Sabtu, 27 Juni 2020

Bertutur tentang kehidupan yang tidak pernah diajarkan di sekolah

 

 Kekuatan cinta dan rela memaafkan dalam hidup dapat membuahkan keajaiban-kejaiban

Kita  sering menganggap bahwa dendam dan membalaskan “sakit hati”  akan memberikan pelajaran bahkan  membuat lawan  kita menderita. #Padahal dengan dendam,tubuh,pikirandanjiwakitajustru menjadi “tidak seimbang” dan “tertekan”sehinggajustrumerugikandirikitasendiridanmembuakitamenderita. Inilah paradoksnya!. Ketika kita ingin menyakiti orang lain  dengan rasa dendam dan marah , sesungguhnya justru kita sedang menyakiti dan  menyiksa diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus belajar untuk rela memaafkan. 

                Kita kadang merasa egois,  merasa kita paling benar dan orang itu yang  salah, bahkan  bisa sampai menyumpah- nyumpah.  Ada orang yang sebenarnya  menurut dia benar  tapi ternyata menurut orang lain salah. Atau mungkin, tak sengaja  berbuat salah.  Tak ada manusia  sempurna di dunia ini, kecuali Tuhan Allah. Memang,  kadang kita  harus bisa mengalah walaupun  belum  tentu kita  salah.

Dalam setiap agama bahkan dikatakan bahwa kita  harus mengampuni kesalahan sesama karena Tuhan juga mau mengampuni dosa-dosa kita. Sifat ini justru  tidak kita temui  dalam keseharian kita. Masih banyak dari kita  yang tidak  dapat memaafkan  orang lain dan senantiasa  hidup dalam dendam dan sakit hati. Rela memaafkan  justru lebih ditujukan  pada kepentingan #dirikitasendiri, untuk menghindarkan  kita dari sakit penyakit dan tekanan dalam kehidupan.

 

Mari kita saling
memaafkan
Saling mengasihi
Selamat Hari Raya Idul Fitri Maaf lahir dan Batin

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...