Oleh : Ledwina Eti Wuryani
Cinta tak pernah
Gagal Panen, Karena kebahagian dan kesedihan itu hasil permanen yang pasti akan
dipetik setiap insan.
Kasih sayang dan cinta
itu adalah dambaan setiap orang. Kita
meyakini bahwa jodoh ada di
tangan Tuhan. Kodrat sebagai seorang wanita
setia menunggu dan biarlah hanya
merindu. Tak sopan kalau kita yang berstatus perempuan menyatakan cinta lebih dulu,
walau hati ini menggebu ingin bertemu.
Pada suatu hari saya
duduk sendirian di perpustakaan kampus
IKIP Sanata Dharma mengerjakan tugas dari
dosen. Seorang cowok menghampiriku sok kenal terus duduk di sebelahku.
Orangnya tinggi langsing berambut keriting. Dia mengaku orang NTT. Kami
bersalaman dan saya sambil sibuk dengan tugasku. Dia cerita-cerita mengajak
ngobrol aku hanya mendengarkan saja. Tak ada cerita yang menarik. Waktupun tak
lama aku minta ijin pulang karena ada tugas dikos yang tak bisa kutinggalkan
lama.
Jujur, saya orang
paling cuek dengan cowok. Hehe ... sepertinya sayang deh waktu hanya untuk
memikirkan yang sia-sia. Maaf, saya ini
bukan orang mampu, hidup kami
sederhana bapak seorang guru dengan gaji yang tidak seberapa. Kami (Aku
dan ke-3 adikku) punya target harus
sekolah dan kuliah semua. Bapak selalu mensuport kami, bapak dan ibu selalu berharap kami
sekolah di tempat yang jauh supaya bisa belajar baik-baik. Biarlah orang
tua yang cari uang kata mereka.
Benar, Lulus SMP kami
harus sekolah di Jogyakarta yang jaraknya -+ 40 km dari rumah, berarti kami
harus kos dan butuh biaya hidup dan
biaya pendidikan. Seiring berjalannya waktu adik-adikku menyusul untuk melanjutkan ke
jenjang yang lebih tinggi mengikuti aku. Kami bersaudara disewakan rumah kecil. Orang tua
pinjan uang di bank. Nah, rumah sederhana itu kita sulap menjadi sebuah warung
makan, menunya Soto , bakso dan nasi campur. Dari warung itu kita harus bisa mengurusnya dan harus mandiri. Karena
sudah disewa mahal orang tua berharap bisa mencukupkan kehidupan kami di kota besar, syukur-syukur ada keuntungan bisa untuk menambah biaya sekolah/kuliah.
Demi cita-cita apapun
lakukan, yang penting halal. Saya sebagai anak pertama harus berbakti pada
orang tua dan tak boleh melawan ortu. Dengan adanya warung itu, hari-hari kami
disibukkan dengan belanja, memasak, menjaga
warung. Ada sih tukang masak, yu Tinuk
tetangga kami yang baik hati dan pulang dari TKW dan dia dulu kerja di rumah
makan. Ada lagi mbak Sri, keluarga jauh yang sudah lulus SMA tapi belum dapat
kerja akhirnya, bergabung bersama kami.
Kami yang membantu dibelakang segala sesuatunya.
Memang rejeki selalu
saja ada. Puji Tuhan. Setiap hari kami
bisa menyisihkan uang sedikit untuk menopang biaya sekolah kami. Kalau uang
tidak cukup, dengan hasil sawah warisan nenek yang dikelola ibu untuk mencukupkan
kebutuhan kami. Setiap hari minggu ibu menengok kami berempat dengan membawa
sayur atau bumbu yang ibu taman dikampung. Lumayan untuk menutupi kebutuhan
warung supaya asap tetap mengepul. Kami benar-benar dididik mandiri dan belajar
menghargai waktu oleh orang tua kami.
Dengan begitu mana saya
sempat memikirkan cowok? Wow....jangan,
jangan dulu!! Saya sendiri tidak ada waktu untuk sekedar tebar pesona,
hari-hariku padat dengan kegiatan di rumah dan di kampus. Boro-boro pikir beli
make up, baju mahal atau aksesori. Ahh!, itu
sedikitpun tak terpikir olehku.
Masih bersyukur kami punya kesempatan
belajar di sekolah favorit kata orang-orang. Saya dan adik saya nomor 2 ( Rita
Ely), Eks SMA K Stella Duce adik nomor tiga ( Edi Wuryanto) di SMA Collese De
Britto, sekolah yang lumayan mahal untuk
ukuran kami. Nah, warung kami di depan SMA-nya dia jadi langganannya anak De
Britto di saat jam Istirahat. Hingga adikku di panggil. Edi Soto, hehe.... Adik
bungsu juga sama-sama kami SMA di Jogya juga. Dari warung itulah sampai
mengantarkan kami hingga kuliah.
Masuk ke cerita cowok,
memang sih ada saja cowok teman kampus yang diam-diam memperhatikanku. Tapi selama ini
saya cuek saja. Sering dia nyamperin, tapi aku tetap cuek . Sudah lama sebenarnya cowok itu macam perhatian sekali. Bagiku, pikir kuliah
saja otak bikin stress. Saya ambil
jurusan matematika jurusan yang menurut saya nti gampang cari kerja. Di IKIP
Sanata Dharma. 2 adikku di UGM dan yang bungsu Di Atmajaya semua jurusan Teknik.
Saya mau menanggapi sang cowok itu takut
kuliah dan kerjaku terbengkelai. Biarlah, kalau memang jodoh suatu saat
pasti akan dipertemukan. Yakin saja. Begitupun adik-adikku, kami tak ingin
membuat orang tua kecewa.
Waktu terus berjalan,
aku lulus kuliah. Adik-adiku masih berjuang. Orang tua semakin berat kalau
tidak ada usaha lain mereka bisa DO (
Drop Out) lantaran biaya semakin besar. Nah, pada suatu hari temannya bapak SGA ( Sekolah Guru Atas),
namanya Bapak Drs Margono, M.Si adalah Dikmenum di Dinas Pendidikan RI. Beliau
menawari bapak untuk jadi kepala sekolah
di SMA Negeri di Timor-Timur. Peluang itupun tak disia-siakan, kebetulan bapak
adalah guru SPG yang tahun 1990 harus
ditutup. SPG diganti dengan SMU.
Setelah bapak
menyatakan setuju atas tawarannya jadi kepsek, bapak dipanggil menghadap beliau
ke Jakarta. Karena saya juga sudah lulus saya diajak sertas untuk menemani ke
Jakarta. Hitung-hitung pesiar lihat Ibu
kota negara, karema memang seumur hidup belum pernah lihat Kota Besar itu. Sampai di Jakarta, kami mencari
kantor yang sudah tertulis di surat yang dikirim dari Bapak Margono. Saat itu
bapak Margono berkantor di lantai 18. Ya, aduh!! Dengan rasa hati gugup, takut,
campur-campur kami mencoba naik lift. Dengan ditemani orang baik yang kami
temui akhirnya kami bertemu beliau. Memang senang kalau punya teman pejabat kata
bapak. Tak menunggu lama bapak bertemu beliau
dan mendapat SK Kepala sekolah,
karena memang Timor Timor sedang membutuhkan banyak guru, akhirnya saya pun
dapat SK CPNS sebagai guru di sekolah
yang sama.
Nah, saat itu saya
masih jomblo. Hati mulai terusik. Jangan sampai di Tim-tim aku jadi perwan tua,
hahaa.... Memang cowok itu pernah beberapa kali mengatakan cintanya tapi aku
belum pernah menjawab. Aku berjanji suatu saat pasti aku jawab diwaktu yang
tepat. Orangnya memang baik, setia nyatanya aku kurang menanggapi tapi dia tak
pernah mencari penggantiku. Setelah kupikir-pikir siang malam pagi sore,
akhirnya aku ketemuan, curhat dan.......rermi jadi pacar. Hihi...
Adi Christian Muhu, nama
cowok itu, nama asli orang NTT. Dia mahasiswa PDU ( Pendidikan Dunia Usaha).kami
se-almamater. Karena aku saat itu ambil
D3, maka aku lulus duluan, dia sementara
menyusun skripsinya. Karena dia tahu, aku akan pergi jauh di Timtim tak perlu
menunggu lama dia mengajakku tunangan. Berhubung orang tua jauh, mereka bersama
teman-teman asrama dan frater Barnabas menuju rumah untuk mengadakan acara itu.
Dia sudah menyiapkan 2 cincin tunangan
hasil dari lomba menulis katanya, karena memang kak Adi rajin menulis dan
sering dapat hadiah uang.
Kini saya dan bapak
berangkat menuju ke tempat pengabdian yang baru. Saat itu kami dapat uang danasering 3,6 ,juta. Uang yang besar untuk
ukuran saat itu. Pesawat Denpasar-kupang
hanya 140 ribu. Uang sebagian ditinggal untuk biaya registrasi adikku yang
sebagian untuk bekal ke Timtim
Seiring berjalannya
waktu kak Adi tinggal bersama ibuku di
jawa. Selain tinggal menyusun Skripsi
juga biar tak usah bayar uang kos lagi. Kebetulan ibu juga hanya di rumah
sendiri, adik kandungku semua masih di Jogya. Saatnya itulah pacarku
menunjukkan kesetian kepada calon
mertua...chiee.. Setahun kemudian ia lulus dan wisuda. Berhubung dia tidak ada
keluarga di Jawa, jadi keluarga kami semua yang mendampingi, hingga bude, bulik,
simbah semua ikut merayakan hari kebahagiaanya.
Kami pacaran, LDR
(hubungan jarak jauh). Setelah lulus S1
dia langsung pulang ke tanah kelahirannya Sumba Timur dan jadi guru honor di SMA Kristen Payeti. Aku tetap di Tim
Tim karena PNS. Kak Adi 2 kali ikut PNS di Sumba tak pernah gol. Nah disini
mulai ada kerenggangan antara kami.
Bapak saya meminta dia ikut ke Tim tim, kalau tidak putuskan saja. Hati terasa di sambar petir.
Demi kebaikan kami berdua, pesan bapak kusampaikan. Ternyata dia juga stress. Akhirnya
dia diantar oleh bapaknya menuju Tim Tim. Karena dia bersedia ke Tim-tim akhirnya kami menikah
pada tanggal 20 Juni 1992. Dia meninggalkan
Sumba menuju ke Tim-tim. Sekali Tes ‘lulus’, Puji Tuhan. Dia ditempatkan di SMKK Negeri Dili Timor Timur (di Ibu Kota Propinsi).
Saat itu saya masih di
Maliana, sebuah kota kabupaten di Tim-tim, jarak -+ 150 km dari Tim Tim. Masih
LDR juga. Sekarang dia tinggal dengan bapak saya, bapak sudah dimutasi di SMA Negeri 1 Dili Tim Tim.
Akhirnya dia yang menemani bapak, dengan setia jadi anak laki-laki tunggal yang
setia, hehee... Karena berbeda tempat pengabdian, 2 tahun kemudian baru kami
dikaruniai putra. Karena suami sudah PNS, kami mengusulkan pindah untuk
mengikuti suami. SK pun turun. Saya resmi
mengajar di SMA Negeri 3 Dili Timor
Timor. Lengkaplah kini aku, suami, anak
dan Bapakku di Timor Timur. Ibu dan adik-adikku di jawa dan kami bisa membantu
memberikan kontribusi kuliah mereka. Kini adikku semua sudah lulus dan mendapatkan pekerjaan masing-masing.
Sepuluh tahun kemudian
tepatnya tahun 1999 Timor-Timur ‘merdeka‘. Kami semua pegawai republik
Indonesia tampias kemana-mana. Mereka rata-rata pulang ke kampung halaman
masing-masing, kecuali aku. Apalagi temanku orang Jawa, semua pulang jawa.
Bahkan para suami yang bukan orang jawa tapi istri asli jawa, dengan setia ikut
istri di jawa. Lain dengan aku. Aku yang nota bene orang Jawa asli ( Bapak asli
Magelang dan ibu orang solo) aku memilih dimutasi di Sumba Timur.
Saat kami mengungsi, 3 rumah yang kami punya, mobil,
motor dan harta benda yang lain yang kami punya kutinggal semuanya. Kita
hanya lari membawa surat-surat penting.
Orang Jawa bisa membawa pulang hartanya karena ada kontainer yang bisa memuat
barang ke Jawa, sementara ke NTT saat itu tidak ada. Yah.. biarlah aku harus merelakan. Nyawa lebih berharga daripada harta.
Ada cerita yang sampai
sekarang masih kuingat. Saat itu aku
menghadap pak Kepala Dinas Propinsi yang waktu itu orang jawa. Namanya pak Tri Suhartanta. Saat aku memilih dimutasi di Sumba, beliau
menatapku penuh arti. Beliau menatapku dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Bu Eti benar ibu pilih di Sumba
Timur??” tanya beliau seolah tak percaya. “Ya bapak!”. Jawabku singkat”. “Suami
saya orang sumba pak”, lanjutku. “Hah!! Teman-teman orang jawa pulang, kenapa
ibu pilih di pulau lain? Ibu tahu kota waingpau?. Kerut pak Tri penuh ragu.Kota Waingapu kan
masih ‘agak’ tertinggal. Padahal saat itu kami minta pindah di Jakartapun
diperbolehkan yang penting sekolah itu
bisa menerima kami. Kami kan guru PNS, dan waktu itu gol/pangkat sudah III/C,
atau Penata. Sepertinya pak kadis
kasihan dengan keputusan saya.
“Begini saja, ibu pulang dulu..., renungkan satu malam
baru besok datang lagi ya pilih di Sumba Timur atau pilih di Jawa?”, kata pak Kadis propinsi padaku. Aku menurut
saja. Saat itu, yang menjadi saya alasan, kami sudah punya gubuk, walau kecil di Waingapu.
Itulah yang kupikirkan, selain itu saya
juga hanya seorang istri. Saya ingin menunjukkan kesetiaan menikah dengan orang yang berbeda suku dan
adatnya.
Kini, tak terasa
pernikahan kami sudah 29 tahun. Pernikahan kami
selalu diberkati. Dalam hidup Kami lalui dengan terus bersyukur dan suka cita. Walau kami saat itu
mulai merangkak dari ‘nol’. Tak ada barang yang kubawa, kami hidup di Sumba dengan SK yang kami
punya. Walau kadang juda tetap ada badai yang melanda, cinta kalau dipupuk akan terus subur.
Kami bisa saling menerima kelebihan dan kekurangannya. Kekuatan cinta
dan rela memaafkan dalam hidup dapat membuahkan kebahagiaan.
Hidup itu bagaikan naik
sepeda, terus mengayuh agar tak jatuh. Kita
mencoba belajar dari anak kecil saat dia belajar berjalan. Ia tak pernah
menyerah untuk bisa berjalan walau berulang-ulang jatuh. Orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai
dengan sorak-soarai.
Awali semua pekerjaan dengan doa dan semangat dan antusias. Jalani kehidupan dengan optimisme
dan keyakinan. Yang perlu kuiingat! Setiap
hari sepanjang kita masih bernafas adalah berkat Tuhan. Semoga kita
dimampukan untuk menjadi berkat sampai tutup usia.

#Covid-19masihadajanganlupa
bahagia
#Semogacoronasegerabelalu
#Menulislahagarhidupbermakna
#Menulislahagarhidupbahagiadanberwarna
#SalamLitersi
Waingapu, 22 September 2021
Ledwina
Eti adalah nama facebook dan IG, nama
lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd.Asli orang Magelang, Jawa
Tengah. Penulis adalah ibu rumah tangga
dan masih tercatat sebagai pengajar di
SMA Negeri 2 Waingapu. Ada 20 buku antologi dan
solo ber-ISBN karya penulis. Buku tersebut antara lain Kumpulan Cerpen
Mengungkap Rahasia, Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung
Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Dermaga Hati dll. Sekarang ini penulis tingggal di Jl
Trikora RT/RW: 010 / 003, Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.
ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id
Alamat blog: etiastiwi66.blogspot.com. No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat dalam menggapai
cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap
usaha, Tuhan pasti memberikan
keberhasilan dalam kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar