Suamiku baru sembuh dari sakit.
Dia masih dalam pemulihan, kondisi
badannya masih sangat lemah. Sesekali dia pergi ke kantor tapi tidak lama
langsung pulang. Dia adalah seorang pengawas di Kabupaten Sumba Timur,
untuk SMA dan SMK. Sendirian.
Teman-teman yang lain sudah duluan pensiun. Jadi dia merangkap jadi Korwas yang
membawai dirinya sendiri.
Pekerjaan bisa juga
dilakukan di rumah, terbukti banyak juga
tamu yang datang minta
tanda tangan. Mereka konsultasi tentang
permasalahan kantor dan pekerjaan.
Masalah sekolah bahkan ada juga
yang hanya sekedar curhat kepada
bapak.
Hari-hari dinikmati dengan
penuh syukur, puji Tuhan masih diberikan nafas dan kehidupan. Beberapa
hari di rumah sakit penuh dengan pergumulan bahkan nyawa nyaris melayang. Kita sudah pasrah,
kami sudah tak berdaya. Ternyata
mujizat Tuhan nyata. 2 hari berikut di PCR ternyata hasilnya negatif, karena ragu-ragu 2 hari kemudian tes ulang, ternyata negatif lagi.
Kita tak pernah bisa
mengingkari, kuasa Tuhan memang ada.
Puji Tuhan, Ucapan syukur tak
pernah berhenti untuk kasih Tuhan yang
begitu besar. Trimakasih Untuk doa-doa
dan penguatan untuk semua, saudara,
sahabat terkasih. Mereka
semua menyayangi keluarga kami.
Beruntung saya juga positif covid, dengan begitu akhirnya saya
diperbolehkan menjaga , menemani, melayani suami yang kritis. Jika tak ada saya ‘entahlah’ saya pasti punya cerita yang berbeda. Bapak terpapar Covid-19 dengan komorbit jantung. Tahun 2019 beliau
operasi jantung bentall procedural, Katup jantung rusak dan tak berfungsi, jadi
operasi jantung berat karena harus ‘ganti’ katup baru yang sintetis. Jadi bukan operasi biasa tapi operasi besar. Selain
itu saat ‘terpapar’ pun belum juga vaksin.
Kami sekeluarga sungguh teramat sedih dengan peristiwa saat itu. Bapak tak mau dibawa ke rumah sakit. Dia
trauma dengan cerita yang simpang siur tentang rumah sakit covid. Bersikeras
tak mau opname di rumah sakit. Kami merajuk, merayu hingga menangis
tetap tak mau. Sampai 3 perawat datang
kerumah dan 1 dokter dari rumah sakit datang ke rumah. Baru bapak mau pergi ke
rumah sakit. Dirumah kan tak ada oksigen , tak ada infus dll, padahal tensi
bapak 80/55 dan saturasi 80-an.
Kini kami berdua jadi penghuni Rumah sakit. Dengan badanku
yang lemah karena juga terpapar covid, saya tidur di lantai, menjaga bapak
yang tak berdaya. Karena bapak ‘menahan ‘ terlalu sakit tak jarang dia
marah-marah kalau ada yang tak berkenan dihatinya. Kadang hanya masalah sepele, dia marah. Karena dia sedang sakit, saya maklumi, sambil
kutahan tangis saya berusaha untuk tersenyum.
Saya berusaha untuk menghibur diri sendiri. Sabar, sabar,
sabar ‘harus kuat!!’ sambil saya
mengelus dadaku. Saya sangat tahu rasa
sakit yang dialami bapak. Dia tak bisa jalan, tapi kadang memaksakan kehendak
harus ke WC. Sementara WC jauh, harus
pake kursi roda. Untuk bangun saja susah
tapi memaksakan untuk turun dengan melepas oksigen dan menenteng infus.
Sedih—sedih sekali saat itu, baru turun badan sudah keringat bercucuran sebesar jagung.
Tapi badannya dingin. jadi hati dan perasaanku selalu dug dag dan takut sekali
kalau bapak minta untuk ke WC. Itu adalah
sebuah malapetaka bagiku. Dengan memaksakan kehendak aku menuruti saja apa yang dia mau, daripada
kena marah. Aku jadi tekun berdoa dengan penuh air mata, semoga aku dikuatkan. Semoga
aku diberikan kesehatan.
Aku tak pernah mengurusi diriku, Aku tak pernah tidur
nyaman. Takut bapak membutuhkanku. Tiba-tiba
minta minun, atau jangan sampai oksigen
habis, atau infus habis. Keringat terus
bercucuran saya harus mengelapnya. Bahkan bapak terus mengigau. Kebetulan saat
itu kami dapat kamar yang AC-nya rusak, panas dan gerah ruangan minta ampun. Kamar persis di samping
kamar mayat yang sunyi dan sepi bagai kuburan. WC-nya ada dibalik pintu kamar mayat. Saat ke-WC bulu kudukku
selalu berdiri. Saya mencoba kuat dan berani.
Rasa ngeri selalu menyelimuti,
belum sering ada tangisan, ratapan kesedihan dari keluarga yang saudara atau kerabatnya meninggal. Jika
hal itu terjadi di malam hari, suasana
sungguh sangat mencekam. Kami tak
diperbolehkan keluar ruangan sama sekali. Padahal saya ini sejatinya positif juga, harusnya saya berjemur, olah raga, makan bergizi supaya sembuh . Tapi
itu semua tak saya lakukan karena keadaan. Berani dan
bersedia menjaga orang sakit covid berarti ‘wajib’ mengikuti peraturan yang
ada karena sebenarnya peraturan yang
sakit karena terjangkit virus tak boleh
dijaga. Niatku hanyak supaya bapak sembuh, aku tak pernah berpikir keselamatanku
sendiri. Kalau Tuhan memang sayang padaku
pasti Tuhan akan memberikan yang ‘terbaik’ bagiku.
Selama 14 hari pergumulan di
ruang covid. Penuh perjuangan, duka
lara, kesedihan dan air mata. Seluruh pasien
adalah sakit karena Covid. Hanya
saya yang sakit tapi terlihat sehat. Setelah
bapak dinyatakan 2 kali PCR hasilnya negatif, bapak dipindahkan di ruang ICU. Ruangan yang sangat luas, sejuk dengan perawat yang
ramah-ramah dan baik hati. Bapak bersebelahan dengan seorang bapak yang sakitnya
lebih berat, bapak itu pakai fentilator
dan di sebelahnya juga ada, Ruangan sunyi senyap, kami yang menunggu tidur diluar ruang. Di
teras ruang ICU yang sudah tersedia.
Dua malam berikutnya ternyata
bapak yang di sebelah ruangan sudah ganti, kabarnya meninggal. Deg!. Aku
pura-pura tak tahu ditanya bapak. Sebelahnya lagi juga meninggal. Mungkin bapak tahu.....Karena merasa badan agak lumayan enak, walaupun sebenarnya
masih lemah dia minta pulang saja. Dokter memperbolehkan...kini dia sudah di
rumah, suasana jelas berbeda. Kami terus
menjaga, sampai bisa lima orang yang menemani bapak tidur. Jika ke Toilet masih
harus di pegang. Saat mau jemur
pagi harus dituntun, dijaga dan dia selalu minta diurut-urut, manja.
Suatu hari...dia elus-elus
motor suprafit yang ia beli harga 4 juta dan ongkirnya 500 ribu. Dia
begitu bangga dengan motor itu. Dia
puji-puji motor itu, enak ini kalau
dipakai. Ringan dan berbagai pujian untuk motor
‘puruk’ itu. Karena bodinya kurang bagus, akhirnya anak saya disuruh
ganti sekalian ganti oli dan isi bensin
habislah uang 500 ribu. Bapak rencana pergi ke kantor dengan motor
itu....... Dalam hati saya menangis. Kami 2 orang adalah seorang PNS, tapi
dirumah banyak anak keluarga yang
tinggal bersama kami. Jadi kami tak ada tabungan dan kami hidup dengan
sederhana. Yang penting bisa makan
semua. Itu saja. Tak ada cita-cita apapun, Selalu bersyukur untuk nikmat Tuhan
yang sudah diberikan. Hidup tak boleh mengeluh, terus bersyukur dan berterima
kasih kepada Tuhan. Tuhan memberikan
Cuma-Cuma maka berikan dengan Cuma-Cuma.
Suatu hari pernah teman saya
pinjam uang ke saya, kita rencana bisnis kecil-kecilan. Dengan modal saya
pinjam di sebuah koperasi dengan jaminan
tanah yang saya beli murah 20 tahun yang lalu. Akhirnya dananpun cair, 50 juta. Resmilah kami untuk kerjasama membuat usaha. Tuhan menguji saya dan teman saya .....ternyata kami jadi korban penipuan. Anggap saja
begitu, karena dia (sang pembeli) titip barang kok barang
sampai di tempat tak mau terima. Jantung bagai lepas dari tempatnya. Petirpun
terasa menghatam di kepala saya.
Hal itu tak mungkinlah saya cerita kepada keluarga, apalagi suami saya.
Dengan deraian airmata saya terus berdoa
berdoa dan terus berdoa tak pernah henti,
Tuhan kuatkan saya. Semoga Tuhan menjawab doa saya. Saya mencoba untuk kuat dan berppura-pura baik-baik saja dihadapan keluarga.
Saya harus dipotong gaji saya
perbulan 3 juta, ( 2 juta modal dan 1 juta bunga) selama tiga tahun. Oh MY
Good!! Waktu terus berjalan......tanpa sepengetahuan siapapun Tuhan memberi jalan, ada saja berkat untuk membayar hutang....walaupun
tertatih-tatih aku tetap berusaha merahasiakan.
Ternyata teman saya baik hati,
walaupun dia juga ‘korban’ dia bersedia mengganti. Syukurlah...Semoga ini
adalah pembelajaran buat saya untuk selalu berhati- hati. Ini yang namanya sudah jatuh tertimpa tangga.
Tanggal 28 Oktober ini suami saya
ulang tahun. Saya merindukan beli motor
untuk suami, sungguh merindunkan sekali. Selama ini belum pernah suami
beli motor yang ‘nol’ km. Dia selalu beli dengan second. Mengingat kami juga tak ada tabungan. Kami nikmati saja mengingat
tanggung jawab menghidupi banyak orang
di rumah kami. Mereka ada yang rumah tangga, yang sekolah.
Pergumulan saya saat ini , semoga
diulang tahun suami saya ingin sekali memberi kejutan. Ingin saya berbuat
sesuatu yang bernlai, dalam hidupnya.
Tuhaaannnn... semoga kerinduan ini bisa terjawab, kini saya sementara
mengumpulkan sedikit-demi sedikit uang.
Saya mencoba inden motor vario di Gracia lewat seorang teman dan hanya kami berdua yang tahu. Saya sengaja merahasiakan karena uang belum lengkap semuanya...semoga bisa
terwujud. Tuhan dengarkan doa kami.
Semoga suami diberikan kesehatan,
ketabahan, lapang dada, semakin dekat
dengan Tuhan dan tidak lagi suka marah.
Waktu itu marah karena tak kuasa
menahan sakit, saya maklum, semoga tidak terbawa sampai saat ini karena sudah
sementara pemulihan.
Yang aneh bagi saya, selama bapak
sakit, saya yang merawat sepenuhnya. Kontak erat dengan dia, kok bapak
PCR 2 kali negatif. Kami sama-sama keluar rumah sakit saya masih ‘positif’. Karena sudah di rumah,
saya berusaha untuk bahagia, berusaha
cukup makan, menghindari stress....Akhirnya Tuhan memberiku kesembuhan juga pada saya. Lima
hari berikutnya saya dinyatakan negatif. Trimakasih Tuhan untuk pengalaman iman
yang saya rasakan. Semoga kami semakin
mengetahui arti kehidupan dan semakin iklas menjalani dan
semakin dekat denganNya.
#30harimenulis
#30haripunyanaskah
#siapataujadibuku
#alineakuchallenge - 14
#alineakuwriter
#alineakuLedwinaEti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar