.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Internet mengizinkan satu miliar bunga mekar, namun sebagian besarnya berbau busuk” –Tom Nichols
.
Alkisah, suatu ketika seekor ular melintas di sebuah sungai. Sesampai di tengah sungai, ia tampak menyelam. Tak lama ular tersebut muncul di seberang, dengan seekor ikan berada di mulutnya.
Seseorang berhasil memotret peristiwa itu. Ia segera mengunggah foto dengan menulis status penuh kekaguman. “Seekor ular telah berjasa menyelamatkan ikan yang tenggelam di sungai”.
Tak lama berita ini viral di media sosial. Sangat banyak orang mengelu-elukan ular yang baik hati tersebut. Di zaman di mana hati nurani sangat mahal harganya, masih ada ular yang menolong ikan tenggelam.
Framing dan Kebohongan
Inilah “framing” atas sebuah kejadian. Framing yang dilakukan seperti ini, pada dasarnya adalah kebohongan. Ada permainan logika, atas peristiwa “ular membawa ikan” dengan memberikan makna sesuai dengan yang dikehendaki penulis atau pemesannya.
Pertanyaannya, mengapa orang tega melakukan kebohongan melalui tulisan? Menurut psikolog David J. Ley, ada enam alasan yang membuat seseorang melakukan kebohongan. Salah satu alasan kebohongan adalah ingin mengontrol situasi.
Orang yang memotret, mengunggah dan menulis kejadian tersebut dengan melakukan kebohongan, tendensinya adalah untuk mengontrol situasi. Apa situasi yang ingin dikontrol?
“Kesalahan” ular tersebut adalah muncul di permukaan. Muncul di publik. Masyarakat terlanjur mengetahui penggal kejadian saat ular membawa ikan di mulutnya. Jangan sampai publik mengetahui, bahwa sebenarnya ular tersebut memakan ikan.
Jangan sampai publik tahu bahwa sebenarnya ular tersebut bukan menolong ikan. Yang sesungguhnya terjadi adalah ada ular yang mencari mangsa di air. Lalu ia menemukan ikan untuk santapannya. Jadi ular membawa ikan di mulutnya sampai seberang, untuk dimakan.
Jika kita berpikir jernih, akan mudah menemukan kebohongan tulisan tersebut. Di antara logika dasar dalam kehidupan, ikan adalah salah satu makanan ular. Bahwa ikan memang habitatnya berada di dalam air. Bahwa ikan tidak tenggelam di air, melainkan hidup di air.
Maka ungkapan “Seekor ular telah berjasa menyelamatkan ikan yang tenggelam di sungai”, adalah permainan logika. Framing. Atau dalam bahasa lain, masuk kategori kesalahan logika alias ‘tahafut al-falasifah’.
Ketika ada pihak asing datang ke Indonesia, memberikan berbagai ‘bantuan’ untuk menyelamatkan Indonesia, benarkah itu membantu? Jangan-jangan mencuri? Bahkan merusak? Hati-hati terhadap framing.
Ketika Indonesia digambarkan ‘tenggelam’, lalu ada pihak yang menyelamatkan, apakah ini bukan framing? Apakah ini bukan permainan logika? Apakah ini bukan kebohongan? Hati-hati dalam menerima dan mencerna informasi.
Tulisan, Antara Membodohi dan Memberdayakan
Kita bisa menulis untuk membodohi publik, bisa juga untuk mencerdaskan publik. Ini pilihan. Kita mengetahui ada pusat produksi tulisan hoax untuk melakukan kejahatan dan penipuan. Setiap hari beredar tulisan untuk mencari mangsa, mereka yang sedang terlena akan berpeluang menjadi korban.
Tak jarang kita terjebak dalam framing yang dilakukan oleh pihak yang berkepentingan. Di media sosial, bertebaran sangat banyak postingan. Ada yang membodohi, ada yang memberdayakan. Ada tulisan yang mencerdaskan, ada tulisan yang menyesatkan. Semua dibuat dengan sengaja.
Korbannya, orang-orang yang ingin menjadi “pihak pertama” dalam kecepatan informasi. Maka jika Anda berada dalam 20 grup whatsApp, akan menjumpai fenomena mendapatkan postingan yang sama di 20 grup tersebut, yang diposting oleh orang yang berbeda-beda.
Mereka mendapat postingan tulisan yang sesuai dengan suasana jiwa mereka. Tanpa berpikir panjang, langsung forward ke semua grup whatsapp yang diikuti. Ini yang disebut oleh Tom Nichols sebagai “the death of expertise”.
Mengutip Hukum Sturgeon, Nichols menyebut bahwa “90 persen dari semua hal (di dunia maya), adalah sampah”. Menurut Nichols, “Internet mengizinkan satu miliar bunga mekar, namun sebagian besarnya berbau busuk, mulai dari pikiran iseng para penulis blog, teori konspirasi orang-orang aneh, hingga penyebaran informasi bohong oleh berbagai kelompok”.
Menurut Tom Nichols, tulisan di media online berpeluang membuat manusia makin bodoh, bahkan makin kejam. Di dunia maya sebagian dari kita tak ingin menguji informasi, berdiskusi dan berdebat sehat. Bahkan lebih suka untuk cepat melakukan forward dan copas tanpa menelaah.
Kesalahan utama, menurut Nichols, bukan pada internet, tapi pada kita. Kita punya masalah “bias konfirmasi”, yaitu kecenderungan alami untuk cepat percaya dan menerima begitu saja informasi yang sesuai dengan kecenderungan kita. Hilanglah kepakaran, berkembanglah copas dan forward tanpa konfirmasi.
Lebih mengenaskan lagi, mereka yang copas dan forward tanpa konfirmasi ini, merasa ahli atau pakar. Seperti ungkapan Bre Redana, “Sekarang, kalau di stadion ada 50 ribu penonton sepakbola, maka sebanyak 50 ribu itu pakar sepakbola. Semua bisa bikin opini dan menyebarluaskannya.”
Maka tulisan “Seekor ular telah berjasa menyelamatkan ikan yang tenggelam di sungai” bisa menjadi viral. Tersebar tanpa terkendali. Tanpa konfirmasi.
Semua kembali kepada kita. Hendaknya menulis untuk mencerdaskan. Menulis untuk mengedukasi. Menulis untuk memberdayakan.
Selamat menulis.
Daftar Bacaan
Ade Irwansyah, Matinya Kepakaran: Cermin Perilaku Kita di Dunia Maya, www.gramedia.com, 4 Februari 2019
David J. Ley, 6 Reasons People Lie When They Don’t Need To, www.psychologytoday.com, 23 Januari 2017
Tom Nichols, Matinya Kepakaran, Gramedia, 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar