.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Mana yang lebih penting, membangun habit menulis, atau menguasai ketatabahasaan? Jika Anda ingin lancar dan produktif menulis, yang harus Anda bentuk pertama kali adalah habit atau kebiasaan menulis. Bukan soal tata bahasa, KBBI, PUEBI dan pedoman kepenulisan lainnya.
Maka belajar menulis, pada dasarnya adalah proses membangun habit menulis. Apabila Anda sudah memiliki kebiasaan menulis rutin setiap hari, maka Anda tinggal menambah pengetahuan ketatabahasaan, sesuai dengan tingkat kebutuhan. Sambil proses menulis, Anda bisa belajar menambah pengetahuan.
Anda bisa menyaksikan, banyak orang mampu mengendarai mobil dengan lincah di jalan raya, padahal tidak pernah ikut kursus atau belajar teori menyetir. Demikian pula, ada banyak petani sukses padahal tidak pernah kuliah di Fakultas Pertanian. Banyak sastrawan hebat yang tidak pernah kulaih di Fakultas Sastra. Banyak orang mampu menyajikan foto yang sangat bagus padahal bukan lulusan Fakultas Fotografi.
Membangun Habit Menulis Melalui Atomic Habit
Maka hal paling penting dalam belajar menulis adalah menciptakan habit atau kebiasaan. Ada sangat banyak teori tentang pembentukan habit. Salah satunya adalah “atomic habit” yang dikemukakan oleh James Clear. Menurut teori ini, habit bisa dibentuk dengan cara-cara sederhana.
James Clear mengenalkan empat hukum membangun habit, yang disebut sebagai The Four Laws of Behavior Change. Saya pernah menuliskan empat hukum ini dalam konteks tulis menulis. Silakan simak kembali di sini.
Pada postingan kali ini, saya akan mengulas hukum yang pertama dari the four laws of behavior change tersebut. Clear menyatakan, hukum pertama membangun kebiasaan adalah “make it obvious”, jadikan kebiasaan itu terlihat nyata.
Jika Anda ingin menjadi penulis yang produktif, jadikanlah kegiatan menulis itu terlihat nyata. Apa yang dimaksud dengan “make it obvious”? Saya ambil contoh tentang menari. Jika ingin pandai menari, maka menarilah. Tampakkan tarian, dan jangan hanya melamun membayangkan dirinya menjadi penari.
Jika ingin menjadi pembalap motor, maka membalaplah di arena balap profesional. Tunjukkan diri Anda sebagai pembalap yang menguasai arena balap. Jangan hanya duduk melamun membayangkan dirinya menjadi pembalap terkenal. Tidak pernah ke arena balap, tidak pernah membawa motor balap, dan hanya bermimpi menjadi pembalap.
Jika Anda ingin menjadi pelukis, maka melukislah. Ambillah kanvas, goreskan peralatan melukis pada kanvas, dan tampakkan hasilnya. Pajang hasil lukisan Anda, agar dinikmati publik.Jangan hanya duduk terpekur sambil membayangkan menjadi pelukis profesional. Namun tidak akrab dengan kanvas dan alat-alat melukis lainnya.
Tampakkan Diri Anda Sebagai Penulis
Anda harus menampakkan diri sebagai penulis. Jangan hanya duduk melamun sambil membayangkan menjadi penulis terkenal. Jangan menghabiskan waktu hanya untuk belajar teori menulis, dan tidak pernah praktik menulis. Membangun habit itu soal praktik, maka Anda harus menjalankan praktik menulis.
- Menulis Setiap Hari
Agar kebiasaan menulis itu tampak nyata, maka menulislah setiap hari. Tidak menjadi masalah berapa waktu yang Anda alokasikan untuk menulis. Mungkin Anda hanya punya waktu 10 menit atau 15 menit. Tidak masalah, namun menulislah setiap hari sesuai ketersediaan waktu yang Anda miliki.
Habit menulis tidak akan terbentuk jika Anda hanya menulis sebulan sekali atau tiga bulan sekali. Apalagi jika hanya setahun sekali. Anda harus menulis setiap hari. Jika Anda lakukan ini, maka habit menulis akan Anda miliki.
Haruki Murakami, novelis Jepang menyatakan, menulis itu serupa dengan survival di alam. Menulis adalah tentang daya tahan. Maka Murakami bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu novel. Ia menulis rutin setiap hari, maka habit itu terlihat secara nyata.
- Memosting Tulisan Setiap Hari
“Make it obvious”, ujar James Clear. Maka posting hasil tulisan Anda, setiap hari. Jika Anda rutin menulis, namun tidak pernah memosting tulisan, maka itu tidak akan tampak. Nyatakan, tampakkan, dengan jalan memosting tulisan setiap hari.
Mungkin Anda hanya menulis status yang pendek untuk media sosial, tidak masalah. Yang masalah adalah kalau Anda tidak pernah menulis dan memosting tulisan. Meski pendek, hanya 50 atau 100 kata setiap hari, namun Anda rutin menciptakan karya tulis dan memostingnya, ini akan membuat habit menulis terlihat nyata.
Di mana Anda memosting tulisan? Bisa di manapun. Facebook, instagram, twitter, blog / web, platform terbuka seperti Kompasiana, Gurusiana, dan lain sebagainya. Tidak masalah di mana Anda memilih media, yang paling penting adalah Anda rutin memosting tulisan setiap hari.
- Memiliki Karya Tulis yang Bisa Dinikmati
Karya tulis bisa dinikmati publik, tidak selalu karena panjang. Tidak mesti berupa buku, novel, cerpen, atau artikel seribu kata. Karya tulis Anda bisa dinikmati, apabila ada pesan yang Anda sampaikan melalui tulisan itu. Meski hanya satu kalimat, namun membawa pesan.
“Sudahkah Anda berdoa untuk membela Palestina hari ini?” Ini hanya satu kalimat, terdiri dari delapan kata. Namun memiliki pesan yang bisa mengingatkan pembaca. Satu kalimat yang mengingatkan dan menginspirasi, lebih utama dibanding jutaan kata tanpa makna.
Maka Anda harus menulis setiap hari, dan menghasilkan karya nyata yang bisa dinikmati khalayak. Bukan sekedar menulis dan tidak selesai, lalu besok menulis lagi dan tidak selesai lagi.
Banyak orang yang ketika belajar menulis, sering tidak menyelesaikan karya. Mereka menulis satu tema, kemudian berganti tema lain, dan berganti tema lain lagi. Tak ada satupun yang selesai. Semua menjadi tulisan setengah jadi, atau seperempat jadi. Dampaknya, tidak terlihat.
Agar habit menulis Anda terbangun, buatlah karya tulis yang selesai. Setelah selesai menulis, kemudian publikasikan karya tulis Anda. Dengan cara publikasi, hasil karya Anda menjadi terlihat. Bahwa Anda benar-benar menghasilkan karya tulis yang bisa dibaca oleh siapa saja.
- Tunjukkan Identitas Diri Sebagai Penulis
“Saya adalah bloger, menulis untuk blog pribadi”. Ini adalah sebuah identitas pribadi Anda. “Buatlah habit itu tampak nyata” –hukum pertama dalam atomic habit sudah Anda lakukan, jika Anda membuat pernyataan.
Jangan malu menyebut diri Anda sebagai penulis. Jika Anda malu, habit menulis tidak akan terlihat secara nyata. Tertutup oleh rasa malu, minder dan tidak percaya diri yang Anda nikmati.
“Saya adalah penulis. Setiap hari saya menulis”, inilah jati diri yang perlu Anda tampakkan. Sama seperti seorang guru yang dengan penuh percaya diri menyatakan, “Saya guru”.
Demikianlah hukum pertama dari atomic habit. Kebiasaan menulis akan segera terwujud, apabila Anda membuat habit itu tampak secara nyata.
Selamat menulis, selamat berkarya.
.
Bahan Bacaan
James Clear, Atomic Habits: Perubahan Kecil yang Memberikan Hasil Luar Biasa, Gramedia Pustaka Utama, 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar