.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Saya punya bahan yang sangat menarik dan saya yakin akan menjadi best seller dalam waktu singkat. Karena ini kisah undercover. Saya punya bukti-bukti jejak digitalnya”, ujar seorang teman kepada saya.

“Jika Pak Cah tuliskan, ini mesti langsung meledak di pasaran”, tambahnya sangat meyakinkan.

Tiga pertanyaan Socrates, akan saya ajukan,” jawab saya.

“Apakah kamu yakin, bahwa kisah undercover yang kamu miliki itu benar? Maksudnya, bahwa kejadiannya benar-benar seperti apa yang kamu persepsikan? Jangan-jangan itu hanya persepsi atau interpretasimu sendiri dari jejak digital tersebut?”

“Ya, mungkin ini memang hanya interpretasi saya. Tapi kan saya memegang bukti jejak digital, berupa foto dan percakapan chat…” jawabnya.

“Apakah kisah undercover yang kamu miliki itu sesuatu yang baik dan positif?”

“Ya itu jelek banget. Bagaimana seorang tokoh publik melakukan tindakan tercela seperti itu? Ini kan sangat menyedihkan”, jawabnya.

“Apakah kisah undercover yang kamu miliki itu, apabila saya tulis dan saya publikasikan, akan bisa memberi manfaat kebaikan bagi pembaca, atau justru bisa membuat pembaca meniru keburukannya?”

“Ya itu tergantung pada pembacanya. Tapi mungkin akan ada pembaca yang terinspirasi dan meniru perbuatan buruk itu. Karena perbuatan itu dilakukan tokoh publik, maka bisa membuat orang lain meniru”, jawabnya.

“Selesai sudah. Triple Filter Test ala Socrates sudah saya ajukan. Hasilnya, pertama, bahwa Anda tidak yakin bahwa kisah undercover tersebut benar. Mungkin hanya analisa, persepsi dan interpretasi. Belum tentu kejadian dan kondisinya benar-benar seperti itu”, jawab saya.

“Kedua, bahwa kisah undercover tersebut adalah hal buruk, bukan hal baik. Padahal, Anda tidak yakin tentang kebenarannya. Bagaimana menulis hal buruk, dalam kondisi tidak yakin bahwa hal itu benar-benar terjadi? Ini bisa mengarah kepada fitnah, ujaran kebencian dan pencemaran nama baik”

“Ketiga, bahwa Anda tidak yakin kisah itu memberikan kemanfaatan yang positif bagi pembaca. Bisa jadi justru menginspirasi pembaca meniru keburukan –yang padahal kisah itu belum tentu benar”.

Maka saya tidak bersedia menuliskannya, meski teman itu meyakinkan akan bisa booming dan meledak di pasaran. Dhuorr !! Meledak.

Free Writing untuk Terapi

Dalam 100 serial writing for wellness yang saya posting di blog www.ruangmenulis.id, telah saya nyatakan bahwa menulis memiliki banyak kemanfaatan. Di antaranya adalah manfaat katarsis atau ruminasi, yaitu menulis untuk melepaskan beban-beban yang mengganggu pikiran dan membelenggu perasaan.

Dalam konteks ini, menulis adalah terapi. Menulis mampu menyehatkan dan membahagiakan. Kita boleh menulis apa saja yang mengganggu pikiran dan membelenggu perasaan. Dengan menulis, semua beban itu tersalurkan. Pikiran menjadi tenang, hati menjadi lapang.

Tulisan untuk kepentingan penyembuhan seperti ini, bercorak free writing. Menulis bebas, tanpa batasan dan aturan. Boleh menulis apapun, dengan cara seperti apapun, dengan gaya model apapun. Bebas merdeka. Menulis untuk memerdekakan pikiran dan perasaan. Ini yang disebut expressive writing.

Oleh karena bercorak free writing, maka tulisan katarsis seperti ini tidak untuk dipublikasikan. Hanya untuk kepentingan penyembuhan. Setelah menulis, hasilnya disimpan yang rapi dan aman, pada folder yang diberi password atau dikunci. Bahkan untuk beberapa kasus tertentu, setelah menulis di kertas, langsung dibakar.

Kebebasan menulis bersifat mutlak, apabila menulis hanya untuk kepentingan penyembuhan atau terapi. Karena tidak untuk dipublikasikan atau diposting di media apapun. Benar-benar hanya untuk kanal pelepasan dari pikiran serta perasaan yang menekan. Tidak ada orang lain yang tahu isi tulisan itu. Hanya dirinya, dan Tuhan, yang mengetahui isi tulisan itu.

Filter Tulisan, Sebelum Dipublikasikan

Namun kebebasan menulis menjadi terbatasi, apabila untuk kepentingan publikasi. Semua tulisan yang akan dipublikasikan, harus melalui filter terlebih dahulu. Sebagai penulis, Anda wajib mengedit secara konten atau substansi –di sinilah proses filter terjadi.

Mengapa perlu filter sebelum publikasi? Sebab semua tulisan yang kita publikasikan melalui media apapun –cetak, elektronik, online, berpeluang dibaca banyak kalangan. Bisa jadi ada pihak-pihak yang bisa terlukai, tersakiti, dan terzalimi dari sebuah tulisan. Ada orang yang merasa nama baiknya dicemarkan melalui sebuah tulisan.

Saat melakukan publikasi tulisan, hendaklah selalu diingat bahwa kita tidak berada pada ruangan hampa. Kita berhadapan dengan etika, norma dan hukum. Salah satunya terkait dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) jo. Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008.

Selain terkait hukum positif, kita semua terikat oleh ajaran agama. Dalam ajaran agama, tidak diperbolehkan menjelek-jelekkan pihak lain, melakukan fitnah, melakukan ghibah dan namimah. Semua itu bisa menimbulkan kerugian pada pihak lain. Ada pihak yang merasa dipermalukan, dijatuhkan harga dirinya, atau dilecehkan dan dibully.

Maka pastikan, semua tulisan telah Anda filter sebelum dipublikasikan. Mungkin Anda memosting di facebook, instagram, twitter, whatsapp grup, blog / web, koran, majalah, buletin, jurnal atau media apapun. Sepanjang Anda menulis untuk dipublikasikan, Anda wajib melakukan filter. Lakukan editing substansi, baru dipublikasikan.

Selamat menulis, selamat memfilter tulisan.

Bahan Bacaan

Cahyadi Takariawan, Triple Filter Test, Tiga Filter Tulisan dari Socrates, www.ruangmenulis.id, 25 Agustus 2020

Socrates Triple Filter Test, www.exploringyourmind.com, 18 Januari 2019