Untuk menjawab challenge hari kedua kali ini saya meresume tentang Pelatihan menulis yang saya ikut tadi malam. “pelatihan Kreatif Menulis yang diadakah Oleh AGUPENA PUSAT. Asososiasi Guru Penulis Nasional. Nara sumber adalah ibu guru cantik sejuta talenta. Teman tadi malam adalah “Mental Seorang Penulis”. Ibu Ditta adalah alumni Pelatihan Belajar Menulis gelombang 7 dari PGRI yang digagas oleh Bapak Wijaya Kusumah ( Om Jay). Beliau masih muda tapi prestasinya banyak sekali. Karya bukunya banyak bahkan ada sudah tembus penerbit mayor ( Penerbit Andi, Jogyakarta).
Profil nara sumber : Ditta Utami, S.Pd.Gr. guru IPA di SMP Negeri 1 Cipeundeuy Subang jawa Barat. Lahir di Subang , 23 Mei 1990. Menikah dengan Muhammad Kholil, S.Pd.I. dan telah dikaruniai putra bernama Muhammad Fatih Musyfig. Beliau alumni UPI tahun 2012 Jurusan pendidikan kimia. Karya buku tunggal yang sudah dicetak ada 3 buah dan Buku Antologi 11 eks. Judul buku solo adalah, Lelaki di Ladang Tebu (kumpulan cerpen pendidikan), Membongkar Rahasia Menulis (kumpulan artikel saat lomba blog PGRI), Sepenggal Kisah Corona.
Antara teknik menulis dan mental seorang penulis adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.Ibarat jiwa dan raga. Teknik menulis dan mental penulis, keduanya harus ada agar penulis dan tulisannya bisa "hidup".
Teknik menulis yang dimaksud mencakup kemampuan seseorang dalam menulis. Mulai dari pemilihan kosa kata, kemampuan membuat outline, pemahaman mengenai gagasan utama, berbagai jenis tulisan, serta pengetahuan lain yang bersifat teknis.
Mental penulis merujuk pada kondisi psikologis atau batin si penulis itu sendiri.Mental apa saja yang harus dimiliki penulis, saya tuangkan dalam bentuk mind map dan video materi yang bisa disimak pada link berikut : https://dittawidyautami.blogspot.com/2021
Berdasarkan analisis Ibu Ditta dilihat dari keseimbangan teknik dan mental penulis, maka ada 4 Tipe Penulis, yaitu : Dying writer, Dead man,Sick people, Alive
_*Dying Writer*_ atau penulis yang sekarat. Termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang lemah secara teknik pun lemah mentalnya sebagai seorang penulis.Seolah hidup segan mati tak mau. Misalnya ikut pelatihan menulis setengah hati (lemah mental) dan tidak berkarya membuat tulisan (yang bisa jadi karena lemah teknik, tidak tahu bagaimana harus menulis, mendapatkan ide, dsb) Tipe ini bukan berarti tak mampu membuat tulisan. Hanya saja, diperlukan upaya ekstra agar orang-orang ini "mau" hidup sehat kembali untuk menulis. Ibaratnya menjadi penulis masih sekedar angan-angan tanpa aksi nyata.
_*Dead Man*_. Sesuai namanya, tulisan dari kategori ini "mati". Tidak diketahui keberadaannya. Terkubur di folder laptop. Terbungkus lembaran diary. Atau notes yang ada di hp. Belum terpublish.Tekniknya ada (sudah mampu menulis), hanya mentalnya masih lemah (malu, takut dikritik dsb) sehingga tidak berani mempublish tulisan. Belum berani membuat buku atau artikel. Padahal ilmu tentang kepenulisannya sudah mumpuni.
_*Sick People*_. Orang-orang dalam kelompok ini adalah yang masih lemah teknik menulisnya namun sudah cukup memiliki mental seorang penulis sehingga sudah berani mempublish tulisannya.Mereka sudah siap jika ada yang mengkritik, mengomentari tulisan mereka dan sejatinya sadar masih terdapat kekurangan dalam tulisannya. Sudah berani mempublish berarti sudah merupakan prestasi. Karena masih banyak teman yg pintar nulis tapi belum berani mempublish. Jika kita sudah merasa maksimal dan sudah sesuai dengan kemampuan kita, kita harus percaya diri. Sambil berjalan sambil belajar. Sebagai pemula kita belum banyak ilmunya, waktu terus berjalan tulisan pasti akan semakin baik. Obat bagi kategori ini tentu saja terus menulis. Tingkatkan jam terbang dalam menulis. Insya Allah dengan sendirinya akan sembuh. Karena semakin banyak menulis, semakin banyak review, semakin banyak baca, sehingga bisa meminimalkan kesalahan dalam penulisan karya.
Alive, yaitu penulis yang tulisannya hidup dan senantiasa berkarya seperti jantung yang terus berdetak saat pemiliknya bernyawa.Orang-orang dalam kelompok ini sudah bisa dikatakan "ahli" menulis (kuat teknik) serta kuat mentalnya.Cirinya mudah. Meski tingkatan ahli ada pemula, menengah dan sangat ahli, tapi secara umum kita bisa mengenali mereka.Misal saat menulis sudah seperti kebutuhan primer seperti makan. Ibaratnya, jika tak makan akan lapar. Begitu pula mereka yang hidup dalam menulis. Akan lapar menulis bahkan jika sehari saja tak membuat tulisan.Ciri yang paling kentara dari kelompok ini tentu saja seperti juara lomba menulis, bukunya tembus di jurnal nasional, di media massa, dsb. Kelompok Alive ini termasuk kategori pembelajar sejati. Selalu berproses. Mampu hadapi tantangan menulis ,walau sibuk menyempatkan nulis.
Sebagai bukti fisik, Ibu Ditta membuat kuesioner pertanyaannya "Apa
yang Anda takutkan ketika menulis/mempublish tulisan?" Ternyata dari 30
jawaban yang masuk, sebagian besar bisa dikategorikan menjadi 2 macam
ketakutan, yaitu :
1. _*Takut terkait teknik penulisan*_ (misal
takut tidak sesuai kaidah penulisan, tidak sesuai aturan penerbit, alur dan
pesan tulisan yang masih belum tampak, serta ketakutan lain yang sejenis)
2. _*Ketakutan yang berhubungan dengan (penilaian) dari orang lain*_. Misalnya takut dicemooh, diejek, tidak dibaca, dsb. Sedangkan 3 orang lainnya menyatakan tidak memiliki ketakutan. Nah inilah yang patut kita contoh.
Teknik menulis akan membaik jika kita ‘sering’ berlatih menulis. Mental penulis akan terbentuk ketika kita terus melatih diri mempublikasikan tulisan kita. Jika mau jadi penulis hebat, kita harus mau meningkatkan teknik dan mental menulis kita. Mental yang harus disiapkan saat kita jadi penulis adalah: siap konsisten, siap dikritik, siap belajar, siap ditolak dan siap jadi “unik”.
Penulis sejati berangkat dari keresahannya. Ditorehkan melalui "tulisan". Ia mengubah dunia dengan tulisan..Orang yang memiliki naluri penulis, akan mengoptimalkan seluruh inderanya .Ada banjir yang melanda, ada lagu yang syahdu, ada kotbah yang menarik, ada film yang ceritanya menarik, dan pengalaman-pengalaman lain orang yang punya ‘naluri’ penulis dia kan menuangkan semua pengalaman dilihat itu berupa tulisan.
Dalam tulis menulis pasti ada
kendalanya tetapi kita harus
mampu mengatasi dengan santai. Semua perlu berproses. Proses tidak akan
mengkhianati hasil. Proses selalu
menemani dalam suka dan duka. Kesabaran dan komitmen adalah kunci untuk meraih kesuksesan. Tetaplah semangat
untuk menulis. Semoga kita bisa
bermanfaat dan bisa menginspirasi. Salam Literasi.
#30harimenulis
#30haripunyanaskah
#siapataujadibuku
#alineakuchallenge - 1
#alineakuwriter
#alineakuLedwinaEti
Waingapu,
24 September 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar