.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Salah satu faktor sangat penting dalam menghasilkan karya tulis berkualitas adalah kejujuran. Bahkan kejujuran menjadi faktor yang lebih penting dibanding dengan faktor kebahasaan dalam tulisan. Karena nilai diri penulis, terletak pada kejujuran.
Bagaimana agar bisa menulis dengan penuh kejujuran? Berikut beberapa prinsip penting dalam menghadirkan kejujuran dalam tulisan.
- Jangan Pernah Menulis Kebohongan
Ada ungkapan legendaris dari Mark Twain, “If you tell the truth you don’t have to remember anything”. Jika Anda mengatakan kebenaran, maka Anda tidak perlu mengingat apapun lagi.
Maka dalam dunia menulis berlaku hal yang sama. Jika Anda menuliskan kebenaran, maka Anda tidak perlu mengingat apapun lagi. Thomas DeMichele memberi ‘tafsir’ yang menarik atas ungkapan ini, “if you tell a lie you have to remember what lie you told to who”.
Sekali saja seseorang menulis kebohongan, maka ia akan dikejar oleh kebohongannya sendiri. Ia harus terus mengingat kebohongan itu, untuk bisa mempertahan kebohongannya. Jika ia tidak mampu mengingat kebohongan yang pernah ia tulis, maka akan segera tampak kebohongannya.
DeMichele menyimpulkan, “it takes more effort to lie than it does to tell the truth”. Kejujuran itu simpel. Kebohongan itu rumit.
- Jujur Terhadap Diri Sendiri
Saat saya menuliskan nikmatnya kopi Wine Arabika, saya tidak berbohong. Karena saya mengerti nikmatnya kopi itu. Saya memilih biji kopi berjenis Wine, saya memilih grinder, saya melakukan grinding dengan hati-hati, dan saya seduh dengan V60 atau calyta sepenuh hati.
Setelah kopi selesai saya seduh, segera saya nikmati. Seteguk demi seteguk. Pelan-pelan, menikmati tiap tetesnya. Kemudian saya menulis nikmatnya kopi asli, dengan wangi yang alami. Setelah itu saya tulis kesaksian nikmatnya Wine Arabika yang diseduh dengan calyta atau V60.
Vivi Jennifa dalam blog Qureta menyatakan, “Jangan menulis tentang nikmatnya cita rasa kopi, jika kau bahkan tak suka meminumnya. Jangan menulis tentang bahagianya diguyur hujan, jika kau bahkan benci dibasahi olehnya. Bahkan kau tak perlu menulis tentang politik dan pemerintah, jika kau lebih suka nonton kartun daripada nonton berita, dan membaca koran”.
- Pandai Memilih Posisi
Dalam menulis sesuatu, carilah posisi yang membuat Anda bisa berlaku jujur. Ketika Anda diminta menulis tentang ulasan suatu produk, dalam rangka untuk meningkatkan penjualan produk tersebut, carilah poin yang Anda bisa jujur atasnya. Jika Anda sekedar memenuhi pesanan, Anda bisa kehilangan kejujuran.
Misalnya, saat saya diminta memberi endorsment terhadap sebuah rumah makan yang baru dibuka, saya meneliti semua hal. Sejak mencoba beberpa menu makanan dan minuman, melihat proses memasak, melihat tempat duduk, mushalla, toilet, taman, tempat parkir, hiasan, dan lain sebagainya.
Ketika beberapa menu makanan yang saya cicipi tak ada yang enak menurut selera saya, saya harus meninggalkan posisi menu. Saya akan beralih ke suasana, atau bersihnya ruang, luasnya mushalla, atau proses memasak yang unik. Sampai saya menemukan posisi yang saya bisa berlaku jujur atasnya.
Maka saya menulis endorsment yang jujur. “Tempat yang nyaman, suasana yang eksotis, cara memasak yang unik, wifie yang kuat, menjadikan restoran ini sangat recommended untuk dikunjungi”. Tak ada ulasan tentang menu makanan atau minuman, karena membuat saya tak jujur.
- Jujur Menyebut Referensi
Ketika tulisan Anda mengambil rujukan, cantumkan sumbernya. Ini adalah bentuk kejujuran ilmiah. Meskipun hanya mengambil satu kalimat atau bahkan satu istilah, nujurlah bahwa itu merujuk dari tulisan orang lain.
Cara menuliskan rujukan tentu bermacam-macam, Anda boleh memilih. Itu hanya soal teknis. Namun yang sangat penting dan utama adalah proses kejujuran dan momentum kejujuran itu sendiri. Sebut rujukan atau referensi yang Anda gunakan.
Plagiat itu tindakan tidak jujur. Tentu saja sangat tercela. Mengaku karya orang lain sebagai karya sendiri. Utuh lagi, tanpa perubahan yang berarti. Kecuali diubah judul dan nama penulis, sementara isinya sama. Ini adalah kebohongan yang sangat memalukan dalam dunia tulis menulis.
- Jujur Menyebut Inspirasi
Bukan saja jujur dalam referensi. Jika Anda menulis suatu tema karena terinspirasi oleh tulisan orang lain, berterima kasihlah kepada pihak yang menyumbang inspirasi tersebut. Minimal, Anda menyebut dalam Kata Pengantar buku Anda, atau menyebut dalam salah satu paragraf tulisan Anda.
Anda tidak merujuk, tidak mengutip, tidak mengambuil satupun istilah atau kalimat dari orang lain. Namun saat membaca buku La Tahzan karya Dr. Aidh Al-Qarni, Anda terinspirasi membuat tulisan serupa. Munculnya tulisan Anda, jelas-jelas karena terinspirasi oleh buku karya Aidh Al-Qarni.
Jujurlah atas ‘hal kecil’ tersebut. Di bagian Kata Pengantar buku Anda, atau pada salah satu paragraf artikel Anda, bisa Anda tulis penghormatan dan rasa terima kasih. “Buku ini lahir setelah penulis terinspirasi oleh buku La Tahzan karya Dr. Aidh Al-Qarni”. Menyebut singkat seperti ini, adalah kejuuran hati.
Bahan Tulisan
Thomas DeMichele, If You Tell the Truth, You Don’t Have to Remember Anything, www.factmyth.com, 22 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar