Rabu, 22 September 2021

KETIKA CINTA BUTUH PENGORBANAN

 

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Cinta tak pernah Gagal Panen, Karena kebahagian dan kesedihan itu hasil permanen yang pasti akan dipetik setiap insan.

 

Kasih sayang dan cinta itu adalah dambaan setiap orang. Kita  meyakini  bahwa jodoh ada di tangan Tuhan. Kodrat sebagai seorang wanita  setia menunggu dan biarlah  hanya merindu. Tak sopan kalau kita yang  berstatus perempuan menyatakan cinta lebih dulu, walau hati ini   menggebu ingin bertemu.

Pada suatu hari saya duduk  sendirian di perpustakaan kampus IKIP Sanata Dharma mengerjakan tugas dari  dosen. Seorang cowok menghampiriku sok kenal terus duduk di sebelahku. Orangnya tinggi langsing berambut keriting. Dia mengaku orang NTT. Kami bersalaman dan saya sambil sibuk dengan tugasku. Dia cerita-cerita mengajak ngobrol aku hanya mendengarkan saja. Tak ada cerita yang menarik. Waktupun tak lama aku minta ijin pulang karena ada tugas dikos yang tak bisa kutinggalkan lama.

Jujur, saya orang paling cuek dengan cowok. Hehe ...  sepertinya  sayang deh waktu  hanya untuk  memikirkan  yang  sia-sia. Maaf,  saya ini  bukan orang mampu,  hidup kami sederhana bapak  seorang guru  dengan gaji yang tidak seberapa. Kami (Aku dan ke-3 adikku)  punya target  harus  sekolah dan kuliah semua. Bapak selalu mensuport kami,  bapak dan ibu selalu  berharap kami  sekolah di tempat yang jauh supaya bisa belajar baik-baik. Biarlah orang tua yang cari uang kata mereka.

Benar, Lulus SMP kami harus sekolah di Jogyakarta yang jaraknya -+ 40 km dari rumah, berarti kami harus  kos dan butuh biaya hidup dan biaya pendidikan. Seiring berjalannya waktu  adik-adikku menyusul untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi mengikuti aku. Kami  bersaudara disewakan rumah kecil. Orang tua pinjan uang di bank. Nah, rumah sederhana itu kita sulap menjadi sebuah warung makan, menunya Soto , bakso dan nasi campur. Dari warung itu kita harus  bisa mengurusnya dan harus mandiri. Karena sudah disewa mahal orang tua berharap bisa mencukupkan kehidupan kami  di kota besar,  syukur-syukur ada keuntungan  bisa untuk menambah biaya sekolah/kuliah.

Demi cita-cita apapun lakukan, yang penting halal. Saya sebagai anak pertama harus berbakti pada orang tua dan tak boleh melawan ortu. Dengan adanya warung itu, hari-hari kami disibukkan dengan belanja,  memasak, menjaga warung. Ada  sih tukang masak, yu Tinuk tetangga kami yang baik hati dan pulang dari TKW dan dia dulu kerja di rumah makan. Ada lagi mbak Sri, keluarga jauh yang sudah lulus SMA tapi belum dapat kerja akhirnya, bergabung bersama kami.  Kami yang membantu dibelakang segala sesuatunya.

Memang rejeki selalu saja ada. Puji Tuhan. Setiap hari  kami bisa menyisihkan uang sedikit untuk menopang biaya sekolah kami. Kalau uang tidak cukup, dengan hasil sawah warisan nenek yang dikelola ibu untuk mencukupkan kebutuhan kami. Setiap hari minggu ibu menengok kami berempat dengan membawa sayur atau bumbu yang ibu taman dikampung. Lumayan untuk menutupi kebutuhan warung supaya asap tetap mengepul. Kami benar-benar dididik mandiri dan belajar menghargai waktu oleh orang tua kami.

Dengan begitu mana saya sempat  memikirkan cowok? Wow....jangan, jangan dulu!! Saya sendiri tidak ada waktu untuk sekedar tebar pesona, hari-hariku padat dengan kegiatan di rumah dan di kampus. Boro-boro pikir beli make up, baju mahal atau aksesori. Ahh!, itu  sedikitpun tak  terpikir olehku. Masih bersyukur  kami punya kesempatan belajar di sekolah favorit kata orang-orang. Saya dan adik saya nomor 2 ( Rita Ely), Eks SMA K Stella Duce adik nomor tiga ( Edi Wuryanto) di SMA Collese De Britto, sekolah yang lumayan  mahal untuk ukuran kami. Nah, warung kami di depan SMA-nya dia jadi langganannya anak De Britto di saat jam Istirahat. Hingga adikku di panggil. Edi Soto, hehe.... Adik bungsu juga sama-sama kami SMA di Jogya juga. Dari warung itulah sampai mengantarkan kami hingga kuliah.

Masuk ke cerita cowok, memang sih ada  saja  cowok teman kampus yang  diam-diam memperhatikanku. Tapi selama ini saya cuek saja. Sering dia nyamperin, tapi aku tetap cuek . Sudah lama  sebenarnya cowok itu macam  perhatian sekali. Bagiku, pikir kuliah saja  otak bikin stress. Saya ambil jurusan matematika jurusan yang menurut saya nti gampang cari kerja. Di IKIP Sanata Dharma. 2 adikku di UGM dan yang bungsu Di Atmajaya semua jurusan Teknik. Saya mau menanggapi sang cowok itu takut  kuliah dan kerjaku terbengkelai. Biarlah, kalau memang jodoh suatu saat pasti akan dipertemukan. Yakin saja. Begitupun adik-adikku, kami tak ingin membuat orang tua kecewa.

Waktu terus berjalan, aku lulus kuliah. Adik-adiku masih berjuang. Orang tua semakin berat kalau tidak ada usaha  lain mereka bisa DO ( Drop Out) lantaran biaya semakin besar. Nah, pada suatu hari  temannya bapak SGA ( Sekolah Guru Atas), namanya Bapak Drs Margono, M.Si adalah Dikmenum di Dinas Pendidikan RI. Beliau menawari bapak  untuk jadi kepala sekolah di SMA Negeri di Timor-Timur. Peluang itupun tak disia-siakan, kebetulan bapak adalah guru SPG yang tahun 1990  harus ditutup. SPG diganti dengan SMU.

Setelah bapak menyatakan setuju atas tawarannya jadi kepsek, bapak dipanggil menghadap beliau ke Jakarta. Karena saya juga sudah lulus saya diajak sertas untuk menemani ke Jakarta.  Hitung-hitung pesiar lihat Ibu kota negara, karema memang seumur hidup belum pernah lihat  Kota Besar itu. Sampai di Jakarta, kami mencari kantor yang sudah tertulis di surat yang dikirim dari Bapak Margono. Saat itu bapak Margono berkantor di lantai 18. Ya, aduh!! Dengan rasa hati gugup, takut, campur-campur kami mencoba naik lift. Dengan ditemani orang baik yang kami temui akhirnya  kami bertemu beliau.  Memang senang kalau punya teman pejabat kata bapak. Tak menunggu lama bapak bertemu beliau  dan  mendapat SK Kepala sekolah, karena memang Timor Timor sedang membutuhkan banyak guru, akhirnya saya pun dapat SK CPNS  sebagai guru di sekolah yang sama.

Nah, saat itu saya masih jomblo. Hati mulai terusik. Jangan sampai di Tim-tim aku jadi perwan tua, hahaa.... Memang cowok itu pernah beberapa kali mengatakan cintanya tapi aku belum pernah menjawab. Aku berjanji suatu saat pasti aku jawab diwaktu yang tepat. Orangnya memang baik, setia nyatanya aku kurang menanggapi tapi dia tak pernah mencari penggantiku. Setelah kupikir-pikir siang malam pagi sore, akhirnya aku ketemuan, curhat dan.......rermi jadi pacar. Hihi...

Adi Christian Muhu, nama cowok itu, nama asli orang NTT. Dia mahasiswa PDU ( Pendidikan Dunia Usaha).kami se-almamater.  Karena aku saat itu ambil D3, maka aku lulus duluan, dia  sementara menyusun skripsinya. Karena dia tahu, aku akan pergi jauh di Timtim tak perlu menunggu lama dia mengajakku tunangan. Berhubung orang tua jauh, mereka bersama teman-teman asrama dan frater Barnabas menuju rumah untuk mengadakan acara itu. Dia sudah   menyiapkan 2 cincin tunangan hasil dari lomba menulis katanya, karena memang kak Adi rajin menulis dan sering dapat hadiah uang.

Kini saya dan bapak berangkat menuju ke tempat pengabdian yang baru. Saat itu kami dapat uang  danasering 3,6 ,juta. Uang yang besar untuk ukuran saat itu. Pesawat  Denpasar-kupang hanya 140 ribu. Uang sebagian ditinggal untuk biaya registrasi adikku yang sebagian untuk bekal ke Timtim

Seiring berjalannya waktu  kak Adi tinggal bersama ibuku di jawa. Selain  tinggal menyusun Skripsi juga biar tak usah bayar uang kos lagi. Kebetulan ibu juga hanya di rumah sendiri, adik  kandungku semua  masih di Jogya. Saatnya itulah pacarku menunjukkan kesetian kepada  calon mertua...chiee.. Setahun kemudian ia lulus dan wisuda. Berhubung dia tidak ada keluarga di Jawa, jadi keluarga kami semua yang mendampingi, hingga bude, bulik, simbah semua ikut merayakan hari kebahagiaanya.

Kami pacaran, LDR (hubungan jarak jauh). Setelah  lulus S1 dia langsung pulang ke tanah kelahirannya Sumba Timur dan jadi guru  honor di SMA Kristen Payeti. Aku tetap di Tim Tim karena PNS. Kak Adi 2 kali ikut PNS di Sumba tak pernah gol. Nah disini mulai ada kerenggangan antara kami.  Bapak saya meminta dia ikut ke Tim tim, kalau tidak  putuskan saja. Hati terasa di sambar petir. Demi kebaikan kami berdua, pesan bapak kusampaikan. Ternyata dia juga stress. Akhirnya dia diantar oleh bapaknya menuju Tim Tim. Karena  dia bersedia ke Tim-tim akhirnya kami menikah pada tanggal 20 Juni 1992. Dia  meninggalkan Sumba menuju ke Tim-tim. Sekali Tes ‘lulus’, Puji Tuhan. Dia ditempatkan di SMKK  Negeri Dili Timor Timur (di Ibu Kota Propinsi).

Saat itu saya masih di Maliana, sebuah kota kabupaten di Tim-tim, jarak -+ 150 km dari Tim Tim. Masih LDR juga. Sekarang dia tinggal dengan bapak saya, bapak sudah  dimutasi di SMA Negeri 1 Dili Tim Tim. Akhirnya dia yang menemani bapak, dengan setia jadi anak laki-laki tunggal yang setia, hehee... Karena berbeda tempat pengabdian, 2 tahun kemudian baru kami dikaruniai putra. Karena suami sudah PNS, kami mengusulkan pindah untuk mengikuti suami. SK pun turun.  Saya resmi  mengajar di SMA Negeri 3 Dili Timor Timor. Lengkaplah kini  aku, suami, anak dan Bapakku di Timor Timur. Ibu dan adik-adikku di jawa dan kami bisa membantu memberikan kontribusi kuliah mereka. Kini adikku semua sudah lulus dan  mendapatkan pekerjaan masing-masing.

Sepuluh tahun kemudian tepatnya tahun 1999 Timor-Timur ‘merdeka‘. Kami semua pegawai republik Indonesia tampias  kemana-mana. Mereka  rata-rata pulang ke kampung halaman masing-masing, kecuali aku. Apalagi temanku orang Jawa, semua pulang jawa. Bahkan para suami yang bukan orang jawa tapi istri asli jawa, dengan setia ikut istri di jawa. Lain dengan aku. Aku yang nota bene orang Jawa asli ( Bapak asli Magelang dan ibu orang solo) aku memilih dimutasi di Sumba Timur.

Saat kami  mengungsi, 3 rumah yang kami punya, mobil, motor dan harta benda yang lain yang kami punya kutinggal semuanya. Kita hanya  lari membawa surat-surat penting. Orang Jawa bisa membawa pulang hartanya karena ada kontainer yang bisa memuat barang ke Jawa, sementara ke NTT saat itu tidak ada. Yah.. biarlah  aku harus merelakan. Nyawa lebih  berharga daripada harta.

Ada cerita yang sampai sekarang masih kuingat.  Saat itu aku menghadap pak Kepala Dinas Propinsi yang waktu itu  orang jawa. Namanya pak Tri Suhartanta.  Saat aku memilih dimutasi di Sumba, beliau menatapku penuh arti. Beliau menatapku dari ujung kaki hingga ujung rambut. “Bu  Eti benar ibu pilih di Sumba Timur??” tanya beliau seolah tak percaya. “Ya bapak!”. Jawabku singkat”. “Suami saya orang sumba pak”, lanjutku. “Hah!! Teman-teman orang jawa pulang, kenapa ibu pilih di pulau lain? Ibu tahu kota waingpau?.  Kerut pak Tri penuh ragu.Kota Waingapu kan masih ‘agak’ tertinggal. Padahal saat itu kami minta pindah di Jakartapun diperbolehkan yang penting  sekolah itu bisa menerima kami. Kami kan guru PNS, dan waktu itu gol/pangkat sudah III/C, atau Penata. Sepertinya pak kadis  kasihan  dengan keputusan saya.

“Begini saja,   ibu pulang dulu..., renungkan satu malam baru besok datang lagi ya pilih di Sumba Timur atau pilih di Jawa?”,  kata pak Kadis propinsi padaku. Aku menurut saja. Saat itu, yang menjadi saya alasan,  kami  sudah punya gubuk, walau kecil di Waingapu. Itulah yang  kupikirkan, selain itu saya juga hanya seorang istri. Saya ingin menunjukkan kesetiaan  menikah dengan orang yang berbeda suku dan adatnya.

Kini, tak terasa pernikahan kami sudah 29 tahun. Pernikahan kami  selalu diberkati.  Dalam  hidup Kami lalui dengan terus  bersyukur dan suka cita. Walau kami saat itu mulai merangkak dari ‘nol’. Tak ada barang yang kubawa,  kami hidup di Sumba dengan SK yang kami punya. Walau kadang juda tetap ada badai yang melanda,  cinta kalau dipupuk akan terus  subur.  Kami bisa saling menerima kelebihan dan kekurangannya. Kekuatan cinta dan rela memaafkan dalam hidup dapat membuahkan kebahagiaan.

Hidup itu bagaikan naik sepeda, terus mengayuh  agar tak jatuh. Kita mencoba belajar dari anak kecil saat dia belajar berjalan. Ia tak pernah menyerah untuk bisa berjalan walau berulang-ulang jatuh. Orang yang menabur  dengan mencucurkan air mata  akan menuai  dengan sorak-soarai.

Awali  semua pekerjaan dengan doa dan semangat  dan antusias. Jalani kehidupan dengan optimisme dan keyakinan. Yang perlu kuiingat! Setiap  hari sepanjang kita masih bernafas adalah berkat Tuhan. Semoga kita dimampukan untuk menjadi berkat sampai tutup usia.

 

 

#Covid-19masihadajanganlupa bahagia

#Semogacoronasegerabelalu

#Menulislahagarhidupbermakna

#Menulislahagarhidupbahagiadanberwarna

#SalamLitersi

 

            Waingapu,  22 September 2021

 

 

 

 

 

 

 

Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd.Asli orang Magelang, Jawa Tengah. Penulis adalah  ibu rumah tangga dan  masih tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Ada 20 buku antologi dan  solo ber-ISBN karya penulis. Buku tersebut antara lain Kumpulan Cerpen Mengungkap Rahasia, Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Dermaga Hati dll.  Sekarang ini penulis tingggal  di  Jl Trikora RT/RW: 010 / 003, Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id Alamat blog: etiastiwi66.blogspot.com. No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan  keberhasilan dalam kehidupan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...