Senin, 29 Juni 2020

TUGAS KE 5 : Ledwina Eti / KMO BASIC BATCH 33 / Materi Video 6 dan 7


_
M a t e r i   V i d e o        
( Menulis dengan Emosi ) oleh ibu Nur Laila
*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*

 Arti dari menulis  dengan emosi adalah :  melibatkan  hati kita , emosi kita  dan pikiran kita  kemudian kita  tuangkan  dalam tulisan kita.  Yang dimaksud emosi disini adalah saat kita merasa sedih, gembira, sengsara, menderita,  optimis, semangat, terharu  dan lain lain. Nah, saat itulah  apa yang ada pada  hati dan pikiran kita, kita  tuangkan dalam  tulisan kita. Jadi  diharapkan  jika kita  menuliskan  pesan  yang  sangat sedih  dan deraian air mata , pembaca juga ikut  hanyut dalam emosinya setelah membaca  tulisan kita.  Pembaca juga  ikut  menangis dan mengeluarkan air mata. Saat kita  menyampai pesan  yang bahagia, pembaca juga  ikut  bahagia.  Seperti  menurut cerita ibu Nur Laila  saat beliau menuliskan tentang  surat-surat anak-anak  dari Palestina yang mengungkapkan  perasaannya, ada yang sedih, takut,  sengsara, menderita...sebagai  penulis,  beliau juga  ikut emosi hingga  menulis sambil  bersedih dan mengeluarkan air mata.  Dari hasil tulisan ibu  setelah  di ekspos menjadi  pesan, tulisan, buku  atau yang lainnya yang  akhirnya pembaca pun ikut emosi, terharu,  sedih. Pembaca jadi ‘tergerak’, ‘tersentuh’  hatinya untuk  berbuat ‘sesuatu’ atau membantu .   
Jadi  kita  mulai  menulis dengan ketajaman hati dan kemudian perbaiki dengan pikiran. Ada 3 hal terkait dengan bagaimana kita menggali sehingga tulisan kita menjadi tulisan-tulisan yang tidak hanya sebatas tulisan kata-kata atau paragraf-paragraf, tetapi tulisan bisa membangkitkan emosi  pembaca  atau seolah-olah  kita bicara langsung dengan hati pembacanya
1.       Tulisan tentang pengalaman hidup
Melatih dengan secara langsung  menuangkan perasaan dari dalam hati kita untuk kita tuliskan. Bangkitkan  kembali memori kehidupan kita saat itu.

2.       Menceritakan tentang penderitaan orang lain. Misal kita ingin menuliskan  tentang  seseorang yang menderita  sakit berat, kanker. Bagaimana rasanya, penderitaannya,  kesedihannya, keluhannya. Sebagai  penulis kita bisa dengan cara mewawancarainya,  bergaul lebih  dekat, mengamati. Maka dari hasil  pengamatan tersebut  kita tuangkan ke dalam tulisan kita.  Jika penulis bisa menuangkan ketajaman pikirannya akan membuat   pembaca  bisa  terhanyut dalam situasi , rasa, kepedihan dari  si penderita tersebut.

3.       Dengan tulisan kita juga  bisa untuk menyampaikan sebuah pesan tertentu. Misal tentang surat-surat  yang ditulis  anak-anak palestina.
Kesimpulan:
Tuliskan apa yang dirasakan oleh hati kita  kemudian disempurnakan dengan pikiran anda
Sehingga pengalaman pribadi kita gali kita bangkitkan emosi kita sehingga pembaca bisa ‘hanyut’ dalam emosi  lewat tulisan kita. Dari tulisan kita  selain untuk pribadi kita  akan bisa kita  kemas sehingga menjadi pembelajaran bagi orang lain.

M a t e r i   V i d e o   7      
( Melatih Konsistensi Dalam Menulis)
*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*

Bagaimana cara kita konsistensi dalam menulis?
Sebagai penulis pemula kita harus konsisten  dan memaksakan diri  untuk  meluangkan waktu memiliki sarana, menyiapkan tempat dan merumuskan  tujuan untuk apa kita menulis. Harus!
5 cara agar  kita konsisten menulis adalah sebagai berikut:
1. Miliki Waktu Khusus
Kita juga harus  punya waktu khusus  setiap hari  dalam menulis,  kalau pak Cah menulis  di  pagi hari setelah sholat tahajut, pulang dari mesjid menulis hingga pagi hari. Rutin. Ya,  saat itu  memang saat yang  paling  sejuk,  tenang, sepi jadi ide cepat muncul.  Kita kalau perlu juga jam-jam seperti itu,  tapi  tidak  menolak kemungkinan kalau  pas kita ada waktu kosong atau  pas “mood” itu datang, segeralah menulis.

2. Miliki Tempat Khusus
Untuk membuat kita merasa nya,nyaman, tenang, dan merasa santai. Kita hendaknya  memiliki tempat khusus untuk menulis. Dimaksudkan supaya kalau kita  sudah menuju ke tempat itu, atau kita  sudah duduk di  tempat itu berarti  saatnya pula kita  untuk mencari ide (inspirasi) dan segera menulis. Menyalurkan dan menuangkan  Ide itu untuk diterapkan ke dalam tulisan.

3. Miliki Sarana Khusus Untuk Menulis
Kalau  jaman dulu menulis  dengan sarana  yang amat sangat sederhana,  tulisan tangan, mesin ketik sederhana. Tapi jaman sekarang penulis  untuk sarana  sudah sangat mudah diperoleh, dengan fasilitas yang sangat lengkap. Seperti  HP Android,  I Pat, laptop, komputer, Buku tulis, bahkan kalau perlu sarana Internet juga sangat membantu   sebagai referensi.
Dengan memiliki sarana khusus untuk maka akan lebih kuat asosiasi kita pada tulis menulis.

4. Memiliki Tujuan Khusus Dalam Menulis
Menulis  pasti punya tujuan tertentu  untuk para pembaca: untuk  pendidikan , perenungan, informasi atau  yang lainnya.  Ini bertujuan agar konsistensi kita dalam menulis seperti  mengingatkan , menasehati atau pencerahan. Apabila sudah memiliki tujuan  itu maka semakin memiliki kekuatan  karya tulis itu.

5. Memaksa diri untuk menulis
Kalau kita  niat ingin jadi penulis. Kita harus memaksakan  diri untuk terus menulis, mencoba, meberanikan diri, percaya diri. Entah bagus atau jelek, menarik atau tidak, Tidak penting.  Yang penting  tetap terus menulis. Terakhir paksalah Menulis dengan waktu khusus, tempat khusus, sarana khusus dan dengan sebuah tujuan tertentu.
Waingapu, 29 Juni 2020
Salam Literasi !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...