Akhirilah
setiap hari dengan pikiran yang positif. Tidak peduli seberapa beratnya harimu, besok adalah
kesempatan baru yang membuat segalanya
lebih baik.
Pertengahan juni hingga tanggal 11 juli 2021 adalah kenaikan
kelas TK,SD,SMP dan SLTA untuk seluruh
Indonesia. Para guru dan murid libur
sekolah. Sudah 3 tahun lebih saya tidak
mudik. Orang tua sisa ibu
saja. Bapak sudah meninggal 12 tahun yang lalu. Hati begitu rindu untuk
makan sayur masakan ibu. Rindu
sawahku, rindu gudeg makanan kesukaanku.
Hati ini begitu merindu
untuk sekedar napak tilas
masa kecilku dulu.
Masa indah tinggal di kampung halaman bersama
orang tua, dan adik-adiku. Duluuu....bercanda, saling mengganggu. Rindu
untuk ke tempat kubur para leluhur yang kuyakini dari doa untuk mereka akan membawa berkah bagiku dan keluargaku.
Menyadari aku bukan orang mampu,
aku rencana naik kapal Egon bersama
Marcel anakku yang pertama. Hati sudah berbunga-bunga membayangkan rumah kelahiranku, tempat aku dibesarkan oleh
orang tuaku. Aku tinggal dirantau sudah
lebih dari 30 tahun. Sebagai guru surat ijin sudah
kulayangkan kepada atasanku.
Dengan suka cita siap
melaju esok hari dengan kapal laut.
Syarat sudah terpenuhi, yaitu bukti vaksin 1 dan 2 sudah punya dan bukti PCR sudah siap.
Tas dan pembawaan sudah
siap, bekal untuk makan
di kapal pun sudah dimasak. Perjalanan untuk 2 hari. Sambal goreng kering kacang dan tempe campur
ikan teri. Kesukaan anakku. Tak lupa ikan asin
produk Mangili pesanan Anto
anakku yang masih kuliah di Jogya.
Dengan bekal semangat membara,
kesehatan yang cukup, siap untuk berangkat esok pagi dini hari.
Tiba-tiba kubaca WA dari adikku
yang di Jakarta, mengabarkan Anto anakku
terpapar corona. Begitu juga Ibu,Dik
Rudi adikku yang bungsu, istri dan Evan putra mereka. Ya Tuhan. Hati ingin menjerit. Saat itu saya memang dengar kabar kalau di provinsi
Jawa Tengah orang yang terpapar paling tinggi. Zona merah parah. Orang-orang
tidak boleh keluar, yang meninggal banyak
sekali.
Di desaku, adikku bilang
mereka yang terpapar berjamaah. Kutanya, apa itu maksudnya. Jadi
mereka rame-rame kena covid. Betapa
menyedihnya dengar kabar itu.
Akhirnya adik iparku, dik Ita
dari Jakarta menyarankan aku
tidak boleh datang ke Jawa. Bahaya!
Bagaimana aku bisa ke Jawa?. Jika nekat
artinya menjerumuskan diri. Serumah 'utuh'
‘ semua positif. Anakku yang di Jogya juga positif. Aku datang, mungkinkah!.
Dengan badan terasa lemas aku mengurungkan untuk
mudik. Sedih dengar cerita
anakku, dia kos sendirian, badannya
panas, deman tinggi selama 4 hari. Makan tak
enak, tidur tidak bisa. Tenggorokan sakit sekali katanya. Jika menelan
makananan juga sakit. Rasa makanan semua
hambar tak ada yang enak. Tambah
batuk-batuk keluar dahak yang
berwarna coklat. Mamaa... dia mengeluh padaku. Sebagai mama
aku hanya bisa menangis, tak sanggup
menerima kenyataan yang ada. Aku
hanya bisa menghibur, berdoa dan terus berdoa, semoga Tuhan Sudi mendengakan. Apa yang harus kukatakan padanya, aku seperti orang
linglung. Apalagi dengar kabar teman kuliah dari anakku meninggal. Hal itu menambah
kesedihanku. Pagi-pagi dia ke rumah
sakit Bethesda. Dengan badan lemah dia
paksakan diri untuk rapit test dengan
ongkos Rp 900 rb. Besar sekali, jatah kiriman anak satu bulan. Tak apalah,
kesehatan jauh lebih penting, kuhibur anakku. Akhir Tante Ita yang kirim uang . Syukurlah. Ya, untuk meyakinkan sakitnya atas saran Devi keponakan
yang dokter. Ternyata benar dia
postitif.
Untung ada adikku yang begitu
perhatian padanya. Dik Rita dan di Ita adik iparku yang tinggal di jakarta adalah
keluarga yang baik sekali. Merekalah yang
selalu mensuport. Mengirimkan obat, vitamin dan berbagai hal untuk kesembuhan Anto dan keluarga di
Muntilan. Bahkan mereka membelikan obat cina yang mahal untuk semua. Aku hanya
bisa pasrah walau hati selalu merasa kawatir
dan was was tiada henti. Apalagi kalau dengar berita dan baca di medsos yang meninggal semakin banyak setiap hari.
Corona menerjang tak pandang bulu. Miskin kaya, tua muda, apapun profesinya. Sediiih sekali. Tak henti-hentinya saya berdoa dari NTT untuk
keluarga yang di jawa. Tuhan,
mampukan kami menerima ujian besar ini. Benar-benar kami
tak berdaya. Setiap hari kunyalakan
lilin, kudaraskan doa dengan tangis dan air mata. Di Kos anak saya ‘sendirian’. Merasakan ganasnya
serangan corona . Mau minta tolong siapa?. Badan deman, panas
tinggi, semua dirasakan dan diatasi sendiri. Mau keluar tak berani. Ibu kos tak
boleh tahu. Jika ia lapor
pastinya akan diusir dari kos, jangan sampai nanti menularkan yang lain.
Akhirnya dia menahan sakitnya sendiri tanpa minta bantuan orang-orang di sekitar.
Berbeda cerita yang di rumah ibu. Semua membuatnya sedih, Sedih sekali.
Peristiwa ini benar-benar membuat sesak
di dada. Jantung bagai terlepas dari
tempatnya. Belum suamiku tercinta
sementara sakit jantung yang harusnya tak boleh banyak berpikir. Tak boleh stress. Tambah lagi di Muntilan yang semuanya terpapar harus isolasi mandiri. Mereka berkabung di
rumah. Semuanya badan lemah, panas
tinggi, batuk-batuk dan tak bisa
beraktifitas.
Tapi beruntung yang di
kampung. Penduduk setempat yang tak
terpapar dengan suka rela mereka mengirimkan
makan dan minun setiap hari. Sungguh berhati malaikat mereka itu.
Saat serumah tak berdaya karena
terpapar, Tuhan mengutus orang baik di sekitar rumah untuk memberi bantuan. Sebagai keluarga, kami dari
jauh hanya bisa mengucapkan terimakasih
yang berlimpah-limpah .
Waktu terus berjalan. Hari-hari
dilalui dengan kelam. Doa selalu
didaraskan di setiap kesempatan. Banyak orang sehat dengan caranya sendiri
memberikan bantuannya. Mengadakan
menyemprotan. Mengirimkan disinfektan, memberi mi, telur dan banyak bantuan
lain. Trimakasih Tuhan untuk tangan-tangan kasih Tuhan yang rela mengulurkan tangannya untuk yang menderita.
Lain lagi cerita adikku di
jakarta. Dik Rita adikku yang kedua, 2 anaknya
adalah dokter lulusan UGM. Yang satu
baru selesai wisuda S.ked. dan yang satu
praktek di puskesmas Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Dokter Devi, cerita
bahwa dia bersama rekan kerjanya juga positif. Begitu panik mamanya. Mereka
yang selau memberi nasehat penguatan, penghiburan kepada orang lain termasuk saudara di Muntilan dan Jogya, sekarang
giliran dia sendiri yang terpapar.
Sedih sekali dengarnya. Obat Cina
yang seperti diberikan Anto anakku, ternyata habis diperedaran. Padahal obat itu yang meyakinkan untuk menyembuhkan. Mamanya
cari-cari diberbagai penawaran online,
semuanya habis stok. Kami semua hanya
bisa memberi penguatan dan doa. Memotivasi supaya jangan terlalu panik. Devi cerita bahwa setiap
hari 5 orang yang meninggal, saya agak takut juga, katanya. Kata dr Devi yang
kelihatan pasrah tak berdaya.
Kemarin waktu dia belum kena, dia
menasehati banyak hal. Mengirim obat-obatan, vitamin lewat goojek atau online. Nah!!
Sekarang. Dia harus berusaha sendiri. Kasihan!. Semua dalam kepanikan.
Kami 4 bersaudara, aku sebagai
anak pertama 3 adikku di Jakarta. Berhubung bapak sudah meninggal ibuku hanya sendirian, akhirnya
adikku yang bungsu rela meninggalkan pekerjaannya dari Waskita Karya demi ibu tercinta. Kami
sudah berkeluarga dan sudah dikaruniai anak. Jika di absen satu persatu seiap
kami sudah dikunjungi/dirasuki corona semua. Tak ada yang terlewatkan. Saya
anakku yang bungsu. Adikku nomor dua yang terpapar adalah anaknya yang dokter.
Adikku nomor 3 Seluruh anggota keluarganya. Begitu pula adikku bungsu, semua
anggota dibabat habis tanpa ampun bahkan ibu yang sudah ‘sepuh’ pun tak terlewatkan. Sedih
sekali. Ini merupakan ujian Tuhan untuk kita masing-masing bisa refleksi.
Peristiwa ini akan menjadi cerita sejarah keluarga yang tak lekang ditelan
waktu. Anak cucu kita akan tahu cerita masa lalu nenek moyangnya.
Lucu saat adik di Jakarta awal
terpapar. Mereka ada asisten rumah tangga, mbak Sri namanya. “mbak Sri kenapa 3
hari ini mbak Sri masak tak ada rasa? Kenapa hambar semua?. Dua hari
pertama mereka perasaan mau tanya mbak
Sri tentang masakannya. Akhirnya mbak Sri menjawab bahwa kami selalu taruh
bumbu seperti biasa. Nah, dari itu dia baru sadar untuk pergi PCR. Seluruh
anggota keluarga PCR ke Rumah sakit, benar saja hasilnya positif. Hanya mbak
Sri sang asisten yang negatif. Tindak lanjut
akhirnya Isoman dengan selalu
menerapkan 5M, minum vitamin dan rajin olah raga.
Kabar lagi mengejutkan, mama dari
dik ita Positif Covid, karena komorbit beliau sampai tak sadarkan diri akhirnya
langsung masuk ICU. Tiga hari kemudian meinggal. Sedih sekali. Kita semua
masing-masing diuji dengan datasngnya pandemi ini. Belum sembuh yang satu terpapar lagi yang lain. Tak
satupun yang terlewatkan, kita
bukan hanya jadi penonton, tapi
benar-benar kita menrasakan sakitnya. Merasakan penderitaannya. Tangisan
dimana-mana , termasuk di dalam rumah saya sendiri.
WA muncul lagi dari grup keluarga
kandung. Mas Joko beliau Direktur Bank Parama Muntilan. Anak pakde ( kakaknya
bapak: red), rumahnya gandeng dengan rumah kami di Jawa. Tiga minggu tak pernah dengar kabarnya
ternyata beliau juga positif covid-19 hingga badan turun 14 kg. Saat ini masih
kritis. Kami turut sedih merasakan penderitaanya. Kami hanya bisa berdoa dari
jauh dan erus memohon kepadaNya. Mas Joko baik sekali, beliau donatur gereja
kami. Walaupun beliau bos tapi rendah hati. Semoga Tuhan menjamah dia,
memberikan obat penawarnya agar pulih dan bisa beraktifitas lagi seperti biasa.
Baru mau rencana menutup cerita
ini di kotaku tiba-tiba dihebohkan dengan berita. Bapak Camat kota Waingapu
yang masih aktif meninggal mendadak. Dia kakak ipar dari teman dekatku. Sebenarnya
saya tak pantas menyampaikan ini. Tapi
diberita ini santer baik lisan dari mulut ke mulut maupun di medsos. Di Fb pun berita begitu
menggemparkan. Sedih sekali. Kasihan keluarga yang ditinggalkan. Sebenarnya
rahasia, tapi.....
Tanggal 20 Mei Ibu Mertin , istri
dari camat kota meninggal karena covid-19.
Ceritanya sedih. Suami yang seorang pejabat dengan setia selalu menemani sejak sakit hingga meninggal dunia. Setelah Istri meninggal
mungkin beliau depresi, sakit dan sesak
nafas hingga tidak pernah bisa tidur sampai hari ini beliau meninggal , 20 Juli
2021. Dua bulan pas. Betapa menderitanya
dan sengsaranya. Mungkin Karena tak tahan dengan penderitaan yang dialami
akhirnya beliau mengakhiri hidupnya mengambil jalan pintas (gantung diri) di rumah orang tua. Sebagai pak
Camat kota aktif, berita itu benar-benar menghebohkan.
Ternyata sebelum meninggal masih
meninggalkan surat yang isinya adalah permohonan maaf kepada atasan (Pak
Bupati, Wakil bupati dan pak Setda) atas tindakannya dan meminta supaya
Kepolisian setempat jangan mengotopsi. Ini perbuatan murni dari pribadi karena
tidak sanggup dengan penderitaan yang
dialaminya. Sedih. Selamat jalan Pak Camat, semoga Tuhan mengampuni segala
dosa. Tuhan menerima di Sorga bersama para Kudus. Kini
si kecil Varel dan Vanya yang
sekarang yatim piatu serta keluarga besar diberikan kekuatan, ketabahan dan
penghiburan OlehNya. Salam dan Doa kami selalu menyertai.
Dunia memang saat ini sedang
berduka. Kematian dimana-mana. Kita pun harus siap. Menunggu giliran kapan Tuhan memanggil kita. Untuk
menghilangkan beban memberatkan hati
ini. Ingin rasanya melepaskan semua hal yang ada. Menjerit keras
di padang luas untuk
melepaskan rasa sesak di dada.
Kami berdua, Saya dan suami (sedang sakit) pergi ke Dermaga. Tempat indah
mempesona. Luas, sepi hanya terlihat
kapal bersandar yang penghuninya semua di dalam. Di NTT, khususnya di Waingapu Dermaga lama
rame hanya saat ada kapal yang menurunkan barang. Hari-hari bisa selalu
lengang. Sunyi dan sepi. Begitupun
tempat-tempat wisata lainnya. Tidak seperti di Jawa atau tempat lain,
tempat wisata selalu rame dikunjungi orang.
Di kotaku dan tempat wisata
kabupten Sumba Timur walau tidak ada corona tetap saja sepi. Suatu saat orang tuaku dari jawa datang ke rumahku di Waingapu. Ibu dan
bapakku, kami ajak pesiar-pesiar di
tempat yang indah selalu bilang, “Heh!, mana temannya”. Hehe, saya hanya senyum-senyum. Begitulah. Penduduk kan
tidak sebanyak di Jawa. Pesiar itu belum
merupakan sebuah kebutuhan .
Saat kami di dermaga saya melihat
sepasang lansia yang sedang jalan-jalan disitu, wajahnya tak mengguratkan
ketuaan, kelihatannya begitu mesra dan
bahagia. Wajah selalu dihiasi dengan senyuman manisnya.
Saya penasaran dengan mereka,
akhirnya saya mendekati. Saya sok akrab dengan mereka. Kulemparkan senyum
manisku dan saya bertanya. Selamat sore ibunda. Akhirnya pasutri tersebut berhenti. Begitu baik mereka menjawab sapaan saya. Haloo... setelah sedikit basa basi
akhirnya masuk kepembicaraan.
Hehehe... maaf mama, saya begitu terkagum-kagun dengan bapa dan
mama. Dari tadi saya perhatikan. Bapak
mama begitu mesra dan kelihatan
bahagia. Saya iri ma! Boleh dong bagi resepnya. Ah! Nona, ini!.
Jawab mama tersipu. Dikira saya nona, padahal 2 anakku sudah lulus kuliah. Hehe..aku berbalik malu.
Akhir mama tarik tanganku untuk duduk di bibir
pantai dermaga. Beliau menyuruh bapak untuk
istirahat dulu. Beliau cerita untuk mengisi pensiun, kami biasa jalan-jalan
disini, kata mama. Asyik, sepi pula membuat
hati nyaman. Menurut cerita mama, bapak yang sudah 17 tahun pensiun dan mama sudah 8
tahun yang lalu.
“Apa resep selalu bahagia, mama ?”.tanyaku penuh
penasaran. Itu!, “Ah, tidak ada resep
khusus hanya kami rajin minum Jamu pipis jati kendi. Kaget aku mendengarnya. Apa ma!! Aku
menanyakan ulang. Jamu Pipis jati kendi artinya Jaga mulut, Perhatikan imun kita pasrah, iklas dan jangan lupa selalu senyum tambah jaga hati dan ingat kendalikan diri. Ooo..... kudengar sambil aku mengangguk-angguk tanda mengerti.
Duh, begitu manis mama dan bapa
punya pasion hidup. Pantas saja mereka
rukun-rukun dan kelihatan begitu bahagia. Asyik e. Semoga kita
bisa seperti mereka. Benar! Hidup
harus kita jalani dengan selalu menjaga
mulut untuk tidak mengeluarkan kata-kata
yang tidak menyakitkan hati orang lain. Jangan lupa kata maaf, minta tolong dan permisi, supaya
kita dihargai. Mulut juga
jangan dipakai makan kekenyangan
atau makan sembarang.
Jaga hati artinya isilah hati ini dengan hal-hal yang baik, positif
dan selalu bersyukur atas
anugerah Tuhan dengan apa yang ada. Tak usah iri dengan kepunyaan orang
lain. Kendalikan diri untuk hal-hal yang tidak penting. Hidup secara normal. Istirahat yang cukup, jangan
lupa berolah raga, bersantai dan kendalikan emosi. Semua ini gratis, tak ada
yang dibeli, kata mama sambil
menepuk lengan saya.
Hehe....benar juga, Aku
mengangguk-angguk tanda setuju apa
kata mama. Bapak yang duduk
disamping turut tersenyum
sambil memperhatikan pembicaraan kami. Trimakasih mama nasehatnya saya akan terapkan ini untuk saya dan suami. Salam Sehat ma, pak semoga
corona cepat berlalu. Iya, Jeng, kata
mama sambil meninggalkan saya.
#IngatmarikitaminumJamupipisjatikendi
(jaga mulut, perhatian Imun, Pasrah, iklas, senyum,
jaga hati dan kendalikan diri)
“Ledwina
Eti adalah nama facebook dan IG, nama
lengkap Ledwina Eti Wuryani, SPd. Lahir di Magelang, pada tanggal 14
April 1966. Mengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang
sudah terbit adalah Untaian Pelangi
Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi
Saat Pandemi, Dermaga Hati dll . Buku
Solo, Kumpulan cerpen “Mengungkap Rahasia”, “Goresan Pena Mengukir Prestasi”,
Aku Bangga Jadi Penulis”, Trik Jitu Jadi Penulis masa Kini” Penulis tinggal di Jl
Trikora RT/RW: 010 / 003 Kel. Hambala, Waingapu, Sumba Timur. NTT email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.
No HP / WA 085 230 708 285.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar