.
Writing for Wellness – 15
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Telah banyak studi yang menunjukkan manfaat menulis bagi kesehatan mental manusia. Menulis efektif untuk meredakan stres, menjadi sarana katarsis, memperbaiki suasana jiwa, menenangkan pikiran dan melepaskan beban.
Namun ternyata menulis bukan hanya bermanfaat untuk kesehatan mental. Bahkan penelitian menunjukkan, menulis juga memperbaiki kesehatan fisik. Ini tentu menjadi berita bagus dalam dunia tulis menulis.
Dennis Relojo-Howell (2016) melaporkan sejumlah penelitian, bahwa menulis ekspresif memberikan manfaat kesehatan fisik dalam jangka panjang. Seperti lebih sedikit kunjungan ke dokter, peningkatan sistem kekebalan pada pasien HIV, dan peningkatan kesejahteraan psikologis.
Menurut Dennis, studi akademik menunjukkan tulisan ekspresif dapat memberikan manfaat medis seperti perbaikan fungsi paru-paru pada asma, dan mengurangi tingkat keparahan penyakit pada rheumatoid arthritis dan intensitas nyeri pada wanita dengan nyeri panggul kronis.
Dalam buku Wellness and Writing Connections (2010), John Frank Evans sangat meyakini bahwa menulis bermanfaat dalam berbagai aspek kesehatan. Bermula dari pengalaman menulis selama tiga puluh tahun, ia meyakini menulis adlah aktivitas yang menyehatkan dan menyembuhkan.
Menulis, Membuat Semakin Jarang ke Rumah Sakit
Qian Lu & Annete L. Stanton (2009) melakukan studi menulis ekspresif dikaitkan dengan konteks etnik. Pengungkapan emosional secara tertulis dilaporkan memberikan berbagai manfaat pada kesejahteraan fisik dan psikologis.
Sebanyak 71 mahasiswa asal Asia dan 59 mahasiswa asal Kaukasia, ditugaskan melakukan penulisan dalam studi ini. Ternyata partisipan asal Asia mendapat manfaat paling banyak dari menulis ekspresif.
Studi Qian Lu dan Annete, meskipun dengan pendekatan etnik, namun semakin menguatkan berbagai studi lainnya, yang menunjukkan manfaat menulis ekspresif bagi kesehatan fisik. Grace Ann Wilbanks (2008) telah mengulas berbagai studi para ahli, terkait manfaat menulis terhadap fisik manusia.
Wilbanks menyatakan, studi yang dilakukan Pennebaker, Baiki dan studi serupa lainnya, menunjukkan bahwa penggunaan otak untuk mengingat peristiwa traumatis kemudian mengungkapkan emosi melalui tulisan, dapat berdampak signifikan pada kesehatan fisik.
Para peneliti menyatakan bahwa kondisi emosi dan fisik manusia saling terhubung. Secara langsung, emosi dan fisik memengaruhi satu sama lain dalam berbagai proses tubuh, termasuk pencernaan, detak jantung, kulit, kepekaan nyeri, dan kelelahan.
Mengutip Doyle & Hutton (2013), Wilbanks menjelaskan bahwa hormon kortisol dan adrenalin dilepaskan saat stres. Dalam situasi stres yang berat, pelepasan ini menjadi begitu sering sehingga dapat berdampak negatif pada fungsi fisiologis. Akibatnya, proses seperti penyembuhan, pencernaan, dan respons imun menjadi kurang efektif, dan fungsi jantung dan tekanan darah dapat berubah ke arah yang tidak sehat.
Dengan menyalurkan stres melalui tulisan, membuat partisipan dalam berbagai studi semakin jarang mengunjungi rumah sakit.
Menulis dan Sistem Kekebalan
Wilbanks melaporkan studi terkait dampak menulis ekspresif pengalaman traumatis pada fungsi kekebalan sel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menulis pengalaman traumatis dapat memberikan manfaat kesehatan fisik. Para partisipan menunjukkan adanya peningkatan fungsi kekebalan tubuh. Tiga bulan setelah studi selesai, partisipan menyatakan studi tersebut berdampak positif.
Studi menemukan bahwa partisipan yang menulis ekspresif tentang perasaan dan emosi negatif, terbukti mengunjungi rumah sakit lebih sedikit daripada mereka tidak menulis. Mereka memiliki sistem kekebalan yang lebih baik. Studi yang dilaporkan Wilbanks tersebut melibatkan 72 mahasiswa baru, pada semester pertama kuliah.
Mereka diminta menulis ekspresif tentang pemikiran dan perasaan emosional mereka terkait perguruan tinggi. Partisipan menulis selama tiga hari berturut-turut. Empat hingga lima bulan setelah penelitian, partisipan dijumpai dalam kondisi peningkatan sistem kekebalan dan kesehatan fisik mereka secara umum.
Hasil serupa ditemukan dalam penelitian Pennebaker dan tim (1998). Partisipan yang menulis topik emosional menunjukkan peningkatan sel kekebalan (limfosit). Studi Pennebaker berikutnya (1990) menyatakan bahwa tulisan ekspresif dapat menurunkan kunjungan dokter.
Meningkatkan Kesehatan Tubuh
Di antara penemuan penting dari berbagai penelitian tersebut, partisipan yang menunjukkan peningkatan kesehatan terbesar adalah mereka yang menulis tentang subjek yang mereka sembunyikan dari orang lain. Selain itu, mahasiswa yang menulis ekspresif menunjukkan peningkatan nilai rata-rata keseluruhan dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak menulis (Wilbanks, 2008).
Penelitian lain yang dilakukan Pennebaker & Francis (1996) memberikan bukti bahwa menulis ekspresif menyebabkan penurunan kunjungan ke rumah sakit, sekaligus meningkatkan prestasi akademis mahasiswa.
Berbagai studi juga menunjukkan pengaruh positif menulis ekspresif terhadap kualitas dan kuantitas tidur. Anda bisa menyimak kembali tema ini di sini. Dengan tidur yang lebih berkualitas, tentu akan meningkatkan kesehatan fisik.
Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan fisik.
Bahan Bacaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar