Sabtu, 13 Maret 2021

Putus Asa

 

#Pentigraf

(Cerpen tiga paragraf)

 

Hatiku masih  nyeri.Sakit!. Ketika aku ingat  kata bu Ridja kemarin . : “Maaf Rambu, melihat hasil tes,  sekolah tidak bisa terima kamu sebagai guru di sini. Semoga kamu bisa mengajar di sekolah yang  lain.  Kendaiti kupasang senyum,  wajahku memanas, dadaku terasa sesak!. Hatiku pun  nggodog sampai dileher. Seketika itu aku merasa tak berguna. Putus Asa. Seburuk apa hasil tes ku? Aku merasa bodoh. Teramat bodoh!. Sekali di tolak  memang wajar Tapi  jika sudah lebih dari tiga kali?. Aku selalu gagal. Ini kriteria yang  yang terlalu tinggi atau aku yang bodoh?

Kak, kita mampir beli gula pasir dulu ya. Kata Kudu menyadarkan diriku.  Sejak  tadi kuikuti langkah adikku tanpa berfikir. Aku berharap menemaninya ke pasar  untuk belanja semoga bisa  meredakan nyeri hatiku. Dia belok di sudut pasar  ada penjual gorengan berwajah  ramah. “pisang gorengnya Rp 10 ribu bungkus, Bu!,” ujar Kudu sembari mengulurkan uang   dua puluh ribu rupiah.

Betul sekian kembaliannya”,  tanya  wanita  tua  itu sambil meraba-raba uang yang diulurkan. Pertanyaaan aneh. Kudu  mengiyakan. Kutajamkan penglihatanku. Astaga! ternyata ibu itu tak bisa melihat!. Matanya kelabu. Samar-samar. Tertutup lapisan buram. Seketika  perasaan ‘tak berguna’  luruh. Ibu penjual  pisang goreng itu ....teryata  buta.   Tetapi toh tetap berjualan.  Ibu  itu selalu memasang wajah ramah. Tak ada alasan untuk merasa tak berguna dan putus asa. Terlalu banyak  yang bisa dikerjakan. Semoga hidup bisa bermanfaat bagi sesama.

Selamat hari minggu!

 

BuDe,

Waingapu, 14 Maret 2021

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...