Selasa, 20 Juli 2021

Cerpen: CV. Cahaya Pelangi Media

 


Tema : Love Yourself (mencintai Diri Sendiri)

 

Rembulan Tenggelam di Wajahku

 

Saya yakin, Kita semua pernah menemui titik terendah dalam hidup kita dan

‘berhasil’ melewatinya.     ‘hebat! .

 

Peristiwa itu. Oh Tuhan!.Rintihku  dalam hati. Tak terasa  sesak sekali  hatiku, jika ingat saat itu....

Saat ini umurku jalan 22 tahun. Tak lama lagi aku wisuda.  Oktober ini janjiku pada orang tuaku karena mereka sudah tanya-tanya terus kapan aku wisuda.  Kasihan juga mereka sudah  mengeluarkan  uang untuk biaya kuliahku dengan susah payah  dan  keringat darah mencari uang. Saya bukan dari keluarga yang kaya. Kini kuliah di Jogya,   ingin aku  membuat orang tuaku bangga padaku.

Tok! Tok!!  Bunyi  suara  pintu kosku di ketuk seseorang . Ku buka pintu,  eh!! ternyata  tante Fanie  yang dari Jakarta datang.  Kaget aku. Aku begitu semangat,  tante ini paling sayang sama aku.  Setiap  ada ivent-ivent penting  aku biasa diajak. Tante kerja di bank dunia, orangnya baik hati sekali, royal dan familiar, mungkin karena  tante tidak punya anak laki-laki. Kalau tante minta bantuan pastilah ke aku.

Tante datang  mau minta tolong  antar  barang kos milik Reni  putri sulungnya yang kuliah di Atma. Barang-barang yang kos supaya diungsikan ke rumah eyang  (panggilan nenekku: Red). Sudah setahun lebih  kuliah daring,  gegara  ada barangnya di kos harus rutin mbayar. Kan rugi tuh. Orangnya ada di  Jakarta terus, hanya barang  saja yang kos tapi mbayarnya  1,5 juta per bulan. Wow!! Apalagi kalau orang seperti aku....kirimanku saja tak sampai sejuta sebulan. Harus cukup dan tak boleh mengeluh!.

Akupun dengan suka cita memenuhi permintaanya. Seperti biasa, pasti tante traktir  makanan yang enak-enak di restourant. Maklumlah anak kos, tak pernah makan enak. Hanya langganan warung borju harga Rp10 ribuan setiap kali makan. Itupun Supaya irit aku target makan  hanya 2x sehari. Wah kalau 3x aku bisa tekor uang kiriman ortu.

Tante memberiku uang untuk sewa pic-up.  Bersyukur biar aku miskin pernah diajari nyetir sama tetanggaku yang baik.  Dengan pic-up yang kusewa Rp 200 ribu akhirnya kami tancap...!!,  bertiga, aku ,tante dan Reni. Benar kan! Tante ajak kami  makan di Restourant mewah, makanan lezat  dan  bisa berselfi ria. Jadi Kenangan.

Selesai makan, saya siap  melaksanakan tugas bawa barang-barang. Kami menuju  rumah Eyang  di Dukuhan, kampung  tanah kelahiran mamaku.

Sampai di rumah Eyang, jamuan makan malampun disajikan. Biasa, Eyang kalau cucunya muncul tak tanggung-tanggung menjamu kami, selalu menyediakan makanan yang ‘super’ enak. Sebagai anak  kos aku tak  akan melewatkan kesempatan itu. Ayam panggang coi!!  “Ayo  cucu...makan makan!!”, suara eyang  mempersilahkan kami. Kamipun  serbu makanan lezat itu  sampai  ludes! des!. Begitu bahagianya Eyang  lihat kami lahap makan. Eyang  sangat  tahu  kami ‘anak kos’ penuh keprihatinan tak pernah makan enak,. Wkwkw..

Seperti biasa  habis makan,   aku biasa  mbantu tante Anna,  istri Om Nandang  cuci piring.  Kebetulan mbak Menuk, pembantu mereka  pulang kampung karena simboknya sakit.

Kulihat Vino, anak tunggal om yang menggemaskan  selalu manja padaku. Setiap  aku duduk pasti dia ngelendot  atau minta pangku ke aku.

Barang-barangnya Reni   sudah turunkan di rumah eyang....makan sudah selesai, tibalah  saatnya kami pamit pulang ke Jogya. Sampai di Jogya kuantar tante dikosnya Reni, aku  mengembalikan pic-up sewaan dan langsung pulang ke kosku.

Sampai di kamar kos badanku kok terasa  lemas...tiba-tiba badanku panas tinggi. Kepala thiung-thiung, macam mau pecah. Tuhan,  ada apaan ini!!. Seumur  hidup aku belum pernah  merasakan sakit  seperti begini. Aku takut sekali!! Aku mulai panik.  Aku berusaha tenang.  Tenggorokanku mulai terasa sakit. Dag dig dug  dadaku bergetar kencang! Aku jadi ingat...... jangan-jangan aku  terserang covid-19!!.

Kok, yang kurasakan  tanda-tandanya seperti yang  kulihat/kubaca di medsos yang terpapar covid ganas Delta vaian.  Kuambil bawang merah, kuiris lalu kucium....,ternyata  tak bisa kurasakan  aromanya. Kuambil kaos kaki dalam sepatu yang kupakai tadi...ternyata aku tak merasakan bau... aku mulai gelisah, dan takut.  Jangan jangan....... aku kena covid?

Rasa hati karuan. Jantungpun terus bergedup kencang. Kupikir-pikir sejenak dalam keadaan panik! Aku  jadi ingat,  O Iya!!  Tante Anna positif. Tapi saya tidak salaman tadi, batinku. Saya juga tetap pakai masker......jangan-jangan....Tuhan!!,  ahh!! saya  tak berani curiga.

Getaran jatung semakin kencang  diikuti  badan kok tambah panas.  Aku batuk, tenggorokan terasa sakit, dahak yang kukeluarkan  warna coklat!! Ada juga tetesan darah jatuh dari hidungku. Aku  tak sadar apa yang akan terjadi pada diriku.  Hampir copot jantungku. Nafasku semakin sesak malam itu. Aku tak berdaya, aku  mau minta tolong sama siapa?????

 Kosku berderet empat kamar ...sepi sekali karena mereka  semua mudik. Jadi aku sendirian. Ya aku sendirian!! Hanya ditemari suara kodok di sawah, gesekan bambu diterpa angin dan hembusan udara malam .

Tuhan!!!!  “Kuatkan aku!”, rintihku dalam hati.   Aku  terus  berdoa dan hanya bisa berdoa.   Semoga  aku  bisa kuat  menjalani sakit dan penderitaanku ini. Dengan menahan rasa sakit yang amat hebat aku tak bisa tidur, badanku lemas, deman, panas rasanya tubuh ini, perut perih sekali. Lengkaplah penderitaanku. Mau lari ke rumah sakit suasana  malam mencekam.  Aku tak berdaya.  Semoga ini  bukan malam yang terakhir bagiku.

Dalam kepanikan aku mencoba keluar......menatap jam menunjukkan jam 00.23 WIB. Suasana sepi menambah bulu kudukku berdiri. Kebetulan  dibelakang  kamar kosku adalah kuburan. Di perkampungan pula. Sunyi sepi. Maklum anak rantau  cari kos yang murah dan sepi. Selain  tak memberatkan ortuku yang  penghasilannya pas-pasan dengan harapan bisa belajar dengan baik di lingkungan yang sepi.  Angin  berhembus sepoi-sepoi. Menyusup hingga ke nadi. Aku  duduk di teras kos seraya merenungi nasibku dan menahan sakitku. Aku tak berani cerita karena takut diusir pemilik kos.

 Ditemani nyamuk yang sesekali menggigitku. Aku tak bisa tidur semalaman, sambil menahan sakit kepalaku dan batuk yang terus tak henti.   Mencoba kutahan.......sampai akhirnya kudengar suara  mesjid adzan  subuh dari kejauhan... kulihat HP ternyata sudah jam 03.43 WIB.

Hari ini jadwalku  harus ke rumah sakit Betheda...sendiri, ku stater motorku  untuk swab, mbayar Rp250ribu. Aduh!! Mahal sekali, uang makanku seminggu lebih!! Tak apalah,  demi sebuah kesehatan. Gegub jantung, rasa was was dan takut  bersamaan menunggu  hasil swab. Tak lama kemudian perawat  membawa hasilnya. .......ternyata, benar aku positif!!! “Delta Varian” virus terbaru yang ganas  dan sedang  menggila.

Kepala terasa disambar petir.  Aku hampir  pinsan mendengar  berita itu. Untung Tuhan menguatkanku.  Dari    62  yang swab disitu,  hanya ada 3 orang  yang  positif.  Termasuk aku!. Sedih, perih,  sakit, lunglai  rasanya . Aku diberi obat, mungkin vitamin ya. Disuruh  minum setiap hari. Perawat  pesan supaya,  ingat prokes ketat, olah raga, berjemur setiap jam 09.00 WIB   dan  jangan lupa olah raga. Dengan langkah gontai  aku meninggalkan rumah sakit.

Aku  tak bisa berkata-kata. Aku mau  curhat sama siapa. Kalau aku  cerita di ibu kos bisa saja aku diusir dari kos. Tak terasa airmata menetes dipipiku, terasa sesak didadaku. Aku tak berani memberitahu orang tuaku di NTT. Aku takut mereka  sedih dan panik.

Hari demi hari  kujalani selama pesakitan ini.  Kemarin ada temanku meninggal di kampus, padahal awalnya dia  sehat-sehat.  Di Jogya Zona merah, menurut berita  akan segera lookdown. Aku jadi  kepikiran dengan nasib diriku. Sakitku belum juga berkurang.  Selain panas, tenggorokanku  sakit sekali, kumasuki  makanan dengan paksa masih  teramat sakit.

Jantungku ini deg degan kencang terus, aku selalu tersugesti  dengan kematian.  Aku hanya bisa  terus berdoa dan  tak henti. Tuhaaannnnn.......bantu  hambamu. Sembuhkanlah aku. Airmata deras  selalu membasahi pipiku.  Aku tak berdaya.  Aku hampir  putus asa.

Akhirnya terpaksa aku cerita keadaanku ke Tante Fanie tentang keadaanku......... Kurasakan, ada perasaan bersalah dihati tante.  Akhirnya  tante Fanie  mengirimkan aku obat Cina ‘Lian Hua’ namanya. Pasti itu mahal harganya. Harus diminum  3 x 4 butir sehari selama 9 hari. Obatnya gede-gede pula.  Demi kesembuhan aku mulai minum. Tante terus cek teang  keberadaanku.

Inilah aku. Saatnya aku berjuang untuk diriku.  Aku harus kuat. Aku  sayang  pada diriku. Segala cara  halal harus aku taklukkan demi kesehatanku. “pasti bisa!. Ya pasti Bisa.  “Tuhaannnnn....dengarkan aku!”,  pintaku pada Tuhan  mohon belas kasihan.  Tak akan sedetikpun  aku meninggalkan Tuhan Kudaraskan  doaku terus menerus.

Aku ingin  hidup!. Aku  tak boleh gampang menyerah! Aku  tak ingin orang tua dan keluargaku  sedih mendengar  fakta yang kurasakan.

Tenggorokan  sakit sekali kalau menelan, tapi  terus  kupaksakan diri untuk makan dan  minum air panas. Dengan keringat dingin terus kumasukkan nasi kemulutkan  demi keselamatanku. Aku tak boleh  cengeng. Harus kuat, harus semangat!

Tiba-tiba  bapa, mama  telpon, pasti ini tante yang memberitahukan tentang aku. Aku berusaha tenang,  aku menutupi sakitku yang sebenarnya.  Seolah-olah aku baik-baik saja. Tentunya agar  ortu tetap tenang. Hanya  aku berharap semoga Bos tidak  tanya  laporan dan Tugas akhirku.

Hari ini adalah hari  ke-8, kisah penderitaanku.  Masa Isoman 14 hari, terasa lamaaaa.....sekali. Sebenarnya aku hampir tak tahan dengan sakitku,  aku tak sanggup lagi  menanggung  penderitaan ini. Aku ingin berontak! kesaalllll!!! Tapi sama  siapa??? Tuhan  tak akan mencobai  umatnya melebihi kemampuannya.  Aku yakin dan percaya!.  Kata-kata itu yang selalu menguatkan perasaanku.

Puji Tuhan, dengan  penghiburan dari orang-orang terdekat. Dengan doa. Akhirnya sakitku mulai berangsur sembuh. Tuhan selalu menjagaku, mendampingiku dan masih memberiku  kesempatan  padaku untuk melanjutkan ziarah kehidupanku.

Trimakasih untuk pengalaman ini, Aku  bisa lebih semakin menghargai kesehatan. Menghargai kehidupan. Membuat aku menjadi dewasa dan terus bersyukur kepadaNya.

 

 

 

 

  “Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani, SPd. Lahir di Magelang, pada tanggal 14 April 1966. Mengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit  adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Dermaga Hati dll  . Buku Solo, Kumpulan cerpen “Mengungkap Rahasia” Penulis tinggal  di  Jl Trikora RT/RW: 010 / 003 Kel. Hambala, Waingapu, Sumba Timur. NTT email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. No HP / WA 085 230 708 285.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...