_
M a t e r i V i d e o
( Menulis dengan Emosi ) oleh ibu Nur Laila
*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*
Arti dari
menulis dengan emosi adalah : melibatkan
hati kita , emosi kita dan
pikiran kita kemudian kita tuangkan
dalam tulisan kita. Yang dimaksud
emosi disini adalah saat kita merasa sedih, gembira, sengsara, menderita, optimis, semangat, terharu dan lain lain. Nah, saat itulah apa yang ada pada hati dan pikiran kita, kita tuangkan dalam tulisan kita. Jadi diharapkan
jika kita menuliskan pesan
yang sangat sedih dan deraian air mata , pembaca juga ikut hanyut dalam emosinya setelah membaca tulisan kita.
Pembaca juga ikut menangis dan mengeluarkan air mata. Saat
kita menyampai pesan yang bahagia, pembaca juga ikut
bahagia. Seperti menurut cerita ibu Nur Laila saat beliau menuliskan tentang surat-surat anak-anak dari Palestina yang mengungkapkan perasaannya, ada yang sedih, takut, sengsara, menderita...sebagai penulis,
beliau juga ikut emosi
hingga menulis sambil bersedih dan mengeluarkan air mata. Dari hasil tulisan ibu setelah
di ekspos menjadi pesan, tulisan,
buku atau yang lainnya yang akhirnya pembaca pun ikut emosi,
terharu, sedih. Pembaca jadi ‘tergerak’,
‘tersentuh’ hatinya untuk berbuat ‘sesuatu’ atau membantu .
Jadi kita mulai menulis dengan ketajaman hati dan kemudian
perbaiki dengan pikiran. Ada 3 hal terkait dengan bagaimana kita menggali
sehingga tulisan kita menjadi tulisan-tulisan yang tidak hanya sebatas tulisan
kata-kata atau paragraf-paragraf, tetapi tulisan bisa membangkitkan emosi pembaca
atau seolah-olah kita bicara
langsung dengan hati pembacanya
1.
Tulisan tentang pengalaman hidup
Melatih dengan secara langsung menuangkan perasaan dari dalam hati kita
untuk kita tuliskan. Bangkitkan kembali
memori kehidupan kita saat itu.
2.
Menceritakan tentang penderitaan orang lain.
Misal kita ingin menuliskan tentang seseorang yang menderita sakit berat, kanker. Bagaimana rasanya, penderitaannya, kesedihannya, keluhannya. Sebagai penulis kita bisa dengan cara mewawancarainya, bergaul lebih
dekat, mengamati. Maka dari hasil
pengamatan tersebut kita tuangkan
ke dalam tulisan kita. Jika penulis bisa
menuangkan ketajaman pikirannya akan membuat pembaca
bisa terhanyut dalam situasi ,
rasa, kepedihan dari si penderita
tersebut.
3.
Dengan tulisan kita juga bisa untuk menyampaikan sebuah pesan
tertentu. Misal tentang surat-surat yang
ditulis anak-anak palestina.
Kesimpulan:
Tuliskan apa yang dirasakan oleh hati kita kemudian disempurnakan dengan pikiran anda
Sehingga pengalaman pribadi kita gali kita bangkitkan emosi kita
sehingga pembaca bisa ‘hanyut’ dalam emosi
lewat tulisan kita. Dari tulisan kita
selain untuk pribadi kita akan
bisa kita kemas sehingga menjadi
pembelajaran bagi orang lain.
M a t e r i V i d e o
7
( Melatih Konsistensi Dalam Menulis)
*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*
Bagaimana cara kita konsistensi dalam menulis?
Sebagai penulis pemula kita harus konsisten dan memaksakan diri untuk
meluangkan waktu memiliki sarana, menyiapkan tempat dan merumuskan tujuan untuk apa kita menulis. Harus!
5 cara agar kita konsisten
menulis adalah sebagai berikut:
1. Miliki Waktu Khusus
Kita juga harus punya waktu
khusus setiap hari dalam menulis, kalau pak Cah menulis di
pagi hari setelah sholat tahajut, pulang dari mesjid menulis hingga pagi
hari. Rutin. Ya, saat itu memang saat yang paling
sejuk, tenang, sepi jadi ide
cepat muncul. Kita kalau perlu juga
jam-jam seperti itu, tapi tidak
menolak kemungkinan kalau pas
kita ada waktu kosong atau pas “mood”
itu datang, segeralah menulis.
2. Miliki Tempat Khusus
Untuk membuat kita merasa nya,nyaman, tenang, dan merasa santai. Kita
hendaknya memiliki tempat khusus untuk
menulis. Dimaksudkan supaya kalau kita
sudah menuju ke tempat itu, atau kita
sudah duduk di tempat itu
berarti saatnya pula kita untuk mencari ide (inspirasi) dan segera
menulis. Menyalurkan dan menuangkan Ide
itu untuk diterapkan ke dalam tulisan.
3. Miliki Sarana Khusus Untuk Menulis
Kalau jaman dulu menulis dengan sarana
yang amat sangat sederhana,
tulisan tangan, mesin ketik sederhana. Tapi jaman sekarang penulis untuk sarana
sudah sangat mudah diperoleh, dengan fasilitas yang sangat lengkap. Seperti
HP Android, I Pat, laptop, komputer, Buku tulis, bahkan
kalau perlu sarana Internet juga sangat membantu sebagai referensi.
Dengan memiliki sarana khusus untuk maka akan lebih kuat asosiasi kita
pada tulis menulis.
4. Memiliki Tujuan Khusus Dalam Menulis
Menulis pasti punya tujuan
tertentu untuk para pembaca: untuk pendidikan , perenungan, informasi atau yang lainnya.
Ini bertujuan agar konsistensi kita dalam menulis seperti mengingatkan , menasehati atau pencerahan.
Apabila sudah memiliki tujuan itu maka
semakin memiliki kekuatan karya tulis
itu.
5. Memaksa diri untuk menulis
Kalau kita niat ingin jadi
penulis. Kita harus memaksakan diri
untuk terus menulis, mencoba, meberanikan diri, percaya diri. Entah bagus atau
jelek, menarik atau tidak, Tidak penting.
Yang penting tetap terus menulis.
Terakhir paksalah Menulis dengan waktu khusus, tempat khusus, sarana khusus dan
dengan sebuah tujuan tertentu.
Waingapu, 29 Juni 2020
Salam Literasi !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar