Semangat menyimak materi malam ini.
Salut sekali atas gagasan pak Naf dan pak Brian yang dengan santun dan sabar mengajak para peserta untuk terus semangat. Beliau mengajak para peserta pelatihan untuk membuktikan karya nyata. Membuktikan bahwa menerbitkan buku itu mudah. Tidak seperti jaman dahulu yang banyak liku-liku dan hanya orang hebat dan terkenal saja yang bisa menerbitkan buku.
Trimakasih pak guru muda. Masih muda sudah banyak karya dan prakarsa. Hari ini, Senin 7 Juni 2021 pelatihan menulis bersama pak Naf yang menjadi nara sumber adalah pak Brian dan didampingi pak Naf sebagai moderatornya. Materi yang disampaikan adalah “ Menerbitkan buku semakin mudah di penerbit Indi”.
Pak Brian dengan nama lengkap Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd. Guru, penulis dan Blogger. Mengajar PKN kelas di SD. Beliau alumni PGSD Atmajaya Jakarta.
Dibawah ini adalah karya Solo dari pak Brian.
Beliau bercerita bahwa tahun lalu, ketika Pak Naf ingin menerbitkan buku untuk pertama kalinya, beliau mengalami hambatan. Maka, pak Brian pun dihubungi untuk membantu menuntaskan agar naskahnya segera bisa jadi buku. Tiga buku solo saya diterbitkan di penerbit Indie.
Memang kalau di penerbit indie, kita perlu keluar biaya untuk mendapat fasilitas pra cetak penerbitan. Tapi itu memang konsekuensi dari penerbitan tanpa seleksi, sehingga biaya penerbitan menjadi tanggung jawab penulis untuk mendapat fasilitas penerbitan yang memuaskan.
Ini buku pertama dari pak Brian.
https://www.praszetyawan.com/2020/02/buku-blog-untuk-guru-era-40.html . Perlu waktu 3 bulan untuk terbit, sejak pengiriman naskah.
buku kedua
http://www.praszetyawan.com/2020/06/buku-aksi-literasi-guru-masa-kini.html . Prosesnya lebih cepat. Sekitar 1 bulan
Dahulu ketika penerbit indie belum eksis seperti sekarang, kita hanya tahu bahwa penerbit buku yang ada itu hanya penerbit mayor seperti Gramedia, Grasindo, Elex media, Andi, dll.
Tahap seleksi naskah menjadi tantangan untuk bisa menembus penerbit mayor. Kita mesti menunggu dalam waktu lama untuk mengetahui naskah ditolak atau tidak. Setelah menunggu lama, Penulis harus menerima jika naskahnya ditolak, dan mencari penerbit lain lagi. Penolakkan pun tidak hanya dari 1-2 penerbit. Perlu mencoba terus ke sejumlah penerbit sampai ada yang mau menerima naskah kita.
Ketika naskah diterima pun proses penerbitannya sangat lama. Harus bolak-balik revisi sesuai arahan editor.Maka sekarang menerbitkan buku dikatakan semakin mudah karena sekarang ada penerbit indie yang melayani penerbitan buku tanpa seleksi dan proses penerbitan yang cepat.
Bagi penulis pemula tentu penerbit indie menjadi solusi untuk bisa mewujudkan impian memiliki buku karya sendiri. Itu yang saya rasakan sekarang Maka sekarang menerbitkan buku dikatakan semakin mudah karena sekarang ada penerbit indie yang melayani penerbitan buku tanpa seleksi dan proses penerbitan yang cepat.
Akhirnya beliau menjalin kerja sama dengan penerbit yang menerbitkan buku kedua tersebutnamanya penerbit “Gemala”. Penerbit itu sangat fleksibel dalam melayani permintaan pemesan. Pak Brian membantu guru-guru menghubungkan ke gemala untuk menerbitkan buku
Seperti yang lakukan sekarang di grup ini ( Menulis bersama Pak Naff). Pak Brian yang membantu hubungkan di penerbit Gemala.
Sebelum dikirim ke penerbit, naskah tentu perlu dipersiapkan sesuai ketentuan penerbit.
Setelah menyelesaikan 16 resume, di bawah ini adalah langkah-langkah selanjutnya untuk menerbitkan buku di penerbit Gemala.
-Yang tidak kalah penting adalah jangan memberi target kapan buku harus selesai terbit.
Resume peserta dikumpulkan ke Pak Naf . Beliau akan cek. Jika ada yang perlu diedit, maka akan beliau edit. Kemudian pak Naf yang akan mengirim ke penerbit
lewat grup ini, peserta sudah dimudahkan jalannya untuk bisa menerbitkan buku yaitu
jadi ayo maju terus sampai terbit bukunya.
Trimakasih pak Brian untuk pemaparannya. Bergizi. Menambah wawasan. Semoga bisa segera mewujudkan mimpi menerbitkan buku hasil Resume dari palatihan “ Menulis Bersama pak Naf”
Menerbitkan buku adalah impian. Jadi punya karya adalah kebanggan. Kemauan belajar adalah kuajiban. Teruslah belajar menulis dan tetap semangat!.
Waingapu, 8 Juni 2021
#Salam Literasi
#

Tidak ada komentar:
Posting Komentar