.
Oleh : Cahyadi Takariawan
Writing for me is largely about rewriting. It is during this process that I discover hidden meanings, connections, and possibilities that I missed the first time around – Khaled Hosseini
.
Ketika Anda selesai menulis, lalu membaca ulang, kadang terasa ada hal yang kurang sesuai harapan. Apa yang Anda lakukan jika menjumpai kondisi seperti ini? Sebagian besar penulis akan menyelesaikan masalah itu dengan melakukan editing. Agar hasil tulisannya menjadi lebih bagus dan lebih enak dibaca.
Sebagian yang lain merasa minder, malu dan takut. Akhirnya tulisan tersebut hanya disimpan dan tidak berani dipublikasikan. Tak jarang kondisi ini membuat penulis semakin tidak diri, sambil membenarkan asumsinya, bahwa dirinya tidak mampu menulis yang bagus.
Tidak demikian dengan Khaled Hosseini. Ia terbiasa melakukan penulisan ulang. Usai menulis, ia tidak puas dengan tulisannya. Maka ia putuskan untuk menulis ulang. Ia menemukan banyak makna dengan proses penulisan ulang itu.
Khaled Hosseini adalah novelis dan dokter berkebangsaan Amerika. Lelaki kelahiran Afganistan 4 Maret 1965 ini sempat bekerja sebagai dokter di California. Namun semenjak sukses menjadi novelis, ia memutuskan berhenti praktik dokter, dan memilih menjadi penulis penuh waktu.
Ia selalu menjadikan Afganistan sebagai latar cerita, dan menjadikan warga Afganistan sebagai tokoh-tokoh protagonis. Semua novel karyanya menjadi best seller. The Kite Runner adalah novel paling laris, disusul dengan A Thousand Splendid Suns (2007) dan And The Mountains Echoed (2013).
Proses Kreatif Menulis
Pada dasarnya, setiap penulis memiliki cara dan kebiasaan yang khas dan unik. Satu penulis bisa berbeda dengan penulis lainnya dalam menghasilkan karya. Hal ini karena menulis bukan saja soal substansi, namun juga soal seni.
Bagaimana Khaled Hosseini menulis? Ia mengaku tidak terbiasa membuat kerangka tulisan. “Saya suka kejutan dan spontanitas, serta membiarkan cerita menemukan jalannya sendiri”. Ia termasuk penulis spontanis, yang menulis secara mengalir.
Karena ia tidak mengawali dengan membuat kerangka tulisan, dampaknya sering mengalami kesulitan dalam penulisan. “Menulis draf pertama menjadi sangat sulit dan melelahkan. Bahkan juga seringkali mengecewakan”.
Ini adalah konsekuensi dari suatu pilihan. Karena ia memilih ‘mengalir’ dan spontan, banyak sekali kesulitan yang harus ia hadapi. Setelah menulis, Hosseini sering kecewa dengan tulisannya sendiri. “Hampir tidak pernah sesuai dengan apa yang saya pikirkan”, ujar Hosseini mengomentari tulisannya sendiri.
“Biasanya jauh dari harapan yang saya tetapkan ketika awal mulai menulis”, tambah Hosseini.
Kendati demikian, ia menikmati proses ini. Maka ada ‘harga’ yang harus ia bayarkan, akibat proses kreatif spontanis seperti ini. Yaitu –ia harus menulis ulang.
Menulis Ulang
Ketika Hosseini selesai menulis, ia menemukan hasil tulisannya tidak seperti yang diharapkan. Maka ia menulis ulang apa yang telah ditulis tersebut. Jadi, kerja dua kali. Selesai menulis, lalu ditulis lagi.
“Saya suka menulis ulang. Tulisan pertama benar-benar hanya sketsa”, ujar Hosseini.
Ia tidak keberatan harus menulis ulang. Karena ada banyak hal yang bisa ia dapatkan dengan cara menulis ulang ini. Ia bisa mengoreksi kesalahan, ia juga bisa menambahkan hal-hal yang menuratnya kurang.
“Bagi saya, sebagian besar peristiwa menulis adalah soal menulis ulang. Selama proses menulis ulang ini saya menemukan makna, hubungan, dan hal-hal tersembunyi yang mungkin terlewat dalam penulisan pertama”, ujarnya.
Rupa-rupanya Hosseini menemukan keasyikan tersendiri dengan cara unik ini. Ia menulis naskah secara spontan, lalu setelah selesai menulis ia cermati lagi. Hingga ia menemukan bagian-bagian yang kurang sesuai harapan, dan akhirnya menulis ulang. Ini sungguh kerja sangat keras.
“Dengan penulisan ulang ini, saya berharap kualitas ceritanya semakin dekat dengan harapan awal saya”, ujar Hosseini.
Ini adalah ‘harga’ yang harus ia bayar. Ia harus bekerja lebih keras dari penulis lainnya. Hosseini harus menulis dua kali untuk membuat buku novel. Sementara kebanyakan novelis dan penulis buku lainnya, hanya menulis sekali. Selebihnya adalah proses editing, tanpa harus menulis ulang.
Anda Harus Menulis, Bahkan Jika Hanya untuk Anda Sendiri
Hosseini menyatakan, banyak ketemu orang yang mengatakan ingin memiliki buku. Namun mereka ini tidak pernah menulis apapun.
“You have to write every day, and you have to write whether you feel like it or not”, ujar Hosseini.
Menurut Hosseini, membuat buku harus dilakukan dengan menulis setiap hari. Tidak peduli apakah Anda suka menulis ataupun tidak. “Anda harus menulis setiap hari, dan Anda harus tetap menulis –apakah Anda menyukainya atau tidak”, ujarnya.
Apa yang bisa Anda tulis menjadi buku? Pada dasarnya, apa saja bisa menjadi bahan tulisan. Ketika Anda tidak tahu tema apa yang menarik bagi publik, cukuplah Anda bertanya kepada diri sendiri, apa yang ingin Anda baca?
“Perhaps most importantly, write for an audience of one — yourself. Write the story you need to tell and want to read”, ujar Hosseini.
Ia menyarankan, “Tulislah untuk salah satu pembaca –yaitu Anda sendiri. Tulis saja cerita yang ingin Anda sampaikan dan ingin Anda baca”. Ini cara yang mudah agar Anda bisa menulis dengan rutin.
“Anda tidak mungkin mengetahui apa yang diinginkan orang lain. Tidak perlu membuang waktu untuk menebak keinginan orang banyak”, saran Hosseini.
Anda bisa menelisik dalam diri sendiri, hal apa yang menggelisahkan Anda. Hal apa yang menjadi beban pikiran Anda. Hal apa yang membuat Anda tak nyenyak tidur. Itu semua bisa menjadi bahan tulisan.
“Just write about the things that get under your skin and keep you up at night”, saran Hosseini.
Selamat menulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar