. Dengan mobil pribadi  perjalanan bisa 12 jam.  Perjalananan panjang. Aku harus  ijin minimal 3 hari.

Aku ajak adikku, kebetulan dia kan wiraswasta, jadi tidak ada ikatan waktu. Aku minta dia mengantarku, karena suamiku juga  lagi sibuk mendampingi  inspektorat.  Mereka  ada Monev ( monitoring dan  evaluasi) proyek DAK di 11 sekolah. Wow..begitu sibuknya dia, aku tidak berani  minta tolong mengantar.  Dalam perjalanan aman tak ada  hambatan yang berarti.

Akhirnya  sampai juga di Jakarta. Pesta di gedung mewah ‘Grand Pacifik’. Menu makanan yang spektakuler. Dari  dari Menu  Snak dan menu makan  hidangan pasta, Ayam cola, Zupa-zupa dan makanan aneh lainnya...ah aku tak tahu nama yang lain. Maklumlah wong ndeso.. Mereka  pesta dengan Standing Party. 

Para tamu masuk harus menunjukkan undangannya. Lanjut menuju ke  podium  pengantin. Bersalaman ,  berciuman  , foto bersama langsung makan.  Pas giliranku  masuk dipanggiilnya spontan’” Estiii.....!!!, didekapnya aku erat-erat!,  sampai aku kikuk  dilihat tamu-tamu. Setelah  itu aku ngeloyor turun dari podium. Aman...., batinku. Aku sudah lunas dengan janjiku hadir dipernikahannya.

Sebelum  kami ke parkiran panitia panggil kita  untuk foto keluarga dengan polaroid sebagai souvenir dari mereka. Asyik!!, bagus acaranya.  “Praktis pula!, kepingin nanti kalau anakku nikah supaya bisa  buat seperti itu”, itu harapan dan kerinduanku.

Habis pesta pun aku dan adikku tidak  langsung pulang. Betapa badanku lungkrah, penat dan capek. Saya lihat tadi banyak sekali  tamu yang tidak menggunakan masker. Ahh!! Aku jadi  takut. Janganlah  jadi sugesti untukku. Deg!! Rasa jantungku.  Jakarta Zona merah!!, Jakarta  banyak sekali yang positif covid,  dalam sehari bisa ratusan orang!! Aku  jadi  takut.  Kok, rasa  hati ini jadi  tidak nyaman.

Aku harus  istirahat dulu di rumah adikku, dik Erni, adik  nomor 2. Aku  empat bersaudara dan 2 adikku  tinggal dan kerja di Jakarta. Aku dan adik bungsu  tinggal di Magelang.  Adikku  bungsu juga sudah berkeluarga jadi  rumah sendiri. Ibu sementara tinggal  bersama aku karena di kampung tinggal sendirian. Semalam aku  tidur di rumah adikku, dan  kami star dari Jakarta jam 05.00 pagi.

Rasa pusing  masih kutahan,  rasa gelisahpun aku tak mau ceritakan. Aku tak  mau semua dari kepikiran. Tuhaaann!!,  kuatkan aku. Mobil  terus melaju. Mobil jan 60 km/jam saja. Santai.  Adikku ini memang orang paling hati-hati.  Aku ijin  tak mau  cerita di sepanjang perjalanan. Aku berusaha tidur di mobil. Biarlah aku  sendiri yang merasakan sakitku. Eh!! Kampung tengah  mulai  terdengar merintih, lapar.

 Aku ajak mampir  adikku di warung soto. Aku sudah lama tidak makan soto, rindu. Ada lagi nama soto begitu ‘unik’ Soto Ndelik (sembunyi atau tidak kelihatan:Red). Aku jadi penasaran.  Adikku begitu lahap menikmati soto itu. Aku iri sekali. Badanku  rasa  letih. Sebenarnya dari kemarin di pesta  rasa lidahku ‘beda’. Aku tak  bisa menikmati makanan ‘lezat’ di pesta kemarin.  Bahkan waktu makan  di tempat  adikkupun semua makanan terasa hambar.

Dengan rasa  was was  aku makan  juga soto yang sudah tersaji di depanku.  Aduhh....sama, terasa hambar juga,  rasa lidahku mati.  Jantungku berdegup kencang!. Hati  terasa was was. Tapi aku terus berusaha  wajar di depan adikku.  Pikiranku jadi tak  karuan,  mendadak kepalaku pusiiingg sekali. Tapi aku tak  berani omong jujur pada adikku.

Dalam hati aku selalu berdoa. Tuhaaannnnn...semoga aku  tidak kena  covid-19.  Jangan Tuhan, aku  tidak siap. Aku  berusaha  netral di depan  adikku, tapi pikiran ini terus  membuatku gelisah. Rasa ketakutanpun semakin menjadi. Di sepanjang  perjalanan  aku berusaha untuk  tidur...aku  minum antimo 3 butir, supaya bisa tidur,  tapi tetap tidak bisa tidur. Bagaimana ini???.

Ahh!!, Hatiku semakin tak nyaman.  Tak terasa sampailah aku di rumah.  Adikku langsung minta  ijin untuk segera pulang karena  waktu memang sudah malam. Kami jalan santai , beberapa kali  kami istirahat.  Badanku benar-benar lemas. Sepanjang  jalan aku mabuk.  Aku  tak berdaya, lemas sudah kehilangan tenaga.

Aku segera masuk rumah. Kulihat ibuku dan anak-anakku sudah  tidur. Kulihat ternyata sudah jam 11.00 malam. Tidak biasanya juga  jam segitu sudah sepi.  Aku pelan -pelan masuk kamar,  kulihat suami masih nonton You tube.

Aku balik ke dapur , kunyalakan kompor gas mau masak  air untuk mandi. Kujaga  air sampai mendidih. Segera  kuangkat dan kubawa ke kamar mandi. Aku masak  air lagi, maksudku  untuk merendam  seluruh pakaianku dengan air panas.  Rasa pusing pun masih ada. Pikiranku benar-benar  gelisah!.

Pintu kamar ku buka. “Dik..”, tegur suamiku. Hanya itu yang ia omong.  Aku pun segera  baring disebelahnya. Aku belum berani omong  apa-apa.  Hanya  aku  langsung tidur. Suami pun tak  omong apa-apa, mungkin tahu kalau  aku pasti capek.

Sepanjang  malam benar-benar  ‘utuh’ aku tak bisa  tidur. Kupaksa pejamkan mata , tapi ‘tetap’ tak bisa tidur. “Tuhaaannn!!,  jangan lah aku kena  corona!!” doaku di sepanjang malam. Berdebar-debar terus  rasa hatiku.  Badan merasa tidak nyaman.  Tak terasa air mata menetes penuh dipipi.  Terdengar  rerisak-isak  suaraku,  akhirnya suami membangunkan aku. Dikira aku mimpi.

Dirabanya kepalaku. Suami pun jadi kaget karena aku deman tinggi. Tak pikir panjang  saat itu juga dia membawaku ke  rumah sakit. Was-was  hatiku tak kunjung berhenti. Aku takuuuttt sekali jangan sampai aku  kena virus covid.  Suami segera  mengeluarkan  mobil dari  garasi dan mengajakku cepat untuk naik. Jarak  rumah ke rumah sakit  sekirat 2 km.  Di sepanjang  jalan aku berusaha tenang. Suami yang kelihatan  panik.

Waktu itu aku pulang  dari Semarang, ada  tugas dinas. Aku sempat karantina mandiri selama 3 hari.  Aku juga sudah swab bersama  17  orang yang lain  tapi hasilnya belum  ada. Masih  sementara menunggu.  Sepanjang hari pun terus dihantui  rasa ketakutan. Apalagi kalau baca-baca di medsos ciri-ciri orang positif Covyd adalah :  Deman, batuk kering, kelelahan, lemas badan,rasa tidak nyaman, nyeri  tenggorokan, diare, mata merah, sakit kepala ,  hilang  indera perasa,  yang paling menakutkan  adalah kesulitan bernafas  atau sesak nafas , nyeri di dada  atau rasa  tertekan pada dada hilangnya kemampuan  berbicara. Itu semua  ada padaku!.

Sampai di rumah  sakit ternyata hasil  swab pun belum ada. Dag dig dug   hati ini.  Jiwaku  terasa sudah  di ujung  jurang yang sangat  curam. “Dikutik sedikit, tinggal jatuh”,batinku.  Setiap  detik kudaraskan  doa pada Tuhan,  Bunda Maria dan para kudus di Surga.  Tak  sedikitpun  lepas doa batin yang kulakukan.

Tapi hati harus  selalu pasrah, iklas dan syukur. Usaha sedikit, walau berat untuk   tersenyum.  Tuhan kuatkan aku. Tuhan  dampingi  terus aku. Kini  Tuhan ada saja bersamaku. Tuhan membawaku ke taman yang indah. Aku diajaknya jalan-jalan berkeliling. Waahhh!!!,  mungkin ini  yang namanya Firdaus. Taman Eden. Tempat adam dan hawa  berada. Begitu Indahnya. Kebahagiaan selalu merasuki hatiku. Senyum  selalu menebar. Pesona alam indah  seakan  membawaku hinga ke sanubariku.

Tuhan, janganlah kebahagiaan ini  sirna. Tak henti-hentinya aku terus bersyukur.  Tak pernah kurasakan hidup ‘sebahagia’ ini. Sungguh!!, ini adalah  kebahagiaan yang halkiki. Setiap melewati rumah -rumah indah mereka selalu menebarkan senyuman dengan ramah. Aku diajak ke kolam , begitu sejuknya air itu.  Aku turun mencoba  meraih  air untuk cuci muka.

Ahh!!,Tiba tiba  aku terjatuh. Aku terpeleset ke dalam. Terbelalak mataku!. Terasa dingin. Dingin sekali!!. Aku kaget!, aku kaget sekali, terlihat beberapa orang  di sekitarku.  Mengelilingi aku. Sabar  ya ibu. Sabar ya... doa  ya ibu....ternyata aku ada di sebuah ruang  Isolasi. Suasananya ngeri.  Seperti ruang operasi. Ruangan itu  teramat sangat dingin karena AC.  Aku sampai mengigil kedinginan.  Terlihat disitu dokter dan perawat sangat sibuk. Terlihat juga  ada 4 orang pasien yang ada diruangan bersamaku. Mungkin  mereka mempunyai  penyakit yang sama denganku. Tak pernah dalam hidupku kurasakan dinginnya suasana  seperti ini.  Aku terasa di dalam kulkas.

Ya Tuhan...ternyata aku tadi pingsan. Aku  tak sadarkan diri.  Aku berada di alam bawah  sadar. Saat itu seolah Tuhanku yang selalu kurindu  datang menjemputku, mengajakku berjalan-jalan. Oh Indahnya. Tuhan...Engkau begitu baik, aku rela mati. Aku siap  mati  kapanpun. Dalam  Tuhan  hidup selalu dalam kedamaian dan kebahagiaan. Seolah hidup  di taman yang indah mempesona. Dokter dan perawat  tak pernah tahu  apa yang ada di pikiranku saat itu.

Kini, sepenuhya aku  sadar!. Sungguh aku sudah sadar. Aku jadi ingat  suami dan anak-anakku. Terlihat mereka  melihatku dari  lubang kaca. Kedua mata mereka  begitu sembab, begitu juga suamiku.  Jangan sampai  mereka berpikir tadi aku sudah  meninggalkan mereka untuk selamanya.

Ternyata  benar aku  positif corona. Mungkin karena aku tersugesti terus menerus dan ketakutan  yang berlebihan akhirnya terjadi beneran. Imun jadi drop. Badan lemah hingga tak sadarkan diri.

Tuhan trimakasih, mujizat sudah terjadi padaku. Dokter bilang aku baik-baik saja. Ibu boleh pulang. Aku menangis terharu dan bahagia. Tak henti-hentinya aku berucap syukur kepada Tuhan. Seandainya  aku  benar-benar  mati, bagaimana dengan akan-anakku yang  masih kecil.

Yach!!, kehidupan  sudah  di atur olehnya. Dengan cara apa Tuhan panggil pun kita tidak mungkin menolak. Jika Tuhan benar-benar panggil, artinya tugas di dunia sudah habis. Kapan Tuhan panggil pun kita tak pernah tahu.  Kita   harus selalu siap  dengan kematian.

Saya jadi ingat  kotbah pastor di gereja. Berbuatlah dan berperilakulah, seolah-olah  besok  kamu mati. Ini kan ku ingat terus. Akan ku terapkan dalam hati. Akan kuberitahukan untuk keluargaku dan orang-orang yang kutemui. Hidup mati  ada di tangan Tuhan, aku percaya.   Semoga  hidup bisa bermanfaat untuk sesama kita. 

Sahabat kecilku

 




Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Sudah lama aku tak pulang. Seperti biasa   setiap lebaran,  tetanggaku dan teman-teman  kantorku  selalu pulang. Wajib hukumnya, Lebaran pulang. Aku sendiri yang jarang pulang. Teman-teman seangkatanku semua sudah berkeluarga. Kadang aku kesal!, karena  setiap  pulang pasti mereka tanya,” kapan undangannya”, ‘sebel!’ Kesel, aku dibuatnya.  Sedih juga sih, tapi mau bagaimana. Tuhan belum memberikan jodoh padaku. Pernah teman omong kepadaku, aku  belum juga dapat jodoh karena  ada yang menutup  ‘Aura’ ku. Entah apa itu artinya.

Menurutku, ya...saya hanya belum menemukan orang yang cocok aja. Aku susah  sekali jatuh cinta. Aku tak tahu kenapa.  Kadang aku berfikir, hewan saja  bisa berjodoh masa orang tidak!. Ah!! Kalau  pikir itu aku jadi pusing!. Rejeki, Jodoh dan mati Tuhan sudah atur.  Yach!!, aku menungu kapan saatnya itu datang. Berfikir saja yang positif.

Beberapa kali sih aku sempat dekat dengan laki-laki. Tapi. Jujur nih!.  Mereka rata-rata  hanya mau ‘dapat’. Susah memberi!. Hampir semua  laki-laki yang deket denganku susah berkorban. Kalau memang mereka cinta betul padaku, berkorban sedikitlah buatku. Tapi ini tidak!!  Kadang kalau  pas  jajan, atau makan di kafe atau di rumah makan, aku menunggu dia yang mengeluarkan uang, eh!! kutunggu-tunggu, ‘nihil’. Sekali-sekali boleh dong, tapi  kalau keseringan!. Mana aku tahan. Masih pendekatan saja sudah  terlihat dia pelit, apalagi nanti.

Susah!, Susah sekali ya  cari pasangan  yang  setia, rela berbagi,  iklas memberi dan mau berkorban. Akhirnya  aku pribadi jadi menyimpulkan, ini menurutku pribadi saja.   Mereka pasti tidak benar-benar mencintai aku . Mereka hanya mau dengan uangku. Bosan deh!!.

Hidup sendiri lebih menikmati. Cuman...kadang males  orang-orang disekitarku selalu tanya. Kapan!, kapan  hayo !!, Kenalin dong!!  kutunggu  undangan nikahmu ya!!... Ihh!! Itu lho yang bikih aku  tak nyaman.

Tapi  bagaimanapun aku harus pulang. Aku harus komitmen!.   Ibu di rumah sudah ‘sepuh’. Aku sebagai anak pertama. Adikku tiga.  Aku harus punya tanggung jawab untuk orang tuaku. Apalagi bapak  sudah  sekitar 11 tahun yang lalu meninggal, saat aku  kelas 3 SMA.

 Adikku, ketiganya  sudah menikah. Adik laki-laki bungsu  tinggal di rumah bersama ibuk. Yach !!  itung-itung  ibu memang ada yang tanggung jawab. Aku  rutin tiap bulan  kirim SPP buat ibu, sekedar untuk tambahan beli sayur. Bapakku dulu guru, PNS dan sekarang ibuk masih terima pensiun dari  bapak.

Ibuk  tahu kesibukanku di Jakarta. Pernah ibu tinggal bersamaku di  rumah sederhana yang sempat kubeli. Setiap hari aku  start jam 05.00   dari rumah  nanti jan 21.00 baru pulang. Adalah  pekerjaanku yang sangat menyita waktu. Aku  kerja di bagian anggaran, kalau ada yang selisih  keuangan , pusing!! Kita  cari dulu sampai  ‘klop’ aku baru bisa  tenang dan nyaman. Kalau Masih  ada masalah, biar  kecil aku  selalu kepikiran dan sampai di rumah bikin hati tidak tenang. Bahkan mungkin, sampai pagi tak bisa tidur.

Biarlah orang-orang nanti  tanya  tentang kapan nikah, dan lain- lain. Cuekk!!. Yah itu resiko!.  Rasa kesepian kadang  ada juga sih...tapi  dengan  kesibukanku di kantor,  akhirnya ‘terlupakan.

Dari  rumah aku menuju Stasiun gambir. Tiket sudah kubeli 3 hari yang lalu  kursi  No. 19. Sampai di stasion ternyata  Kereta pun sudah  kelihatan. Untung aku tidak lambat. Aku langsung masuk, kucari no 19 dan  aku langsung duduk. Kutaruh  koperku di  rak atas.

Tempat  duduk ini kosong mbak??  tanya seorang lelaki dengan ramah. Iya!! Silahkan!,. jawabku  tak menoleh. Aku langsung  memposisikan duduk di dekat jendela. Aku biasa mabuk kalau duduk di tengah.  Kubuka  tas kecilku,  kukeluarkan hpku. Kucari WA  dari Grup SMPku Dulu. Aku paling senang  baca  WAG SMP karena  teman-teman ku tuh kocak-kocak.  Benar-bener hiburan buat aku. Apa lagi si  Budi Santosa, hehe..dia paling pinter  mbanyol, belum kata-katanyanya  agak  liar dan nakal!  Sedikit kadang  campur parno. Entah dari  mana saja mereka  dapat sumbernya.

                Setelah  sibuk atur barang-barangnya yang banyak, Laki-laki itu  akhirnya duduk di sebelahku.  Kulirik dia kelihatan  dia orangnya  sopan sekali.  Aku pura-pura tak  perhatian. Ahh!! Persetan dengan dia. Aku  semakin asyik  baca-baca postingan dari  teman-temanku . Beberapa Grup  teman  lama, ada yang  dari SMP, SMA, Asrama,  Kampusku....Itu...membuat  aku jadi geli sendiri.  Aku  jarang buka WA atau Fb  kalau pas  kerja di kantor. Kalau sudah  pegang  ini barang,  semua kerjaan jadi  berantakan. Yang jelas tak mungkinlah.  Kecuali saat istirahat makan siang.                 .

“Sudah sampe mana ya mbak sekarang ?”, tanya lelaki sebelahku.   Aku masih sibuk dengan HPku . Mataku menerawang di jendela kereta api. Lihat-lihat   Spanduk-spanduk diluar, jangan sampai ada tulisan nama kota. “Ndak  tahu mas!!..saya kuang  hafal  dengan kota-kota yang dilewati”, jawabku  sambil nyegir  karena aku merasa terganggu.  Karena  aku sendiri  memang tak pernah tahu. Pasti laki-laki itu  sebenarnya sudah  tahu, cuma mau basa-basi saja.

“Mbak mau kue?”,  tawar  lelaki itu  sambil menyodorkan kue yang dipegangnya. “ah, tidak, trimakasih”, jawabku. Kuperhatikan lelaki itu lapar, sepertinya  belum sarapan, dengan lahapnya ia makan. Diambilnya lagi minuman dari tasnya, “ Mbak, mau  minun?”,  tawaran kedua  lagi kepadaku. “tidak, terimakasih!.” Jawabku tanpa menoleh. “Setengah kesal karena aku  merasa terganggu .

‘’ Turun di mana  mbak ?  Semarang  atau Jogya? Suara  lelaki  itu  kurang kudengar  karena  suara  gerbong kereta yang keras. Jogya !! , jawabku singkat.

 ‘’oh kita sama!! . “kenalkan! , saya Haris” ujarnya  sambil  mengulurkan tangannya.

‘’Esti “ kataku pendek sambil kuulurkan tanganku untuk salaman .

‘’ Dulu saya pernah punya teman namanya Esti, rumahnya  Minomartani.  Anaknya  pak Hadi Pranoto .’’ ujarnya nyerocos.

Heh?!!  Aku menoleh kaget.  Ayahku memang bernama Hadi Pranoto . Rumahku Minomartani . Atau? ,ada Esti lain yang ciri-ciri mirip aku ,di kotaku??!.  Aku bergumam dalam hati. Segara saja  mataku menatap  pria itu  dengan tajam .

    ‘’ Ya, saya  Esti  anak Pak Hadi Pranoto!  Dan rumahku Minomartani!. Anda siapa??!  Ucapku.  Berharap ia seorang yang pernah aku kenal, tapi pikiranku blank. Aku tidak punya teman seperti pria yang kira-kira  usianya 50-an yang duduk di kursi sampingku ini.

     ‘’ Oalah  dik!!, sudah kuduga  ini.  Aku  Haris  guru menari yang rumah  di Njayan Lor.’’

      ‘’ Haris??. siapa oh, mas Haris!!!, Njayan Lor !! , “no waaay!” ucapku ,spontan.

      Mas Haris  ini dulu adalah guruku menari.  Dia memang pinter menari  karena mereka sekeluarga  adalah  orang seni.  Bapak dan ibunya serta adik-adiknya pintar menari. Mereka  hidup dari “seni”.  Rumahnya dipakai untuk tempat latihan menari Tradisionil. Mereka biasa menyewakan pakaian menari. Pakaian tari itu  dia  desain sendiri. Motif-motif dan pernik-perniknya dia  jahit sendiri. Bapak, ibu, anak semuanya trampil buat kostum nari jawa.

Pak Kayat nama bapaknya. Orang  seni biasa hidupnya  sederhana. Mas Haris  tidak kuliah. Lulusan SMA   saja.  Selain mengajar di rumahnya sendiri dia  mengajar tari di  beberapa desa termasuk di desa saya. Kami dan beberapa  teman di kampung yang se-umur-an dengan saya  ‘wajib’ hukumnya  ikut menari. Bayarannya murah sekali,  setiap  pertemuan Rp 1000,- an waktu itu.

Dulu!!, saya biasa  di suruh menari  kalau pas ada syukuran. Ada pernikahan. Sering juga  kalau ada peresmian gedung,  ada tamu  dari  luar  kami di suruh menari. Betapa senangnya kalau kita menari. Misal,  ada yang nikah laki-laki dari kampung kami dan istrinya  atau pasangannya dari kota, kita pasti diajak untuk ‘tugas’ menari. Bahkan pernah  menari di Magelang, di Pekalongan, di kendal dan beberapa kota besar yang lain. Pernah juga waktu  mbak Yur nikah kami menari di jakarta!, Asyik!!. Pesiar gratis!!. Selain ditangggung transpotnya masih juga  dikasih amplop.

 Betapa bahagianya waktu itu. Jadi  masing-masing harus ‘menguasai’ tarian. Nanti orang  pesen jenis tarian apa, nach!, kita diseleksi yang paling bagus ya yang terpilih. Itu adalah bagianku! Aku harus  rajin. Aku suka  cari muka sama mas Haris. Diam-diam aku mati-matian belajar dirumah, sampai hafal dan berusaha untuk yang ‘ terbaik’ supaya terpilih. Haha...itu  ‘trik’ ku.

Ada  beberapa tarian aku tahu: gambyong, Sri Rejeki, Minak Jinggo Dayun, Layang seto layang kumitir dan masih  beberapa tarian lagi.  Pokoknya  kalau  sudah ada yang mau ‘nanggap’ tari. Kita  semua berlomba  belajar ‘serius’!!....Aku paling di sayang sama  mas Haris. Tapi  mas  Haris  menganggapku  ‘hanya’ sebagai adik, tidak lebih. Padahal aku ‘suka’ sama dia, maka  aku selalu berusaha  untuk tampil yang ‘terbaik’. Mungkin waktu  itu yang namanya ‘cinta monyet’.  Aku cinta, tapi kan aku masih kecil dan ingusan. Kelas 6 SD waktu itu

 Kita  selalu menunggu saatnya Hari Raya Keagamaan, misal muludan, lebaran  atau Natalan bersama. Untuk kita bisa tampil menari. Menari kan pasti  saat pesta, selain kita  dapat uang  kita pasti makan enak. Orang kampung  kan makan daging  hanya saat ada pesta dan hari raya saja.  Hari-hari biasa  hanya makan sayur plus tempe tahu. Ya... paling ikan kering. Hehe.... Sampai sekarang makanan  favorit ya Tahu dan tempe bacem.

 Hidup kami  dulu rukun antar umat  beragama. Bahkan sampai sekarang. Saya biasa puasa ikut mereka, latihan mengaji,  orang tuaku tidak pernah melarangku, walaupun agamaku katholik. Nenekku selalu memotivasi kami para cucu. Siapa yang puasa  tidak pernah putus dalam sebulan penuh dapat hadiah  2 baju dan 2 sepatu. !. Ya dapat 2. Nahh!  Itu aku dan mbak  Atik  yang ‘langganan’ dapat 2. Saat tarawih  kita bekerja sama buat kue untuk di bawa ke Mesjid. Kami  juga  dapat jadwal  untuk  tanggung ‘kue’ di Mesjid  untuk tarawih.

 Sepatu  hadiah dari nenek, Saat itu  namanya sepatu jenggel. Pokoknya  aduhai kalau dipakai. Kalau lebaran dengan  sepatu jengggelnya,  jalan kaki 2 km untuk silaturahmi ke Pakde-bude ( pangggilan dari kakaknya ibu : Red) tak pernah merasa capek. Saya selalu rajin gara-gara saya selalu dipuji sama nenekku. Ya...beban perasaan deh buat aku. Aku malu  kalau tidak bisa membuktikan!.

Tapi asyik!. Aku suka.  Kita semua  para cucu  banyak. Biasa saling ganggu, saling  berolok-olok. Kita juga biasa  main ‘bentik, gobak  Sodor,  lompat karet, kasti,  peta umpet,  main bekel....dan masih banyak mainan waktu itu. Rumah kami saling  berdekatan. Dulu !!,,, kata nenekku, nenek dari nenekku itu  orang  kaya pedagang tembakau,  jadi  kampung  itu nenek punya semua.  Bahkan gunung disampaing kampung  juga milik nenekku. Kampung itu samanya Gejayan.. Artinya  jaya. Mas Haris  cukup kenal baik dengan keluargaku. Mungkin, mas Haris  punya pandangan ‘berbeda’ dengan kami.

Depan rumahku mesjid besar, nenekku beragama muslim. Bude, pakde juga semua muslim. Satu kampung  hanya 4 KK yang beragama  katholik dan kami semua  .sekeluarga besar’. Karena kawin mengawin  yang berbeda  keyakinan akhirnya  saling menyesuaikan. Tapi kami hidup rukun dan damai.  Kalau hari Natal mereka mengunjugi kami. Hari raya  makan harus 7 kali diluar rumah.

 Nach itu kita  yakini sampai  sekarang saat Hari raya. Semua rumah pasti menyediakan makan. Jadi setiap tamu harus makan.  Ada juga yang  ekonominya ‘lebih’ kita masih diberi ‘salam tempel’ ( uang saku: Red) . Apalagi di rumah Bude Diyat, pasti dapat ‘uang’ baru.  Begitu senang. Jadi, langganan di rumah bude itu pasti,  kunjungan  paling ‘awal’.  Jika Natalan  tiba!!.  Gantian!.  Mereka  semua berkunjung ke rumah kami.

Kembali ke Mas Haris. Dia orangnya  baik, ganteng ramah lagi. Mas Haris  pinter  ndongeng. Tahu  to...Kami anak-anak  SD, masih ingusan waktu itu. Selesai latihan  menari kita  minta  di dongengi  sama mas haris. Dia mengajarkan pada kami untuk berendah hati dan mengagumi keagungan Tuhan lewat donggeng- dongengannya itu.

 Ah!!,mas Haris  adalah pendongeng yang jago. Iya berhasil mengambil hati aku dan teman temanku ,anak anak kampung.  Untuk selalu kelanggar. Bahkan ke gereja di hari Minggu. Untuk mendengar dongeng -dongeng . Yang aku ingat, iya pernah mendongeng  tentang “Kancil nyolong Timun”, “Joko Tingkir”, “Ken Arok”, “Damar wulan”. Pernah juga , iya mendongeng tentang lakon wayang  “Barata Yuda”,  ‘Ramayana”.   Ada juga  dongengnya tentang kisah cinta “Ratna dan Galih” , yang waktu itu sedang ngetok di bioskup dimainkan oleh Rano Karno.

   ‘Di Dalam  Kereta kami  hening sejenak. “Kira’in sudah jadi orang kosmopolitan ,terus lupa padaku”. “Berapa lama kita ngak ketemu ya? Duapuluh ,30 atau 40 tahun ? lama sekali  ya?’’

     ‘’ Wah! , berabad abad, mas. Namun  maaf  ya! . bukanya saya lupa atau pangling sama mas Haris,  sekarang tambah putih, tambah ganteng  ‘’,godaku.  Begitu  senang  aku menemukan teman dari masa kecilku.

    ‘’ Njenengan ( anda ) tinggal di Jakarta , mas ? sejak kapan!

    ‘’ Aku punya kios di Mangga Dua, jadi hanya bolak balik saja, biasanya sih bawa mobil sendiri. Istri dan anak-anak  tidak mau ikut ya  lebih baik aku naik kereta.  Istri yang  jaga kios. Saya sudah  lima belas tahun tinggal di jakarta.

     ‘’ Kabarmu gimana , dik?  Kabarnya sudah jadi wanita karier di kantor ya... di gedung tinggi di sudirman?  sudah ku duga dari dulu, kamu akan jadi orang hebat . ‘’ . Dari keluarga berada,  pinter dan sekolah  tinggi pula. Jujur!,  ‘dulu”  aku minder  dengan dik Esti lho..

‘’ah saya cuman karyawan  biasa, mas. Panjenengan yang hebat, sekarang jadi saudagar batik yang sukses!,’’

Seingatku ,mas Haris adalah orang yang tak pernah punya ambisi pada harta dan kekayaan . Iya!! Dulu dia tidak kuliah, walaupun sebenarnya orang tuanya  sebenarnya bisa membiayai. Aku tak  sedikitpun menyangka ,  dulu  hidupnya  begitu sederhana  tapi  sekarang  ternyata jadi pengusaha .

 Tentu tidak salah! , tapi diam-diam aku penasaran  apa yang membuatanya bisa berubah .

    ‘’ aku sudah lama ‘tidak’ ke Minomartani  dik! , katanya.

  “Gimana  kabar teman temanmu dulu itu ? si  Agus , Bambang, Fitri ,Liani , Ririn, Wiwin, Atik, Mardani , siapa lagi tamanmu yang badannya gede itu, Sindu  ? ‘’ masih berhubungan sama mereka ? ‘’ tanyanya , hafal satu per satu nama murid – muridnya dulu .

  ‘’ cuman ketemu Agus  saja , mas. Sama yang lain ngak pernah . Oh!! , paling Wiwin , suka Koment di facebook . Sekilas saja.! Tapi, juga belum pernah ketemu . ‘’

 Yang di sebut mas Haris  adalah teman- teman kecilku.  Kami adalah anak anak penari cilik. Rata-rata orang tua kami petani,  ada warung, buruh tani  , dan Bapkku sendiri adalah pegawai negeri dan guru SPG Panguli luhur.  Kami tumbuh bersama, bermain ,belajar mengaji , mandi di kali.

                Namun , sejak kita mulai  SMP  sudah sekolah terpencar-pencar. Aku sendiri  SMP  di kota.  Teman yang lain di SMP yang berbeda-beda.  Ada juga beberapa teman yang  tidak lanjut sekolah. Di SMA  sampai kuliah aku asrama. sejak itu , kami  semua jadi tercerai berai .

   Aku lalu bercerita panjang lebar pad mas Haris tentang kabar teman temanku yang hanya kudengar selintas dari ibuku , ataupun dari tetangga yang dulu .

  ‘’ Joko sekarang mengajar di SD Muhammadiyah. Sudah punya anak satu sekarang . Atik  jadi ibu rumah tangga, ikut suaminya di Jakarta . Ririn, kata ibuku, sudah menikah dengan anak pemilik  pondok pasentren di solo . sudah jadi bu Haji lho dia. Kalau Wiwin, dia masih tinggal di kampung sepertinya dia sibuk dengan keluarga , anaknya sudah dua ‘’ ujar nyerocos.

     Tiba tiba saja , aku menyadari , aku sudah terlalu lama tidak bertemu dan berkomunikasih dengan teman teman kecilku itu . Mereka pernah menjadi keluargaku. Keluarga yang aku pilih. Sigigih apapun usahaku untuk mencari teman teman baru,. Sebanyak apa pun friend di facebookku, tak ada yang bisa mengantikan mereka. Adakah mereka juga merindukanku? Masa kecilku terbuat dari kesetianan mereka. Ilmuku terbangun dari kegigihan mereka menyeruku untuk  rajin belajar, ketika aku lebih senang menonton serial teve di rumah. Kebahagiaanku adalah campuran dari remah-remah keriangan dan kepelosan kami dulu. Aku rindu , ‘memanggil  ‘ kembali mereka ke dalam hidupku. Mereka telah banyak berjasa untuk aku. Belajar bersama. Berlatih menari bersama. Bermain bersama. Dapat uang hasil menari bersama-sama. Betapa bahagianya aku waktu itu. Suka cita , ceria  tak ada habisnya.

 ‘’ Mas,  bagaimana kabar temanmu , mas Yudi, mbak Windi , dan mbak Titik ? ‘’ tanyaku , tentang teman temannya , yang sering iya ajak untuk mengajar kami dulu.  Saat mengajar menari biasa  mas Haris biasa ajak teman-teman sebayanya.

   ‘’Yudi jadi PNS di Sukabumi. Katanya dia pernah ketemu kamu di jombor. Si  Windi jadi aktivis LSM. Mbak Titik , jadi istri  saya. Kamu ngak datang sih di acara perkawinanku dulu ,’’ kata mas Haris , lalu mengeluarkan ponselnya , dan memperlihatkan foto tiga anaknya yang di HP miliknya

 Kenyataan bahwa dia menikahi mbak Titik??, batinku. Aku terkejut. Setahuku, mbak Titik, kaka jauh umurnya dibanding mas Haris. Aneh!!  Kalau tidak salah  usianya sepuluh tahun lebih tua dari pada  mas Haris. Menurutku, mereka bukan pasangan serasi. Kubayangkan. Padahal  banyak lho wanita-wanita  cantik teman-teman mas Haris,  Eh!! Kok jadi mbak Titik yang jadi Istrinya. Yach!, mungkin itulah ‘jodoh’. Banyak  wanita cantik yang naksir mas Haris, termasuk saya, hehe... Mas Haris  sudah ganteng , pintar menari, cakap agama lagi . Waktu itu dia adalah idola.  

   ‘’ Semua teman mas sudah pada berkeluarga. Kamu sendiri bagaimana? Berapa anakmu sekarang ? Lagi-lagi mas Haris mengejutkan dari lamunanku.  Aku kaget!!, ya mas, bagaimana? Tanyaku. “teman-teman mas semua sudah berkeluarga!, bagaimana dengan dik Esti sekarang?   ‘’ belum, mas. Belum ketemu yang seperti njenengan (Kamu:Red) , sih ! ‘’ godaku .

   ‘’ Itu karena kamu terlalu pemilih , dik! . Coba , deh kamu mau membuka hatimu, pasti  kamu  tidak perlu mencari. Dia sebenarnya ada di dekatmu,’’ katanya , bergaya peramal .

  ‘’ Mas sendiri , bagaimana ceritanya jadi pengusaha ? Aku pikir, orang seperti mas Haris menolak untuk kaya. Dulu,mas pernah bilang, harta adalah cobaan . Aku kagum sama Haris, percaya sepenuhnya rejeki di tangan Tuhan. Ya, bener memang rejeki di tangan Tuha., tapai kalau kita  hanya duduk-0duduk saja, rejeki jatuh dari langit? Katanya menjelaskan.  . . Tidak seperti aku ,setiap tahun naik gaji ,berapapun gajiku , rasanya , kok , kurang terus ya?’’

    ‘’ masa rejeki di tolak , dik ? ‘’

    ‘’ Dulu mas Haris bekerja serabutan , tapi hidup senang . Sekarang harus perhitungan, dong, namanya saja pengusaha !” ujarku , iseng .

     Dia lalu diam sesaat , menarik nafas panjang .

   ‘’ justru itu!! , dulu aku orang yang tidak bertangung jawab pada hidupku sendiri , aku pikir ,jika aku sudah merasa cukup, kenapa harus mencari lebih ? Dengan sedikit saja aku bahagia, kok. Ceritaku jadi pengusaha itu awalnya karena ibuku sakit-sakitan. Sudah  saya bawa kemana-mana untuk berobat tai tak kunjung sembuh. Bapak sudah duluan meninggal.  Akhirnya  pamanku yang tinggal di Jakarta memberikan uang  kepasaku untuk berobat. Tapi bu belum juga sembuh. Aku waktu itu jadi putus asa. Stress!!. Sedih. Semua  harta milik kami yang bisa terjual kami jual. Selain untuk makan untuk  pengobatan ibuku.

                Paman  sangat prihatin dengan kehidupan kami. Akhirnya paman  mengajak serta ibuku ke Jakarta. Akulah yang menjaganya. Sambil ibuku berobat rutin di jakarta , aku membantu   menjaga  toko pakaiannya. Aku bantu-bantu membesarkan bisnis pamanku itu.  Kami dan ibu bisa sekitar 2 tahun. Alhamdulilah akhirnya ibu sembuh.  Berkat tugas saya  jaga toko  dan  kadang  mengambil alih tugas paman  belanja barang. Akhirnya Segala aktivitas mtoko saya tahu.

                Dengn begitu akhirnya saya disuruh bertanggung jawab untuk toko paman yang di Tanah abang, Paman mempunyai beberapa  toko pakaian. Dari situ  akhirnya saya bisa membuka  toko sendiri yang awalnya modal dibantu oleh paman. Ternyata mbak Titik itu  sepupu dari istrinya pamanku. Ya, jadilah  kami  menikah. Rejeki memang tidak pernah salah alamat.  Tuhan yang menunjukkan jalannya padaku.

                Aku bertekad  untuk menjadi orang seperti pamanku, rela berbagi dan iklas memberi. Sepanjang kita  selalu memberikan  dengan iklas Tuhan  akan selalu melipatgandakan berkat itu buat kita.  Akhirnya  hidup kami terselamatkan,  adik-adikku sudah selesai kuliah juga dan mereka  semua  sudah kerja  dan sudah menemukan  pasangannya masing-masing.

                Tak terasa , kereta sudah sampai di stasion kotaku.  Hari sudah sore. Adikku bersama keluarganya sudah menjemputku.  Mereka melambaikan tangan dari kejauhan.  Syukur Tuhan sudah sampai.  “Dik, kalau  liburmu masih panjang kita ketemu di warung mbak Siti ya. Kita ngobrol lagi”, ajak mas Haris. Dan sekejab kemudian  ia sudah berlalu. Aku segera  turun dari kereta,  menuju ke tempat adikku berada. Aku sudah rindu untuk mendengar cerita mereka.  Rapelan cerita  berbagai hal yang sudah lama terpendan di hati.

 

 

Binar-binar mata Mesya yang hilang telah kembali

 





Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Mentari terasa panas menyengat  saat aku menjemput anak  semata wayangku. Dia kusekolahkan  di sekolahku dulu. Itu cita-citaku waktu  masih muda. Syukurlah ia diterma. Kata banyak orang adalah sekolah  favorit di kota itu. Sekolah itu  tergabung satu kompleks dari TK hingga SMA.

Saat menjemput, aku berusaha mengikuti lorong kecil. Aku tak mau  ada orang  tahu kedatanganku. Pasti mereka akan menanggapku. Kini aku  menjada, sejak mas Tomi  meninggal  sebulan yang lalu  karena kecelakaan bersama  teman wanitanya.  Kini aku hanya bersama Mesya, hidup berdua saja. Jika  mereka mengenal baik tentang aku atau anakku pasti mereka akan bertanya, mereka akan kepo . Bagaimana aku. Bagaimana keadaanku.  Dan lain-lain. Aku lagi malas menanggapi orang, lebih baik  aku menghindar!. Bila mereka melihatku  mereka bisa saja  menggunjingkan nasibku yang sudah menjada sampai hari ini. Dilema jadi seorang janda!.

Kunanti Mesya dengan penuh sabar di  lorong kantin sekolahnya.  Sementara aku menunggu aku jadi ingat peristiwa mas Tomi waktu itu.

Waktu itu mas Tomi  sementara diperjalanan, saat menuju ke bandara hendak ke Medan untuk  tugas dinasnya. Ternyata nasib sial  ada dipihaknya,  mobil yang ditumpanginnya hancur, luluh lantak. Mungkin supirnya  ngantuk.   Mobil menabrak  tiang beton di atas trotoar. Mobil terbalik,  Sopir dan mas Tomi dan sekretarisnya tak terselamatkan!. Sedih!!. Sessaak jantung terasa di dada kalau ingat saat itu.

Aku memang teramat sangat mencintai mas Tomi.Aku juga  sangat percaya dengan kesetiaan mas Tomi kepadaku. Setiap hari libur  dia selalu bersama keluarga.  Hari-hari Minggu selalu  menghabiskan waktu di rumah. Betapa bahagianya kita saat ia masih ada. Aku selalu berdoa semoga  kebahagiaan ini  terus berlanjut sampai maut memisahkan.

Sekarang  aku hanya dengan mesya, ya! aku hanya berdua saja. Sepi. Bi Minah  sudah saya suruh pulang saja. Kami lakukan  aktifitas di rumah sendiri. Jika pas malas  masak  paling kita beli  sayur di jalan, saat jemput  Mesya di sekolahnya.

Namun ternyata semua kenangan kesetiaan mas Tomi jadi amblas! Blass!! . Kepercayaan  jadi hilang!.  Rasa jengkel jadi muncul!.Walau  beliau sudah meninggal tapi sakitnya hati ini belum hilang. Ya!! Sakiiittt sekali!.

Ceritanya, begini: Saat itu  ada telpon berdering  di rumah, saat aku baru membuka pintu rumah. “Selamat siang!, Apakah ini rumahnya Bapak Tomi Saputra?!”: Suara lelaki tegas dari seberang. “ Benar, saya istrinya, Bapak siapa ya?”: tanyaku penasaran. “Saya Heri Watimena dari Kepolisian, bu”.  Oh!, ya! , ada apa dengan suami saya pak??. Kenapa Suami saya pak??!!”: tanyaku  gugup. Saya ingin memberitahukan kepada keluarga ibu, bahwa  pak Tomi  kecelakaan di Tol Jombor, Jogyakarta  dan beliau meningal  di tempat bersama seorang wanita beridentitas  Merry Susanti  dan seorang supir bernama Trimo”  . “Mohon ibu sempatkan untuk datang menuju lokasi!” lanjut pak polisi.

Jantungku berdegup kencang!. Hatiku terasa panas!. Kepala bagai kejatuhan besi seberat 10 kg. “ Tidak!! Tidak mungkin, Pak !!, Tak mungkin!!. Tangisku pun pecah.  Mesya  mendekatiku langsung kepeluknya dengan sangat  erat. Suami saya memang pergi  dengan  mbak Santi untuk urusan meeting katanya. Selama 3 hari. Ke Medan  bukan ke Jogya.

“Maaf bu , saya hanya memberikan informasi. Jika Ibu tidak percaya silahkan saja ke Jogya untuk membuktikan. Sekarang Jenasah ketiganya ada di RS Sarjito”: jelas  pak polisi. Aku Telpon balik kepada polisi: “Trimakasih pak, kami akan segera kesana”.

Hati saya masih dipenuhi  tanda tanya. Apalagi  dengan adanya modus penipuan yang saya dengar lewat medsos. Aku  coba telpon mas Tomi,  kutelpon-telpon ulang ternyata tidak  ada jawaban. Aku segera telpon Pak Deni, teman dekat mas Tomi.  Berulang-ulang  kutelpon, mungkin masih  berbicara  dengan orang lain. Dengan dada sesak  tetap aku  berusaha untuk terus menghubunginya.  Puji Tuhan, akhirnya tersambung.  “ Pak Deni , apa benar mas Tomi kecelakaan?!!”: Seruku  setelah dengar suara ‘haloo’ dari seberang.

Mbak Elly!!,  suara terdengar  gementar.... “ Saya turut berduka cita mbak ya. Kami di kantor  juga baru  dapat kabar dari Jogya. “Memang!, mas Tomi  dinas di jogya???” potongku. “ Dia pamit  padaku  meeting di Medan dengan  Santi sekretarisnya. Pak Deni  terdiam  agak lama dan tak menjawab pertanyaanku. Sebenarnya Pak Tomi ambil cuti 3 hari, mbak. Ku dengar bu Santi juga ambil cuti 3 hari, katanya ada urusan keluarga.  Maaf mbak.....aku tidak mengerti  juga kenapa ternyata mereka  berdua  ke Jogya. Akhirnya mereka kecelakaan,  semua  meninggal  termasuk  supirnya mbak Merry. Seluruh persendianku rontok!. Badan terasa tak bertulang!. Lemah, letih, pedih, perih di hati, campur aduk jadi satu.

Kutatap  wajah lugu anak semata wayangku. Mesya.  Kenapa keluarga kita jadi begini.  Betapa Tuhan memberi Ujian ini padaku. Sedikitpun aku tak pernah membayangkan, kebahagian keluargaku  berakhit  seperti ini. Selama ini aku mendewa-dewakan mas Tomi akan kesetiaanya. Ternyata dia jahat. Dia Jahat sekali. Kok, teganya dia mendustai aku!!. Bisanya dia janjian dengan Santi dan  berselingkuh. Ahh!! Kenapa!! Obat apa yang  sudah merasuki mas Tomi! Setan benar yang  sudah merayu mas Tomi, hingga dia  bertekuk lutut di depan wanita lain?

Kuelus rambut anakku, tak terasa  deras air mata mengalir di pipiku. Jelas kutangkap kemurungan di wajah anakku. Aku bergegas menyiapkan diri untuk  segera ke Jogya. Kuajak serta anakku.  Singkat cerita akhirnya ketiga jenasah di bawa pulang. Semua kantor yang mengurusnya. Aku   hanya  mengikuti komando  dari mereka.

Kini,  aku resmi jadi singel parent. Pendidikan  Mesya sepenuhnya adalah tanggung jawabku.  Keberhasilan  Mesya  itu tergantung aku. Haruss bisa!. Pasti bisa!.  Dipagi hari nan cerah. Saat mentari  terbit di ufuk Timur. Kubuka Jendela kamarku. Kulihat burung pipit bernyanyi. Kudengar suara ayam berkokok. Oh indahnya pagi itu.....

Aku menuju dapur untuk menyiapkan segala sesuatunya  untuk  aku dan anakku.  Sekarang aku  harus  lebih pinter-pintar membagi waktuku. Kebetulan sekolah Mesya sejalan dengan kantorku. Sebagai  staf dan gaji tak seberapa aku harus bisa mencukupkan  kehidupanku. Beruntung aku dan mas Tomi  sudah kredit rumah di pinggiran kota tempat tinggalku, walau sederhana. Hitung-hitung tidak bayar kontrak.

Jam 06.00 WIB tepat  aku dan Mesya  sudah siap  pergi. Kami  rutin berboncengan dengan motor. Bekal  makan siang sudah  siap. Di saat musin pandemi begini kami tidak boleh sembarang  makan di kerumunan. Usahakan untuk  jangan dulu  ke pasar yang banyak orang.

Mesya kelas 2 SD, pulang sekolah jam 10.00 tepat biasa ku jemput dia dan kuajak serta di kantorku. Beruntung  ada ruang  tempat anak-anak berkumpul dengan anak-anak teman sekantorku. Seperti biasa  pulang kita bersama dan sampai dirumah kami punya aktivitas masing-masing.

Seperti biasa sebelum jam  pulang aku sudah menunggu Mesya. Aku tak mau terlambat menjemputnya. Aku ingin dia tidak pernah kecewa walau papanya sudah tiada. Ku ingin dia  jadi anak yang disiplin,tegar dan mandiri.

Eh!! Terlihat Mesya sudah muncul dari  pintu  kelasnya.  Aku melambaikan tanganku.namun, mendadak  aku menjadi cemas melihat reaksinya. Ia tak bersemangat. Padahal aku  tidak lambat menjemputnya. “Kenapa gerangan, anakku ini??”: tanya dalam hatiku. Kulihat langkah lesunya menghampiriku. Jelas kutangkat kemurungan hatinya. Hemmm...  tak senyum sedikitpun untukku. Biasanya begitu  menghampiriku, ia mencium tanganku. Dia langsung nyelonong dan menarik tanganku. Aku mengikuti saja dan mengekor  dibelakangnya. Sungguh dia berbeda  dari biasanya.

Perubahan hari ini begitu membuatku cemas. Apakah ada teman yang  nakal mengganggu dia?. Apakah  dia diolok teman?. Apakah dia  merindukan ayahnya yang sudah tiada? Yach!! Pertanyaan banyak ini  sangat mengganggu pikiranku.

Haii, anak  mama yang paling manis. Boleh mama  bertanya padamu, nak?. Kenapa  kelihatan sedih anak mama tersayang? “Apa ada  kesalahan yang mama lakukan?”, tanyaku.  Kepalanya menggeleng, tapi air mata  menetes membasahi pipinya. Aku tahu.... pasti  ada yang tak beres hingga mendukakan hatinya. “Mesya sakit??!: tanyaku semakin  cemas.  Diapun menggelengkan kepalanya dengan malas. “ Oh, mama tahu!!,  barang kali Mesya bertengkar dengan teman ya!”, tebakku.  Mesya  masih menggeleng. “Kenapa dong???, Oh!!,...karena Mesya tak  sekelas lagi dengan Metty, Linda dan Lucy ya!”, tebakku lagi.

Mesya, mesya  kenapa??, mama jadi ikut sedih deh, kalau Mesya tidak  terus terang sama mama. Ayo dong?, Mesya  cerita?. Semoga mama bisa  membantu. “Ayo sayang, ceritakan pada mama!”, kataku padanya. “ Mama, akan dengan  senang hati mendengarkan  curahan hati anak mama yang paling mama sayangi”, kataku memohon.  “Anak mama yang paling cantik, paling pintar, mama selalu bangga padamu, nak!”, kucoba membujuk agar dia mau mengatakan unek-uneknya.

Jantung hatiku itu kulihat sesaat hanya  terdiam dan menatap lurus ke depan. Lama.....  Hingga akhirnya.....

“Begini ma......”, Putri kesayangnku  akhirnya menoleh ke arahku. “ Mesya sedih karena tidak bisa masuk di kelas unggulan, kelas  2A” , kata dia berikutnya. “Kelas 2A isinya anak-anak pintar, padahal  nilaiku bagus”, kenapa aku terlempar di kelas 2B?!, Priska, Metty, Linda, Lucy, Zahra semua di kelas 2A”, protes anakku.

Aku menghela nafas, bersyukur akhirnya Mesya jujur padaku. Dia mau mengemukankan  gejolak perasaan dan kesedihannya.

‘Oh...itu ya yang jadi masalah!, trimakasih sayang.....  anakku  mau cerita ke mama” , kucium kening anakku dengan mesra. Terlihat  senyum kecut dipipinya.

“Mesya sayang, bukan berarti  masuk di kelas 2B itu anak yang bodoh!. Bukan!, sayang. Mesya jangan berkecil hati dong!, kataku memberi semangat. “Mama   selalu bangga dengan  prestasi Mesya, Nilai Mesya rata-ratanya 8,65, bagus  sekali lho. Mesya hebat!”, pujiku kepadanya.

“Tapi, kenapa Mesya tidak bisa masuk di kelas 2A?, kenapa ma?, tanya Mesya. Mungkin ada nilai meysa yang surang ‘sedikit’ saja”, jawabku  coba menerangkan. “Nilai Mesya ada di ‘batas’ “, lanjutku kemudian. Maksudnya ternyata batas kelas 2A, nilainya 8, 67, begitu, jadi.....Mesya nati  nilai terbaik di kelas 2B. ; “Mengerti maksud mama?” kataku. Mesya pun mengangguk-angguk tanda paham.

Hmmm...begini Mesya. Mesya  sebenarnya tergolong anak yang pintar di sekolah. Anak yang kreatif, anak yang manis, tekun dan selalu  10 besar di kelas. Aku menatap lekat Mesya. “Mesya, jangan berkecil hati duduk di kelas 2B!. Nanti tunjukkankan bahwa Mesya aslinya adalah anak pintar. Buktikan!!, Meysa belajar lebih rajin, Mesya  kejar untuk dapat Rangking 1 di kelas B, ya!! Rangking 1. Juara Satu!. Mungkin kalau Mesya  masih bersama-sama dengan teman-teman lama,  tak mungkinlah Mesya bisa rangking1.

“Oh, begitu ya ma”, bening mata Mesya menatapku. “Iyalah”, tegasku lagi. Kamu tahu.....justru sekarang ini saatnya  kamu menunjukkan jati dirimu. “saya bisa!!, saya semangat!!, kuacungkan 2 jempolku kepadanya.

Perlahan  bibir Mesya merekah,  senyumnya kembali muncul. Hal ini yang  membuat hatiku teramat sangat gembira. Syukur Tuhan, akhirnya pergumulanku ini  terjawab sudah.

‘Wah, iya ya!,  mama benar sekali! Aku akan lebih rajin belajar!!, semangaaattt!!, bola  mata anakku pun berbinar-binar.

“Jadi janganlah sedih dan kesal lagi ya sayang?! Kalau Mesya tambah tekun, tambah rajin Mesya bisa Juata pertama, Juara kelas!! Hebatt!!, mama tambah bangga dengan anak mama. Kukecup pipinya berulang-ulang tanda kami sudah menemukan solusi.

“Ya deh,ma!! Siiaappp,  mesya akan buktikan!!, Mesya rangking satu di kelas baru 2B”, katanya dengan  penuh semangat. “Begitu!!, kutunjukkan 2 jempol tanganku  lagi padanya.

“ Yeesss!! Yess!” kerlip bola  mata Mesya begitu berbinar-binar bagai bintang kejora. ‘mama hebat, mama tahu yang Mesya pikirkan!, terimakasih mama!!,  kata mesya sambil mencium ke dua pipiku. “ trimakasih juga Sayang”, jawabku penuh  semangat dan suka cita yang tak terkira.

Aku menghela nafasku. Hatiku benar-benar lega. Hati benar-benar  terasa ‘plong’. Satu maslah  terselesaikan. Aku percaya, setiap masalah pasti bisa  diselesaikan. Jangan ada masalah yang  ditunda-tunda penyelesaiannya. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Aku bahagia hidup bersama putri tunggalku. Selalu optimis.

Sungguh!! Aku mengakui,  jadi ibu sekaligus ayah tidaklah mudah. Tapi kau akan berusha. Aku akan berjuang untuk masa depan  anakku semata wayang. Sepanjang kita berjalan berma Tuhan, semua akan baik-baik saja.  Aku selalu megandalkan Tuhan  dalam kehidupan. Itulah kebahagiaann hidupku.

 

 

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...