.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Syawalan dan lebaran adalah tradisi, bukan ritual agama. Yang merupakan ritual agama adalah puasa Ramadhan, shalat Idul Fitri dan zakat fitrah. Sedangkan silaturahmi, saling memaafkan, dan memberi hadiah saat lebaran, adalah tradisi atau budaya masyarakat.
Meski tidak mudik, namun sebagai penulis kita bisa membuat karya bermanfaat dari kegiatan yang kita lakukan. Salah satunya, di momentum lebaran kita bisa membuat banyak reportase yang bisa dipublikasikan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBB), reportase adalah pemberitaan; pelaporan: teknik –diajarkan kepada wartawan; laporan kejadian (berdasarkan pengamatan atau sumber tulisan). Secara teknis, biasanya dilakukan oleh para jurnalis untuk media cetak dan elektronik.
Namun di zaman medsos saat ini, semua orang bisa membuat reportase. Tidak harus jurnalis, setiap netizen bisa membuat reportase dan memublikasikan melalui berbagai media online. Ini menjadi aktivitas yang mengasyikkan.
Membuat reportase artinya Anda melaporkan kejadian, peristiwa, atau kondisi yang Anda lihat atau Anda alami sendiri. Bisa juga membuat reportase berdasarkan sumber rujukan / kepustakaan –bukan pengalaman langsung. Namun nilainya akan lebih kuat apabila membuat reportase berdasarkan pengalaman langsung.
Bagaimana Cara Membuat Reportase yang Kuat?
Sebagai warga masyarakat biasa –bukan jurnalis, kita bahkan bisa membuat reportase dengan lebih leluasa. Tidak kaku, karena tidak ada keharusan yang mengikat dari suatu lembaga. Para jurnalis diikat oleh aturan media masing-masing, dengan aneka ketentuan yang harus dipenuhi.
Sedangkan netizen, membuat reportase untuk kepentingan publikasi personal, dengan akun media sosial, ataupun blog pribadi maupun platform terbuka seperti Kompasiana, Gurusiana, dan lain sebagainya. Bukan untuk kepentingan media tertentu.
Bagaimana cara membuat reportase yang kuat? Berikut beberapa panduan penulisan reportase.
- Harus Nyata
Jangan mengada-ada. Reportase itu jenis nonfiksi, maka tak boleh mengkhayal. Misalnya melaporkan sebuah rumah makan di atas laut selatan Yogyakarta yang sangat eksotis. Ditemani Nyi Roro Kidul. Ternyata setelah dicari pembaca, rumah makan itu tidak ada. Saat ditanya, itu rumah makan ghaib.
Pastikan bahwa yang Anda tulis, benar-benar ada. Benar-benar nyata. Bukan imajinasi atau ilusi. Baik berupa kejadian, peristiwa, tempat, alam, bangunan, suasana, panorama, atau apa saja. Harus benar-benar nyata ada.
Misalnya, Anda menulis tentang kebun jagung yang sangat luas di sebuah desa. Satu desa di mana penduduknya semua menanam jagung di kebun atau halaman rumahnya. Desa itu dikenal sebagai desa jagung, karena semua warga masyarakat memiliki tanaman jagung.
Setelah ditelusuri oleh pembaca, terntara desa yang Anda ceritakan itu tidak ada. Desa yang Anda sebutkan dalam reportase, ternyata tidak sesuai kenyataan yang ada. Sangat sedikit tanaman jagung di desa itu. Ternyata desa itu bukan penghasil jagung. Ini namanya menuliskan ilusi. Bukan reportase.
- Langsung dan Baru
Semestinya, Anda langsung berada di lokasi. Bukan sekedar “katanya”, namun Anda benar-benar hadir langsung di lokasi itu, atau melihat langsung kejadian itu. Ini yang disebut dengan ‘langsung’.
Anda akan mendapatkan “feel” dari kejadian atau kondisi, apabila Anda benar-benar hadir langsung. Bukan hanya dari melihat foto atau video, atau mendengar dari penuturan orang lain.
Setelah Anda hadir, segera tuliskan reportase Anda. Jangan menunggu setahun baru dituliskan. Karena situasi dan kondisi sudah berubah jika Anda tidak segera malaporkannya. Ini yang dimaksud dengan ‘baru’.
Misalnya membuat reportase tentang restoran steak yang baru buka. Anda menunda membuat reportase, enam bulan kemudian baru Anda tuliskan. Saat reportase Anda posting, ternyata restoran itu sudah tutup.
- Lengkapi 5W dan 1 H secara Obyektif
Di antara prinsip dalam reportase adalah berpijak pada 5 W dan 1 H secara objektif. 5 W adalah what, who, why, when, where. Sedangkan 1 H adalah how. Ini yang lazim menjadi panduan para jurnalis dalam menuliskan reportase.
What, apa kejadian atau kondisi yang hendak Anda laporkan. Who, siapa tokoh atau orang-orang yang penting untuk ditampilkan dalam laporan. Why, mengapa peristiwa / kondisi itu terjadi? When, kapan kejadiannya? Where, di mana lokasinya? How, bagaimana situasi, kondisi atau detail kejadiannya?
5 W dan 1 H ini adalah inti dari sebuah reportase. Tanpa 5 W dan 1 H, Anda bisa disebut menyebar hoax. Misalnya, Anda menulis reportase tentang sebuah restoran di Bantul, Yogyakarta. Anda harus melengkapi data objektif berdasarkan 5 W dan 1 H tersebut, untuk menjadikannya sebagai tulisan reportase.
- Hadirkan Keunikan
Cermati, apa yang unik? Dalam contoh rumah makan tersebut, carilah letak keunikannya. Mungkin rasa yang istimewa, beda dengan warung makan lainnya. Atau mungkin dari segi menu yang sangat komplit. Anda pasti mengerti ada rumah makan yang menyediakan 33 jenis sambal, 30 jenis lauk dan 28 jenis minuman. Ini unik.
Keunikan bisa juga hadir dari suasana rumah makan tersebut. Misalnya sejuk, luas, indah, asri, perabotan yang unik, pemandangan yang instagramable, dan lain sebagainya. Keunikan bisa hadir dari pelayanannya, atau bahkan dari para pramusajinya. Cermati semua, cari sisi mana yang unik.
Jika cita rasa masakannya biasa saja, coba cari keunikan dari segi yang lainnya. Jika tempatnta biasa saja, coba telusuri sisi keunikan yang bisa dituliskan. Sampai Anda menemukan satu atau beberapa hal yang unik. Jika semua biasa saja, lalu untuk apa Anda tulis menjadi reportase?
- Lengkapi dengan Pandangan Subyektif
Inilah leluasanya netizen. Lebih bebas menambah pandangan subjektif dalam reportase. Anda boleh menyampaikan opini atau pendapat pribadi. Meski subyektif, namun tidak boleh melebih-lebihkan.
Misalnya, Anda menyatakan bahwa menu yang paling enak di warung makan tersebut adalah bebek goreng. Lalu Anda menuliskan, “Dibandingkan bebek goreng Pak Slamet yang terkenal itu, ini jauh lebih enak. Bebek goreng pak Slamet tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bebek goreng yang disajikan rumah makan ini”.
Pernyataan Anda itu menimbulkan ekspektasi yang sangat tinggi. Begitu ada yang datang membuktikan, ternyata tidak seperti penilaian Anda, mungkin banyak orang memutuskan tidak mau membaca reportase Anda lagi.
Jadi, boleh subyektif, namun tetap dalam batas yang wajar. Memberi penilaian dengan yang “paling”, adalah subyektif. Namun tidak boleh hiperbola, karena ingin membantu promosi rumah makan teman.
Selamat menulis reportase.
10 kali dilihat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar