.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Di antara persoalan yang banyak dijumpai oleh para penulis pemula adalah rasa tidak percaya diri untuk mempublikasikan tulisan. Setelah susah payah menulis, ternyata merasa hasilnya tidak bagus. Dampaknya, tidak percaya diri untuk mempublikasikan tulisan. Ragu-ragu, jadi diposting atau tidak?

Bagaimana mengatasi kondisi seperti ini? Saya mengajak Anda untuk membongkar rasa tidak percaya diri ini. Pertama kali coba kita pahami, mengapa muncul rasa tidak percaya diri dalam publikasi tulisan.

Mengapa Tidak Percaya Diri?

Mengapa banyak orang merasa tidak percaya diri untuk mempublikasikan tulisan? Ada beberapa sebab, yang membuat seseorang tidak berani atau tidak percaya diri untuk memunculkan tulisannya ke media. Beberapa sebab ini yang memunculkan sikap tidak PD, dan oleh karena itu harus ada solusi agar percaya diri.

Sebab Pertama, Karena Membandingkan dengan Karya Orang Lain

Sebab pertama yang membuat seseorang tidak percaya diri adalah karena membandingkan tulisannya dengan tulisan orang lain yang sudah hebat. Misalnya dalam dunia novel, seorang yang baru belajar menulis, membandingkan tulisannya dengan maestro sekaliber Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Dewi Lestari, Tere Liye, Kang Abik dan lain sebagainya.

Ini adalah contoh membandingkan yang tidak sebanding. Dampaknya, merasa malu untuk publikasi tulisan. Setiap menulis, selalu merasa tulisannya jelek.

Solusi

Sebagai penulis pemula, kita harus belajar dari siapa saja. Apalagi dari para penulis hebat. Baca karya-karya mereka, sebanyak mungkin, untuk belajar, untuk menimba ilmu. Bukan untuk membandingkan tulisan kita yang pemula dengan tulisan mereka yang sudah sangat hebat itu.

Jadi, solusi dari sebab pertama adalah, jangan membandingkan tulisan kita dengan tulisan tokoh hebat itu. Miliki mentalitas pembelajar yang membuka diri untuk belajar kepada siapa saja. Membaca karya orang lain adalah untuk belajar, bukan untuk membandingkan.

Sebab Kedua, Karena Berorientasi Pujian

Sebab kedua yang membuat seseorang tidak percaya diri adalah karena berorientasi pada pujian. Di zaman medsos sekarang ini, berbagai fitur medsos menyediakan opsi like dan comment. Sering kali kita terpengaruh dan terprovokasi oleh para likers, haters serta komentator.

Ketika banyak yang me-like tulisan, kita menjadi semangat membara. Ketika sepi dari jempol, mendadak menjadi tidak percaya diri. Apalagi ketika ada yang memberikan komentar negatif atau kritik, mendadak menjadi tidak PD untuk publikasi tulisan.

Solusi

Lusruskan niat menulis. Jangan berorientasi pujian dalam mempublikasikan tulisan. Berorientasilah kepada kebermanfaatan dari setiap tulisan yang kita publikasikan.

Di masa wabah corona saat ini, media perlu dipenuhi dengan konten positif untuk membangkitkan semangat dan motivasi masyarakat. Maka tulislah berbagai konten positif, untuk mengajak bangkit dari keterpurukan.

Tulis saja untuk memberikan kebermanfaatan. Tidak peduli apakah tulisan kita dipuji atau dicaci, yang penting kita memiliki tujuan untuk menyebarluaskan kebaikan dan kebermanfaatan.

Sebab Ketiga, Karena Takut Respon Negatif

Ada orang yang takut respon negatif pembaca. Setelah selesai menulis, muncul rasa tidak percaya diri untuk mempublikasikan tulisan, karena takut dikritik pembaca. Takut dinilai negatif oleh publik. Ini yang menjadi beban, akhirnya menyebabkan tidak percaya diri untuk mempublikasikan tulisan.

Respon negatif itu tidak selalu kritikan atau celaan. Namun tidak ada yang like, tidak ada yang komen, tidak ada yang mampir ke blog, itu sudah dianggap sebagai respon negatif. Ketika diposting di sebuah grup chatting, hanya karena tak ada yang komentar, langsung tidak percaya diri. Ini yang sering saya sebut penulis baper.

Solusi

Jika Anda termasuk kelompok yang takut kritikan, abaikan saja likers dan haters. Fokuslah kepada tujuan dan proses menulis. Fokus kepada menyebar kebermanfaatan. Fokus kepada menyebarluaskan kebaikan. Fokus kepada menghasilkan karya, ketimbang memusingkan komentar pembaca.

Karena Anda punya hak untuk menyampaikan pendapat, pemikiran, keinginan, harapan, bahkan perasaan, melalui tulisan. Anda berhak menyebarkan kebermanfaatan secara luas melalui tulisan, meskipun ada pihak yang tidak suka. Abaikan saja mereka.

Sebab Keempat, Karena Berorientasi Kualitas Hasil

Sebab keempat adalah karena berorientasi pada kualitas tulisan yang bagus. Berpikiran instan, ingin hasil tulisannya langsung bagus. Langsung lancar menulis, langsung mahir menulis, langsung diterima di media massa.

Karena berorientasi hasil, maka saat melihat tulisannya belum bagus, menjadi tidak percaya diri untuk publikasi. Merasa malu karena kualitas tulisan yang belum sesuai harapan.

Solusi

Pahami menulis adalah proses. Mahir menulis, lancar menulis, produktif menulis adalah sebuah proses. Tulisan yang bagus adalah proses. Tak ada bagus yang instan, tak ada mahir yang instan. Semua memerlukan proses, dan proses memerlukan waktu.

Maka bersabarlah dalam berlatih menulis. Lakukan latihan menulis setiap hari dan postinglah hasil tulisan Anda. Semakin rutin Anda berlatih, semakin banyak peningkatan kualitas bisa Anda dapatkan.

Sebab Kelima, Karena Trauma Kegagalan

Anda pernah mengirim naskah ke koran atau majalah dan ditolak? Anda pernah mengirim naskah ke penerbit mayor dan ditolak? Itu biasa saja. Tidak perlu menjadi trauma, yang membuat rasa tidak percaya diri.

Empatbelas penerbit mayor menolak naskah Harry Potter karya JK Rowling. Bahkan novel pertama Stephen King ditolak 30 penerbit. Anda baru sekali ditolak, dan langsung trauma?

Solusi

Pahamilah bahwa ditolak media itu biasa saja. Ditolak penerbit juga biasa. Mana mungkin kita memaksa koran untuk selalu menerima tulisan semua orang? Mana mungkin kita memaksa penerbit mayor menerima semua naskah buku?

Semua penerbitan memiliki kriteria dan alasan. Penolakan tak selalu terkait dengan kualitas tulisan. Ada sangat banyak alasan untuk tidak menerima naskah dari penulis. Mereka sedang berbisnis, dan memiliki pertimbangan tentang bisnis yang seang dijalankan.

Jika ditolak, tulis saja lagi dan  kirim lagi. Jika ditolak lagi, tulis saja lagi, dan kirim lagi. Sampai semua media bosan menolak tulisan Anda. Biasa saja.

Selamat menulis. Selamat mempublikasikan tulisan.