.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
“Apa aktivitas Anda saat ini?”
“Selain mengajar di sekolah, saya juga penulis”, jawab seorang guru.
“Saya ibu rumah tangga full time, sekaligus sebagai penulis”, jawab seorang ibu rumah tangga.
“Saya bekerja di Puskesmas, juga menjadi penulis”, jawab seorang dokter.
“Saya petani, mengelola kebun sayur, dan juga sebagai penulis”, ujar seorang petani.
Penulis Adalah Sebuah Pilihan Identitas
Mungkin Anda berpikir bahwa menulis hanyalah sekedar hobi, atau menyalurkan kata hati. Namun, jika Anda menghasilkan karya tulis yang dipublikasikan, dan memberikan kemanfaatan bagi pembaca, maka menulis adalah sebuah identitas.
Selayaknya Anda tidak perlu malu untuk menyebut diri sebagai penulis. Setiap kali ditanya, apa kegiatan Anda, selain menyebut pekerjaan pokok yang Anda geluti, sebut juga identitas diri sebagai penulis.
Untuk menyebut diri sebagai penulis, tidak harus menjadikan menulis sebagai mata pencaharian utama. Tidak harus menjadikan menulis sebagai kegiatan satu-satunya dalam kehidupan. Anda sudah menjadi penulis, saat Anda menghasilkan karya tulis. Terlebih lagi jika karya tulis tersebut telah Anda publikasikan.
Tidak ada standar bahwa Anda harus memublikasikan melalui media massa atau elektronik. Anda bisa membulikasikan karya tulis Anda melalui media sosial, web atau blog yang Anda miliki. Jika Anda rutin menulis di facebook, atau instagram, maka Anda adalah penulis. Jika Anda rutin memublikasikan karya tulis melalui blog, maka Anda adalah penulis.
Anda telah memiliki identitas sebagai penulis, sejak Anda menulis dan menghasilkan karya tulis. Itulah identitas yang layak Anda sebut untuk lebih mempertegas komitmen diri bahwa Anda akan berkontribusi melalui tulisan.
Dua Tahap Menyebut Diri Sebagai Penulis
Sebagian dari penulis pemula, atau yang tengah belajar menulis, sering merasa belum nyaman atau tidak PD untuk menyebut diri sebagai penulis. Saya ajak Anda menyimak saran Chuck Sambuchino (2013), bagaimana proses menyebut diri sebagai penulis. Menurut Sambuchino, ada dua tahap penyebutan diri sebagai penulis.
Pertama, menyebut diri sebagai penulis kepada diri sendiri. Tak perlu menunda, katakan kepada diri sendiri sekarang juga, bahwa Anda adalah penulis. “Now. Absolutely right now”, ungkap Sambuchino. “Tell yourself in the mirror before you brush your teeth, then again when you’re driving home from work”, ujarnya.
Katakan terus menerus dalam diri Anda, bahwa Anda adalah penulis. Saat bercermin sebelum gosok gigi, katakan bahwa Anda adalah penulis. Lakukan lagi ketika Anda pulang kerja, sesampai di rumah langsung berdiri di depan cermin sambil mengatakan kepada diri sendiri “Aku adalah penulis”, katakan lagi dan lagi.
Ini adalah upaya meyakinkan diri sendiri, bahwa Anda memang seorang penulis. “Say it so many times that you get exasperated looks from your spouse”. Katakan terus, sampai pasanganmu jengkel melihat kelakuanmu, ujar Sambuchino.
Ia meniru kebiasaan aktor Robert De Niro yang mengulang dialog puluhan kali sampai ia yakin dengan apa yang diucapkannya –sebelum syuting film. Maka katakan terus menerus kepada diri Anda sendiri, bahwa Anda adalah seorang penulis. Tak perlu menunggu waktu, Anda bisa menyebut diri sendiri sebagai penulis.
“That’s your goal: say it, then say it again until you believe it”. Sampai Anda yakin bahwa Anda adalah seorang penulis. Dengan demikian, Anda akan semakin bertanggung jawab atas pilihan diri sebagai penulis, bahwa Anda harus semakin rajin menulis.
Kedua, menyebut diri sendiri sebagai penulis kepada orang lain. Kapan mulai menyatakan kepada orang lain, bahwa diri Anda adalah penulis? Anda juga harus mulai membiasakan sejak sekarang. “The answer to this question is also now — but this is a different matter altogether”, ujar Sambuchino.
Alasan mengenalkan diri sebagai penulis kepada orang lain adalah untuk memberikan tanggung jawab kepada diri sendiri, bahwa Anda memang seorang penulis –yang layak disebut sebagai penulis oleh orang lain. Bahwa Anda menyebut diri sebagai penulis, karena memang Anda menulis.
Namun siaplah menghadapi respon orang lain tatkala Anda mengenalkan diri sendiri sebagai penulis. “The first thing is your friends and spouse may have an irksome tendency to snicker or roll their eyes”, ujar Sambuchino. Bahkan suami atau istri Anda sendiri pun mungkin akan mengerenyitkan alis atau memicingkan mata saat mendengar Anda menyebut diri sebagai penulis.
Mengapa ada respon ‘aneh’ dari orang lain tentang hal ini? “The truth is that one cannot become a doctor or welder simply because they say they are. Such professions take degrees and certifications”, jawab Sambuchino.
Sebab ketika seorang mengenalkan diri sebagai dokter, apoteker, psikolog, akuntan, guru —dan lain-lain, mereka telah menempuh pendidikan dan memiliki sertifikasi sesuai profesinya. Penulis? Apa yang bisa Anda ceritakan —bahwa Anda adalah penulis?
Beruntung jika Anda telah mengikuti Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku dan telah mendapatkan sertifikat. Paling tidak Anda bisa menunjukkan bahwa Anda juga belajar untuk menjadi penulis. Di sisi ini, Anda telah bisa berbangga dan percaya diri, “Saya memiliki sertifikat menulis”.
Beruntung jika Anda telah rutin memublikasikan tulisan melalui blog atau media sosial. Anda bisa menunjukkan karya tulis tersebut, apabila ada yang menanyakan. Saat Anda menyebut diri penulis, orang mempertanyakan, “Mana karya tulis Anda?” Maka Anda bisa menunjukkan karya-karya tulis yang sudah Anda hasilkan.
Tak perlu malu menyebut diri sebagai penulis. Sebab, seseorang disebut sebagai penulis, adalah karena mereka menulis dan menghasilkan karya tulis –dalam bentuk apapun. Maka menulislah, saat itu Anda telah menjadi penulis.
Bahan Bacaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar