Prakata
Puji syukur kami
panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan kasih-Nya, akhirnya kami
bisa menerbitkan buku antologi ini dengan tepatwaktu. Buku ini digagas oleh Bunda
Kanjeng (Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd.). Pada suatu hari beliau chatting memberi
semangat di saat saya dan keluarga besar saya sedang berduka karena dilanda
pandemi covid-19. Ada yang meninggal, ada yang sementara sakit, ada yang
positif, yang reaktif dan memang adajuga yang sehat. Saya tidak sendiri. Di
luar sanabanyak yang terpapar. Perasaan saya saat itu sedang mencekam, karena
suami sementara sakit parah diserang covid dengan komorbid (sakit
jantung). Saat itu kondisi sempat kritis dan kami semua sudah menangis dan
pasrah. Suami belum divaksin, artinya belum punya antibodi (kekebalan tubuh).
Berkat pertolongan Tuhan dan doa dari keluarga juga sahabat terkasih.
Terimakasih yang
mendalam kami ucapkan, kini suami sudah disembuhkan. Jadilah sebuah kisah yang
memilukan dan „sejarah‟ bagi keluarga. Kisah sedih itu akan hilang jika tak
diabadikan. Oleh karena itu kami menulis kisah itu agar menjadi kenangan untuk
anak cucu dan generasi kita berikutnya. Akan menjadi kebanggan tersendiri jika
tulisan kita bisa abadi selamanya, Dari situ juga akhirnya Ibu Kanjeng mengajak
penulis-penulis hebat pegiat literasi membuat antologi dengan tema “Ketika
Saudara Kita Terpapar Covid- 19”. Dari tema itu muncul judul buku “Pandemi
Bukan Mimpi“. Ada 25 Penulis yang berkisah tentang tema yang sangat
menyentuh dan menjadi memoar bersejarah bahwa kami mengalami Pandemi. Kami
punya cerita yang berbeda dan penuh suka duka, baik saat merawat yang terpapar,
sebagai Penyitas, maupun berkisah tentang kehilangan orang-orang tercinta
karena menjadi korban keganasan Covid-19.
Pandemi Bukan
Mimpi – Ledwina Eti Wuryani, S.Pd. dkk ix Terima kasih
kami ucapkan kepada dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ(K), yang sudah memberi
Kata Pengantar di dalam buku ini, dan semua pihak yang terkait dengan terbitnya
buku ini. Akhirnya kami bisa mewujudkan karya ini.Sungguh kami menyadari tiada
gading yang tak retak. Karya kamipun tidaklah sempurna, saran demi kemajuan
adalah harapan untuk perbaikan buku kedepan. Kiranya buku ini menjadi awal yang
baik untuk terus bisa berkolaborasi, memajukan literasi dan terus semangat
menginspirasi untuk negeri. Salam!!
Waingapu, 7 September 2021
Penulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar