.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“When he wrote, Steinbeck liked to use a very specific type of pencil. He kept dozens of them, pre-sharpened, on his desk. Why was he so meticulous? To be prepared when ideas came to him. He didn’t have to fumble around with a complex pen or waste time sharpening his pencil” –Kiefer, 2016.

.

Kita masih belajar produktif dari John Steinbeck. Ia mendapat penghargaan Pulitzer, atas novel karyanya, dan mendapat Hadiah Nobel untuk Sastra pada tahun 1962. Steinback menulis 27 buku dan lima kumpulan cerita pendek.

Pada postingan sebelumnya, kita telah membahas enam tips menulis dari Steinbeck. Kali ini kita gali lagi tips produktif menulis dari seorang penulis kelas dunia yang istimewa ini.

Persiapkan Sarana Menulis yang Nyaman

“Just as you should do a brief warm-up before exercising, you should warm-up before writing. Jumping immediately into the activity of writing can kill your focus” –Kiefer, 2016.

Sepertinya ini hal sangat teknis, namun turut menyumbang produktivitas menulis. Saat menulis, Steinbeck suka menggunakan jenis pensil yang sangat spesifik. Dia menyimpan lusinan pensil yang sudah diasah sebelumnya, di meja.

Mengapa dia begitu teliti, sekedar menyiapkan pensil? Sebagai penulis, Anda pasti sudah tahu alasannya. Ide datang kapan saja, tidak bisa diduga. Saat ide datang kepadanya, ia tidak perlu mencari pena dan apalagi harus mengasahnya terlebih dahulu. Ide keburu hilang.

Para penulis era milenial akan heran dengan penyebutan “pensil” ini. Sebab sejak lahir, generasi milenial lebih pandai mengetik di keyboard dibandingkan dengan menulis di buku tulis. Dampaknya mereka tidak akrab dengan pensil dan bulpen. Mereka akrab dengan keyboard.

Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kebiasaan Steinbeck adalah, persiapkan sarana menulis dengan baik, sesuai kebiasaan dan kenyamanan masing-masing. Jika Anda nyaman menulis dengan laptop, persiapakan laptop dan semua perlengkapannya dengan baik.

Waktu Anda bisa habis saat Anda masih mencari-cari kabel data, kabel charger, colokan listrik, dan lain sebagainya saat akan menulis. Ketika Anda membuka laptop, ternyata belum ada kabel charger. Saat mencari kabel charger, ternyata lokasi menulis jauh dari colokan listrik. Anda harus mencari kabel tambahan untuk bisa terhubung ke sumber colokan listrik.

Sementara Anda hanya memiliki waktu 30 menit untuk menulis, ternyata sudah habis 15 menit untuk persiapan teknis. Habis waktu Anda, bukan untuk menghasilkan karya tulis. Namun untuk menyiapkan sarana menulis. Maka persiapkan sebaik mungkin sehingga tidak perlu prepare dalam waktu yang lama.

Saya terbiasa menggunakan laptop –sesekali komputer PC di rumah, untuk menulis. Program yang saya gunakan –dari dulu, adalah MSWord. Ini yang paling saya akrabi. Maka saya bisa langsung “on” menulis, setelah membuka laptop dan loading –tanpa perlu persiapan lagi.

Pesan pentingnya adalah, kita harus mampu mengatasi setiap kendala teknis menulis. Maka gunakan alat yang familiar dan nyaman bagi masing-masing kita. Seperti Steinbeck yang menyiapkan banyak pensil sudah terasah di laci mejanya, agar mudah mencari dan menggunakan.

Lakukan Persiapan Diri Sebelum Menulis

“Steinbeck had his own version of a writing “warm-up”. Every day, he began work by writing a brief (imaginary) letter to his editor. It functioned as a sort of journal for him; he expressed how he was feeling, what was on his mind, and so on” –Kiefer, 2016.

Anda harus melakukan pemanasan singkat sebelum berolahraga, sebagaimana juga harus melakukan pemanasan sebelum menulis. Menurut Kiefer, langsung terjun ke aktivitas menulis bisa mematikan fokus Anda.

Steinbeck memiliki versi sendiri tentang tulisan “pemanasan”. Setiap hari, ia mulai bekerja dengan menulis surat imajiner singkat kepada editornya. Itu berfungsi sebagai semacam jurnal baginya; dia mengungkapkan bagaimana perasaannya, apa yang ada di pikirannya, dan sebagainya.

Kiefer menyarankan, agar kita mempertimbangkan untuk mengadopsi kebiasaan pemanasan menulis seperti Steinbeck. Tulis catatan singkat untuk seseorang atau teman dekat Anda. Bayangkan Anda menulis pesan untuk seseorang, dan mengirimkan kepadanya. Tulisan singkat ini menjadi pemanasan sebelum benar-benar menulis tema yang telah Anda rencanakan untuk ditulis.

Tulis Dulu, Edit Kemudian

Steinbeck, sebagaimana banyak penulis lain, merekomendasikan untuk menulis terlebih dahulu dan mengedit kemudian. “Tulislah dengan bebas dan secepat mungkin dan lemparkan semuanya di atas kertas. Jangan pernah mengoreksi atau menulis ulang sampai semuanya selesai”, ujar Steinbeck.

“Penulisan ulang dalam proses biasanya ditemukan sebagai alasan untuk tidak melanjutkan. Ini bisa mengganggu ritme menulis yang biasanya hadir dari alam bawah sadar”, lanjut Steinbeck.

Bahan Bacaan

Amanda Patterson, John Steinbeck’s 6 Writing Tipshttps://www.writerswrite.co.za, 27 Februari 2020

Katie Grant, Learn to Write from John Steinbeck Himselfhttps://medium.com

Kiefer, The Importance of Writing Habits for Content Creators: Advice from John Steinbeckhttps://www.mailpoet.com, 27 Januari 2016

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/