.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I don’t believe it is possible to have fun every day. But I do believe it is possible to do something meaningful that helps people every day” –Mark Zuckeberg

.

Jika menelusuri dunia penulis, dengan cepat kita menemukan sederetan ‘selebritis’ tingkat lokal, nasional maupun internasional. Sangat mudah kita menemukan JK. Rowling, perempuan kaya raya dari tulisan serial Harry Potter. Di Indonesia, dengan cepat kita menunjuk Andrea Hirata, Habiburrahman Syairazy, Dewi Lestari, Asma Nadia, dan deretan papan atas lainnya.

Maka segera terbayang, bahwa menulis bisa menjadi gerbang popularitas yang menasional bahkan mendunia. Bolehkah mengejar popularitas melalui tulisan? Bolehkah menjadikan popularitas sebagai tujuan menciptakan tujuan? Tentu saja boleh dan sah. Semua kembali kepada masing-masing kita.

Namun, apakah memang populer itu sebuah tujuan? Ataukah hanya sebagai sebuah kondisi serta konsekuensi yang tercipta akibat kita berkarya? Jika menjadikan popularitas sebagai tujuan utama, Anda harus siap untuk cepat kecewa dalam prosesnya. Sering kali popularitas hanya indah bagi mereka yang belum mencapainya.

Berhati-hati Menetapkan Tujuan

Popularitas dan kekayaan itu tampak seperti matahari bagi orang yang belum mencapainya. Terang, cerah, menyilaukan. Namun tak sedikit orang yang terbakar dan hangus saat sudah mencapainya.

Saat belum populer dan belum kaya, membayangkan betapa bahagianya orang yang memiliki popularitas mendunia, dan memiliki kekayaan tak terkira. Maka mereka berjuang dan bekerja keras mendapatkannya melalui berbagai macam cara. Namun, jika sudah berhasil mencapai, apakah itu benar-benar akan membahagiakan?

Jim Carey pernah mengingatkan kita semua. “I think everybody should get rich and famous and do everything they ever dreamed of so they can see that it’s not the answer”, ujar Carey.

Apakah kita semua harus ikut-ikutan terobsesi mengejar kekayaan dan popularitas –dengan seluruh keringat, darah dan air mata—dan setelah sampai pada puncaknya, kita baru tersadar bahwa bukan itu yang kita cari sesungguhnya. Bukan itu jawabannya.

Popularitas itu “Bukan Jawaban”

Saya tergelitik dengan ungkapan Jim carey, “not the answer”. Sebelum terkenal, orang ingin menadi terkenal. Setelah di puncak popularitas, mereka merasa –ternyata bukan ini yang dicari. Ternyata bukan popularitas yang membahagiakan dan menenteramkan dalam kehidupan.

Banyak orang telah membuktikan hal ini. Konon, di tengah puncak popularitasnya, Justin Bieber merasa tidak bahagia. Ia mengalami kehilangan kebahagiaan.

“He feels something is missing from his life that can’t be bought. It’s a missing feeling of happiness. He is very much grateful for his amazing life and especially for Hailey. It’s difficult for him that he can’t just enjoy everything and feel happy. He has been in treatment for this before” (Maria Goncalves, 2018).

Maka, puncak kebahagiaan justru bukan pada popularitas atau kekayaan itu sendiri. Kebahagiaan –seperti yang dirasakan Mark Zuckeberg—adalah dalam peduli dan berbagi kepada sesama. Bahagia itu dalam saling mengasihi dengan orang-orang tercinta –keluarga dan teman-teman.

“To me, happiness is doing something meaningful that helps people and that I believe in with people I love. I think lots of people confuse happiness with fun. I don’t believe it is possible to have fun every day. But I do believe it is possible to do something meaningful that helps people every day,” ujar Zuckeberg.

Bagaimana Menempatkan Popularitas?

Tidak dilarang untuk populer. Anda juga boleh berusaha mencapai popularitas melalui tulisan. Namun hendaknya tetap menjaga rambu-rambu berikut ini.

  • Jangan menjadikan sebagai tujuan utama

Jangan menjadikan popularitas sebagai orientasi atau tujuan utama. Dalam menulis, niatkan untuk menebar kebaikan. Tetapkan tujuan yang lebih profan, tidak semata-mata ‘keduniaan’ seperti kekayaan dan popularitas. Tujuan menulis adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, untuk menciptakan ladang pahala, untuk menginspirasi dan memotivasi sesama.

  • Jangan menghalalkan segala cara untuk mencapainya

Jika popularitas dijadikan tujuan utama, mudah terjebak untuk menghalalkan semua cara. Misalnya menciptakan tulisan bombastis, atau menciptakan sensasi untuk mengejar like, share dan comment. Tidak peduli etika, yang penting mendapatkan tepuk tangan membahana dari pembaca. Ini seperti pepatah Arab, bul zamzam, tu’raf. Kencingi sumur zamzam, Anda akan terkenal.

  • Jangan terobsesi oleh popularitas orang lain

Jika Anda tengah belajar menulis, tidak perlu terobsesi popularitas orang lain. Menjadikan orang-orang populer sebagai rujukan atau model, cepat membuat suasana kecewa. Ketika seseorang sudah banyak menciptakan karya tulis, dan ternyata tidak mencapai popularitas seperti para idola, mereka cepat kecewa dan putus asa. Jadilah diri sendiri saja. Ini lebih bersahaja dan original.

  • Tetap rendah hati ketika telah populer

Jika Allah takdirkan Anda populer lewat karya tulis, tetaplah memiliki sikap rendah hati. Jangan pernah sombong lantaran telah terkenal mendunia. Seseorang akan kehilangan jati diri ketika menjadi sombong setelah populer. Kesombongan akan menghancurkan kebaikan. Maka tetaplah menjadi baik dan positif, meski menjadi orang paling terkenal di seluruh alam semesta.

  • Menjadikan popularitas sebagai sarana melakukan kebaikan

Apabila Allah takdirkan Anda mencapai popularitas mendunia, jadikan keterkenalan tersebut sebagai sarana melakukan kebaikan. Gunakan popularitas untuk semakin banyak menginspirasi dan memotivasi masyarakat melakukan kebaikan. Jangan dunakan popularitas untuk kejahatan dan keburukan.

Demikianlah beberapa rambu dalam memahami popularitas. Selebihnya, mulailah dari proses pembelajaran secara alamiah. Bertahap, dari menulis dan memosting tulisan setiap hari. Niscaya akan akan semakin dikenal karena karya nyata. Bukan dikenal sebagai pemilik cita-cita.

Selamat berkarya.

Bahan Bacaan

Leonard Kim, I Think Everyone Should Get Rich And Famous : What Did Jim Carrey Actually Mean? https://medium.com, 3 Juli 2015

Maria Goncalves, Justin Bieber Is Suffering From ‘A Missing Feeling Of Happiness,’ Per ‘People’, www.inquisitr.com 5 November 2018

Rahul Varshneya, Is Mark Zuckerberg Happy? https://www.inc.com, 14 Juni 2016