Sabtu, 31 Juli 2021

MENULIS SEBAGAI PASSION 1

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

 

Untuk memelihara impian, kita harus memvisualisasikan impian kita. Sesuatu yang divisualisasikan akan  mudah direkam dalam pikiran bawah sadar, sehingga akan muncul daya  dorong dari dalam diri kita yang akan menggerakkan diri kita  untuk melakukan tindakan guna mewujudkan impian kita.

 

Saya menemukan passion  menulis  setelah  adanya pandemi ini. Mulai awal Maret 2020. Dulu memang saya suka menulis dan  sudah beberapa kali  lolos di  media baik lokal maupun provinsi. Setelah itu  fakum tak lagi menulis. Mengalami writer’s blok.  Begitulah barangkali.  Setelah adanya virus corona waktu terasa panjang.  Seperti cinta lama bersemi kembali.  Rasa hati ini ingin menulis. Dulu...sebelum pandemi  seolah tak ada waktu karena kesibukan duniawi, hehe …. Padahal  sebenarnya semua pasti bisa diatur, tergantung kita. Saat itu mau mulai melangkah....terasa jauuh sekali.

Sebagai guru,  dulu pernah membayangkan  kalau kita libur lama pasti membahagiakan. Bisa di rumah  sepanjang hari. Pasti asyik! . Waktu luang terasa banyak. Bisa melakukan sesuatu. Eh!, Tuhan menjawab kerinduan itu. Pandemi datang. Awal pandemi memang stress. Hidup terasa jenuh, sumpek bahkan selalu tersugesti dan hidup dalam ketakutan. Saat itu banyak teman dan saudara yang terpapar bahkan meninggal dunia. Di Waingapu zona Merah terus. 

Saat baca-baca di HP, iseng-iseng saya  buka FB  ada banner ‘belajar menulis’.  Wow.. akhirnya  saya bergabung. Setelah  masuk ternyata  di dalam group  berisi  para penulis hebat sebagai narasumber dan pesertanya para  penulis pemula termasuk saya.  Dari situlah saya mulai belajar

Pertama bergabung di Basic Batch 33 saya  merasa minder tapi peserta semua begitu baik. Mereka semua saling memotivasi. Akhirnya  muncul  keberanian  untuk  koment dan  berusaha  bertanya  materi yang saya tidak paham. Awal belajar menulis  saya bergabung  di komunitas menulis  yang  diprakarsai oleh penulis best seller  bapak Cahyadi Takariawan dan ibu Nurlaila. Suami Istri penulis hebat. Selama 3 bulan dari bulan Juni s/d September 2021 dan dapat  sertifikat 235 jam. Lumayan untuk bekal  kenaikan pangkat. Di komunitas itu  saya banyak belajar tentang menulis dan kenal beberapa teman menulis yang baik hati, Pak Irpan, Bunda Ellen, ibu Yulia, Ibu Nyi Ai Tita, ibu Fitria dan lain-lain.  Hasil belajar menulis bersama pak Cah  saya  bisa menerbitkan 4 buah buku  antologi : Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara, Kidung Rindu dan 1 buku Solo “ mengungkap Rahasia (Kumpulan cerpen)

Kedua,  Belajar menulis bersama  Bunda Lilis Sutikno.  Passion  menulis beliau adalah  Menulis semudah ceplok telur. Dengan  ibu  Lilis begitu akrab, seperti saudara. Saya biasa  curhat, cerita  ngalor ngidul, walaupun  sedetikpun saya belum pernah ketemu (tatap muka) sama sekali. Hanya lewat chatt atau telpon. Dari situ saya  belajar banyak tentang teknik-teknik menulis. Teman-teman penulis senior  adalah  pak Rahmadi, pak Sahat,  Cak Inin, Pak  Nafrizal Eka Putra, bu Endah Win, pak Brian dan  masih banyak teman yang lain. Rasanya sudah  seperti keluarga.  Padahal pesertanya dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Mereka  semua adalah motivator saya. Dari kelas menulis ini saya membuahkan buku antologi, Kampusku, “Sekolahku kumpulan cerpen, Cuma masih menunggu, masih di penerbit.

Tempat belajar ketiga adalah  Belajar Menulis  bersama  bapak  Wijaya Kusumah yang biasa disapa Om Jay. Belajar menulis Gelombang 18  selama  30 kali pertemuan  selama 3 bulan setiap hari Senin, Rabu dan Jumat ( Dari bulan April  s/d Juli 2021 ). Om Jay Orangnya sangat baik  hati dan santai,  biar belum kenal  saya merasa dekat dan akrap sekali . Beliau adalah guru TIK di SMP Labschool Jakarta. Beliau adalah  guru dari keponakan saya Devi Hapsari dan Yoga Wikandaru  yang kini keduanya sudah lulus kedokteran UGM. Saya ikut bangga waktu itu pertama kenal Om Jay karena keponakan tersebut. Ternyata Om Jay juga masih ingat Devi dan Yoga, mungkin karena keduanya aktivis di OSIS.

Suatu saat  chatt balasan  dari Om Jay dan menyampaikan salam untuk Devi dan Yoga saya  screenshoot saya kirimkan ke WA keluarga saya. Apa tanggapan adik saya? Waaiii….hebat e mbak eti sekarang sudah jadi penulis. Berteman dengan Om Jay pula. Ternyata memang Om Jay kan penulis dan bloger terkenal, tingkat  Nasional. Siapa tak kenal beliau. Saya post buku saya di FB, adik-adikku koment, seolah-olah saya sudah jadi penulis betulan, ihik  ihik... Aku jadi tersipu malu. Tapi jujur  sebenarnya  ada juga deh  rasa bangga. Saya paksa buat buku karena memang syarat untuk mendapatkan  sertifikat 40 jam harus sudah bisa menerbitkan buku solo hasil resume  selama belajar menulis. Itu adalah tantangan. Dengan penuh semangat  saya harus bisa membuktikannya. Akhirnya terbitlah buku solo yang berjudul Trik Jitu Menjadi  Penulis Masa Kini.  Tinggal tunggu Sertifikatnya. Ini yang namanya Keterpaksaan membuahkan kebahagiaan.

Seiring berjalannya waktu terbit lagi buku “Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi”, “Belajar di Tengah Corona”, “Dermaga Hati”, “Geliat Perempuan Milenial Dalam Narasi”, “Untaian cinta  di batas cakrawala” , “Inspirasi dalam untaian Puisi” dan “Langit dan Bumi NTT”. Ini  berkat menulis adalah passion. Menulis ternyata menikmati dan mengasyikkan.

Tempat belajar keempat  saya bergabung dengan  belajar Menulis Bersama Pak Naff ( Nafrizal Eka Putra, M.Pd ) disingkat MBPN.  MBPN  diadakan setiap hari tanpa henti , akhirnya  bisa  menerbitkan 1 buku  solo yang berjudul Bangga Menjadi seorang Penulis. Dalam waktu bersamaan 2 komunitas belajar menulis yang saya ikut, bahkan kadang jam pertemuan bersamaan. Karena  pembelajarannya melalui WA ya harus pinter-pinter muter-muter. Syukurlah akhirnya keduanya lulus dan menghasilkan 2 buah buku solo dari masing-masing tempat belajar.

 Seiring berjalannya waktu Ibu kanjeng salah seorang narasumber hebat , bloger, penulis dan seorang kepala sekolah  selalu  mengajak bergabung untuk membuat buku antologi pasti terbit. Nah itu  tantangan buat saya untuk selalu ikut menulis. Saking seringnya  saya  bergabung di Antologi menulis buku saya jadi merasa dekat sekali dengan beliau. Kebetulan 2 buku solo saya,  Ibu kanjeng   editor dan kuratornya. Saat ini saya diberi tugas oleh ibu untuk menjadi kurator buku antologi yang temanya  Ketika Keluarga Terpapar covid-19. Ada rasa bangga dan sedikit percaya diri deh menjadi kutator. Sebuah pengalaman  baru.  Aslinya saya sendiri masih  sangat  minim ilmu. Ilmu yang saya punya masih seujung kuku. Dengan  menjadi kurator  semoga  menambah  wawasan saya  untuk menambah pengetahuan saya tentang menulis.

Hari ini, Jumat, 30 juli 2021  penulis yang bergabung  di Group antologi Terpapar covid-19  sudah 21 orang. Penulis dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Penulis juga berbagai latar belakang pendidikan. Karena pemula  saya agak gugup juga jadi kurator. Para penulis yang bergabung  kemampuan dan pengalamannya jauh di atas saya. Matur nuwun Ibu Kanjeng untuk kepercayaan ini.

Pengalaman berikut, saya buka fb, coba-coba cari info lomba penulis, eh ada dari Kreatory. Lomba menulis cerpen. Yang menarik bagi saya adalah  100 peserta terbaik dapat sertifikat tingkat nasional. Ah, lumayan, bagi saya yang penting mencoba,  menguji kemampuan saya menulis, bukan cari hadiah. Cukuplah sertifikat,  bisa untuk modal kenaikan pangkat ke IVc (mimpi). Ingat perkataan  pak Emco ( Much choiri) kalau  kirim naskah setelah itu lupakan. Jangan pikir lagi. Begitulah kata beliau. Dikoment apapun silahkan, tidak dikomen juga sialhkan. Jika dikirim ke majalah juga, tak usah ditunggu-tunggu, masalahnya  kalau ditunggu, ternyata tidak terbit nanti sakit hati. Begitupun kalau  lomba,  kirimkan lalu lupakan.

Lomba kreatory sekitar bulan maret, pengumuman 3 bulan berikutnya. Saya benar-benar sudah lupa. Tiba-tiba ada WA masuk dan tertulis : proficiat! cerpen anda masuk TOP-30 dan berhak mendapatkan medali, buku dan sertifikat. Wahhhh!! saya serasa tak injak bumi. Melayang pikiran tak terbayang, berarti tulisan saya diakui, betapa bahagianya. Saya ada diurutan ke-22. Salah satu teman ke-100 saja tidak masuk, bersyukurlah saya.Trimakasih Tuhan untuk pengalaman ini.

Bersamaan dengan itu ada tawaran menulis untuk NTT, yaitu Catatan harian, cerpen dan puisi. Akhirnya saya memilih  cerpen dan saya  cerita tentang budaya Sumba Timur. Kebetulan teman saya punya sanggar Ori Angu dan mereka (tim penari:red)  baru  pulang dari Amerika selatan, Colorado, mengikuti Fastival. Itu yang jadi ide cerita saya. Puji Tuhan saya  lulus Kurator,  akhirnya tulisan saya  dibukukan bersama para penulis hebat NTT. Begitu bangganya saya, bisa ikut berpartisipasi melestarikan budaya NTT.

Jadi sekarang  menulis adalah sebuah passion. Dengan menulis  membuat hati bangga, bisa meningkatkan imun dan menjadi sebuah  hobi. Rasanya  hari-hari  menikmati kalau menulis. Untuk  melatih diri menulis saya berusaha untuk mengikuti menulis  buku antologi setiap ada tawaran. Maksudnya sambil menyelam minum airnya,  terasa sia-sia kalau tulisan  tidak kita abadikan dalam buku.  Ada juga  tawaran menulis  cerpen remaja dengan tema Romatika remaja….., kini  tinggal tunggu terbit. Yah, kalau dihitung lumayan sudah 15 buku antologi dan solo yang terbit sampai saat ini. Semangat  terus untuk menambah koleksi. Dari pengalaman yang saya lalui, menulis sebagai passion yang saya rasakan adalah:

1.      Selalu rindu untuk menulis, Menulis rasanya suatu kuajiban yang harus dijalani. Jika tidak menulis  terasa ada yang kurang. Entah apa saja yang ditulis.  Jika hari itu  sudah menulis saya merasa  hutang sudah terbayar. Ada kenyamanan diri sudah memeluknya dalam untaian kata.

2.      Tanpa dibayarpun  bersedia menulis, Pengalaman menulis saya masih seujung kuku, tapi ketika namaku tertera di buku atau di media ada kebanggaan luar biasa. Bersyukur  sudah bisa menuangkan isi hati dan pikiran  dalam tulisan. Menulis adalah berteriak dalam diam. Aku banget. Sejujurnya saya ini orang yang pemalu dan tak suka  tampil di depan. Dengan menulis akhirnya  semua bisa tercurah. Tidak penting dibaca atau tidak, dikomen atau tidak, dicela, dihina atau tak dibayarpun tak apa, yang penting saya sudah bisa berbuat sesuatu yang menurut saya bermanfaat untuk orang lain.

3.      Sering lupa waktu, saat duduk di depan laptop saya target untuk 1 jam. Jika saya pas menulis cerita tentang sesuatu saking asyiknya ,eh ternyata sudah duduk lebih  3 jam lamanya tak terasa. Bahkan saking asyiknya menulis hingga tengah malam. Apalagi kalau dikejar deadline, jangan tanya lagi. Bisa tidak tidurpun rela!

4.      Menulis adalah kegiatan yang menyenangkan. Saat ini anak murid pembelajaran pakai daring. Saya sebagai guru, Setelah mengirim materi, memberikan tugas, melaporkan hasil kerja siswa , Sisa waktu asyik untuk menulis. Menulis semacam hiburan. Menulis adalah kesibukan yang mendatangkan kebahagian.

5.      Kerelaan menyediakan waktu, Saya selalu ingat  pak guru pernah  omong. Hanya orang mati yang tidak sibuk. Benar juga. Setiap orang harus kerja sesuai dengan skala prioritas. Harus pintar membagi waktu 24 jam yang diberikan Tuhan. Jangan lupa waktu untuk Tuhan. Jika menulis adalah passion  pastilah  kita akan meluangkan waktu untuk menulis.

Passion bukan hanya  hobi,  tapi lebih  dari segala hal  yang kita  sukai dan minati sedemikian rupa sehingga kita  selalu senang saat melakukannya. Berusaha  untuk meluangkan waktu untuk menulis. Seperti Om Jay  di tengah bejibun kegiatannya, beliau selalu saja menulis setiap hari. Bahkan kalau  lupa satu hari saja tidak menulis  beliau minta maaf. Sungguh hebat dan luar biasa. Harus ditiru.

Para pakar menulis, termasuk  Ibu Kanjeng, beliau  super sibuk.  Karena menulis adalah passion, maka beliau begitu menikmati.  Walau masih aktif menulis, menjadi narsum nasional, dan banyak kegiatan lain beliau  selalu  setia mendampingi, memotivasi kita semua di banyak group. Beliau selalu saja ada waktu membalas pertanyaan atau keluhan kita.  Dengan begitu kadang saya pribadi jadi malu, saya yang bukan siapa-siapa kok alasan, sok sibuk, hi hi....

Jika menulis sebagai passion kita akan nyaman, lebih santai dan bisa menikmati. Jadi seandainya karya kita kurang dihargai dan tidak ada yang memuji  bukan beban. Enjoy aja...yang penting sudah menulis. Kuingat selalu pesan bijak, “ Jika  anda bukan raja yang bisa mewariskan kerajaan, bukan hartawan  yang bisa mewariskan kekayaan, Maka  jadilah penulis yang bisa mewariskan  pengetahuan. Kelak sejarah akan  mencatat perubahan yang pernah anda tuliskan (Imam Ghazali).  Maka menulislah!!!! ***

 

Salam ...Saya, penulis pinggiran, nama Ledwina Eti Wuryani, Asli Magelang jawa Tengah  yang tinggal dirantauan sejak tiga puluh tahun yang lalu.  Saya Lulusan Pendidikan guru IKIP Sanata Dharma kala itu, tahun 1989.  Seorang ibu dengan 2 putra, ibu rumah tangga sekaligus  jadi guru matematika  di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, NTT. Menjadi Tutor PGSD juga sejak tahun 1992 – 2018.  Ketua MGMP Matematika Kab Sumba Timur 2015 – 2018. Penulis juga korban konflik bencana Timor Timur,  SK CPNS di SMA Negeri Maliana Bobonaro kemudian dimutasi di SMA Negeri 3 Dili TimTim. Sudah  banyak artikel  dibuat penulis yang jebol diberbagai media masa ,baik lokal maupun  propinsi NTT. Belasan buku Antologi sejak  ada  wabah Pandemi corona awal bulan Maret 2020. Tulisan antologi berupa cerpen, puisi,  story telling, cerita tentang belajar dari rumah ( PJJ)  dll.  . Penulis bisa dihubungi email ledwinaetiwuryai@gmail.com, ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan Youtube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com

               

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...