Indonesiaku.Tanahnya
subur. Kaya makmur. Rakyatnya berbudi
pekerti luhur. Semangat hidup penduduknya tak pernah luntur. Walau banyak tantangan tapi tak pernah mundur. Tak
pernah ada rasa berbeda, kita
masing-masing bisa membaur dan akur.
Indonesia adalah sebuah
negeri tempat diriku dilahirkan, sebuah bangsa dimana aku dibesarkan.
Setiap hari selalu bisa mengukir cerita. Bahagia, suka
cita dan sejahtera tinggal di tanah
tumpah darahku Indonesia. Perbedaan tak membuat terpecah belah. Keragaman
membuat menjadi Indah. Pekerjaan selalu
dinikmati sebagai suatu ibadah.
“Bhineka Tunggal Ika”,
berbeda-beda tapi tetap satu juga. Aku
orang Indonesia, aku akan berjuang sekuat tenaga dan kemampuanku demi Indonesia tercinta. Baktiku padamu. Aku akan
selalu setia demi tanah tumpah darahku. Wajib
hukumnya sebagai rakyat Indonesia punya
kewajiban untuk menjaga dan memelihara
kehormatan bangsa kita sendiri.
Lulus kuliah pendidikan
guru IKIP Sanata Dharma Jogyakarta aku ditempatkan di Timor Timur pada tahun
1990. Menjadi guru yang siap ditempatkan
dimanapun, walau daerah konflik.
Namanya pengabdian, maka kujalani dengan penuh suka cita. Apapun akan kujalani
demi sebuah kesetiaan untuk negaraku.
Mendidik generasi bangsa menuju cita-cita. SMA
Negeri Maliana Bobonaro, Salah satu kota kabupaten di provinsi Tim Tim aku
ditempatkan untuk mengajar, melatih dan mendidik anak bangsa.
Suana antara damai dan
tidak karena kadang ada juga
gesekan-gesekan antar penduduk yang membuat rasa ‘sedikit’ tak nyaman. Tapi
bukan tantangan. Laut kan kuseberangi, bukitpun kan kudaki demi cintaku untuk
negeriku. Chiieee...Banyak murid-murid
yang usianya lebih tua dari aku. Sebagai guru baru pasti nervouslah saat itu.
Bayangkan siswa bukan menyimak materi yang
kuajarkan tapi ada saja yang membuat
ulah . Ada yang mengumpulkan jawaban
dari PR yang kuberikan, tapi surat
cinta yang kudapatkan. Rasa gugup,
bingung campur aduk suasana hati
menghadapi siswaku saat itu.
Di Maliana itu
tempatnya aku ditempa dengan berbagai
cobaan dan ujian. Hal itu yang membuat aku jadi lebih dewasa, sabar dan kuat. Biar perempuan jadi punya nyali
sekuat baja, tangguh dan perkasa, berani dan setia demi melaksanakan tugas negara. Canda, tawa suka
cita, duka, derita kualami semuanya.
Trimakasih Maliana atas pembelajaran yang
kau berikan untukku.
Tiga tahun kemudian aku dipindahkan di Dili
kota provinsi, tepatnya di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur, sekolah kami dekat
kantor gubernur dan dekat pantai. Suasananya Indah mempesonaku. Terlihat
hamparan panjang pantai dan banyak
bule-bule juga yang sekedar nongkrong disana. Tak sedikit murid-murid yang ikut
duduk-duduk saat istirahat sambil menikmati
‘paung’ makanan khas mereka. Roti keras beragi yang sangat disukai
penduduk di timtim.
Situasi dan kondisi di
Dili juga antara menyenangkan dan
mendukakan hati. Namanya saja daerah konflik. Banyak cerita suka dan duka selama tinggal di sana. Banyak tangis dan
airmata yang sebenarnya bisa kutorehkan dalam goresan pena. Ditempat itulah aku
banyak belajar untuk jadi mausia yang dewasa. Digembleng jadi guru yang bisa bersikap sabar, tabah dan tawakal. 95% guru di Tim Tim adalah orang
Indonesia asli dari berbagai provinsi di Indonesia. Disitulah kami berteman
dengan guru-guru yang asalnya dari
seluruh nusantara. Ada jawa, ada batak, ada flores, sulawesi dan hampir semua provinsi di Indonesia terwakili.
Banyak siswa yang setia
pada Indonesia tapi tidak
semuanya. Sebagian dari mereka adalah pro kemerdekaan, artinya mereka tak suka
dengan kita guru yang nota bene orang Indonesia. Sebagai putra bangsa kami guru
setia dan bangga dengan Indonesia. Banyak dulu siswa Timtim yang memandang
sebelah mata dengan kita, merendahkan kita bahkan sampai ada yang menganiaya
kita guru. Itu cerita lama biarlah cukup
dikenang oleh pribadi saja. Tapi semua sudah berlalu. Pastinya sekarang
sudah berbeda. Kuucapkan terima kasih
untuk pembelajaran bagi diriku dan pendewasaan profesiku di daerah konflik saat itu.
Sepuluh tahun tak
terasa, Timor Timur akhirnya ‘Merdeka’.
Semua guru Indonesia tampias
kemana-mana. Masing-masing boleh memilih
dimana akan mengabdi selanjutnya. Rata-rata kembali ke kampung halamannya. Bahagialah
mereka. Beda aku, aku adalah orang jawa
asli murni, Ibuku asli solo dan ayahku asli Magelang. Setelah jadi guru 2 tahun
kemudian aku menikah dengan seorang guru juga
yang asli NTT. Seorang yang berperawakan tinggi, berkulit sawo matang, manis, setia dan baik hatinya. Anak mantan
kepala desa dari kampung Meurumba
(kucing hutan : red). Dia adalah orang
kelahiran tanah Marapu Pada Djara Hamu. Sebuah kota kecil di Pulau Sumba bagian
timur. Namanya Adi Christian Muhu, aku panggil dia kak Adi karena kami dulu
ketemu saat sama-sama mengikuti kegiatan pramuka di kampus. Kebetulan kami
sama-sama aktif di pramuka.
Saat itu tahun 1991
pertama kali datang ke Waingapu, tempat calon suamiku dilahirkan. Sumba Timur kurang dikenal saat
itu. Orang jawa lebih mengenal orang NTT identik orang flores. Salah mengerti
termasuk diriku. Seolah-olah orang NTT itu hanya flores saja, padahal NTT terdiri dari 22 kabupaten, salah satunya kota waingapu kabupaten Sumba Timur.
Tradisi Sumba
Timur berbeda dengan Sumba Barat, Sumba
Tengah dan Sumba Barat Daya ( ada 4 kabupaten di Pulau Sumba). Adat dan
bahasanyapun berbeda-beda. Nah, Kala itu saya mengajar di Tim tim, sedangkan kak
Adi guru di SMA Kristen Payeti, waingapu
Sumba Timur. Karena kami pacaran sudah 4 tahun, sejak masih kuliah akhirnya
kami sepakat untuk sehidup semati dan
menikah. Tentunya pihak laki-laki ingin
memperkenalkan keluarga mereka. Aku dikirmi uang tiket pesawat untuk ke Sumba.
Orang tuanya ingin kenal aku.
Jadilah aku datang ke Sumba menepati janji.
Sampai di Bandara Mau
Hau Sumba Timur aku yang seorang diri dijemput oleh keluarga besar mereka.
Perasaanku jadi kaku, gugup, malu, canggung
campur aduk. Mereka semua puluhan orang yang menjemputku. Mereka mencium
aku bergantian dan memberikan sirih pinang padaku. Aku hanya nyengir karena aku
tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku
menurut saja apa kata mereka karena aku memang orang yang baru.
Singgah semalam di rumah
kakak kandung yang di waingapu, esoknya aku harus menuju kampung kelahiran kak
Adi calon suamiku. Hee.. untuk menuju ke kampung kami naik
bus pedesaan, situasi dan lokasi
tak beda jauh dengan Timor Timur yang tanahnya berupa perbukitan, hutan lebat,
jurang terjal, ada padang sabana dan
penduduk kampung hanya bisa di hitung
dengan jari.
Adat di Sumba
Timur masih sangat kental tahun 1991. Agama yang diyakini mereka masih “Marapu” , atau aliran kepercayaan. Bus
hanya bisa parkir di Kamanggih, sebuah
kota kecamatan, selanjutnya harus naik
kuda karena terjalnya lokasi. Benar saja, saya dijemput dengan adat
mereka, 40 orang pasukan berkuda
menunggu saya. Sebuah penghormatan yang tak pernah kubayangkan. Ya ampun, beginilah cara mereka menyambut tamu yang baru
sekali datang. Layaknya cerita di dongeng saja.
Seumur-umur aku belum
pernah naik kuda, saat itu saya ‘harus’ naik kuda bersama sang penunggang kuda.
Terpaksa aku ikut maunya, aku naik dan diikuti iring-iringan kuda
dibelakangku. Karena medan yang sangat berat, goncangan lari kuda membuat aku
sakit perut, , badan pegal luar biasa dan keluhan lain yang kurasa. Jarak
tempuh menuju kampung bisa sekitar 40-an km. Bisa bayangkan, melewati hutan lebat, jurang terjal, Ngeri
sekali!!. Sekitar 3 jam sampailah di kampung halaman kak Adi....tamburpun berbunyi
bertalu-talu...mereka menombak Kerbau besar dihadapanku. Ampun Tuhan,
sungguh aku jadi terharu, antara bingung, merasa linglung dan ingin
menangis. Aku yang bukan siapa-siapa ini, diberikan penghormatan yang luar
biasa. Kata orang ternyata kak Adi ini adalah bangsawan.
Memang bangsawan di
Sumba tidak sama dengan di jawa yang
kehidupannya mewah. Tapi di Sumba Timur khususnya masih ada juga status sosial
yang masih melekat kuat sampai hari ini.
Di kampung masih terasa kehidupan primitif
layaknya di Jawa 100 tahun yang lalu. Itu dikampungnya. Saya seorang PNS begitu
pula suami, jadi kami tinggal di kota, hidup kamipun sederhana layaknya orang
lain. Maka tidak heran, sampai hari ini
di rumah masih banyak orang yang tinggal bersamaku. Mereka setia
tinggal di rumah dan ada juga
yang sekolah . Semoga berkat Tuhan selalu mengalir untuk keluarga besarku. Dicukupkan
makan dan minum untuk keluargaku. Ini cerita fakta bukan rekayasa, kalau
penasaran silahkan datang ke Sumba Timur. Masih banyak peninggalan leluhur.
Alam yang indah , asli tanpa sentuhan
alat modern.
Kini banyak artis yang
datang sekedar untuk menikmati keindahan panorama Sumba Timur. Banyak film yang dibuat disini. Dulu Artis Nurul
Arifin, Produser kenamaan Mira Lesmana
dengan filmnya “Pendekar Tongkat Emas” yang diperankan oleh Christin Hakim, Susah
Sinyal, Humba Dreams dan lain-lain.
Shoting di padang sabana Sumba Timur. Ada juga teman guru dan peserta
didikku yang jadi figuran di film itu.
Nah dari disinilah
lengkaplah aku mewujudkan nasionalisme
sebagai orang Indonesia. Kini kami sudah
dikaruniani 2 putra hasil perkawinan saya orang
Jawa dan suamiku Sumba. Jadi wajah anak kami adalah blasteran antar dua
suku yang berbeda, gagah dan tampan, mereka berdua sudah Sarjana Tehnik dan siap menjadi abdi negara. Puji Tuhan. Kita terus berpengharapan semua
akan indah pada waktunya.
Untuk mewujudkan kebanggaannku sebagai rakyat Indonesia,
walaupun kegiatan kecil tapi itu
bukti nasionalis, kami
membentuk perkumpulan antar etnis. Mengadakan pertemuan-pertemuan,
arisan, koperasi, kelompok doa , paduan suara dan lain-lain. Asyiklah
pokoknya bergabung dengan
teman-teman walaupun masing-masing kita berbeda suku, adat dan
bahasanya. Tapi kita punya bahasa satu yaitu bahasa Indonesia.
Saat ini, saya
sudah 21 tahun mengabdi di tanah Sumba.
Sudah menyatu bersama penduduk asli dan
tak pernah merasa jadi seorang ‘pendatang’. Semua serasa keluarga, serasa saudara. Kita semua mempunyai
misi sama ke depan, demi
generasi muda, demi anak-anak kita
supaya hidupnya lebih baik dari kami sekarang.
Saya mengajar di SMA
Negeri 2 Waingapu sejak Tim Tim merdeka, dari Tahun 1999 sampai sekarang.
Mengajar anak-anak yang manis-manis. Anak yang berbakti pada guru. Anak-anak yang ingin maju dan bercita-cita luhur.
Teman-teman sayapun dari seluruh Indonesia, ada dari Jawa, Flores, Sumba Barat,Sumba
Tengah, Kupang, Sabu, Rote dan
lain-lain. Keragaman ini yang membuat
kita jadi berwarna dan penuh makna.
Trima kasih kami ucapkan
untuk penempatan kami dulu. Kini saya
jadi bisa cerita pengalaman dan kisah
hidup. Sebagai orang pribumi yang selalu bangga menjadi orang
Indonesia. Orang jawa punya pepatah “ kumpul ra kumpul sing penting mangan” ,
artinya kita boleh saja berpisah dari
orang tua, adik-adik dan saudara, yang penting
bisa punya penghasilan dan bisa mencukupkan kehidupan kita sendiri dan bisa makan tentunya.
Karena kita ditempatkan di pulau luar jawa, membuat kita semakin punya wawasan. Kita bisa
mengetahui adat suku lain, minimal makanan khas tempat tinggal kita berada. Saya bisa
ikut bangga dengan kesenainnya, adatnya, destinasi wisatanya dan lain-lainya. Karena ternyata
Indonesia memang kaya raya. Ada 17.504
pulau. Punya 1340 suku dan budaya. Ada 6
agama yang diakui pemerintah. 546 bahasa daerah. 180 tarian daerah. 27 rumah adat. 40
pakaian adat. Penduduknya
sebanyak 270 juta jiwa.
Saat ini kita penduduk
Indonesia semua sedang berduka. Tangisan terjadi dimana-mana, hampir semua
keluarga mengalami dampak dari
pandemi covid-19 yang melanda dunia. Corona yang memporak-porandakan tatanan negara. Banyak cerita yang terukir karenanya. Saat tulisan ini ditorehkan
penulis juga baru sembuh karena terpapar
bersama seluruh keluarga. Sedih, perih. Itulah kenangan yang tak akan terlupa
sampai nanti kita tiada. Jika nanti anak
cucu membaca tulisan ini mereka akan mengingat ‘saya’ Ledwina Eti yang menorehkan cerita ‘bangga
jadi orang Indonesia’ pada saat pandemi covid-19 melanda.
Tapi sebagai penulis sungguh saya sangat mengapresiasi penanganan pemerintah terhadap
covid-19 ini. Indonesia terbaik no-6 penanganan pandemi ini. Pelayanan medis gratis, Paramedis bergerak
pro aktif, vaksin diberikan di semua
line. Akhirnya, kini pandemi sudah berangsur hilang. Yang sakit sudah
banyak yang disembuhkan. Tapi tetap harus
ingat untuk mengikuti protokol
kesehatan, mentaati 5M yaitu Memakai masker, Mencuci tangan pakai sabun, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan dan Mengurangi mobilitas.
Pandemi bukan halangan
untuk para guru lebih kreatif dan
inovativ. Kita harus berfikir yang positif tetap semangat mengajar dari rumah
dengan cara yang efektif. Pembelajaran jarak jauh ( PJJ). Pembelajaran milenial
di era digital. Bukan hanya peserta didik yang belajar tapi guru wajib juga
untuk belajar. Apa kata dunia kalau guru malas belajar?
Akhirnya guru kini jadi
rajin ikut belajar di dunia maya. Selain mendapatkan ilmu jadi mengenal lebih luas tentang dunia. Dengan
mengikuti pelatihan-pelatihan/ webinar jarak jauh, menjadi tambah ilmu, tambah
wawasan, dapat sertifikat dan kenal guru-guru di seluruh Indonesia. Asyik kan!.
Itu berkat Pandemi. Jika pandemi tak
ada, tak mungkin pembelajaran
digital dikenal secepat ini. Semua
siswa, murid, peserta didik sampai
mahasiswa melaksanakan pembelajaran
digital.
HP android yang dulu banyak orang hanya sebagai terima telpon, terima berita. Tapi
kini!! Kita bisa yang membuat berita, membuat video pembelajaran, dan yang jelas kita jadi lebih banyak tahu fungsinya.
Ternyata teramat sangat banyak
aplikasi yang berguna. Yang dulunya
seolah mimpi ternyata sekarang menjadi fakta. Saya pribadi yang dulu hanya penikmat, kini jadi sedikit lebih maju, lebih kreatif dan inovatif. “The power of kepepet”. Wahh... kalau guru tak kreatif murid bisa lebih pintar dari gurunya.
Semua materi
bisa ditanyakan pada ‘mbah google yang super cerdas’. Soal pun
bisa dijawab dengan cara googling atau
browshing dari iternet. Yang perlu diingat belajarlah dengan bijak. Belajar lewat internet bagai bermain pedang bermata 2. Di sebelah kanan hal-hal positif dan jawaban yang benar tapi
disebelah kiri jawaban yang membuat kita
terjatuh. Disitulah ‘guru’ harus berperan untuk peserta didiknya.
Pelajaran akhlak, karakter dan budi pekerti tak bisa
diajarkan oleh mbah google.
Cerita terakhir yang
membuatku bangga jadi orang Indonesia
terkini adalah saya sedang berkolaborasi bersama teman-teman,
sahabat-sahabat penulis se-nusantara. Setiap kita menceritakan pengalaman kita,
kebanggan kita sebagai orang Indonesia. Trimakasih Ibu Kanjeng ( Dra Sri
Sugiastuti, M.Pd), Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd Gr, Pak Mangatur Panjaitan penggagas antologi ini. Kami semakin bangga
dengan kebersamaan kita. Kita bisa mewujudkan
karya-karya secara bersama-sama sehingga tulisanku yang sederhana ini
bisa tersebar di seluruh Indonesia. Salam
Literasi!. Bangga aku jadi orang Indonesia dan bahagia bisa berteman dengan
para penulis hebat yang tersebar di seluruh Nusantara .
Catatan: tampias artinya tersebar
Ledwina
Eti adalah nama facebook dan IG, nama lengkap
Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang, pada tanggal
14 April 1966. Nama suami Drs. Adi Ch. Muhu dan ibu dari Marcelinus Meha, ST dan Dwi Ananto, MT. Selain Ibu rumah tangga penulis masih tercatat
sebagai guru di SMA Negeri 2 Waingapu,
Sumba Timur NTT. Penulis suka menulis di
medsos, fb, you tube, beberapa koran lokal dan juga majalah. Karya buku
Antologi adalah Pelangi Nusantara,
Manuai berkah Bertaut Aksara, Kidung Rindu, refleksi dan Resolusi Saat pandemi,
dan beberapa buku inspirasi lainnya. Buku Solo adalah “Mengungkap Rahasia”,”Bangga Menjadi
Penulis”, “Dari Goresan Pena Mengukir Prestasi”, “Trik Jitu Menjadi penulis
Masa Kini”. Sekarang ini penulis tinggal di Jl
Trikora No: 11 Hambala, Waingapu, Sumba Timur. NTT. Kode Pos: 87112. alamat
email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.
ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id
etiastiwi66.blogspot.com, No HP / WA 085 230 708 285.Motto: Semangat dalam menggapai
cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap
usaha, Tuhan pasti memberikan
keberhasilan dalam kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar