#Pentigraf
(Cerpen tiga paragraf)
Hatiku masih nyeri.Sakit!.
Ketika aku ingat kata bu Ridja kemarin .
: “Maaf Rambu, melihat hasil tes,
sekolah tidak bisa terima kamu sebagai guru di sini. Semoga kamu bisa
mengajar di sekolah yang lain. Kendaiti kupasang senyum, wajahku memanas, dadaku terasa sesak!. Hatiku
pun nggodog sampai dileher. Seketika itu
aku merasa tak berguna. Putus Asa. Seburuk apa hasil tes ku? Aku merasa bodoh. Teramat
bodoh!. Sekali di tolak memang wajar
Tapi jika sudah lebih dari tiga kali?. Aku
selalu gagal. Ini kriteria yang yang
terlalu tinggi atau aku yang bodoh?
Kak, kita mampir beli gula pasir dulu ya. Kata Kudu menyadarkan
diriku. Sejak tadi kuikuti langkah adikku tanpa berfikir.
Aku berharap menemaninya ke pasar untuk
belanja semoga bisa meredakan nyeri
hatiku. Dia belok di sudut pasar ada
penjual gorengan berwajah ramah. “pisang
gorengnya Rp 10 ribu bungkus, Bu!,” ujar Kudu sembari mengulurkan uang dua puluh
ribu rupiah.
Betul sekian kembaliannya”,
tanya wanita tua
itu sambil meraba-raba uang yang diulurkan. Pertanyaaan aneh. Kudu mengiyakan. Kutajamkan penglihatanku. Astaga!
ternyata ibu itu tak bisa melihat!. Matanya kelabu. Samar-samar. Tertutup
lapisan buram. Seketika perasaan ‘tak
berguna’ luruh. Ibu penjual pisang goreng itu ....teryata buta. Tetapi toh tetap berjualan. Ibu itu
selalu memasang wajah ramah. Tak ada alasan untuk merasa tak berguna dan putus
asa. Terlalu banyak yang bisa
dikerjakan. Semoga hidup bisa bermanfaat bagi sesama.
Selamat hari minggu!
BuDe,
Waingapu, 14 Maret 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar