.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Tulisan kamu hebat, keren, luar biasa. Saya sangat senang membacanya, membuat hidup saya lebih bersemangat”.

“Tulisan kamu benar-benar menguras air mata. Mengaduk-aduk perasaan. Saya sangat kagum, bagaimana kamu bisa mengolah kata-kata menjadi memiliki kekuatan sedahsyat itu?”

Jika Anda penulis baper, pasti Anda akan segera melonjak kegirangan ketika mendapatkan komentar sanjungan semacam itu. Mendadak Anda merasa hebat, dan lebih bersemangat menulis. Anda langsung bercermin dan tersenyum lebar di cermin sambil mengatakan dalam hati, “Aku memang penulis hebat”.

Nah, jika Anda menikmati sanjungan seperti ini, kondisi Anda akan sangat fluktuatif. Jika ada komentar yang memuji, langsung bersemangat dan termotivasi. Jika tak ada yang like dan komen, langsung kecil nyali. Jika demikian, Anda benar-benar penulis baper. Tanyakan kepada diri sendiri, apa tujuanmu menulis selama ini?

Untuk menjadi penulis produktif, benar-benar harus anti-baper. Jika menuruti rasa baper, akan mudah kecewa dan putus asa saat mendapat komentar negatif, dan akan mudah bersemangat membara saat mendapat sanjungan serta apresiasi positif. Akhirnya hanya menulis apabila mendapat pujian, dan berhenti menulis saat mendapat celaan.

Menikmati Proses Menulis

Katakan selalu pada dirimu, “Pujian hanyalah milik Allah. Tak pantas disematkan kepada manusia”. Lalu, nikmatilah proses menulis dan menghasilkan karya. Jangan menikmati pujian manusia.

Untuk bisa menjadi penulis anti baper, berikut beberapa langkahnya.

  1. Pahami Hukum Medsos
  2. Hindari Mengejar Citra Semu
  3. Siapkan Mindset Sebagai Pembelajar
  4. Jangan Berharap Bisa Menyenangkan Semua Orang
  5. Fokus Menghasilkan Karya Tulis
  6. Menikmati Proses Menulis

Salah satu kata kunci dalam menjalani kehidupan adalah ‘menikmati’. Manusia yang mampu menikmati berbagai kondisi dan kejadian dalam kehidupan, akan selalu hidup dalam kebahagiaan dan kesejahteraan spiritual. Misalnya mampu menikmati khusyuknya ibadah, mampu menikmati lelahnya bekerja, mampu menikmati enaknya makan, mampu menikmati lelapnya tidur, dan lain sebagainya.

Martin Seligman menyebut kondisi ini sebagai ‘engagement’. Dalam belajar menulis dan menghasilkan karya tulis, engagement adalah hal penting untuk menjaga stamina menulis. Saya pernah ceritakan bagaimana engagement Haruki Murakami dalam menulis. Saya pernah tuliskan bagaimana engagement Yusuf Qardhawi dalam menulis. Orang-orang hebat itu, lebih memilih menikmati proses menulis, dibandingkan menikmati pujian pembacanya.

Orang yang lebih memilih menikmati pujian dan sanjungan pembaca, akan memiliki gairah yang fluktuatif. Namun jika memilih menikmati proses menulis dan menghasilkan karya tulis, akan bisa terjaga staminanya. Apalagi untuk proses menulis yang panjang, berbulan-bulan hingga bertahun-tahun –untuk menghasilkan sebuah novel atau serial ensiklopedi. Ini lebih memerlukan kemampuan menikmati proses, dibanding menunggu acungan jempol.

Jadikan Proses Menulis Sebagai Aktivitas istimewa

Saya membedakan dua jenis menulis. Yang pertama adalah menulis sebagai sebuah aktivitas rutin, seperti ibadah, makan, tidur, berbicara, bernapas, olah raga, dan lain sebagainya. Untuk jenis yang pertama ini, saya bisa melakukannya di manapun.

Saya bisa menulis di meja makan, di dapur, di taman, di mobil, di pesawat, di kapal, atau di manapun saya tengah berada. Bahkan di tengah antrean sekalipun, dengan posisi berdiri. Ini untuk keperluan ‘menulis rutin’, yang bisa saya lakukan di manapun dan kapanpun.

Yang kedua adalah menulis sebagai aktivitas projek. Misalnya, saya tengah menulis atau menyelesaikan bahan untuk pembuatan sebuah buku, atau beberapa buku. Nah ketika menulis dalam konteks sebagai projek, maka saya menjadikan menulis sebagai aktivitas istimewa.

Caranya, saya akan menata ruang khusus menulis di salah satu bagian di rumah saya. Ini menjadi ‘kantor’ tempat saya menyelesaikan projek. Kemudian semua peralatan dan bahan-bahan referensi saya taruh di kantor itu. Laptop, buku, alat tulis, semua kebutuhan menulis sudah ada di tempat itu.

Saya sampaikan kepada semua anggota keluarga saya, agar mereka tidak mengubah apapun. Jangan mengambil buku, laptop, dan semua peralatan yang telah saya tata di kantor —sampai saya selesai menuliskan projek. Jika projek sudah selesai, kantor dibongkar lagi, dan kembali ke fungsi semula.

Dengan cara ini, saya merasa menulis menjadi aktivitas istimewa. Saya mengantor, saya berpakaian rapi dan patut, meskipun hanya seorang diri. Saya menghargai apa yang saya lakukan, meskipun mungkin orang lain tidak menghargainya. Saya tidak peduli apakah orang menganggap penting apa yang saya lakukan, namun saya menikmati proses menulis yang saya jalani.

Dengan cara seperti ini, saya fokus berkarya, bukan fokus kepada pendapat orang atas tulisan saya. Kita belajar mengelola hati dan perasaan, agar selalu ikhlas berkarya. Menulis dari hati, akan sampai ke hati. Jika menulis untuk mencari pujian, belum tentu Anda akan mendapatkan.

Maka nikmati prosesnya. Menulis sebagai ibadah. Menulis sebagai lahan amal jariyah. Menulis sebagai proses menebarkan kebaikan. Menulis sebagai aktivitas yang menyenangkan dan menenangkan jiwa.

  38 kali dilihat