.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Find time to write in between those special moments with your loved ones” – Jeff Goins
.
Ada saran sangat menarik dari Jeff Goins untuk para penulis, jangan korbankan keluargamu. “Don’t sacrifice your family”, ujar Goins, penulis buku The Art of Work.
Ia mengaku meniru kebiasaan novelis Jerry Jenkins yang menulis semua bukunya –lebih dari 100 buku, ketika anak-anaknya di sudah tidur. Maka Goins menulis pada waktu larut malam, antara pukul 10 malam hingga pukul 2 pagi.
Tentu saja rutinitas seperti ini memerlukan disiplin dan pengorbanan tinggi. Goins menyatakan tidak ada projek penulisan buku yang boleh mengorbankan kehangatan bersama keluarga. Maka ia menyarankan agar menjaga keseimbangan semua sisi.
Anda bisa menulis buku di sela-sela momen istimewa bersama keluarga. Mungkin malam hari, mungkin dini hari Pada beberapa ibu rumah tangga justru memilih waktu menulis menjelang siang, saat semua anak telah di sekolah dan suami telah di tempat kerja.
Apa yang Harus Dikorbankan?
Lalu, apa yang harus dikorbankan? Colleen M. Story (2018) menyatakan, ada lima hal yang harus dikorbankan oleh penulis.
- Mengorbankan Waktu
Penulis harus rela berkorban waktu. Bukan hanya waktu untuk belajar dan waktu untuk menulis, namun juga waktu untuk mencapai sukses. Para penulis hebat, tidak muncul secara tiba-tiba. Semua memerlukan proses, dan proses selalu memerlukan pengorbanan waktu.
Para penulis yang konsisten menulis setiap hari, akan mencapai produktivitas optimal setelah melalui waktu bertahun-tahun. Menurut Colleen, pada beberapa tahun pertama menjadi penulis, “Anda merasa seperti tidak ke mana-mana”. Seakan Anda hanya berjalan di tempat.
Namun dengan konsistensi dan mengorbankan waktu, Anda akan mencapai produktivitas dan bahkan popularitas tertentu dalam dunia tulis menulis. Anda akan memiliki segmen setia, jika Anda bersedia mengorbankan waktu untuk rutin menulis.
- Mengorbankan Harta
Colleen menyatakan, penulis harus bersedia mengorbankan harta. Misalnya untuk biaya pembelajaran, biaya membeli buku, atau untuk membeli perlengkapan menulis. Sebab, kelancaran dan produktivitas menulis juga dipengaruhi oleh sarana yang mendukung.
Ketika Anda menulis buku untuk penerbitan indi, Anda juga memerlukan modal awal. Sejak biaya pracetak, seperti editing, layout, serta pembuatan cover. Hingga biaya penerbitan buku serta pemasaran.
Colleen juga mengingatkan, bahwa untuk tahun pertama, bisa jadi Anda harus mengeluarkan uang lebih banyak daripada yang Anda hasilkan. Misalnya, buku pertama belum laris. Maka harus sabar untuk mendapat ‘kembalian’ dan keuntungan dari buku-buku setelahnya.
- Mengorbankan Keinginan untuk Melakukan Semua Hal
Sangat banyak keinginan yang ingin kita capai dalam kehidupan. Ingin belajar menjadi chef, ingin belajar melukis, ingin bisa fotografi, ingin menjadi atlet handal, ingin pandai menjahit, ingin unggul dalam public speaking, ingin juara dalam marketing, dan lain-lain.
Sangat banyak keinginan dalam hidup. “Aku ingin begini, aku ingin begitu, banyak sekali”, ujar Nobita. Saat mulai terjun dalam projek pembuatan buku, kita harus mengorbankan beberapa keinginan.
Harus ada prioritas. Tak semua dalam hidup bisa kita dapatkan. Jika telah meniatkan diri untuk menjadi penulis produktif, pilih beberapa kegiatan yang bisa berjalan beriringan. Harus rela mengorbankan beberapa keinginan yang tak bisa didapatkan.
- Mengorbankan Kesenangan Sesaat
Ada sangat banyak kesenangan yang ingin kita dapatkan di setiap waktu. Misalnya ingin jalan-jalan ke pantai, ke mal, atau ke taman wisata. Ingin sering menonton fim, atau menghadiri konser, atau jalan-jalan kuliner.
Namun ketika sudah berada dalam mode menulis, ‘kesenangan sesaat’ seperti itu harus dikorbankan. Meski ada film sangat bagus yang tengah rilis, harus rela tidak ikut nonton pada prime time. Karena sudah terpatok oleh jadwal menulis.
Ada teman yang mampir ke rumah mengajak makan malam keluar, harus dikorbankan ketika telah berada dalam jadwal rutin menulis. Kesenangan seperti itu bisa ditunda lain kali. Bikin janjian baru, yang tidak melanggar jadwal menulis.
Colleen menyatakan, “Jika Anda ingin sukses dalam jangka panjang, harus bersedia menunda kepuasan. Menulis itu seperti lari jarak jauh”.
- Mengorbankan Zona Nyaman
Penulis harus bersedia mengorbankan zona nyaman. Saat proses menulis, dirinya asyik ‘bersembunyi’ untuk menyelesaikan projek buku. Segala kesulitan diatasi demi segera selesainya penulisan buku.
Setelah selesai menulis, ternyata harus belajar mengedit tulisan sendiri. Harus cermat, teliti, membaca ulang berkali-kali. Ini memerlukan sikap mental yang berbeda dengan proses menulis.
Selesai editing, Anda harus berpikir melakukan layout dan membuat desain cover –atau menyerahkan kepada pihak profesional. Selanjutnya Anda harus mencari penerbit handal.
Setelah buku masuk penerbit, Anda mulai berpikir tentang pemasaran dan penjualan buku. Rupanya situasi dan kondisi selalu berubah setiap waktu. Penulis tidak bisa berada di zona nyaman.
Tom Venuto menyatakan, bahwa manusia cenderung menghindar dari perubahan karena sering kali terasa menyakitkan. “Begitu Anda meninggalkan zona nyaman, Anda mengalami rasa sakit karena kehilangan kenyamanan”, ujarnya.
Venuto mengingatkan bahwa semua perubahan positif terjadi di luar zona nyaman, meskipun perubahan itu menyakitkan. “Inilah alasan mengapa banyak orang gagal untuk maju dan sukses. Karena tidak mau menanggung rasa sakit akibat perubahan”, ujar Venuto.
Anda siap menjadi penulis sukses? Berkorbanlah.
Bahan Bacaan
Colleen M. Story, 5 Sacrifices You Have to Make to be a Successful Writer, www.writingandwellness.com, 28 Mei 2018
Jeff Goins, How Busy Writers Can Stay Productive & Keep Their Sanity, www.goinswriter.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar