Rabu, 21 Juli 2021

JAMU PIPIS JATI KENDI

 

Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Akhirilah setiap hari dengan pikiran yang positif. Tidak peduli  seberapa beratnya harimu, besok adalah kesempatan  baru yang membuat segalanya lebih baik.

 

Pertengahan juni  hingga tanggal 11 juli 2021 adalah kenaikan kelas TK,SD,SMP dan SLTA  untuk seluruh Indonesia. Para guru dan murid  libur sekolah. Sudah 3 tahun  lebih saya tidak mudik. Orang tua   sisa ibu  saja. Bapak sudah meninggal 12 tahun yang lalu. Hati begitu rindu  untuk  makan  sayur masakan ibu. Rindu sawahku, rindu  gudeg makanan kesukaanku. Hati ini  begitu  merindu  untuk  sekedar  napak tilas  masa kecilku dulu.

Masa indah  tinggal di kampung halaman  bersama  orang tua, dan adik-adiku. Duluuu....bercanda, saling mengganggu. Rindu untuk ke tempat kubur para leluhur yang kuyakini  dari doa untuk mereka  akan membawa berkah bagiku dan keluargaku.

Menyadari aku bukan orang mampu, aku rencana  naik kapal Egon bersama Marcel anakku yang pertama. Hati sudah berbunga-bunga membayangkan  rumah kelahiranku, tempat aku dibesarkan oleh orang tuaku. Aku  tinggal dirantau sudah lebih dari 30 tahun. Sebagai  guru surat  ijin sudah  kulayangkan kepada atasanku.  Dengan suka  cita  siap  melaju esok hari dengan kapal laut.  Syarat  sudah  terpenuhi, yaitu bukti vaksin  1 dan 2 sudah punya dan bukti PCR sudah siap.

Tas dan pembawaan sudah siap,  bekal  untuk makan  di kapal pun sudah dimasak. Perjalanan untuk 2 hari.  Sambal goreng kering kacang dan tempe campur ikan teri. Kesukaan anakku. Tak lupa ikan asin  produk Mangili pesanan  Anto anakku yang masih kuliah di Jogya.  Dengan  bekal semangat membara, kesehatan yang cukup, siap untuk berangkat esok pagi dini hari.

Tiba-tiba kubaca WA dari adikku yang di Jakarta, mengabarkan  Anto anakku terpapar corona. Begitu juga  Ibu,Dik Rudi  adikku yang bungsu, istri dan  Evan putra mereka. Ya Tuhan.  Hati ingin menjerit. Saat itu  saya memang dengar kabar kalau di provinsi Jawa Tengah orang yang terpapar paling tinggi. Zona merah parah. Orang-orang tidak  boleh keluar, yang meninggal banyak sekali.

Di desaku,  adikku bilang  mereka yang terpapar berjamaah. Kutanya, apa itu maksudnya. Jadi mereka  rame-rame kena  covid. Betapa  menyedihnya dengar kabar itu.  Akhirnya adik iparku, dik Ita  dari Jakarta  menyarankan aku tidak boleh  datang ke Jawa. Bahaya! Bagaimana aku bisa ke Jawa?. Jika  nekat artinya  menjerumuskan diri. Serumah 'utuh' ‘ semua positif. Anakku yang di Jogya juga positif. Aku datang, mungkinkah!.

Dengan  badan terasa lemas aku mengurungkan  untuk  mudik. Sedih  dengar cerita anakku,  dia kos sendirian, badannya panas, deman tinggi selama 4 hari. Makan tak  enak, tidur tidak bisa. Tenggorokan sakit sekali katanya. Jika menelan makananan juga sakit. Rasa  makanan semua hambar tak ada yang enak. Tambah  batuk-batuk  keluar dahak yang berwarna  coklat. Mamaa... dia  mengeluh padaku. Sebagai  mama  aku hanya bisa  menangis,  tak sanggup  menerima kenyataan yang ada.  Aku hanya  bisa menghibur, berdoa dan terus  berdoa,  semoga Tuhan Sudi mendengakan. Apa yang  harus kukatakan padanya, aku seperti orang linglung. Apalagi dengar kabar   teman  kuliah dari anakku meninggal. Hal itu menambah kesedihanku.  Pagi-pagi dia ke rumah sakit Bethesda.  Dengan badan lemah dia paksakan diri untuk  rapit test dengan ongkos Rp 900 rb.  Besar sekali,  jatah kiriman anak satu bulan. Tak apalah, kesehatan jauh  lebih penting,  kuhibur anakku.  Akhir Tante Ita yang  kirim uang . Syukurlah. Ya, untuk  meyakinkan sakitnya atas saran Devi keponakan yang dokter. Ternyata benar dia  postitif.

Untung ada adikku yang begitu perhatian padanya. Dik Rita dan di Ita adik iparku yang tinggal di jakarta adalah keluarga yang baik sekali. Merekalah yang  selalu mensuport. Mengirimkan obat, vitamin  dan berbagai hal  untuk kesembuhan Anto dan keluarga di Muntilan. Bahkan mereka membelikan obat cina yang mahal untuk semua. Aku hanya bisa pasrah walau hati selalu  merasa kawatir dan was was tiada henti. Apalagi kalau dengar  berita dan baca di medsos yang meninggal  semakin banyak setiap hari.

Corona menerjang  tak pandang bulu. Miskin kaya, tua muda,  apapun profesinya. Sediiih sekali.  Tak henti-hentinya saya berdoa dari NTT untuk keluarga yang di jawa. Tuhan,  mampukan  kami  menerima ujian besar ini. Benar-benar  kami  tak berdaya. Setiap hari kunyalakan  lilin, kudaraskan doa dengan tangis dan air mata. Di Kos  anak saya ‘sendirian’. Merasakan ganasnya serangan  corona .  Mau minta tolong siapa?. Badan deman, panas tinggi, semua dirasakan dan diatasi sendiri. Mau keluar tak berani. Ibu kos tak boleh tahu. Jika  ia  lapor  pastinya akan diusir dari kos, jangan sampai nanti menularkan yang lain. Akhirnya dia menahan sakitnya sendiri tanpa minta bantuan  orang-orang di sekitar.

Berbeda  cerita yang di rumah ibu.  Semua membuatnya sedih, Sedih sekali. Peristiwa ini  benar-benar membuat sesak di dada. Jantung bagai  terlepas dari tempatnya.  Belum suamiku tercinta sementara  sakit jantung  yang harusnya tak boleh  banyak berpikir. Tak boleh  stress. Tambah lagi  di Muntilan yang semuanya terpapar  harus isolasi mandiri. Mereka berkabung di rumah. Semuanya badan lemah,  panas tinggi,  batuk-batuk dan tak bisa beraktifitas.

Tapi beruntung yang di kampung.  Penduduk setempat yang tak terpapar  dengan suka rela mereka  mengirimkan  makan dan minun setiap hari. Sungguh berhati malaikat mereka itu. Saat  serumah tak berdaya karena terpapar, Tuhan mengutus  orang baik  di sekitar rumah untuk  memberi bantuan. Sebagai keluarga, kami dari jauh hanya bisa mengucapkan terimakasih  yang berlimpah-limpah .

Waktu terus berjalan. Hari-hari dilalui dengan kelam. Doa  selalu didaraskan di setiap kesempatan. Banyak orang sehat dengan caranya sendiri memberikan bantuannya.  Mengadakan menyemprotan. Mengirimkan disinfektan, memberi mi, telur dan banyak bantuan lain.  Trimakasih Tuhan  untuk tangan-tangan kasih Tuhan  yang rela mengulurkan tangannya untuk  yang menderita.

Lain lagi cerita adikku di jakarta. Dik Rita adikku yang kedua, 2 anaknya  adalah dokter lulusan UGM. Yang satu  baru selesai wisuda S.ked. dan yang satu  praktek di puskesmas Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Dokter Devi, cerita bahwa dia bersama rekan kerjanya juga positif. Begitu panik mamanya. Mereka yang selau memberi nasehat penguatan, penghiburan kepada orang lain termasuk  saudara di Muntilan dan Jogya, sekarang giliran dia sendiri yang  terpapar.

Sedih sekali dengarnya. Obat Cina yang  seperti diberikan Anto  anakku, ternyata  habis diperedaran. Padahal obat itu  yang meyakinkan untuk menyembuhkan. Mamanya cari-cari diberbagai  penawaran online, semuanya habis stok. Kami semua hanya  bisa  memberi penguatan dan  doa. Memotivasi supaya  jangan terlalu panik. Devi cerita bahwa setiap hari  5 orang yang meninggal, saya  agak takut juga, katanya. Kata dr Devi  yang  kelihatan pasrah tak berdaya.

Kemarin waktu dia belum kena, dia menasehati banyak hal. Mengirim obat-obatan, vitamin lewat goojek atau online. Nah!! Sekarang. Dia  harus berusaha  sendiri. Kasihan!. Semua  dalam kepanikan.

Kami 4 bersaudara, aku sebagai anak pertama 3 adikku di Jakarta. Berhubung bapak sudah  meninggal ibuku hanya sendirian, akhirnya adikku yang bungsu rela meninggalkan pekerjaannya  dari Waskita Karya demi ibu tercinta. Kami sudah berkeluarga dan sudah dikaruniai anak. Jika di absen satu persatu seiap kami  sudah dikunjungi/dirasuki  corona semua. Tak ada yang terlewatkan. Saya anakku yang bungsu. Adikku nomor dua yang terpapar adalah anaknya yang dokter. Adikku nomor 3 Seluruh anggota keluarganya. Begitu pula adikku bungsu, semua anggota dibabat habis tanpa ampun bahkan ibu yang  sudah ‘sepuh’ pun tak terlewatkan. Sedih sekali. Ini merupakan ujian Tuhan untuk kita masing-masing bisa refleksi. Peristiwa ini akan menjadi cerita sejarah keluarga yang tak lekang ditelan waktu. Anak cucu kita akan tahu cerita masa lalu nenek moyangnya.

Lucu saat adik di Jakarta awal terpapar. Mereka ada asisten rumah tangga, mbak Sri namanya. “mbak Sri kenapa 3 hari ini mbak Sri masak tak ada rasa? Kenapa hambar semua?. Dua hari pertama  mereka perasaan mau tanya mbak Sri tentang masakannya. Akhirnya mbak Sri menjawab bahwa kami selalu taruh bumbu seperti biasa. Nah, dari itu dia baru sadar untuk pergi PCR. Seluruh anggota keluarga PCR ke Rumah sakit, benar saja hasilnya positif. Hanya mbak Sri sang asisten yang negatif. Tindak lanjut  akhirnya Isoman dengan  selalu menerapkan 5M, minum vitamin dan rajin olah raga.

Kabar lagi mengejutkan, mama dari dik ita Positif Covid, karena komorbit beliau sampai tak sadarkan diri akhirnya langsung masuk ICU. Tiga hari kemudian meinggal. Sedih sekali. Kita semua masing-masing diuji dengan datasngnya pandemi ini. Belum  sembuh yang satu  terpapar lagi yang  lain. Tak  satupun yang  terlewatkan, kita bukan hanya jadi penonton, tapi  benar-benar kita menrasakan sakitnya. Merasakan penderitaannya. Tangisan dimana-mana , termasuk di dalam rumah saya sendiri.

WA muncul lagi dari grup keluarga kandung. Mas Joko beliau Direktur Bank Parama Muntilan. Anak pakde ( kakaknya bapak: red), rumahnya gandeng dengan rumah kami di Jawa.    Tiga minggu tak pernah dengar kabarnya ternyata beliau juga positif covid-19 hingga badan turun 14 kg. Saat ini masih kritis.  Kami turut sedih merasakan  penderitaanya. Kami hanya bisa berdoa dari jauh dan erus memohon kepadaNya. Mas Joko baik sekali, beliau donatur gereja kami. Walaupun beliau bos tapi rendah hati. Semoga Tuhan menjamah dia, memberikan obat penawarnya agar pulih dan bisa beraktifitas lagi seperti biasa.

Baru mau rencana menutup cerita ini di kotaku tiba-tiba dihebohkan dengan berita. Bapak Camat kota Waingapu yang masih aktif meninggal mendadak. Dia kakak ipar dari teman dekatku. Sebenarnya saya tak pantas  menyampaikan ini. Tapi diberita ini santer baik lisan dari mulut ke mulut  maupun  di medsos. Di Fb pun berita begitu menggemparkan. Sedih sekali. Kasihan keluarga yang ditinggalkan. Sebenarnya rahasia, tapi.....

Tanggal 20 Mei Ibu Mertin , istri dari camat kota meninggal  karena covid-19. Ceritanya sedih. Suami yang seorang pejabat dengan setia  selalu menemani sejak  sakit hingga meninggal dunia. Setelah Istri meninggal mungkin beliau depresi, sakit dan  sesak nafas hingga tidak pernah bisa tidur sampai hari ini beliau meninggal , 20 Juli 2021. Dua bulan pas.  Betapa menderitanya dan sengsaranya. Mungkin Karena tak tahan dengan penderitaan yang dialami akhirnya beliau mengakhiri hidupnya mengambil jalan pintas  (gantung diri) di rumah orang tua. Sebagai pak Camat kota aktif, berita itu benar-benar menghebohkan.

Ternyata sebelum meninggal masih meninggalkan surat yang isinya adalah permohonan maaf kepada atasan (Pak Bupati, Wakil bupati dan pak Setda) atas tindakannya dan meminta supaya Kepolisian setempat jangan mengotopsi. Ini perbuatan murni dari pribadi karena tidak sanggup  dengan penderitaan yang dialaminya. Sedih. Selamat jalan Pak Camat, semoga Tuhan mengampuni segala dosa. Tuhan menerima di Sorga bersama para Kudus.  Kini  si kecil Varel dan  Vanya yang sekarang yatim piatu serta keluarga besar diberikan kekuatan, ketabahan dan penghiburan OlehNya. Salam dan Doa kami selalu menyertai.

Dunia memang saat ini sedang berduka. Kematian dimana-mana. Kita pun harus siap.  Menunggu giliran kapan Tuhan memanggil kita. Untuk menghilangkan  beban memberatkan hati ini.  Ingin rasanya  melepaskan semua hal yang ada. Menjerit keras di  padang  luas untuk  melepaskan  rasa sesak di dada. Kami berdua, Saya dan suami (sedang sakit) pergi ke Dermaga. Tempat indah mempesona. Luas, sepi  hanya  terlihat  kapal bersandar yang penghuninya semua di dalam.  Di NTT, khususnya di Waingapu Dermaga lama rame hanya saat ada kapal yang menurunkan barang. Hari-hari bisa selalu lengang. Sunyi dan sepi. Begitupun  tempat-tempat wisata lainnya. Tidak seperti di Jawa atau tempat lain, tempat wisata selalu rame dikunjungi orang.

Di kotaku dan tempat wisata kabupten Sumba Timur walau tidak ada corona tetap saja sepi. Suatu saat  orang tuaku dari jawa  datang ke rumahku di Waingapu. Ibu dan bapakku, kami  ajak pesiar-pesiar di tempat yang indah selalu bilang, “Heh!, mana temannya”. Hehe, saya  hanya senyum-senyum. Begitulah. Penduduk kan tidak sebanyak di Jawa. Pesiar itu  belum  merupakan sebuah kebutuhan .

Saat kami di dermaga saya melihat sepasang lansia yang sedang jalan-jalan disitu, wajahnya tak mengguratkan ketuaan,  kelihatannya begitu mesra dan bahagia. Wajah selalu dihiasi dengan senyuman manisnya.

Saya penasaran dengan mereka, akhirnya saya mendekati. Saya sok akrab dengan mereka. Kulemparkan senyum manisku dan saya bertanya. Selamat sore ibunda. Akhirnya  pasutri tersebut  berhenti. Begitu baik  mereka menjawab sapaan saya.  Haloo... setelah sedikit  basa basi  akhirnya  masuk kepembicaraan.

Hehehe... maaf mama,  saya begitu terkagum-kagun dengan bapa dan mama. Dari tadi  saya perhatikan. Bapak mama begitu  mesra  dan kelihatan  bahagia.  Saya iri ma!  Boleh dong bagi resepnya. Ah!  Nona, ini!.  Jawab  mama  tersipu. Dikira  saya nona, padahal  2 anakku sudah  lulus kuliah. Hehe..aku berbalik malu.

Akhir  mama tarik tanganku untuk duduk di bibir pantai dermaga. Beliau menyuruh bapak  untuk istirahat dulu. Beliau  cerita  untuk mengisi pensiun, kami biasa jalan-jalan disini, kata mama. Asyik,  sepi pula membuat hati nyaman. Menurut cerita mama,  bapak  yang sudah 17 tahun pensiun dan mama sudah 8 tahun yang lalu.

“Apa resep  selalu bahagia, mama ?”.tanyaku penuh penasaran.  Itu!, “Ah, tidak ada resep khusus  hanya kami rajin minum  Jamu pipis jati  kendi. Kaget aku mendengarnya. Apa ma!! Aku menanyakan ulang. Jamu Pipis jati kendi artinya Jaga mulut, Perhatikan imun kita pasrah, iklas dan jangan lupa selalu senyum tambah jaga hati dan ingat kendalikan diri. Ooo..... kudengar sambil aku mengangguk-angguk  tanda mengerti.

Duh, begitu manis mama dan bapa punya pasion hidup. Pantas saja  mereka rukun-rukun dan kelihatan begitu bahagia. Asyik e. Semoga  kita  bisa  seperti mereka. Benar! Hidup harus kita jalani dengan  selalu menjaga mulut untuk tidak mengeluarkan  kata-kata yang tidak menyakitkan hati orang lain. Jangan lupa  kata maaf, minta tolong dan permisi, supaya kita  dihargai. Mulut  juga  jangan dipakai makan kekenyangan  atau makan sembarang.

Jaga hati  artinya isilah  hati ini dengan hal-hal yang baik, positif dan  selalu bersyukur  atas  anugerah Tuhan dengan apa yang ada. Tak usah iri dengan kepunyaan orang lain. Kendalikan diri untuk hal-hal yang tidak penting. Hidup  secara normal. Istirahat yang cukup, jangan lupa  berolah raga, bersantai dan  kendalikan emosi. Semua ini gratis, tak ada yang dibeli, kata mama  sambil menepuk  lengan saya.

Hehe....benar juga, Aku mengangguk-angguk  tanda setuju apa kata  mama. Bapak  yang duduk  disamping  turut  tersenyum  sambil memperhatikan pembicaraan kami. Trimakasih mama nasehatnya  saya akan terapkan ini  untuk saya dan suami.  Salam Sehat ma, pak   semoga corona cepat berlalu. Iya, Jeng,  kata mama  sambil meninggalkan saya.

 

#IngatmarikitaminumJamupipisjatikendi 

(jaga mulut, perhatian Imun, Pasrah, iklas, senyum, jaga hati dan kendalikan diri) 

 

 


  “Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani, SPd. Lahir di Magelang, pada tanggal 14 April 1966. Mengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit  adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Dermaga Hati dll  . Buku Solo, Kumpulan cerpen “Mengungkap Rahasia”, “Goresan Pena Mengukir Prestasi”, Aku Bangga Jadi Penulis”, Trik Jitu Jadi Penulis masa Kini” Penulis tinggal  di  Jl Trikora RT/RW: 010 / 003 Kel. Hambala, Waingapu, Sumba Timur. NTT email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. No HP / WA 085 230 708 285.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...