Jumat, 17 September 2021

GURU, Bertutur Tentang Kehidupan

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd 

Indonesiaku.Tanahnya subur. Kaya makmur. Rakyatnya  berbudi pekerti luhur. Semangat hidup penduduknya  tak pernah luntur. Walau  banyak tantangan tapi tak pernah mundur. Tak pernah ada rasa berbeda, kita  masing-masing bisa membaur dan akur.

 

Indonesia adalah sebuah negeri tempat diriku dilahirkan, sebuah bangsa dimana aku dibesarkan. Setiap  hari  selalu bisa mengukir cerita. Bahagia, suka cita dan sejahtera  tinggal di tanah tumpah darahku Indonesia. Perbedaan tak membuat terpecah belah. Keragaman membuat menjadi Indah.  Pekerjaan selalu dinikmati sebagai suatu ibadah.

Bhineka Tunggal Ika”, berbeda-beda tapi  tetap satu juga. Aku orang Indonesia, aku akan berjuang sekuat tenaga dan kemampuanku  demi Indonesia tercinta. Baktiku padamu. Aku akan selalu setia  demi tanah tumpah darahku. Wajib hukumnya sebagai rakyat Indonesia  punya  kewajiban untuk menjaga dan memelihara  kehormatan bangsa kita sendiri.

Lulus kuliah pendidikan guru IKIP Sanata Dharma Jogyakarta aku ditempatkan di Timor Timur pada tahun 1990. Menjadi guru yang siap  ditempatkan dimanapun, walau  daerah konflik. Namanya  pengabdian, maka kujalani  dengan penuh suka cita. Apapun akan kujalani demi sebuah kesetiaan untuk  negaraku. Mendidik generasi bangsa menuju cita-cita. SMA Negeri Maliana Bobonaro, Salah satu  kota kabupaten di provinsi Tim Tim aku ditempatkan untuk mengajar, melatih dan mendidik anak bangsa.

Suana antara damai dan tidak karena  kadang ada juga gesekan-gesekan antar penduduk yang membuat rasa ‘sedikit’ tak nyaman. Tapi bukan tantangan. Laut kan kuseberangi, bukitpun kan kudaki demi cintaku untuk negeriku.  Chiieee...Banyak murid-murid yang usianya lebih tua dari aku. Sebagai guru baru pasti nervouslah saat itu. Bayangkan siswa  bukan menyimak  materi yang  kuajarkan tapi ada saja yang  membuat ulah . Ada yang mengumpulkan  jawaban dari PR yang kuberikan,  tapi surat cinta  yang kudapatkan. Rasa gugup, bingung campur aduk  suasana hati menghadapi siswaku saat itu.

Di Maliana itu tempatnya aku ditempa  dengan berbagai cobaan dan ujian. Hal itu yang membuat aku jadi lebih dewasa, sabar  dan kuat. Biar perempuan jadi punya nyali sekuat baja, tangguh dan perkasa, berani dan setia demi  melaksanakan tugas negara. Canda, tawa suka cita,  duka, derita kualami semuanya. Trimakasih Maliana  atas pembelajaran yang kau berikan untukku.

 Tiga tahun kemudian aku dipindahkan di Dili kota provinsi, tepatnya di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur, sekolah kami dekat kantor gubernur dan dekat pantai. Suasananya Indah mempesonaku. Terlihat hamparan panjang pantai dan  banyak bule-bule juga yang sekedar nongkrong disana. Tak sedikit murid-murid yang ikut duduk-duduk saat istirahat sambil menikmati  ‘paung’ makanan khas mereka. Roti keras beragi yang sangat disukai penduduk di timtim.

Situasi dan kondisi di Dili  juga antara menyenangkan dan mendukakan hati. Namanya saja daerah konflik. Banyak  cerita suka dan duka  selama tinggal di sana. Banyak tangis dan airmata yang sebenarnya bisa kutorehkan dalam goresan pena. Ditempat itulah aku banyak belajar untuk jadi mausia yang dewasa. Digembleng jadi guru yang  bisa bersikap sabar, tabah dan  tawakal. 95% guru di Tim Tim adalah orang Indonesia asli dari berbagai provinsi di Indonesia. Disitulah kami berteman dengan  guru-guru yang asalnya dari seluruh nusantara. Ada jawa, ada batak, ada flores, sulawesi dan  hampir semua provinsi di Indonesia terwakili.

 Banyak siswa yang  setia  pada Indonesia  tapi tidak semuanya. Sebagian dari mereka adalah pro kemerdekaan, artinya mereka tak suka dengan kita guru yang nota bene orang Indonesia. Sebagai putra bangsa kami guru setia dan bangga dengan Indonesia. Banyak dulu siswa Timtim yang memandang sebelah mata dengan kita, merendahkan kita bahkan sampai ada yang menganiaya kita guru. Itu cerita lama biarlah  cukup dikenang oleh pribadi saja. Tapi semua sudah berlalu. Pastinya sekarang sudah  berbeda. Kuucapkan terima kasih untuk pembelajaran bagi diriku dan pendewasaan profesiku  di daerah konflik saat itu.

Sepuluh tahun tak terasa, Timor Timur  akhirnya ‘Merdeka’. Semua guru Indonesia  tampias kemana-mana. Masing-masing  boleh memilih dimana akan mengabdi selanjutnya. Rata-rata kembali ke kampung halamannya. Bahagialah mereka. Beda aku,  aku adalah orang jawa asli murni, Ibuku asli solo dan ayahku asli Magelang. Setelah jadi guru 2 tahun kemudian aku menikah dengan seorang guru juga  yang asli NTT. Seorang yang berperawakan tinggi, berkulit sawo matang,  manis, setia dan baik hatinya. Anak mantan kepala desa  dari kampung Meurumba (kucing hutan : red). Dia adalah  orang kelahiran tanah Marapu Pada Djara Hamu. Sebuah kota kecil di Pulau Sumba bagian timur. Namanya Adi Christian Muhu, aku panggil dia kak Adi karena kami dulu ketemu saat sama-sama mengikuti kegiatan pramuka di kampus. Kebetulan kami sama-sama aktif di pramuka.

Saat itu tahun 1991 pertama kali datang ke Waingapu, tempat calon suamiku   dilahirkan. Sumba Timur kurang dikenal saat itu. Orang jawa lebih mengenal orang NTT identik orang flores. Salah mengerti termasuk diriku. Seolah-olah orang NTT itu hanya flores saja, padahal NTT  terdiri dari 22 kabupaten, salah satunya  kota waingapu kabupaten Sumba Timur.

Tradisi Sumba Timur  berbeda dengan Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya ( ada 4 kabupaten di Pulau Sumba). Adat dan bahasanyapun berbeda-beda. Nah, Kala itu saya mengajar di Tim tim, sedangkan     kak Adi  guru di SMA Kristen Payeti, waingapu Sumba Timur. Karena kami pacaran sudah 4 tahun, sejak masih kuliah akhirnya kami sepakat untuk  sehidup semati dan menikah. Tentunya pihak laki-laki ingin  memperkenalkan keluarga mereka. Aku dikirmi uang tiket pesawat untuk  ke Sumba.   Orang tuanya ingin  kenal aku. Jadilah aku datang ke Sumba menepati janji.

Sampai di Bandara Mau Hau Sumba Timur aku yang seorang diri dijemput oleh keluarga besar mereka. Perasaanku jadi kaku, gugup, malu, canggung  campur aduk. Mereka semua puluhan orang yang menjemputku. Mereka mencium aku bergantian dan memberikan sirih pinang padaku. Aku hanya nyengir karena aku tak tahu apa yang harus kulakukan.  Aku menurut saja apa kata mereka karena aku memang orang yang baru.

Singgah semalam di rumah kakak kandung yang di waingapu, esoknya aku harus menuju kampung kelahiran kak Adi calon suamiku. Hee.. untuk menuju ke kampung  kami naik  bus pedesaan,  situasi dan lokasi tak beda jauh dengan  Timor Timur  yang tanahnya berupa perbukitan, hutan lebat, jurang terjal, ada padang sabana  dan penduduk kampung  hanya bisa di hitung dengan jari.

Adat  di Sumba  Timur masih sangat kental tahun 1991. Agama yang diyakini mereka  masih “Marapu” , atau aliran kepercayaan. Bus hanya bisa  parkir di Kamanggih, sebuah kota kecamatan, selanjutnya  harus naik kuda karena  terjalnya  lokasi. Benar saja, saya dijemput dengan adat mereka,  40 orang pasukan berkuda menunggu saya. Sebuah penghormatan yang tak pernah kubayangkan. Ya ampun,  beginilah cara mereka menyambut tamu yang baru sekali datang. Layaknya cerita di dongeng saja.

Seumur-umur aku belum pernah naik kuda, saat itu saya ‘harus’ naik kuda bersama sang penunggang kuda. Terpaksa aku ikut maunya, aku naik dan diikuti iring-iringan kuda dibelakangku.  Karena medan yang  sangat berat, goncangan lari kuda membuat aku sakit perut, , badan pegal luar biasa dan keluhan lain yang kurasa. Jarak tempuh menuju kampung bisa sekitar 40-an km. Bisa bayangkan,  melewati hutan lebat, jurang terjal, Ngeri sekali!!. Sekitar 3 jam sampailah di kampung halaman kak Adi....tamburpun berbunyi bertalu-talu...mereka menombak Kerbau besar dihadapanku. Ampun Tuhan, sungguh  aku jadi terharu,  antara bingung, merasa linglung dan ingin menangis. Aku yang bukan siapa-siapa ini, diberikan penghormatan yang luar biasa. Kata orang ternyata kak Adi ini adalah bangsawan.

Memang bangsawan di Sumba tidak  sama dengan di jawa yang kehidupannya mewah. Tapi di Sumba Timur khususnya masih ada juga status sosial yang  masih melekat kuat sampai hari ini. Di kampung  masih terasa kehidupan primitif layaknya di Jawa 100 tahun yang lalu. Itu dikampungnya. Saya seorang PNS begitu pula suami, jadi kami tinggal di kota, hidup kamipun sederhana layaknya orang lain. Maka tidak heran, sampai hari ini  di rumah  masih  banyak  orang yang tinggal bersamaku. Mereka  setia  tinggal di rumah dan  ada juga yang sekolah . Semoga berkat Tuhan selalu mengalir untuk keluarga besarku. Dicukupkan makan dan minum untuk keluargaku. Ini cerita fakta bukan rekayasa, kalau penasaran silahkan datang ke Sumba Timur. Masih banyak peninggalan leluhur. Alam yang  indah , asli tanpa sentuhan alat modern.

Kini banyak artis yang datang sekedar untuk menikmati keindahan panorama Sumba Timur.  Banyak film yang dibuat disini. Dulu Artis Nurul Arifin,   Produser kenamaan Mira Lesmana dengan filmnya “Pendekar Tongkat Emas”  yang diperankan oleh Christin Hakim, Susah Sinyal,  Humba Dreams  dan  lain-lain.   Shoting di padang sabana Sumba Timur. Ada juga teman guru dan peserta didikku yang jadi figuran di film itu.

Nah dari disinilah lengkaplah aku mewujudkan  nasionalisme sebagai orang Indonesia. Kini  kami sudah dikaruniani 2 putra hasil perkawinan saya orang  Jawa dan suamiku Sumba. Jadi wajah anak kami adalah blasteran antar dua suku yang berbeda, gagah dan tampan, mereka berdua sudah Sarjana  Tehnik dan siap menjadi abdi negara.  Puji Tuhan. Kita terus berpengharapan semua akan indah pada waktunya.

Untuk  mewujudkan kebanggaannku sebagai rakyat Indonesia, walaupun kegiatan kecil tapi  itu bukti  nasionalis,  kami  membentuk perkumpulan antar etnis. Mengadakan pertemuan-pertemuan, arisan, koperasi, kelompok doa , paduan suara dan lain-lain. Asyiklah pokoknya  bergabung dengan teman-teman  walaupun  masing-masing kita berbeda suku, adat dan bahasanya. Tapi kita punya bahasa satu yaitu bahasa Indonesia.

Saat ini, saya sudah  21 tahun mengabdi di tanah Sumba. Sudah menyatu  bersama penduduk asli dan tak pernah merasa jadi seorang ‘pendatang’. Semua serasa keluarga, serasa  saudara. Kita semua  mempunyai  misi sama  ke depan, demi generasi  muda, demi anak-anak kita supaya hidupnya lebih baik dari kami sekarang.

Saya mengajar di SMA Negeri 2 Waingapu sejak Tim Tim merdeka, dari Tahun 1999 sampai sekarang. Mengajar anak-anak yang manis-manis. Anak yang berbakti pada guru. Anak-anak  yang ingin maju dan bercita-cita luhur. Teman-teman sayapun dari seluruh Indonesia, ada dari Jawa, Flores, Sumba Barat,Sumba Tengah,  Kupang, Sabu, Rote dan lain-lain. Keragaman  ini yang membuat kita jadi berwarna  dan penuh makna.

Trima kasih  kami ucapkan  untuk penempatan kami dulu. Kini saya  jadi bisa cerita pengalaman dan kisah  hidup.  Sebagai  orang pribumi yang selalu bangga menjadi orang Indonesia. Orang jawa punya pepatah “ kumpul ra kumpul sing penting mangan” , artinya  kita boleh saja berpisah dari orang tua, adik-adik dan saudara, yang penting  bisa punya penghasilan dan bisa mencukupkan kehidupan kita sendiri  dan bisa makan tentunya.

Karena kita  ditempatkan di pulau luar jawa,  membuat kita semakin punya wawasan. Kita bisa mengetahui  adat suku lain, minimal makanan  khas tempat tinggal kita berada. Saya bisa ikut bangga  dengan kesenainnya,  adatnya, destinasi  wisatanya dan lain-lainya. Karena ternyata Indonesia memang kaya raya. Ada  17.504 pulau. Punya 1340 suku dan budaya. Ada  6 agama yang diakui pemerintah. 546 bahasa daerah. 180  tarian daerah.  27 rumah adat.  40  pakaian adat. Penduduknya  sebanyak 270 juta  jiwa.

Saat ini kita penduduk Indonesia semua sedang berduka. Tangisan terjadi dimana-mana,  hampir semua  keluarga mengalami  dampak dari pandemi covid-19 yang  melanda dunia.  Corona yang memporak-porandakan tatanan  negara. Banyak cerita yang terukir  karenanya. Saat tulisan ini ditorehkan penulis juga baru sembuh  karena terpapar bersama seluruh keluarga. Sedih, perih. Itulah kenangan yang tak akan terlupa sampai nanti kita tiada. Jika  nanti anak cucu  membaca tulisan ini  mereka  akan mengingat ‘saya’  Ledwina Eti yang menorehkan cerita ‘bangga jadi orang Indonesia’ pada saat pandemi covid-19 melanda.

Tapi  sebagai penulis sungguh saya sangat  mengapresiasi penanganan pemerintah terhadap covid-19 ini. Indonesia terbaik no-6 penanganan pandemi ini.  Pelayanan medis gratis, Paramedis bergerak pro aktif,  vaksin diberikan di semua line. Akhirnya,  kini pandemi  sudah berangsur hilang. Yang sakit sudah banyak yang disembuhkan.  Tapi tetap harus ingat untuk mengikuti  protokol kesehatan, mentaati 5M yaitu Memakai masker,  Mencuci tangan pakai sabun,  Menjaga jarak,  Menjauhi kerumunan dan Mengurangi mobilitas.

Pandemi bukan halangan untuk  para guru lebih kreatif dan inovativ. Kita harus berfikir yang positif tetap semangat mengajar dari rumah dengan cara yang efektif. Pembelajaran jarak jauh ( PJJ). Pembelajaran milenial di era digital. Bukan hanya peserta didik yang belajar tapi guru wajib juga untuk  belajar. Apa kata  dunia kalau guru malas belajar?

Akhirnya guru kini jadi rajin ikut belajar di dunia maya. Selain mendapatkan ilmu  jadi mengenal lebih luas tentang dunia.  Dengan  mengikuti pelatihan-pelatihan/ webinar  jarak jauh, menjadi tambah ilmu, tambah wawasan, dapat sertifikat dan kenal guru-guru di seluruh Indonesia. Asyik kan!. Itu berkat Pandemi. Jika  pandemi tak ada, tak mungkin  pembelajaran digital  dikenal secepat ini. Semua siswa, murid, peserta didik  sampai mahasiswa melaksanakan pembelajaran  digital.

HP android yang  dulu banyak orang hanya  sebagai terima telpon, terima berita. Tapi kini!! Kita bisa yang membuat berita, membuat video pembelajaran, dan yang  jelas kita jadi  lebih banyak tahu  fungsinya.  Ternyata  teramat sangat banyak aplikasi  yang berguna. Yang dulunya seolah mimpi ternyata sekarang menjadi fakta. Saya pribadi yang dulu hanya  penikmat, kini  jadi sedikit lebih maju, lebih kreatif  dan inovatif. “The power of kepepet”.  Wahh... kalau guru tak kreatif  murid bisa lebih  pintar dari gurunya.

Semua  materi  bisa  ditanyakan pada  ‘mbah google yang super cerdas’. Soal pun bisa dijawab dengan cara googling atau  browshing dari iternet. Yang perlu diingat  belajarlah dengan bijak. Belajar  lewat internet bagai bermain pedang  bermata 2. Di sebelah kanan  hal-hal positif dan jawaban yang benar tapi disebelah kiri  jawaban yang  membuat kita  terjatuh. Disitulah ‘guru’ harus berperan untuk peserta didiknya. Pelajaran akhlak, karakter dan budi pekerti tak  bisa diajarkan oleh  mbah google.

Cerita terakhir yang membuatku bangga jadi orang Indonesia  terkini adalah saya sedang berkolaborasi bersama teman-teman, sahabat-sahabat penulis se-nusantara. Setiap kita menceritakan pengalaman kita, kebanggan kita sebagai orang Indonesia. Trimakasih Ibu Kanjeng ( Dra Sri Sugiastuti, M.Pd), Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd Gr, Pak Mangatur Panjaitan  penggagas antologi ini. Kami semakin bangga dengan kebersamaan kita. Kita bisa mewujudkan  karya-karya secara bersama-sama sehingga tulisanku yang sederhana ini bisa  tersebar di seluruh Indonesia. Salam Literasi!. Bangga aku jadi orang Indonesia dan bahagia bisa berteman dengan para penulis hebat yang tersebar di seluruh Nusantara .

 

Catatan: tampias artinya tersebar

 

 

 

 

 

Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang, pada tanggal 14 April 1966. Nama suami Drs. Adi Ch. Muhu dan ibu dari  Marcelinus Meha, ST dan Dwi Ananto, MT.  Selain Ibu rumah tangga penulis masih tercatat sebagai guru  di SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur NTT. Penulis  suka menulis di medsos, fb, you tube, beberapa koran lokal dan juga majalah. Karya buku Antologi adalah  Pelangi Nusantara, Manuai berkah Bertaut Aksara, Kidung Rindu, refleksi dan Resolusi Saat pandemi, dan beberapa  buku inspirasi  lainnya. Buku Solo adalah    “Mengungkap Rahasia”,”Bangga Menjadi Penulis”, “Dari Goresan Pena Mengukir Prestasi”, “Trik Jitu Menjadi penulis Masa Kini”.   Sekarang ini penulis tinggal  di  Jl Trikora No: 11 Hambala, Waingapu, Sumba Timur. NTT. Kode Pos: 87112. alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id etiastiwi66.blogspot.com, No HP / WA 085 230 708 285.Motto: Semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan  keberhasilan dalam kehidupan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...