Seri Mendesain Habit Menulis – 3

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“The real importance of reading is that it creates an ease and intimacy with the process of writing” – Stephen King

.

Salah satu cara untuk mengoptimalkan semua waktu dalam hidup Anda adalah dengan menulis. Jika Anda telah menjadi penulis produktif, maka di semua tempat dan di semua waktu, Anda bisa menulis dan menghasilkan karya tulis yang menginspirasi orang lain. Tak ada waktu yang terbuang, jika Anda telah menjadi penulis produktif.

Untuk menjadi penulis produktif, Anda harus mendesain habit sebagai penulis produktif. Mulai hari ini, saya mengajak Anda mendesain habit menulis, dengan melakukan berbagai aktivitas sederhana berikut ini.

PertamaRutin Menulis Setiap Hari

Kedua, Berhentilah Menunda-nunda

Ketiga, Banyak Membaca

Salah satu habit positif yang sangat mendukung untuk menjadi penulis produktif adalah dengan banyak membaca. Mas Hernowo sering mengungkapkan hubungan menulis dengan membaca —membaca membuat kita menangkap makna, menulis membuat kita mengikat makna.

Jika kita banyak membaca, maka kita banyak menangkap makna. Namun sebanyak apapun makna yang berhasil kita tangkap dari membaca, apabila tidak kita tuliskan, tak ada yang bisa terikat. Maka ikatlah makna dengan menulis. Ini menjadi hubungan timbal balik antara menulis dengan membaca.

Membaca membuat kita mudah untuk menulis, dan menulis menghajatkan untuk banyak membaca. Dengan kata lain, semakin banyak membaca, membuat kita bisa semakin rpoduktif menulis. Sebaliknya, semakin banyak kita menulis, menimbulkan tuntutan untuk semakin banyak membaca.

Ada dua konteks ‘membaca’ yang sama-sama penting bagi penulis, yang ingin semakin produktif dan semakin profesional. Pertama adalah membaca buku atau rujukan. Kedua adalah membaca realitas. Ini yang sering disebut sebagai teks dan konteks.

Pertama, Membaca Buku

Membaca buku, sering disebut sebagai membaca teks. Sangat penting bagi penulis untuk banyak membaca buku, karena dengan itu dirinya mendapat berbagai kemanfaatan secara langsung. Sarah Rhea Werner (2015) menyebutkan sejumlah kemanfaatan membaca bagi penulis, di antaranya adalah:

  1. Membantu memahami hal-hal yang diinginkan oleh pembaca
  2. Memberikan wawasan dalam membangun struktur tulisan dan mengembangkan kerangka tulisan
  3. Mempertajam sisi emosi dalam menulis
  4. Memperluas gagasan dan kemampuan dalam teknik kepenulisan
  5. Memberi inspirasi dan motivasi berprestasi, agar kualitas tulisan semakin baik
  6. Mendapatkan banyak ide untuk menulis
  7. Menciptakan kemudahan dan keintiman dalam proses menulis

Masih sangat banyak kemanfaatan membaca, bagi para penulis. Hal ini terutama bagi Anda yang ingin menekuni dunia kepenulisan sebagai jalan pengabdian profesional. Jika Anda ingin profesional di bidang kepenulisan, dan produktif menulis, mau tidak mau, Anda harus banyak membaca.

Kedua, Membaca Realitas

Membaca realitas, sering disebut sebagai membaca konteks. Berbeda dengan membaca teks yang berbentuk fisik cetakan, membaca realitas adalah kemampuan melakukan pengamatan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Saat Anda berinteraksi dengan orang lain, saat menjalani kegiatan, Anda bisa membaca sesuatu yang tengah berdenyut di tengah masyarakat.

Membaca yang tampak, maupun yang tersembunyi, akan memberikan banyak inspirasi untuk dituliskan. Hal-hal yang tampak dan terlihat, misalnya melihat sebuah kecelakaan lalu lintas. Ada motor jatuh di jalan raya, karena menabrak pembatas jalan. Ini adalah membaca kejadian yang tampak dan terlihat nyata. Ada korban, ada darah, ada polisi, dan ada saksi.

Sedangkan membaca yang tersembunyi, adalah mengerti mengapa kecelakaan itu terjadi, Ini bisa menjadi cerita berseri yang tak ada habis-habisnya untuk dituliskan. Saya pernah menjenguk anak muda yang terbaring di rumah sakit setelah kecelakaan di jalan raya. Motor yang dikendarainya menyerempet truk gandeng, hingga motor dan tubuhnya tergilah oleh truk gandeng.

Ajaib, anak muda ini diselamatkan Allah. Meski tulang-tulangnya banyak yang patah, bahkan remuk, namun ia tetap hidup dan kembali sehat. Saat ditanya mengapa dirinya sampai lengah saat mengendarai motor, muncullah cerita yang sangat mencengangkan, Andai ditulis, akan menjadi berjilid-jilid buku. Inilah membaca yang tersembunyi.

Membaca realitas yang tampak maupun yang tersembunyi, akan menjadi kekuatan tersendiri bagi penulis. Tulisan akan terasa lebih hidup dan realistis, dekat dengan kenyataan keseharian.

Jika Tidak Banyak Membaca Buku, Bisakah Menulis?

Jika tidak banyak membaca buku, bisakah menulis? Tentu saja bisa. Karena menulis adalah ekspresi jiwa, perenungan, pemikiran, penghayatan, pengalaman, dan khayalan. Maka sepanjang Anda memiliki aktivitas merenung, berpikir, menghayati, berimajinasi, dan berinteraksi dengan orang lain, Anda akan memiliki banyak tulisan.

Hanya saja, untuk menjadi penulis produktif dan profesional, tidak akan optimal jika Anda tidak banyak membaca buku. Membaca banyak buku adalah keharusan, bagi Anda yang ingin produktf dan profesional dalam menulis.

Bahan Bacaan

Sarah Rhea Werner, Why Do Writers Need to Read? www.sarahwerner.com, 12 Juni 2015