Kamis, 07 Oktober 2021

Keiklasan #14

 


 

Suamiku baru sembuh dari sakit. Dia  masih dalam pemulihan, kondisi badannya masih sangat lemah. Sesekali dia pergi ke kantor tapi  tidak lama  langsung pulang. Dia adalah seorang pengawas di Kabupaten Sumba Timur, untuk  SMA dan SMK. Sendirian. Teman-teman yang lain sudah duluan pensiun. Jadi dia merangkap jadi Korwas yang membawai dirinya sendiri. 

 

Pekerjaan  bisa juga  dilakukan di rumah, terbukti banyak juga  tamu yang  datang  minta  tanda tangan. Mereka konsultasi tentang  permasalahan  kantor dan pekerjaan. Masalah sekolah  bahkan ada  juga  yang hanya sekedar curhat  kepada bapak.

 

Hari-hari dinikmati  dengan  penuh  syukur, puji Tuhan  masih diberikan nafas dan kehidupan. Beberapa hari di rumah sakit  penuh dengan pergumulan  bahkan nyawa nyaris melayang. Kita  sudah pasrah,  kami sudah tak berdaya. Ternyata  mujizat  Tuhan nyata.  2 hari berikut  di PCR ternyata  hasilnya negatif,  karena ragu-ragu 2 hari kemudian  tes ulang, ternyata negatif lagi.

 

Kita tak pernah bisa mengingkari,  kuasa Tuhan  memang ada.  Puji Tuhan,  Ucapan syukur tak pernah berhenti  untuk kasih Tuhan yang begitu besar. Trimakasih Untuk  doa-doa dan penguatan untuk  semua, saudara, sahabat  terkasih.  Mereka  semua  menyayangi keluarga kami.

 

Beruntung saya juga  positif covid, dengan begitu akhirnya saya diperbolehkan menjaga , menemani, melayani suami  yang kritis. Jika tak  ada saya ‘entahlah’  saya pasti punya cerita yang berbeda. Bapak  terpapar Covid-19  dengan komorbit jantung. Tahun  2019  beliau operasi jantung bentall procedural, Katup jantung rusak dan tak berfungsi, jadi   operasi jantung berat karena  harus ‘ganti’ katup baru yang sintetis. Jadi bukan  operasi biasa tapi operasi besar. Selain itu  saat  ‘terpapar’  pun belum juga vaksin.

 

Kami sekeluarga  sungguh teramat  sedih dengan peristiwa saat itu.  Bapak tak mau dibawa ke rumah sakit. Dia trauma dengan cerita yang simpang siur tentang rumah sakit covid.  Bersikeras  tak mau opname di rumah sakit. Kami merajuk, merayu hingga menangis tetap tak mau.  Sampai 3 perawat datang kerumah dan 1 dokter dari rumah sakit datang ke rumah. Baru bapak mau pergi ke rumah sakit. Dirumah kan tak ada oksigen , tak ada infus dll, padahal tensi bapak 80/55 dan saturasi 80-an.

 

Kini kami berdua  jadi penghuni Rumah sakit. Dengan badanku yang lemah karena juga terpapar covid, saya tidur di lantai,   menjaga bapak  yang tak berdaya.  Karena bapak  ‘menahan ‘ terlalu sakit tak jarang dia marah-marah kalau ada yang tak berkenan dihatinya.  Kadang hanya masalah sepele,  dia marah. Karena dia sedang  sakit, saya maklumi,  sambil  kutahan tangis saya berusaha untuk tersenyum.

 

Saya berusaha  untuk menghibur diri sendiri. Sabar, sabar, sabar ‘harus kuat!!’  sambil saya mengelus dadaku. Saya sangat tahu  rasa sakit yang dialami bapak. Dia tak bisa jalan, tapi kadang memaksakan kehendak harus  ke WC. Sementara WC jauh, harus pake kursi  roda. Untuk bangun saja susah tapi memaksakan untuk turun dengan melepas oksigen dan menenteng infus.

 

Sedih—sedih sekali saat itu,  baru turun badan  sudah keringat bercucuran sebesar jagung. Tapi badannya dingin. jadi hati dan perasaanku selalu dug dag dan takut sekali kalau bapak minta untuk ke WC. Itu adalah  sebuah malapetaka bagiku. Dengan memaksakan kehendak  aku menuruti saja apa yang dia mau, daripada kena marah. Aku  jadi tekun berdoa  dengan penuh air mata, semoga aku dikuatkan. Semoga aku diberikan kesehatan.

 

Aku tak pernah  mengurusi diriku, Aku tak pernah tidur nyaman. Takut bapak  membutuhkanku. Tiba-tiba minta minun,  atau jangan sampai oksigen habis, atau infus habis.  Keringat terus bercucuran saya harus mengelapnya. Bahkan bapak terus mengigau. Kebetulan saat itu kami dapat kamar yang AC-nya rusak, panas dan gerah  ruangan minta ampun. Kamar persis di samping kamar mayat yang sunyi dan sepi bagai kuburan. WC-nya ada dibalik  pintu kamar mayat. Saat ke-WC bulu kudukku selalu berdiri. Saya mencoba kuat dan berani.

 

Rasa ngeri selalu menyelimuti, belum sering ada tangisan, ratapan kesedihan dari keluarga  yang saudara atau kerabatnya meninggal. Jika hal itu terjadi di malam hari, suasana  sungguh sangat mencekam.  Kami tak diperbolehkan keluar ruangan sama sekali. Padahal saya ini  sejatinya positif juga, harusnya saya berjemur,  olah raga, makan bergizi supaya sembuh . Tapi itu semua  tak saya  lakukan karena keadaan. Berani dan bersedia  menjaga orang sakit  covid berarti ‘wajib’ mengikuti peraturan yang ada  karena sebenarnya peraturan yang sakit  karena terjangkit virus tak boleh dijaga.  Niatku  hanyak supaya bapak sembuh,  aku tak pernah berpikir keselamatanku sendiri. Kalau Tuhan memang sayang padaku  pasti Tuhan akan memberikan yang ‘terbaik’ bagiku.

 

Selama 14 hari pergumulan di ruang covid.  Penuh perjuangan, duka lara, kesedihan dan air mata. Seluruh pasien  adalah sakit karena Covid.  Hanya saya yang  sakit tapi terlihat sehat. Setelah bapak dinyatakan 2 kali PCR hasilnya negatif, bapak  dipindahkan di ruang ICU. Ruangan yang  sangat luas, sejuk dengan perawat yang ramah-ramah dan baik hati. Bapak bersebelahan dengan seorang bapak yang sakitnya lebih berat,  bapak itu pakai fentilator dan di sebelahnya juga ada, Ruangan sunyi senyap,  kami yang menunggu tidur diluar ruang. Di teras ruang ICU yang sudah tersedia.

 

Dua malam berikutnya ternyata bapak yang di sebelah ruangan sudah ganti, kabarnya meninggal. Deg!. Aku pura-pura tak tahu ditanya bapak. Sebelahnya lagi juga meninggal.  Mungkin bapak tahu.....Karena merasa  badan agak lumayan enak, walaupun sebenarnya masih lemah dia minta pulang saja. Dokter memperbolehkan...kini dia sudah di rumah, suasana jelas berbeda.  Kami terus menjaga, sampai bisa lima orang yang menemani bapak tidur. Jika ke Toilet masih harus di pegang. Saat  mau jemur pagi  harus dituntun, dijaga  dan dia selalu minta diurut-urut,  manja.

 

Suatu hari...dia elus-elus motor  suprafit yang ia beli  harga 4 juta dan ongkirnya 500 ribu. Dia begitu bangga dengan  motor itu. Dia puji-puji motor itu,  enak ini kalau dipakai. Ringan dan berbagai pujian untuk motor  ‘puruk’ itu.  Karena bodinya  kurang bagus, akhirnya anak saya disuruh ganti sekalian ganti oli dan isi bensin  habislah uang 500 ribu. Bapak rencana pergi ke kantor dengan motor itu....... Dalam hati saya menangis. Kami 2 orang adalah seorang PNS, tapi dirumah banyak  anak keluarga yang tinggal bersama kami. Jadi kami tak ada tabungan dan kami hidup dengan sederhana. Yang penting  bisa makan semua. Itu saja. Tak ada cita-cita apapun, Selalu bersyukur untuk nikmat Tuhan yang sudah diberikan. Hidup tak boleh mengeluh, terus bersyukur dan berterima kasih kepada  Tuhan. Tuhan memberikan Cuma-Cuma maka berikan dengan Cuma-Cuma.

 

Suatu hari pernah teman saya pinjam uang ke saya, kita rencana bisnis kecil-kecilan. Dengan modal saya pinjam di sebuah koperasi dengan jaminan  tanah yang saya beli murah 20 tahun yang lalu. Akhirnya  dananpun cair, 50 juta. Resmilah kami  untuk kerjasama membuat usaha.  Tuhan menguji saya dan teman saya .....ternyata  kami jadi korban penipuan. Anggap saja begitu, karena  dia (sang pembeli)  titip barang kok  barang  sampai di tempat  tak mau terima. Jantung  bagai lepas dari tempatnya. Petirpun terasa  menghatam di kepala saya.

 

Hal itu tak mungkinlah saya  cerita kepada keluarga, apalagi suami saya. Dengan deraian airmata  saya terus berdoa berdoa dan terus berdoa  tak pernah henti, Tuhan kuatkan saya. Semoga Tuhan menjawab doa saya. Saya mencoba untuk  kuat dan berppura-pura  baik-baik saja dihadapan  keluarga.

 

Saya harus dipotong gaji saya perbulan 3 juta, ( 2 juta modal dan 1 juta bunga) selama tiga tahun. Oh MY Good!! Waktu terus berjalan......tanpa sepengetahuan siapapun Tuhan  memberi jalan,  ada saja berkat untuk membayar hutang....walaupun tertatih-tatih aku tetap berusaha merahasiakan.

 

Ternyata teman saya baik hati, walaupun dia juga ‘korban’ dia bersedia mengganti. Syukurlah...Semoga ini adalah pembelajaran buat saya untuk selalu berhati- hati.  Ini yang namanya sudah jatuh tertimpa tangga.

 

Tanggal 28 Oktober ini suami saya ulang tahun. Saya merindukan beli motor  untuk suami, sungguh merindunkan sekali. Selama ini belum pernah suami beli motor yang ‘nol’ km. Dia selalu beli dengan second.  Mengingat kami juga tak  ada tabungan. Kami nikmati saja mengingat tanggung jawab  menghidupi banyak orang di rumah kami.  Mereka ada yang  rumah tangga, yang sekolah.

 

Pergumulan saya saat ini , semoga diulang tahun suami saya ingin sekali memberi kejutan. Ingin saya berbuat sesuatu yang bernlai, dalam hidupnya.  Tuhaaannnn...  semoga  kerinduan ini bisa terjawab, kini saya sementara mengumpulkan sedikit-demi sedikit  uang. Saya  mencoba inden motor vario di  Gracia lewat seorang teman dan hanya  kami berdua yang tahu.  Saya sengaja merahasiakan karena  uang belum lengkap semuanya...semoga bisa terwujud.  Tuhan dengarkan doa kami.

 

Semoga suami diberikan kesehatan, ketabahan,  lapang dada, semakin dekat dengan Tuhan dan tidak lagi suka marah.  Waktu itu marah karena  tak kuasa menahan sakit, saya maklum, semoga tidak terbawa sampai saat ini karena sudah sementara pemulihan.

 

Yang aneh bagi saya, selama bapak sakit, saya yang merawat sepenuhnya. Kontak erat dengan dia,  kok bapak  PCR 2 kali negatif.   Kami  sama-sama keluar rumah sakit  saya masih ‘positif’. Karena sudah di rumah, saya berusaha untuk bahagia,  berusaha cukup makan, menghindari stress....Akhirnya Tuhan  memberiku kesembuhan juga pada saya. Lima hari berikutnya saya dinyatakan negatif. Trimakasih Tuhan untuk pengalaman iman yang saya rasakan.  Semoga  kami semakin  mengetahui arti kehidupan dan semakin  iklas menjalani  dan  semakin dekat denganNya.

#30harimenulis

#30haripunyanaskah

#siapataujadibuku

#alineakuchallenge - 14

#alineakuwriter

 

#alineakuLedwinaEti  

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...